Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan “energy”. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa.

Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan Stage Corner Community. Judulnya keren, “Techno Ken Dedes”. Saat pertama kali saya mendengar judulnya, saya terhenyak. pasti ada sesuatu yang baru dalam pertunjukkan Techno Ken Dedes. Dan benar saja, kali ini, Ken Dedes memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur. Pentas Techno Ken Dedes memperlihatkan sisi-sisi persoalan wanita. Mulai dari feminism hingga harga diri perempuan.

Pentas Teatrikal Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta 18-19 Oktober lalu, barangkali sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana benturan-benturan antara masa lalu dan masa kini. Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba). Benturan sosial, feminisme dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk.

Pentas dibuka dengan suara music etnik berbaur dengan instrument techno. Lalu satu persatu para dedes muncul bergantian. Diawali Dedes Rahim. Ia muncul dari balik batu. Berjalan sembari menari diatas cobek yang disusun. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dia lah rahim purba techno. Tempat segala terlahir dan tertimbun. Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim, jejak kaki Ken Dedes. Dialah silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman

Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub. Melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara, berdiri diatas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukan raut penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara.

“Aku ingin senggama lagi. Agar aku dapat lebih mengenal jejakku. Aku ingin senggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku, Aku ingin telanjang,”
“Jaga lidahmu” tutur Dedes Purba. Matanya mendelik.
“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku,”
“Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat, Dedes,” hardik, Dedes Purba kesal

Dalam pentas ini, para dedes, tampil dengan karakter masing-masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma Dari tampilan saja tabrakan itu sudah terlihat. Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban. Sementara Dedes Techno lebih memperlihatkan gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminim, yang serba bebas, serba hedon. Tempat dimana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern. Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan.

“Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana paramesywari,” tegas Dedes Techno

Sedangkan kemunculan Dedes Rahim, lebih kepada sebagai penengah. Penengah diantara benturan-benturan yang dimunuculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno.

“Aku Rahimmu. Rahim yang kau lupakan. Putarlah wajah pada cahaya bulan, biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya. Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,” ujar Dedes Rahim, suatu ketika.

Cerita “Techno Ken Dedes” yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturan-benturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali” sesuai khitahnya.

Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksporasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat. Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya.

Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes karena dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik. Munculnya tiga Dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan.

Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok. Namun, Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka. Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat. Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius. Toh banyak banyolan sejak munculnya Arok.

Stage Corner Community dalam produksinya yang kelima juga sengaja mengkolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Property cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba. Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yang masih ada. Sedangkan bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini. Karena itulah Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat. (*)

“Menulis itu, Blue,” kata abang saya “Membutuhkan energy yang tidak sedikit. Jadi kau simpanlah energy itu untuk menulis. Jangan kau pakai untuk nonton dan nongkrong aja,” tegasnya. Saya hanya cengegesan, kala abang saya memberi saya nasehat itu.

Abang saya itu memang jago menulis. Saya adalah orang yang merasakan dan mendapat anugerah menyerap ilmu-ilmunya, meski saya sadar, saya tak jago-jago amat dalam dunia tulis menulis.

Kata-kata abang saya itu, kadang menyadarkan saya, bahwa saya mulai melupakan yang namanya menulis. Tentu, menulis disini bukan dalam soal pekerjaan.  Menulis yang abang saya maksud itu adalah membuat buku, atau menulis novel. Kenapa saya mulai lupa menulis? karena saya tak memiliki energi yang berlebih untuk membuat tulisan.

Barangkali, energy ini memang perlu dibangkitkan. bagaimana caranya, mungkin dengan semangat, dengan jatuh cinta atau  justru kadang ketika harus terjerumus dalam kondisi kepepet. Kepepet? Iya. Kepepet.

Kawan saya pernah cerita, bahwa factor kepepet ini bisa jadi energy yang dahsyatnya berkali-kali lipat dari pada sekedar punya semangat dan kobaran ide. Dia mencontohkan, ketika orang lagi dekat dengan lawan jenis misalnya. Ia akan dengan mudah menulis roman-roman percintaan dibanding orang yang jarang bersentuhan dengan cinta. Atau saat tak punya duit, bisa saja timbul ide-ide untuk membuat cerpen untuk dikirim ke surat kabar dan majalah. Tentu, meski kalau dimuat cairnya akan memakan waktu lama, tapi lumayan bisa menyambung periuk nasi.

