30 Maret, 2008
Kenapa tiba-tiba saya ingin nulis tentang film Petualangan Sherina? Geblek. Itu kan film jadul yang booming delapan tahun lalu. Apa nggak telat? Hehehe.. biarin aja, ngeblog kan bebas.
Dari pada nulis film AAC yang saya sendiri baru menyadari bagusnya film itu di ¼ film sebelum berakhir?. Lagian film itu juga sudah banyak yang me-review. Jadi, ogah ah. Saya mau menulis tentang petualangan sherina saja. Bolehkan?
Baik, ceritanya begini.
Saya sedang asik menulis untuk laporan harian, ketika kawan saya tiba-tiba menghampiri. Duduk dia disamping saya, sembari senyum-senyum. Kawan saya ini perempuan. Cantik, dengan wangi Bvlgari Extreem yang biasa dipakai laki-laki.
Waduh, sial. Ini sudah masuk deadline!
Padahal, biasanya saya suka sekali kalau dihampiri wanita cantik. Tapi bukan malam ini.
Dia mengawali pembicaraan soal film bertema anak-anak yang tak lagi ada pasca Petualangan Sherina (2000), kebetulan hari ini ada aksi simpatik prihatin film anak. Kawan saya ini terus saja ngomong tak jelas. Prihatin lah, nggak suka dengan booming film bertema horror, lengkap dengan argument-argumennya.
Saya cuman cengegesan.
Kawan saya itu sepertinya merasa rindu menonton film anak-anak bermutu pasca petualangan Sherina.
“Kau dulu nonton film Petualangan Sherina kan, bang?”
Petualangan Sherina?. Ya. Film karya Mira Lesmana dan Riri Riza itu pernah saya tonton. Saya jadi ingat dulu sewaktu SMA, untuk menonton film ini saja harus ngantri mengular diselingi tawa dan tangis anak-anak yang kepanasan.
Sumpah, itu film anak-anak Indonesia pertama yang saya ingin menontonnya di bioskop, pasca dijejali film-film macam Ranjang yang Ternoda, Gadis Metropolis, Gairah Terlarang dan film-film bertema seks lainnya. (waduh kenapa malam ini, tiba-tiba saya rindu sekali nonton filmnya Inneke yah? Hehe)
Petulangan Sherina adalah film yang banyak berisi pesan moral kepada anak-anak. Tagline-nya saja mantab. Akankah kamu membantu musuhmu bila dia berada dalam bahaya?
Nah, Sherina (diperankan oleh Sherina Munaf) ini tipikal seorang gadis cilik yang cerdik dan energik. Layaknya keluarga yang sering berpindah tempat, orangtua Sherina, Darmawan (Mathias Muchus) harus pindah ke Bandung, karena Darmawan diterima bekerja di keluarga Ardiwilaga (Didi Petet).
Dari sinilah konflik itu muncul. Sherina pun harus bertemu dengan Sadam (Derby Romero) anak nakal yang lemah. Sherina dan Sadam, dikelasnya dikenal sebagai dua anak yang saling bermusuhan. Namun, dasar Sherina yang ingin tau kenapa Sadam bisa nakal seperti itu, makanya Sherina mau saja berteman dengan Sadam yang notabene anak dari keluarga Ardiwilaga.
“Sherina, kalau kamu tidak mengenal teman kamu lebih dekat, mana mungkin kamu bisa tahu kenapa dia jadi nakal begitu?”
Hmmm…. Ya, ya..
Konflik dalam film ini tak hanya sampai disitu, konflik memuncak ketika mereka berdua diharuskan berhadapan dengan komplotan penjahat pimpinan Pak Raden yang merupakan orang suruhan seorang pengusaha licik bernama Kertarajasa. Sherina dan Sadam pun terlibat sebuah petualangan seru yang betul-betul menguji kecerdikan dan keberanian mereka. Dalam film ini, juga mengajari nilai nilai-nilai kerjasama dan persahabatan. Nah, anak-anak.. Akankah kamu membantu musuhmu bila dia berada dalam bahaya? Hayoo… tunjuk jari??
