12 Mei, 2008
Senin siang kemarin, kepala saya mendadak panas. Serasa mau meledak. Lalu, otak saya yang cekak berhamburan mengenai orang-orang disekitar saya. Panas, karena cuaca mendadak menyengat, jalan yang mengular, dan aktifitas demonstran yang menutup jalan. Semuanya membuat saya pening.
Itulah kemudian kenapa saya memilih duduk ngadem di bawah AC pressroom kantor Depdagri. Ngisis saya sembari ceting-an sama kawan-kawan yang lagi on line. Saya cari-cari Samirun nggak ada. Sedang tidak ngenet rupanya.
Lalu ponsel saya bergetar. Ternyata Bagus Indra, kawan saya menelepon. Tumben dia siang-siang begini menelepon.
“Bro, jalanan macet. Bis dan bajaj saling salip sejengkal demi sejengkal, praktis tak ada ruang buat motorku menerabas. Macet total. Bajingan!!”
“Di Istana ada demo, Jack!! menutup jalan. Kalau kau mau ke Depdagri sekarang, jelas akan mengular. Dan akan semakin panjang, karena harus memutar,”
“Kampret!!”
Senin siang, kemarin, aktifis BEM se Indonesia merangsek ke bibir Istana Merdeka. Ribuan mahasiswa dengan jas warna-warni itu tumplek blek meminta presiden untuk tidak menaikkan BBM. Mereka khawatir kebijakan menaikkan BBM akan membuat harga-harga merangkak naik. Dampaknya rakyat yang susah.
“Padahal, siang ini aku mau traktir kau di warung Bakso belakang itu. Nikmat rasanya, makan sambil dengar gurauanmu,”
“Kau sabarlah dikit, kau redam saja keinginanmu itu,” hiburku.
Selang beberapa menit, ponsel saya kembali bergetar. Lagi-lagi Bagus.
“Tau nggak kau?, barusan saya melewati ambulance yang meraung-raung. Didalamnya saya longok ada lelaki renta meringis kesakitan. Disampingnya, mungkin anaknya. Matanya menatap dengan cemas, saya sempat mencuri pandang, tangannya mengamit tangan lelaki itu,” cerocos bagus.
Saya tercekat. Lidah saya mendadak kelu. Batin saya ngilu. Saya paling tak tahan mendengar cerita macam ini.
“Saya tak tau nasib lelaki dalam ambulance itu. Demonstran itu telah membuat semua orang susah, jalanan macet, bensin saya hampir habis, perut saya kosong, makanya saya memilih berhenti dan mampir di warteg. Aku nggak jadi ke situ coy. Kau kirim aku informasi lewat emailku ya,” ujar dia. Klik, telepon dimatikan.
Mendadak kepala saya kembali panas. Lalu otak cekak saya berputar. Ada ribuan orang tak kalah menderita di jalanan kota Jakarta ini. Macet, sumpek, panas ditambah jalan yang harus memutar karena demonstran.
Dan sore kemarin, saya juga mengalami nasib serupa. Pulang ke kantor harus memutar. Ketika tiba-tiba mata saya beradu dengan polisi muda yang sedang membentak lelaki setengah baya. Lelaki itu berboncengan dengan anak dan istrinya. Rupanya mereka hendak menerobos jalanan yang ditutup, karena rumahnya tak jauh dari jalan yang diblokir. Saya seperti mengenali lelaki itu.
Batin saya kembali ngilu. Saya jadi ingat Bapak.
13 Mei, 2008 at 2:34 am
makanya inget pulang…
13 Mei, 2008 at 7:30 am
Maksudnya mungkin baik, menyuarakan jeritan hati rakyat yang terhimpit potensi kenaikan harga barang-barang kebutuhan. Tapi kalo tus jadi macetin jalan, mengganggu kehidupan orang lain, ya jadi gak bagus juga.
Bapak di ambulance itu, semoga tertolong tepat pada waktunya.
