foto by Arif Nugroho – SINDO
Hari ini saya sakit. Ah hanya sakit biasa. Tak perlu cemas. Mungkin, hanya perlu sedikit istirahat saja. Biasalah, beberapa hari ini kan hujan terus-terusan mengguyur Jakarta. Dan saya, suka bandel menerjang hujan seperti anak kecil yang bermain bola di lapangan becek, ditengah hujan deras.
Habis bagaimana lagi, saya kan harus mengejar informasi. Tak boleh ketinggalan, makanya terkadang saat hujan mulai menderas, justru saya menerjangnya. Tentunya dengan jas hujan, meski tetap saja basah. Seketat apapun jas hujan yang saya pakai, kalau naik motor, angin dan dingin air hujan tetap saja masuk ke pori-pori tubuh saya. Mungkin dari situ penyakit ini datang.
Bicara soal hujan, dan lapangan becek, mengingatkan masa kecil saya dulu di kampung Srondol, Semarang. Masa kecil yang menyenangkan tentunya. Saya punya teman sepermainan. Namanya Rudi. Sejak kecil hingga sekarang, saya sering main dengan dia. Dia lebih tua dari saya setahun, tubuhnya bongsor dan terlihat lebih kokoh dibanding saya yang kurus kering macam ini.
Dulu sekali, dikampung saya itu, kami selalu berdua saja bermain. Kami suka main bola, apalagi kalau hujan. Wah, maklumlah, namanya juga anak-anak. Kalau hujan datang, kami pasti berlarian di tengah padang rumput, mengejar bola. Terkadang bermain “plorotan” dengan batang daun kelapa. Tentunya, dengan segera membuat baju kami kotor, dan kumal. Imbasnya, jika magrib sudah bertalu-talu, kami suka sembunyi-bunyi pulang kerumah. Kalau sampai ketahuan, dihajarlah saya ini. Tapi biasanya tidak menangis, meski sandal bapak saya mendarat mulus di pantat saya.
Sayangnya, menginjak kami SMP, lapangan becek yang biasa kami pakai untuk berkejaran dan main plorotan itu, mulai dibangun perkantoran. Ah.. backhoe itu meraung-raung menghancurkan tempat kami bermain. Gawang itu diterabas, diterjang, begitu saja dengan mesin bertaring tajam. Seperti kesurupan, mesin itu menghancurkan apa saja.
Kami menangis, berdua kami hanya bisa sesenggukan meratapi tempat kami bermain itu kini berubah wujud jadi petak-petak pondasi bangunan. Tak ada lagi tempat kami bermain. Semuanya hancur oleh bangunan mewah yang menatap kami dengan sombong.
***
Ah hari ini sakit. Saya harus istirahat lagi. Cukup dikamar sewa sajalah.

7 March, 2008 at 10:59 am
ternyata di semarang pun terracuni oleh para kapitalis ya Nduk!!
8 March, 2008 at 1:04 pm
ah, jadi ingat lagu iwan fals…
ujung aspal pondok gede..
*usap air mata*
sini deh ta’ kelonin..
hehehehe
8 March, 2008 at 1:17 pm
ah, jadi ingat lagu iwan fals…
ujung aspal pondok gede..
*usap air mata*
sini deh ta’ kelonin..
hehehehe
itu gue!!
salah log in malih!!
8 March, 2008 at 1:23 pm
wah..bang sofyan..suka ujan-ujanan juga ;b
*komen yang sangat nggak penting*
13 March, 2008 at 11:01 am
melow banget! tp begitulah kalau sakit pas hujan-hujan..hati rasanya jadi keciiiil banget trus mulai deh mikir yg melow2 gitu (pengalaman pribadi soalnya, hehe..)
salam kenal! nice blog..
14 March, 2008 at 6:52 am
tapi dah sembuh to kang? jgn lama2 kasian mbaknya. he he he
eh sekali2 main di blog yg ini ya. biar g sepi2 bgt. he he he
20 July, 2008 at 8:13 am
mas Sofyan,
Tulisanmu Mengingatkan Aku Pada Masa Kecilku Di Kampung……
Di Sana Hujan Selalu Di Nanti2 Setiap Anak2 Kecil…..
Tak Terkecuali Aku,Sekarang Boro2 Ujan2an,Kena Angin Dikit Aja Udah Puyeng,Hwehehehehehehehe….
Maklum Udah Nenek2……..
11 March, 2009 at 3:21 pm
Semua…
hanya sebentar…
tak utuh selamanya….
di dunia
28 April, 2009 at 7:07 pm
hujan…
selalu turun dengan indah..
selalu turun pada sa’at yang tepat
dan pada sa’at yang sangat kita harapkan…
dan terkadang kita tak menyadarinya…