Film anak-anak memang penuh dengan pesan moral. Di Indonesia sendiri, pasca film petulangan Sherina diikuti oleh booming film anak-anak macam film Joshua oh Joshua, Petualangan 100 jam, Janus Prajurit Terakhir, Bunga, Bendera, Trio Penjelajah Dunia, Denias : Senandung diatas awan, hingga Untuk Rena. Sayangnya, memasuki dua tahun terakhir ini, film-film anak-anak jarang lagi ada.
Semua dijejali oleh film-film bertema cinta remaja dan tentunya horror. Semuanya nyaris melupakan film anak-anak. Apakah film anak-anak kurang menjual? Ah, sepertinya itu masih debatable. Kalau ukurannya adalah film anak-anak itu kurang menjual daripada film horror, mari lihat fakta-fakta ini.
Fakta film anak-anak itu tetap marketable.
1. Ditonton keluarga.
Karena ini film anak-anak, tentunya akan banyak yang menonton. Tak mungkin anak-anak itu menonton sendirian. Tentunya minimal satu anak, didampingi satu orang dewasa. Nah, kalo ada 100 anak yang menonton, itungan kasarnya 200 orang dewasa akan menonton film ini bukan?
2. Bangunan Cerita Sederhana
Film anak-anak tentunya sederhana dalam cerita. Nggak harus njlimet seperti film-film thriller dewasa. Dora misalnya. Sederhana, namun menggena. Berhasil!! Berhasil!! (hehehe.. jadi inget seseorang yang menggemari film dora)
Tapi semua itu juga harus di barengi dengan
3. Strategi Marketing
Strategi marketing tentunya harus mantab betul. Sebenarnya tak hanya film anak-anak saja. Semua film tentunya membutuhkan promosi yang jitu. Inget nggak film G30S/PKI. Betapa dulu anak-anak SD diwajibkan menonton film ini.
4. Jitu Mempertimbangkan Waktu
Nah, ini sebenarnya masuk dalam bagian stretegi marketing. Jitu mempertimbangkan waktu ini adalah soal waktu pemutaran. Tak mungkin jadwal tayang film anak-anak diputar ketika anak-anak sedang menjalani ujian. Libur panjang, saya pikir akan menarik anak-anak untuk menonton film.
Waduh kok saya jadi nglantur begini ya? Sok tau lagi.
Ya maaf.
Hehe, sebenarnya saya menulis ini untuk menyampaikan dukungan saya terhadap film anak-anak. Saya dan kawan saya yang cantik itu muak dengan film-film yang kini sedang digandrungi dan diputar di seluruh penjuru bioskop tanah air.
Nyaris tak ada tempat bagi anak-anak untuk duduk di kursi bioskop yang empuk itu, menonton film dalam negeri. Kalau toh mereka duduk di bioskop, kebanyakan menonton film-film merk Hollywood, dimana kultur dan budayanya berbeda dengan kita. Memang perlu ada niat yang besar untuk menggeser dominasi film anak-anak versi Hollywood dengan film anak-anak dengan budaya sendiri yang kental.
Maju terus film anak-anak Indonesia.
30 Maret, 2008 at 4:41 pm
bro, how bot Denias, Senandung di Atas Awan…?
jd inget Marcella Zalianty, dia bilang, “Kebodohan itu ada karena diciptakan.” Dalem bangets!
——
iya mas, itu salah satu film yang menurutku juga bermutu. ada unsur pendidikan dan budaya.
Mantab benar. sering mampir mas..
31 Maret, 2008 at 4:37 am
anak-anak di negeri ini seolah di lupakan keberadaannya… padahal tanpa mereka, mo jadi apa bangsa ini nantinya ??
—-
iya mas. harusnya memang ada media khusus bagi mereka. bukan dijejali film2 dewasa terus..
*makasih udah mampir
31 Maret, 2008 at 10:15 am
hm..aku memang suka nonton dora(tapi ga perlu ditulis dipostingan blog!!kan nurunin pasaran)biasanya..setiap hari aku itu selalu nonton dora sebelum tidur(ya iyalah secara dora itu tayang jam 04.30 dan gw baru bisa tdr jam 05.00)dan tiap hari minggu aku belom bisa tidur sebelum nonton doraemon.hukekekek..ini kenapa yah??padahal aku udah gede??apa jaman sekarang ini emang udah berubah ya??org dewasa suka nonton film anak2 dan anak2 suka nonton film orang dewasa(jd keinget kemaren sepupuku yg baru kelas 2SMP cerita tentang film DropOut yg baru ditontonnya..itukan film orang dewasa banget…hhh…arrrggghhh)…eniwei…siapa yg suka pake bvlgari extreem let me guess inisial ‘M’ yg lg mencoba mendekatimu yah…bwahkakkakkakakkakakk
—-
nurunin pasaran?