Mungkin, semangat ini pulalah yang menjadi alasan, kenapa saya mulai jarang mengisi blog saya ini. Entah kenapa, kok ya saya ini mulai males untuk menulis. Barangkali, karena saya sudah jarang jatuh cinta. Sehingga, tak ada lagi kisah cinta yang perlu saya tulis. Dan kalau memang saya mulai menulis cerpen, toh cerpen-cerpen itu juga larinya saya kirim ke Majalah remaja dan tidak saya publikasikan disini, karena saya butuh duit. Hehehe…

Sebenarnya ini memang bukan alasan yang cukup logis, hingga kemudian blog saya ini mulai tak terisi. Tapi setidaknya, alasan saya ini bisa dimengerti, bahwa pada dasarnya memang enegri saya untuk menulis di blog sudah dihabiskan untuk pekerjaan di kantor dan menulis cerpen di majalah. Jadi maafkan saya, saya sedikit abai mengurus blog ini. Semoga, semangat saya untuk menulis di blog kembali kambuh..

.

Selamat Tahun Baru, Kawan….

Suka Balet? Atau setidaknya anda pernah menonton pertunjukkan balet di panggung kesenian besar? Jika tidak suka atau belum pernah sekalipun menonton, sebaiknya anda segera menonton. Apalagi, jika koreografinya dari Farida Oetoyo.

Farida Oetoyo ini, kalau orang seni bilang, dia lah salah satu maestro balet Indonesia. Dia dengan ide-idenya, telah mencipta puluhan bahkan ratusan koreografi balet yang penuh dengan keindahan, kelincahan dan kelenturan tubuh pemainnya. Balet ditangan Farida Oetoyo menjadi sebuah karya seni yang sungguh indah untuk dinikmati. Tentu, tanpa perlu anda memahami tetek bengek istilah dalah dunia balet.

Seperti dalam pembukaan festival Schouwburg IX di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa pekan lalu. Dua karya Farida, Survival dan Serdtse di pentaskan ulang, yang tentunya tetap mengundang decak kagum penonton.

Saya berkesempatan untuk menontonnya. Malam itu, panggung Gedung Kesenian Jakarta dihiasai cahaya warna merah menyala. Ditengahnya, penari dengan topeng warna putih bergulat bersama kain warna merah menyala yang membelit tubuh mereka. Pelan mereka bergerak seiring dengan music yang banyak diwarnai detail piano, bass dan gesekan biola.

Pelan, mereka mencoba lepas dari lilitan kain tersebut. Alih-alih lpeas, mereka justru terjebak. Masuk menyelip dalam belitan kain panjang warna merah menyala. Bergerak, menyumbat lalu diam tak bergerak. Tak berapa lama, para penari ini terlepas, muncul dengan wajah barunya. Kali ini tanpa mengenakan topeng.

“Ini adalah sebuah pertunjukkan yang memang inspirasinya dari dalam diri saya sendiri. Ini merupakan pengalaman yang saya lakoni,” kata Farida Oetoyo

Inspirasi yang dimaksud Farida Oetoyo adalah pertunjukkan Serdtse atau The Heart yang malam tersebut disajikan dengan diringi kemasan music live oleh anaknya Aksan Sjuman. Serdtse atau The Heart, merupakan jenis tari Ballet dengan unsure kontemporer yang sangat kental. Farida yang lebih banyak menganut aliran ballet klasik, menyelipkan jenis tarian kontemporer yang indah dan sangat artistic di karyanya kali ini.

“Tidak semuanya kontemporer. Karena unsur balletnya juga sangat kental. Karena memang akar saya di ballet, jadi saya tidak bisa meninggalkan ballet dalam semua karya-karya saya ini,” tegas Farida Oetoyo.

Serdtse sendiri menceritakan tentang seorang danseur atau ballerino (sebutan untuk penari balet laki-laki) yang menjalani hari-harinya. Ada denyut kehidupan, ketenangan, aneka persoalan hingga sebuah kematian. Dialah sosok yang terbelit kain merah, hingga di akhir episodenya harus mati.

Dalam koreografi kali ini, Farida mengibaratkan kain warna merah tersebut adalah pembuluh darah yang mengalir ke dalam jantung. Dan dalam perjalanan hidupnya, ayah Farida Oetoyo, R Oetoyo Ramelan meninggal karena penyakit jantung yang diderita.

