Malam ini terasa sunyi. Entah kenapa malam ini saya merasa berada dalam kesunyian. Sunyi, tentunya beda dengan sepi. Buktinya, malam ini, saya berada ditengah hingar kawan-kawan yang asik masyuk bermain PS 2 ditemani sebotol Civas, tapi saya tetap merasa sunyi. Sunyi memaksa saya menyeret kaki ke kamar sewa .
I Got The Blues-nya The Rolling Stones yang sedianya saya jadikan theme song penghibur sunyi, ternyata tidak banyak membantu. Padahal, itu lagu wajib kami (saya dan abang saya) untuk membangkitkan suasana ceria kala kami “olah vokal” di Inul. Tapi tetap saja. Saya justru terpuruk dalam kesunyian.
Ganti Miyabi.
Ah tetap! Tidak banyak membantu.
Asia Carera. Malah makin suntuk.
Tidur. Justru wajah kawan perempuan saya yang membayang di otak.
Ogah ah…
Malas memfantasikan kawan sambil nonton Miyabi dan Asia Carera
(*duh maaf. Meski sekilas, malam itu saya sempat membayangkan anda—nggak jadi di link hehehe—).
Mau keluar, sama saja. Jengah rasanya melihat antrian motor dan mobil di SPBU. Malam ini, penentu kebijakan negeri ini sudah memutuskan menaikkan BBM 28,7%. Dan saya, entah kenapa malas melihat banyak orang mengantri demi seliter premium.
Harga minyak mentah dunia memang terus meroket. Mau tidak mau, pemerintah harus menaikkan BBM. Jika tidak, cadangan devisa akan tergerus. Subsidi jelas tidak mungkin ditambahi. Karena konon, kantong pemerintah tak cukup menambal naiknya minyak mentah. Dan gerakan Hari Kebangkitan Nasional sekonyong-konyong berubah menjadi Hari Kebangkrutan Nasional.
Ahh.. sudahlah.. saya malas membicarakan ini. Saya malah semakin suntuk. Hati saya semakin teriris-iris.
Lalu mau ngapain?. Telepon saja lah. sudah lama saya tidak menelepon Samirun. Siapa tau kawan saya di kampung Srondol itu mampu melumerkan sunyi yang saya hadapi malam ini.
Tapi tiba-tiba saja mata saya menemukan SMS dari kawan saya. Itu pesan singkat beberapa hari lalu. Kawan saya itu meminta komentar tentang remaking film Nagabonar. Isinya gini.
Film Nagabonar laris manis. Kenapa ya?
Pesan singkat itu belum saya jawab memang. Habisnya, saya tidak tau banyak soal film. Saya tidak ingin terdengar sok tau. Nagabonar lagi.
Yang saya tau, Film Nagabonar karya Asrul Sani yang disutradarai Mt Risyaf ini dibuat 1987 lalu. Sukses film Nagabonar 2 yang juga dimainkan oleh Deddy Mizwar membuat banyak permintaan agar film Nagabonar di remaking dan ditayangkan ulang di Bioskop. konon, biaya retouch nagabonar setara dengan pembuatan dua film horor.
Memang remaking film ini tak meledak-meledak amat, masih jauh tenggelam dibanding Narnia, Iron Man atau Indiana Jones. Tapi patut diingat, remaking Film Nagabonar ini nangkring di bioskop TIM selama berminggu-minggu. Mengalahkan film Indonesia lain yang keluar masuk bioskop tanpa apresiasi berarti dari pecinta film.
Kenapa?
***
Beberapa hari lalu, YM saya berkedip. Kawan saya, pecinta film sekaligus blogger yang aktif menulis tentang film mengajak berbincang. Aha.. sekalian saja saya tanya.
“Kenapa re-making Nagabonar laris manis?,”
“Penonton penasaran dengan versi awal Nagabonar, mas,”
“Sebatas penasaran? Saya pikir tidak juga ah,”
“Loh, setau aku, nagabonar diputar ulang karena banyak permintaan dari yang nonton nagabonar jadi 2. Dan itu adalah generasi yang tidak pernah nonton nagabonar pertama,”
Aha. Benar juga. Penonton di TIM memang kebanyakan anak muda. Generasi yang dulunya belum sempat mencicipi bagaimana karya besar Asrul Sani itu booming. Karya yang melahirkan idiom Apa kata Dunia? menjadi ungkapan yang sering diucapkan.
Tapi apakah hanya karena penasaran?
Tentu tidak. Menurut kawan saya, cerita nagabonar memang memiliki cita rasa yang beda. Coba bandingkan dengan film Indonesia saat ini. Yang ada hanyalah cerita hantu picisan dan lagi-lagi cerita cinta yang mengharu pilu tapi tidak membiru.
Saya jadi ingat, film Lost in Love yang saya tonton bersama kawan-kawan saya sepulang kerja beberapa hari lalu. Salah satu kawan saya itu penulis resensi film di media tempat kami kerja. Dia meminta untuk ditemani, sembari diskusi. Dan sumpah, saya sampai terkantuk-kantuk dibuatnya. Film yang mengambil setting di Paris itu “hanya” menonjolkan indahnya kota Menara Eiffel. Selebihnya, iklan yang disisipkan dalam cerita.
