sherin4.jpgKenapa tiba-tiba saya ingin nulis tentang film Petualangan Sherina? Geblek. Itu kan film jadul yang booming delapan tahun lalu. Apa nggak telat? Hehehe.. biarin aja, ngeblog kan bebas.

Dari pada nulis film AAC yang saya sendiri baru menyadari bagusnya film itu di ¼ film sebelum berakhir?. Lagian film itu juga sudah banyak yang me-review. Jadi, ogah ah. Saya mau menulis tentang petualangan sherina saja. Bolehkan?

Baik, ceritanya begini.

Saya sedang asik menulis untuk laporan harian, ketika kawan saya tiba-tiba menghampiri. Duduk dia disamping saya, sembari senyum-senyum. Kawan saya ini perempuan. Cantik, dengan wangi Bvlgari Extreem yang biasa dipakai laki-laki.

Waduh, sial. Ini sudah masuk deadline!
Padahal, biasanya saya suka sekali kalau dihampiri wanita cantik. Tapi bukan malam ini.

Dia mengawali pembicaraan soal film bertema anak-anak yang tak lagi ada pasca Petualangan Sherina (2000), kebetulan hari ini ada aksi simpatik prihatin film anak. Kawan saya ini terus saja ngomong tak jelas. Prihatin lah, nggak suka dengan booming film bertema horror, lengkap dengan argument-argumennya.

Saya cuman cengegesan.

Kawan saya itu sepertinya merasa rindu menonton film anak-anak bermutu pasca petualangan Sherina.

“Kau dulu nonton film Petualangan Sherina kan, bang?”

Petualangan Sherina?. Ya. Film karya Mira Lesmana dan Riri Riza itu pernah saya tonton. Saya jadi ingat dulu sewaktu SMA, untuk menonton film ini saja harus ngantri mengular diselingi tawa dan tangis anak-anak yang kepanasan.

Sumpah, itu film anak-anak Indonesia pertama yang saya ingin menontonnya di bioskop, pasca dijejali film-film macam Ranjang yang Ternoda, Gadis Metropolis, Gairah Terlarang dan film-film bertema seks lainnya. (waduh kenapa malam ini, tiba-tiba saya rindu sekali nonton filmnya Inneke yah? Hehe)

Petulangan Sherina adalah film yang banyak berisi pesan moral kepada anak-anak. Tagline-nya saja mantab. Akankah kamu membantu musuhmu bila dia berada dalam bahaya?

Nah, Sherina (diperankan oleh Sherina Munaf) ini tipikal seorang gadis cilik yang cerdik dan energik. Layaknya keluarga yang sering berpindah tempat, orangtua Sherina, Darmawan (Mathias Muchus) harus pindah ke Bandung, karena Darmawan diterima bekerja di keluarga Ardiwilaga (Didi Petet).

Dari sinilah konflik itu muncul. Sherina pun harus bertemu dengan Sadam (Derby Romero) anak nakal yang lemah. Sherina dan Sadam, dikelasnya dikenal sebagai dua anak yang saling bermusuhan. Namun, dasar Sherina yang ingin tau kenapa Sadam bisa nakal seperti itu, makanya Sherina mau saja berteman dengan Sadam yang notabene anak dari keluarga Ardiwilaga.

“Sherina, kalau kamu tidak mengenal teman kamu lebih dekat, mana mungkin kamu bisa tahu kenapa dia jadi nakal begitu?”

Hmmm…. Ya, ya..

Konflik dalam film ini tak hanya sampai disitu, konflik memuncak ketika mereka berdua diharuskan berhadapan dengan komplotan penjahat pimpinan Pak Raden yang merupakan orang suruhan seorang pengusaha licik bernama Kertarajasa. Sherina dan Sadam pun terlibat sebuah petualangan seru yang betul-betul menguji kecerdikan dan keberanian mereka. Dalam film ini, juga mengajari nilai nilai-nilai kerjasama dan persahabatan. Nah, anak-anak.. Akankah kamu membantu musuhmu bila dia berada dalam bahaya? Hayoo… tunjuk jari??

Film anak-anak memang penuh dengan pesan moral. Di Indonesia sendiri, pasca film petulangan Sherina diikuti oleh booming film anak-anak macam film Joshua oh Joshua, Petualangan 100 jam, Janus Prajurit Terakhir, Bunga, Bendera, Trio Penjelajah Dunia, Denias : Senandung diatas awan, hingga Untuk Rena. Sayangnya, memasuki dua tahun terakhir ini, film-film anak-anak jarang lagi ada.

Semua dijejali oleh film-film bertema cinta remaja dan tentunya horror. Semuanya nyaris melupakan film anak-anak. Apakah film anak-anak kurang menjual? Ah, sepertinya itu masih debatable. Kalau ukurannya adalah film anak-anak itu kurang menjual daripada film horror, mari lihat fakta-fakta ini.

Fakta film anak-anak itu tetap marketable.

1. Ditonton keluarga.

Karena ini film anak-anak, tentunya akan banyak yang menonton. Tak mungkin anak-anak itu menonton sendirian. Tentunya minimal satu anak, didampingi satu orang dewasa. Nah, kalo ada 100 anak yang menonton, itungan kasarnya 200 orang dewasa akan menonton film ini bukan?

2. Bangunan Cerita Sederhana

Film anak-anak tentunya sederhana dalam cerita. Nggak harus njlimet seperti film-film thriller dewasa. Dora misalnya. Sederhana, namun menggena. Berhasil!! Berhasil!! (hehehe.. jadi inget seseorang yang menggemari film dora)

Tapi semua itu juga harus di barengi dengan

3. Strategi Marketing

Strategi marketing tentunya harus mantab betul. Sebenarnya tak hanya film anak-anak saja. Semua film tentunya membutuhkan promosi yang jitu. Inget nggak film G30S/PKI. Betapa dulu anak-anak SD diwajibkan menonton film ini.

4. Jitu Mempertimbangkan Waktu

Nah, ini sebenarnya masuk dalam bagian stretegi marketing. Jitu mempertimbangkan waktu ini adalah soal waktu pemutaran. Tak mungkin jadwal tayang film anak-anak diputar ketika anak-anak sedang menjalani ujian. Libur panjang, saya pikir akan menarik anak-anak untuk menonton film.

Waduh kok saya jadi nglantur begini ya? Sok tau lagi.
Ya maaf.

Hehe, sebenarnya saya menulis ini untuk menyampaikan dukungan saya terhadap film anak-anak. Saya dan kawan saya yang cantik itu muak dengan film-film yang kini sedang digandrungi dan diputar di seluruh penjuru bioskop tanah air.

Nyaris tak ada tempat bagi anak-anak untuk duduk di kursi bioskop yang empuk itu, menonton film dalam negeri. Kalau toh mereka duduk di bioskop, kebanyakan menonton film-film merk Hollywood, dimana kultur dan budayanya berbeda dengan kita. Memang perlu ada niat yang besar untuk menggeser dominasi film anak-anak versi Hollywood dengan film anak-anak dengan budaya sendiri yang kental.

Maju terus film anak-anak Indonesia.