“Gadis yang berjalan keluar di tengah-tengah laki-laki yang terkapar di tengah tad, adalah gambaran bahwa inilah masa depan ballet. Ada generasi balet baru yang lahir,” tandas Farida.

Serdtse sendiri merupakan karya terbaik yang pernah dipentaskan oleh Farida Oetoyo. Sebelumnya, Serdtse pernah juga dipentaskan pada September 2006 di GEdung Kesenian Jakarta. Untuk pentas kedua ini, Farida Oetoyo menambah beberapa detail koreografi dan tekanan pada music, hingga tersaji pertunjukkan yang lebih hidup, penuh gairah dan lebih manusiawi.

Dalam festival Schouwburg IX—schouwburg adalah nama gedung kesenian Jakarta pada masa lalu—kali ini Serdtse merupakan tari pembuka kedua dalam festival kali ini. Di tempat dan hari yang sama, Farida Oetoyo menampilkan terlebih dahulu tari ballet klasik Survival.

Dalam tari Survival ini, Farida Oetoyo yang memang memiliki akar ballet klasik, menyelipkan sedikit sentuhan neo klasik di dalamnya. Gerakan-gerakan indah ballet klasik disajikan tanpa cerita, hanya komponen koreo tari ballet yang indah, gembira lewat Survival.

“Dalam karya Survival ini memang tidak ada jalan cerita atau maksud tertentu. Saya ingin membiarkan penonton menikmati gerak tari tanpa harus repot-repot memikirkan jalan cerita. Nikmati saja gerakan dan musikalitasnya,” tegas Farida

Dan memang, dalam Survival ini, Farida lebih banyak menonjolkan keindahan gerakan dari penari-penari balet semata. Gerakan ballet klasik dipentaskan dengan keindahan, keanggunan lewat penari-penarinya.

Dengan musikalitas dari composer Sergei Prokofiev, Farida hendak menampilkan eksistensi balet dalam Survival. (*)

Saya tengah tertegun di bawah patung kepala Patih Gajahmada yang gagah tertempel di dinding Galeri Nasional. Saya menatap tajam ke arahnya. Entah kenapa, patung kepala gajah mada yang ditempel dalam pameran Keris For The World 2010 itu membuat batin saya bergelora. Ada semacam percik api yang membakar adrenalin saya hingga ada semacam semangat yang berkobar di dalamnya. Itu masih patung. Coba jika patih kerajaan Majapahit itu berdiri gagah dengan rambut digelung berteriak diantara pasukan kerajaan. Sungguh saya tak bisa membayangkan.

Malam itu, di Galeri Nasional sedang ada pameran Keris For The World 2010. Ini adalah pameran keris terbesar yang pernah saya lihat. Ada ratusan keris tergeletak rapi dengan ragam bentuk.

Diantara ratusan keris yang dipamerkan, terdapat keris bernama Kanjeng Kyai Yudhoyono, Kyai Kanjeng Budiono dan Kyai Kanjeng Obama Panandito. Keris ini koleksi seorang budayawan, pelukis sekaligus kolektor keris H Hardi.

Lalu ada juga Keris luk 9 milik Soegeng Prasetyo. Bentuk keris ini berlekuk sembilan, sehingga dinamakan luk 9, dapur panimbal, dengan pamor yang bergelar Pedaringan kebak. Keris ini buatan jaman mataram-ki supe anom. Dengan warangka ladrang cendana wangi, jejeran Yudaningratan, selut berlian dan pendok blewahan perak.

Istilah dalam Keris memang beragam. Warangka, dalam keris berarti sarung atau tempat bagian terluar dari keris. Warangka pun terbagi menjadi dua dilihat dari bentuknya, yakni jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis warangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Pamor sendiri berarti hiasan, atau bentuk yang terdapat pada badan keris, yang timbul karena teknik penempaan keris oleh mpu pembuatnya. Pamor dalam setiap keris tidak pernah sama. Itulah yang menyebabkan kenapa keris memiliki nilai seni yang tinggi. Karena dari ribuan keris, hampir semuanya memiliki bentuk dan gelar yang berbeda. Sedangkan dapur atau wilahan adalah bagian utama dari keris. Sama seperti pamor, bentuk dapur juga sangat beragam yang umumnya menjadi daya tarik utama dari keris-keris ini.

