20 April, 2008
Namanya Cici. Saya mengenalnya waktu di Jambi beberapa pekan lalu. Cici seorang penari. Dengan jemari lentik dan kaki jenjang yang mempesona.
Saya mengenalnya bukan karena Cici cantik maupun memiliki jemari lentik. Saya nekat menyambangi dirinya setelah tarian yang ia bawakan mempesona hatiku. Gaya menarinya gemulai, terkadang rancak dengan dendang musik khas melayu yang mendayu-dayu.
Cici tersenyum padaku, sesaat sebelum naik pentas. Saya memang sengaja menelusup di belakang panggung untuk melihat-lihat. Saat itu, Cici menari untuk yang kedua kali. Tarian pertama, langsung menarikku untuk menyambangi dia.
Saya ulurkan tangan.
“Saya Cici,” kata dia singkat.
Cici membawakan tarian tradisonal Jambi yang saya sendiri lupa nama tarian itu. Bukan. Bukan karena saya grogi saat berjabat tangan dengan Cici, lantas abai dengan nama tariannya. Bukan. Saat itu, saya sudah mencoba menghafal dengan sungguh-sungguh. Tapi begitu sampai hotel tempat saya menginap, bukan nama tarian yang saya ingat malah Cici. Dasar!!!
Saya suka Cici. Eh tarian yang dibawakan Cici. Kenapa? Karena begitu indah. Sudah lama saya tidak melihat secara langsung pertunjukan tari tradisional. Memakai kostum khas daerah, dan gemulai lembut penari dengan kaki-kaki yang menapak indah.
Saya suka gadis muda macam Cici. Saat pertama saya tanya kenapa masih suka menari tradisional, dia jawab begini.
“Saya lahir di Jambi. Kalau nggak kita yang masih muda, siapa lagi yang akan menari,”
Saya tersentak. Masih ada gadis muda macam dia
Lalu saya bilang,
“kenapa nggak dance. Seperti yang banyak anak muda lakukan?,”
“Saya suka dance. Tapi lebih suka tari tradisional. Saya cinta, kak,”
Cinta. Cinta memang membuat semuanya jadi terasa mudah dipahami. Dengan cinta pula, Cici menari dengan jiwanya. Jiwa anak muda yang masih peduli dengan nilai budaya. Sayang, saya lupa tidak meminta nomor teleponnya.
Selamat Hari Kartini. Semoga perempuan muda masa kini masih suka dengan tradisi. Budaya leluhur yang berlahan mulai luntur.
Seperti Cici tentunya.
20 April, 2008 at 6:45 pm
jadi cerita opo??cerita cici???huwa….sedih hapeku ilang…
20 April, 2008 at 6:47 pm
sayang bgt hapeku ilang..bukan masalah hpnya atu phonebooknya..tapi…banyak sms yg suka aku baca2 lagi…huwa…beliin hape lagi…
21 April, 2008 at 4:15 am
sudahlah jangan kau rusak gadis sebaik cici, kak…..wakakakaka
21 April, 2008 at 6:10 am
kartini dengan budaya, atau, cici dengan budaya?
ehm…
21 April, 2008 at 9:19 am
ayooo blue, beliin lagi hpnya
ilang tuhhhh…
hey kriting, payah tuh Street kingnya
dan fool’s gold juga cuma menggelitik…
@d14na,
sebenarnya bagus juga kau hilangkan hp itu, biar bebas dari gombalan
heheh…
semoga bisa dpt hp yang baru yah!
selamat hari Kartini perempuan Indonesia
21 April, 2008 at 1:22 pm
“BTW, itu d14na emang sering ngilangin hape. Sendal, celana, kacamata. hehehe”
Soft lense juga sering ilang.. sebelah hehe..
@ SiMungil..haha iya bahagia terhindar dari gombalers..tapi doi jadi beda ama aku sekarang..sibuk ama cici :p
21 April, 2008 at 2:33 pm
saya masih suka nonton tari traditional, msh agak mengerti cerita traditional, tapi jgn pernah nyuruh saya nari. he he he.
Happy Kartini’ day
21 April, 2008 at 3:22 pm
“Saya suka gadis muda macam Cici”
Hiii…
21 April, 2008 at 3:43 pm
gak, pilihan katanya aja yg bkin merinding. alam bawah sadar seperti told me something tp gak tau apa itu..
21 April, 2008 at 4:00 pm
ya..ya..ya..bang sofian, ini memang seperti dirimu yang menggilai gadis-gadis muda di komputer tetanggaku, hahaha..
22 April, 2008 at 9:51 am
Omong-omong soal Cici, aku jadi inget romantika Surabaya, tahun 2000. Semalem kami habisin di kontrakannya, dengan Mariah Carey yang melolong lembut, mengaliri darah kami dengan sentakan-sentakan berbahaya.
Cici bekerja di sebuah harian Surabaya (maaf tak aku sebutkan nama koran). Kami bertemu di lobi Hotel Santika, saat PON digelar di Surabaya.
Dari perbincangan pendek, melebar ke hobi masing-masing, dan kami makan malam. Dalam remang sebuah kafe, napas kami mulai tak beraturan. Hawa sejuk menggiring kami mengantuk, lalu kami menghambur di Santika, tempat aku menginap selama meliput PON.
Cici yang ente ceritakan tentu bukan Cici yang kumaksud. Tetapi barangkali ada getaran yang sama antara Cici Jambi dengan Cici satu ini.
Ci, dimana kamu berada kini?
22 April, 2008 at 3:07 pm
nafas kami tetap teratur, getarannya juga beda..
>> tambah ngelanturrrr…
22 April, 2008 at 4:20 pm
KAMI??? KAMU (Blue) aja kaleee…
22 April, 2008 at 4:52 pm
cckkk..cckkkk…
23 April, 2008 at 10:44 am
hmm..
ada banyak orang kayak cici di Jogja..muda dan pencinta tarian tradisional.
23 April, 2008 at 2:26 pm
yang MANA?
* kangen Jogja krn banyak pencinta tarian tradisional?
atw, kangen Jogja krn banyak “gadis muda macam Cici…”
28 April, 2008 at 8:38 am
Semoga perempuan muda masa kini masih suka dengan tradisi. Budaya leluhur yang berlahan mulai luntur..
wach,,kayak’e kaum hawa dinegara Qta udh Lupa budaya’y…buktinya mereka Lebih suka dugem daripada menari gambyong…ha…ha…emang gue kaLee…
29 April, 2008 at 11:20 am
keluar malam aje kagak pernah,,,ko dugem,,emang saLatiga kaya jakarta mz???g ada malam..doang???menceritakan pengaLaman pribadi yaw!!!!