iya soal film dewasa memang memprihatinkan. makanya 3gp video amatir anak-anak SMP-SMA marak bukan.. (paan coba)
Hoi… kurang ajiaarrrrr.. siapa juga yang mau deketin diriku yang cungkring, item, keriting dan nyebelin ini. sukanya ngarang-ngarang. mengobarkan aura peperangan sepertinya.. (sengaja ya?? bwahahakakaka..)
yang suka bvlgari extreem bukankah dirimu??
oh nggak ya.. masih suka pake balsem untuk kerokan ya…
31 Maret, 2008 at 4:03 pm
gini deh bang…gimana kalo kita selesaikan dulu bisnis yang kemaren. Baru abis itu ngerjain film anak-anak…hehehe, macem bener ;b
—-
oya.. mari kita selesaikan satu demi satu.
1 April, 2008 at 6:20 am
sherinanya sekarang udah gede yah
– –
wah iya mas, sherinanya sekarang dah gimana gitu… :p
2 April, 2008 at 8:12 am
iyah mas, manaaaa…
– —
waduh… apanya ya??
2 April, 2008 at 3:25 pm
Blue, kok jarang mampir ke blogku lagi? Ada apa dengan cinta, eh, ada apa gerangan say?
—-
maaf bang, sebulan belakangan ini saya memang tidak pernah Bercinta Dengan Serigala.
untuk itu maafkan saya. padahal, inspirasi itu kadang datangnyanya dari abang. Pie? masih suka yang gurih2?
2 April, 2008 at 4:06 pm
aku ga nabarin aura peperangan lagiii..aku cuman ngasih kompor aja bwehehehe…hah???ternyata selama ini dirimu keriting???ko aku baru tau???huuuwaaa ketipuuuu…(bwahakakakak) btw aku tuh ga pernah suka sama balsem.asli!!!!! aku tuh biasanya pake minyak telon…
—-
bwauwakakakak… ketepu ya.. pssttt.. jgn kenceng2.
oh.. sekarang parfumnya ganti minyak telon tah… nggak balsem lagi. ato balsem aroma minyak telon?
dasar kompor!!!
3 April, 2008 at 2:42 pm
apa sih?? apa sih???
appaaaannn sih???
bilang ajah kalo napsu banget sama sherina…
ahahahahahahaha
—-
haha.. napsu itu makanan apa ya??
enak keliatannya
4 April, 2008 at 7:05 am
aku suka apa ya??? banyak sih. dari laptop si unyil sampe denias aku suka semua. dr kartun disney sampe coic strip ak jg suka. dan itu bikin adek2ku suka jg. so………………..
—-
ahahaha.. suka anak-anak juga
cepek dulu donk
5 April, 2008 at 9:54 am
sudah nonton denias? anak-anak borobudur juga layak tonton ko
—-
denias oke mas, tapi kalu ditonton anak-anak apa nggak berat ya?.
13 April, 2008 at 3:18 pm
Sepakat, Street Kings Mantabb ya Bang. Sempat, menit2 awal nyaris nguap lhoo, tp gak jadi. Ekskalasi kian meningkat, mlh bikin TERPAKU di tempat duduk. Ak suka twist-nya, terutama kematian mitra Ludlow (Reeves), si Discants alias Disco (Chris Evans). Inget kata2 istri mendiang Terrance Washington, “Jangan balas darah dengan darah!” tapi akhirnya Ludlow-mau tdk mau-harus menyapu semuanya. Inget film ini, jd miris dgn “demokrasi” kebebasan bersuara di bumi kita ya brow.. mungkinkah ada film sejenis ini beredar di Indonesia? Mustahil. Ujung2nya nasib sineasnya bs spt Slank dg kontroversi lagu “Gosip Jalanan”-nya..
13 April, 2008 at 3:30 pm
sorry, slh masuk….maksudnya utk koment resensi Death Sentence…