Keris, bagi bangsa Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai. Dia lah benda yang berubah menjadi sebuah “harta karun” tak ternilai, karena nilai historis dan kekayaan seninya yang bernilai tinggi.

Jauh sebelum UNESCO memberi pengakuan kepada keris sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama batik dan wayang, Keris telah menjadi kebanggan bangsa ini sejak abad ke 9. Dari zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram hingga kasultanan Yogyakarta dan Solo, Keris telah menjadi sebuah benda yang mampu membuat pemiliknya berwibawa.

Kini, keris memang berubah fungsi sebagai sebuah hiasan, tak lagi ada embel-embel spiritual dan pengkultusan layaknya benda keramat yang disematkan kepadanya. Meski demikian, bagi penggemarnya, Keris tetap menjadi sebuah kebanggan dan merbawani untuk di koleksi dan disimpan dalam rumah.

Berdasarkan tahun pembuatannya, keris memang mengalami pergeseran periodesasi. saat ini keris digolongkan menjadi dua, yakni eris Sepuh dan Kamardikan. Keris sepuh, sesuai dengan namanya yang diambil dalam bahasa Jawa, berarti tua. Keris sepuh ini, digolongkan pada tahun pembuatannya yang konon dibuat pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sedangkan keris Kamardikan, merupakan keris yang dibuat pada zaman sekarang.

Dan di pameran yang dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ini, percaya atau tidak, keris sepuh, banyak dipamerkan. Ini menjadi pertanda bahwa keris jaman kerajaan di Indonesia, masih banyak beredar. Menjadi sebuah harta karun yang tak ternilai harganya.

“Ini adalah sebuah harta karun yang tak ternilai,” kata Inisiator pameran Keris for the world 2010, H. Hardi.

Pelukis dan budayawan ini mengatakan keris memiliki kekayaan seni yang sangat tinggi. Keris, untuk saat ini tak lagi sebagai sebuah senjata untuk melukai, melainkan sebuah seni. Keris sekarang hanya menjadi benda untuk dikoleksi dan hiasan yang dipakai dalam baju adat.

“Saya berani menjamin tidak ada keris dalam pameran ini yang pernah dipakai untuk melukai apalagi membunuh. Saya juga tidak lagi percaya ada sebuah sugesti yang dikeramatkan,” tegas Hardi

Ketua panitia Keris for the world, Toni Junus mengatakan, selama ini memang ada pergeseran periodesasi keris. Keris kamardikan umumnya dibuat oleh mpu pembuat keris pada masa abad ke 19. Pada jaman ini, keris kamardikan seolah berjalan menapak tilas teknologi mpu masa lalu dengan “social message” yang menjanjikan suatu kemerdekaan. Keris-keris ini, mulai kembali menata tradisinya, dan membuat pemahaman kultural terhadap nilai keluhurannya.

“Keris kamardikan akan tampil berbobot luar dalam, dengan meterial yang unggul, dan penggarapan melalui teknik yang lebih maju,” ujar Toni.

Saya yang memang suka dengan berbagai seni budaya asli Indonesia, sungguh sangat bangga dengan warisan budaya ini. Bayangkan saja, bentuk dari senjata khas Indonesia ini sangat cantik. Konon, selain sebagai senjata, dulu Keris banyak dipakai orang hanya untuk pamor dari pemiliknya. Dan semoga, warisan budaya bangsa kita ini, tetap terjaga. Tak peduli klaim dari bangsa lain.

Sudah sebulan ini, Gedung Kesenian Jakarta menggelar pentas budaya Jakarta Anniversary Festival VIII. Saya, nyaris tak pernah absen datang ke GKJ, sekedar untuk menonton festival budaya yang jarang ada ini.

Saya memang suka dengan gelaran budaya semacam ini. Ditengah hiburan dan gemerlap musik techno yang menggila, GKJ tetap setia menyuguhkan pentas budaya. Gempuran musik-musik barat, nampaknya hanya menggerus dinding terluar GKJ. Sementara, di dalam gedung warisan dari Belanda ini, musik-musik tradisional, tari, hingga teater hidup dengan dunianya, meski kadang nafas mereka kembang kempis karena kerja keras mereka tak banyak diapresiasi oleh penonton di Ibukota.