“Taste-nya beda,” kata kawan saya. “Juga dari segi tampang,”
“Tampang? Maksudnya?,”
“Iya Tampang, Film-film dulu tidak menonjolkan tampang pemainnya. Tampang tidak menjadi soal. Bandingkan dengan film sekarang, semuanya jual tampang,”
“Tampang sembilan, akting nol, maksud mu?,”
“Iya. Coba tengok, Deddy mizwar tak ganteng-ganteng amat, alm. Benyamin, Mandra, Tuti Karno. Apa mereka jual tampang,”
Lagi-lagi saya teringat film Lost in Love (ah kenapa film ini lagi). Semua pemeran utama, memang tampangnya sembilan. Nyaris tak ada cacat. Soal akting? Duh maaf, bukannya saya mau menilai akting pemain film ini, tapi sumpah, saya nyaris tidak terperangah dengan akting pemain film itu. Satu adegan pun. (tiba-tiba saya merindukan akting alm Sophan Sophian)
Film Nagabonar memang bukan film daur ulang, yang dimainkan oleh pemain-pemain baru. Beda dengan film Badai Pasti Berlalu. Dan mungkin ini daya tariknya. Penonton dibiarkan menonton kejayaan film ini dengan bintang-bintang tenar masa lalu macam Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Wawan Wanisar dll. Tentu ada perbaikan disana-sini, untuk menajamkan gambar, tapi tidak merubah isi. Beda dengan re-making Badai Pasti Berlalu.
Dan lagi-lagi film Badai Pasti Berlalu karya Teguh Karya (1977)—Mengambil istilah kawan saya— “taste”-nya berbeda dibanding Badai Pasti Berlalu karya Teddy Soeriaatmadja (2007).
Jelas. Saya juga tidak mau membandingkan akting Christine Hakim dengan Raihaanun. Tidak adil rasanya. Apakah berarti film-film dulu itu jauh lebih berkualitas dibanding film masa kini? Nagabonar? Badai Pasti Berlalu? Atau seperti kata kawan saya itu, hanya jualan tampang?
Ah.. nggak. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai itu. Nanti malah dikira sok tau. Otak cekak saya terlalu sempit untuk memikirkan itu
Saya tanya anda sajalah. Menurut anda?
Dedicated to Seventh
Thx to CJ, Ita, D14, Bast, Lesty, Tukang Nasgor, Tukang Ojek dan semua pembaca Blog
23 May, 2008 at 11:38 pm
Waw…
Cara kamu menulis membuat saya tidak merasa harus buru2 menutup window ini… biasanya saya fast reader, got the point, making comment, and then close the window, kecuali topiknya menarik (atau saya yg lagi mereka bahas,… seperti di COTD-nya itik kecilhahahaha… CURHAT COLONGAN!!! dasar perempuan narsis, bego, tolol, loe pikir strategi begini jitu apa???… *tampol pake mousepath*)
Anyway, tulisan kamu sempat membuat saya GR awalnya, karena tulisan… “malam ini saya sempat membayangkan Anda, hehehe, tidak jadi saya link, dihhh, sumpah, gue pikir gue loh, hahahaha, GR banget yach?? Leh iya, khan dari awal paragraf ini juga udah ngaku kalo saya GR…
Trus soal film, juga sempat kaget, saya pikir yg diomongin film LOVE, ternyata Lost in Love… Ahhh, kalo ini sich saya juga gak demen… tapi kalo film love, hmm, moga2 saya gak salah selera… karna film LOVE itu pesannya “nyampe” banget ke saya. Makna CINTA yg mo dideliver juga “kena” banget… dan yg paling membuat saya termehek2 dama film itu adalah karena disitu ada WIDYAWATI dan SOPHAN SOPHIAN bermain sebagai bu lestari dan Pak guru… Duhhh, tatapan mereka, bahasa tubuh mereka berdua… “dapettt” banget, nyampe banget ke saya… dan aura cinta mereka berdua kerasa banget sama saya. (gak tahu yach kalo org lain…
)
Film nagabonar saya belum nonton, jadi gak bisa ngasih komentar.
Terakhir, saya bener2 gak jadi GR, setelah tahu tulisan itu dedicated for somenone named Seventh, hahahahahahaha, maaf yach… commment ini pun tidak ditujukan untuk siapa2… mengalir ajah… jadi semoga yg “di-dedicated-in” tulisan diatas, tidak tersinggung baca comment saya…
Btw, salam kenal mas sofieblue… saya lupa apa pernah ninggalin comment disini, yg jelas saya pertama kali mampir sini ketika mas mapir ke blog saya dan ninggalin comment disana… rasanya sich baru kali ini deh ninggalin komen yach??… kalo iya, salam kenal lagi dech…
Silly.
