Meja bulat itu berwarna coklat. Hanya ada dua cangkir cappuccino mengepul, dan beberapa kue kering. Diluar sepi, tak ada lalu lalang. Ruangan sudah gelap, cahaya lilin di pojok tak cukup menerangi kegelisahan hati kami.
Dalam cahaya remang, aku tak bisa melihat paras cantik perempuan itu. Rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Hanya bibirnya yang memerah samar terlihat olehku dalam gelap.
Pun hanya wangi aroma tubuhnya yang dapat aku rasakan kehadirannya. Ah.. wangi itu. Wangi aroma tubuh itu membuat aku ingin mendekap lama-lama. Wangi yang membuatku seolah melayang seketika, seharum cappuccino kesukaan kami.
“Kalau ada masalah ngomong donk, beb!” ujarku hati-hati. Takut menyakiti perasaannya. “Aku telp, SMS, kau tak pernah angkat, apalagi menjawabnya. Apa sih susahnya berterus terang? Bukankah kau paling suka membalas SMS-SMS itu dengan riang, dengan tawa yang selalu kurindukan?,”
Perempuan itu diam. Ia justru memalingkan wajahnya. Kali ini sama sekali tak terlihat olehku pesona kecantikan perempuan berdarah keturunan ningrat bercampur Jepang itu.
“Beb, kau jangan terus-terusan diam seperti ini. Kau selalu menghargai keterbukaan dan kejujuran kita, bukan?. Tapi kau akhir-akhir ini diam, tak pernah mau menyapaku. Apakah kau memang sengaja mempermainkan perasaanku?,”
Aku menghela nafas. Aku mainkan cangkir cappuccino berhias busa dan coklat melingkar diatasnya itu. Sesekali aku putar-putar. Sudah tak ada niat untuk meminumnya. Perempuan itu, ya perempuan dengan aroma wangi yang membuatku rindu itu, tetap tak mau bergeming. Ia tetap duduk diam didepanku. Hanya jemari mungilnya ia permainkan di atas meja. Mengetuk-ketuk membuat suara-suara bernada kecemasan.
“Plis beb. Sepatah kata saja, apa sih salahnya,” rujukku.
Tiba-tiba perempuan itu bangkit. Masih saja ia tak mau menatapku. Menunduk, lalu, “Buat sementara jangan kau hubungi aku. Permisi..,” ujarnya lirih. Ia berbalik Lalu tiba-tiba.. splashhhhh…
Ia menghilang seketika bersama munculnya kabut tebal. Perempuan itu menghilang, ya hilang secara wujud. Tinggal aku sendiri panik kebingungan.
“Beib.. beibbb… dimana kau..” aku panik. Aku beranjak mencarinya, menatap langit-langit ruang yang gelap dan mulai teriak-teriak
“Beib…Dee.. Deeeeeee.. Deeeeeeee…….”
Terus saja aku teriak…
Lalu tiba-tiba terbangun. Dadaku bergerak naik turun, nafas tersenggal. Panas, pengap dan gelap. Sudah dua hari ini aku mimpi serupa.
Sayup-sayup lagu Andra and The Backbone lirih terdengar dari winamp komputer yang saya hidupkan sejak tadi malam,
……
tak kan mampu menghadapi semua,
hanya bersamamu ku akan bisa,
kau adalah darahku, kau adalah jantungku,
kau adalah hidupku, lengkapi diriku
oh sayangku, kau begitu…
ah…. hari ini tiba-tiba aku begitu membenci Andra.
Kemanggisan, 15 Februari 2008

17 February, 2008 at 5:45 am
beuh…!!! ternyata……
17 February, 2008 at 11:14 am
ati ati, mimpi mungkin sebuah pertanda.
17 February, 2008 at 11:22 am
makanya baca Bissmika dong!!hehehe
17 February, 2008 at 7:29 pm
hmm….aku ga menghilang ko…i’m back to you…sorry..bikin khawatir…^_^
18 February, 2008 at 2:29 am
mimpi to?
19 February, 2008 at 9:44 am
jadi ngebayangin minum hot capucino bareng kowe dan fiandigital, gayeng becandaan…
21 February, 2008 at 4:10 am
Wah gara2 mimpi jd benci sama andra…
23 February, 2008 at 9:06 am
heh nek balik aku melu kopdar mbek kowe. he he he
26 February, 2008 at 10:12 am
udah hanyut…
eh hanya mimpi…
7 March, 2008 at 7:41 am
ternyata…termasuk golongan penganut paham hati rinto yang mas sofyan? hehe..
7 March, 2008 at 7:43 am
eh…mengedit yang di atas:
ternyata…termasuk golongan penganut paham hati rinto ya, mas sofyan? hehe…
*itu yang bener*