Gelaran terakhir Jakarta Aniversary Festival, kemarin menghadirkan EKI Dance Company lewat produksi mereka Jakarta Love Riot. Ini adalah hiburan segar sekaligus pagelaran paling sukses, karena selama tiga hari penuh, tiket sold out.

Jakarta Love Riot adalah sebuah kisah tentang cinta, citra, dan arti sebuah pertemanan dalam potret kehidupan kota metropolitan.

Mengusung konsep drama komedi musical, Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company mencoba menawarkan sebuah teater kontemporer yang lucu, satir sekaligus menyelipkan banyak pesan moral.

Dengan mengkombinasikan antara cerita-cerita yang lucu, akting menawan dari pemainnya dan musik yang indah, Jakarta Love Riot: Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok menjadikan produksi EKI Dance Company kali ini sukses luar biasa

Jakarta Love Riot sendiri bercerita tentang sepasang anak muda yang saling jatuh cinta. Namun, karena keduanya memiliki status sosial yang berbeda, membuat cinta mereka jadi sumber masalah.

Adalah Genk Rempong, gerombolan remaja Jakarta masa kini dengan dandanan modis, gaul dan serba hedon. Merekalah potret kehidupan remaja meteropolitan yang sering kali mengikuti tren yang berkembang.

Nala adalah salah satu anggota dari mereka. Nala, anak seorang desainer terkenal yang kaya raya. Namun, kehidupan Nala bagaikan hidup dalam sebuah aquarium. Ia dibatasi oleh keindahan-keindahan dan tata krama untuk bergaul dengan dunia luar.

Hingga kemudian, Nala bertemu dengan Toto. Pemuda sepantaran yang ganteng, namun bermasalah dengan kehidupan sosialnya. Toto hanyalah anak seorang penjual soto di emperan Manggarai. Dialah Toto yang nyaris tak pernah mengikuti tren remaja masa kini.

Pertemuan sepasang kekasih dalam status sosial yang berbeda inilah yang kemudian memantik konflik, menimbulkan kecurigaan, kepanikan, dan kekisruhan di keluarga dan komunitas masing-masing. Dalam kasus ini, mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya. (more…)

Siapa tak kenal panganan Kerak Telor? Bagi anda yang tinggal di Jakarta, Kerak Telor tentu tak lagi asing. Makanan ini menjadi sebuah santapan tradisi bagi warga Betawi.

Kerak telor merupakan makanan asli Jakarta. Biasanya, dijual pakai gerobak pikul dengan tungku bara yang mengepul untuk memasaknya. Kerak Telor menjadi santapan yang enak manakala campuran antara beras ketan putih, telur ayam/bebek, ebi (udang kering yang diasinkan) disangrai kering diatas tungku dengan wajan yang terbalik. Lalu ada bawang merah goreng, diracik dengan bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir hingga menjadikan makanan tradisional ini memiliki rasa gurih, yang menjadi cita rasa khas Indonesia.

Ya, Indonesia memang memiliki ragam masakan yang beraneka rupa. Puluhan bahkan ratusan masakan asli Indonesia tersebar dari penjuru tanah air dengan aneka rasa sesuai khas penghuninya. Masakan khas Indonesia, tentu menjadi kekayaan milik Indonesia yang tak pernah habis.

Hampir di setiap daerah, memiliki kekhasan dalam makanan. Bahkan soal rasa, seringkali disesuaikan dengan kebiasaan serta indra perasa masing-masing. Jika di Jakarta, ada kerak telor, ketoprak, soto betawi hingga Nasi Uduk yang gurih, tentu berbeda dengan Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masakan-masakan yang bercita rasa asin seperti di Jakarta, kurang diminati.

Di DIY dan Jawa Tengah, masakan bercitarasa manis jadi adonan yang mengasikkan untuk disantap. Tentu anda tak asing dengan masakan Gudeg. Masakan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memiliki citarasa yang manis.

Gudeg terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Untuk membuat adonan yang enak dan empuk, perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan, dengan campuran bumbu-bumbu lainnya. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek

Telor ayam kampung sendiri, direbus dengan campuran kecap dan gula merah hingga membuat, cita rasa telor dalam campuran Gudeg pun jadi teramat manis. Di daerah Yogyakarta, Solo atau Jawa Tengah, Gudeg sendiri disajikan dalam tiga adonan yang berbeda. Yakni gudeg kering, dimana makanan ini disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Lalu ada gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Dan Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. Semuanya memiliki cita rasa yang berbeda.