*Mohon maaf buat mereka di Malang yang terhambat karena demo yang gw ikuti sewaktu masi jadi mahasiswa*
13 Mei, 2008 at 2:06 pm
Harga sebuah perjuangan Blue…selalu ada pergesekan spt itu. Akan ada ekses biar pun sekecil apapun. Tetapi kita (kita, eloo kaleee, he3) butuh pejuang2 demokrasi spt mrk…(tanpa mengecilkan ‘nasib’ bapak yg di dlm ambulance).
14 Mei, 2008 at 5:14 am
tumben kang inget bapak. emhhh…tunggu, sebelumnya minta maap, tuisanmu sekarang mirip tuisannya arip boyo..:p. Tapi yang ini tentu saja dengan ciri khas yang agak beda…
14 Mei, 2008 at 4:21 pm
Ralat Blue, sepengetahuanku, Wiro Sableng gak pernah sekalipun nemuin jurus baru (hasil create-nya dia).
Semua yg dia dapet pure dari hasil berguru. bahkan sampe sang pengarangnya-Bastian Tito-berpulang, Wiro tetep jadi “murid”.
Yup, dia banyak memperoleh ilmu baru, tp itu jg hasil “pemberian” orang lain, misalnya Ratu Duyung (salah satu Wiros’s Girl), Kitab Putih Wasiat Malaikat (diperoleh dari hasil pengembaraan), Tua Gila dari Andalas (eks-nya Shinto Weni alias Shinto Gendeng).
….
14 Mei, 2008 at 9:11 pm
ngomong2 masalah macet ama demo..kemaren sore2 baru pulang kantor,lg leyeh2 dikamar eh ada sms masuk yg datang dari ayahku
“mahasiswa g tau aturan, bikin macet dimana2, mau demo tapi ga tau aturan demo!magrib2 masih bikin macet, laper..capek..”
duh..mesa’ke tenan ayahku sore itu…trus aku bales smsnya
“pindah aja ke bandung yah..demonya ga sampai mgrib kalo disini”
hihihihi….
15 Mei, 2008 at 3:26 am
Dua hari lalu [selasa] jam 7.20 sampai di bunderan HI sudah banyak mahasiswa berjas warna-warni yang mengelar spanduk panjang dan berorasi. sempet berfikir mereka keluar rumah dan mulai start demo dari jam berapa ya? jam 7.20 aja saya masih terkantuk-kantuk
Hebat juga mereka…
15 Mei, 2008 at 12:30 pm
Senin siang kemarin, kepala saya mendadak panas. Serasa mau meledak. Lalu, otak saya yang cekak berhamburan mengenai orang-orang disekitar saya–> dooh serem banget euy ngebanyangin isi kepala berhamburan gituu.
:-S
17 Mei, 2008 at 9:11 am
hahaha..demo. Dari dulu sampe sekarang nggak ada aktivitas yang lebih “keren” daripada mahasiswa demo, yang sebenernya lebih banyak nyusahin daripada bantu. (suara hati mantan mahasiswa sayap lebar, hehe)
kalo kata gw siy, mendingan lakuin sesuatu yang lebih konkrit daripada sekedar demo, yang bikin diri sendiri susah plus nambah-nambahin macet di jalanan…
19 Mei, 2008 at 4:05 am
panas juga mikirin bbm naik, sekarang saja sembako sudah mahal banget
tanpa mahasiswa yg demo, mungkin dulu gak ada reformasi. mungkin mrk masih dalam proses mencari gimana demo yg aman nyaman gak menimbulkan dampak buruk? *proses kok lama bgt ya :P*
19 Mei, 2008 at 11:22 am
demo emang bikin susah mas, tp kayaknya pemerintah memang hrs di demo besar2an supaya perhatiin rakyat. lgan drpd naikin harga bbm dengan mengurangi subsidi, mending gaji presiden, wapres, ma anggota dpr aja yang dipotong sekian puluh persen buat nambahin subsidi ke rakyat. mereka kan g butuh subsidi tho?
12 Juni, 2008 at 1:18 am
satu lagi yang bikin bersyukur ga tinggal di jakarta! ^_^