Itu baru Gudeg, belum makanan dari daerah lainnya di Indonesia, seperti Rawon, Tengkleng, soto lamongan, Rendang, Sate Madura, Ayam Betutu khas Bali, Ayam Taliwang, Coto Makassar, colo-colo khas Maluku, hingga Mi Aceh. Semuanya memiliki keragaman rasa yang berbeda.

Namun, seolah sudah menjadi makanan keseharian yang sering dinikmati, terkadang hadirnya masakan tradisional ini malah di tinggalkan. Bahkan untuk mencari masakan khas daerah, butuh tempat tersendiri. (terkecuali masakan padang yang memang sudah menjamur dimana-mana)

Bahkan di mall-mall yang tersebar di seluruh daerah, justru hegemoni masakan cepat saji menjadi penguasa tunggal bisnis makanan di Indonesia. Mulai dari crepes, donat, burger hingga ayam goreng tepung.

Bisnis waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) misalnya, hadirnya di Indonesia sudah seperti gurita. Masuk di Indonesia pada tahun 1979, gerai yang dulu dikembangkan oleh Kolonel Sanders ini hingga kini sudah memiliki gerai lebih dari 368 yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Motivator Tung Desem Waringin bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan kunci keberhasilan KFC bukan sekadar infrastruktur, akan tetapi sumber daya manusia di dalamnya yang memberikan pelayanan. Ketatnya persaingan pada bisnis waralaba di Indonesia, membutuhkan inovasi tidak saja kepada produk, tetapi juga strategi pemasaran.

Tentu saja, susah untuk menyandingkan antara masakan tradisional Indonesia dengan masakan cepat saji seperti KFC, atau bisnis Crepes yang menjamur. Bahkan soalan ini tak hanya bicara soal makanan semata, tapi juga persoalan bisnis.

Konsumen Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota, memang cenderung menyukai makanan-makanan cepat saji yang disajikan di mall-mall. Inovasi yang terus berkembang dengan menu-menu yang terus berubah, menjadikan masyarakat ingin terus mencoba dan membeli. Hasilnya, masakan cepat saji jadi idola masyarakat saat ini.

Lagipula selama ini juga tak ada franchise Kerak Telor yang didagangkan di both-both makanan di mall. Padahal, di kota besar makan tak lagi menjadi kewajiban untuk mengisi perut saja, tetapi juga rekreasi. Bayangkan, betapa nikmatnya jika bisa menikmati kerak telor sembari menyeruput kopi di tengah lalu lalang orang yang tengah berbelanja dompet merk Versace, Gucci atau memilah-milah underwear Triumph dan Sorella.

Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka.

“Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama dengan kamu,” ujar Maria

Maria, perempuan muda dengan kulit bak pualam, dengan binar mata yang indah memang selalu mempesona Jay. Maria telah meluluh lantakkan perasaan Jay sejak pertama kali mengenalnya. Maria, meski sudah memiliki seorang anak lelaki, tak menyurutkan cinta Jay, meski hubungan mereka terpisahkan oleh jarak dan status.

“Kamu tau Jay, emotional affair itu jauh lebih bahaya dan menyiksa daripada physical contact. Aku ingin menghindari semua ini, Jay,”
“Aku tau, Maria. Tapi aku tak akan pernah bisa untuk melupakanmu. Bahkan menyimpannya dalam laci hati paling dalam sekalipun,”

Keduanya diam. Lalu mata mereka bersirobok dalam pantulan senja yang keemasan. Jay menatap dalam mata Maria. Maria tersenyum. Dalam bilik hati terdalam, Maria juga merasakan hal yang sama seperti Jay. Tak pernah ia bisa melupakan lelaki yang pernah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tapi semuanya sudah berubah.

Di kejauhan, Lio berlarian di bawah pohon kenari. Memelorotkan celana lalu terdengar seperti air gemericik membasahi rindang pohon kenari. Mereka menoleh. Sontak, terbahak.

“Itu Ayahnya yang mengajari Lio kencing di bawah pohon,”

.
*Terimakasih untuk Ike dan Lio*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.