24 May, 2008 at 5:16 am
Aku mengutip istilah Lesty, beberapa film yang dimainkan oleh para aktor yang tidak jual tampang adalah teater yang difilmkan. Itu adalah yang dimainkan oleh Deddy Mizwar dan Rano Karno CS dalam sinetron Doel Anak Sekolahan
Aku suka tulisan dedikasi ini
kapan yah giliran ada dedikasi untuk aku?
huehuehu…bermimpi akh!
24 May, 2008 at 6:43 am
Huh gara2 pemerintah naikin BBM mlm ini..ak g jadi pulang k jakarta mlm ini..karena males harus antri ngisi minum buat si hitam…walo bukan pangguna premium tapi tetep aja antrinya puanjang bgt..ampe jalan k arah SPBU ditutup sama polisi..trus ga jadi berkaraoke ria deh…huh..
Trus salah siapa??Salah gw???salah temen2 gw??*AADC mode:on*
hahaha..ga penting..
tadi mlm kok nyebelin sih…kebiasaan….kan aku lg minta bantuanmu…kok ditinggal gitu ajah…
24 May, 2008 at 7:21 am
Menurut sy memang begitu, kualitas film dulu emg lebih oke dari sekarang. Tp pelan2 juga nanti perfilman kita akan jd baik…
24 May, 2008 at 10:47 am
aku juga mau ikut-ikutan GR aaaah…hehehe, meski gw masih lebih suka Asia Carerra dibanding Miyabi
oia..kapan kita “olah vokal” bersama? aku mau sumbang Celine Dion..khekehe..
25 May, 2008 at 6:14 am
film nagabonar dan nagabonar jadi 2 emang keren. filosofinya tajem..
25 May, 2008 at 2:46 pm
Blue, tnp bermaksud menyamaratakan, tp sineas Indonesia (atw lebih tepat penonton Indonesia?) lebih suka dg tampilan fisik only. Tanpa melihat karakter. Fisik, ada di rupa. Karakter dibenam di jiwa. Tidak heran kl rata2 film anak negeri dibanjiri bintang-bintang berwajah/tubuh “sempurna”. Tetapi akting nol besar.
Coba tengok Hollywood sana, Forest Whitaker-bagi saya-tidak tergolong “sempurna”. Tp bagaimana penjiwaan di setiap film membuat penonton terkagum2.
Menggelikan juga (sineas kita). Bukankah Tuhan menciptakan manusia berupa2. Selepas melihat film Hollywood, kita sering terkagum2 dg kekuatan karakter (bukan kecantikan, ketampanan, dll yg serba fisik). Tp, yakinlah, di sini, masih bs dihitung dg jari sineas yg spt itu (mengkasting tokoh tanpa melihat fisik, atw setidaknya mengutamakan karakter first).
Dan, Dedy Mizwar salah satu yg konsisten mendobrak mainstream kebanyakan kreator film. Toh, dg kemasan yg apik nan mendidik, sentuhan tangan dingin Dedy Mizwar nyaris selalu laris manis di pasaran. (Bahkan utk sinetron sekali pun, ingat: Kiamat Sudah Dekat, dan Para Pencari Tuhan).
Eniwe, Tx utk tulisan “dedicated for”-nya.
Nb. Nagabonar I, lebih tepat Rerun (tayang ulang), bukan Remake (dibikin ulang).
Suwun…Seventh.
26 May, 2008 at 2:13 am
@Seventh
Boleh juga, Mas. Kapan2 kita nongkrong ngebahas tentang film?
26 May, 2008 at 12:32 pm
kalau menurut saya film naga bonar besutan Asrul Sani ini bisa dibilang film yang hampir sempurna. semuanya dapet. dr jalan ceritanya, komedinya yang natural, settingnya, characternya, keharuannya, dan bahkan nasionalismenya. semuanya menjadi satu link yang g bisa dipotong seenaknya. semuanya dipahami secara keseluruhan. beberapa hr kemarin aku sempet nonton film ini ma temen, dan kami diskusi. mendengar dy bercerita tentang film ini dan film2 ’sepantaran’ baik secara alur cerita ataupun teknis. sementara aku melihatnya dr sudut pandang sastra. dan tetep seru. buat aku, mending ngabisin duit buat nonont film ini berkali2 drpd nonton film indonesia yg itu2 aja. bahkan Nagabonar jadi 2 pun tetap tidak bisa menandingi karya yang satu ini.
seru nih bisa diskusi soal film.
26 May, 2008 at 2:25 pm
Waah! Ada namaku disebut! Bayar royalti…
Bah, ini yang nulis ajah masih blum nonton NAGABONAR. Angkatanmu kan angkatan NAGABONAR jadi 2. Huehuehue…
Mari kita nonton rame2 NAGABONAR! Piye? Masih utang nonton bareng kan?
:kabuuurrr…
27 May, 2008 at 1:59 am
Mungkin kudu ganti SORA AOI…apa REON KADENA…
*salah pokus..maafken..*
27 May, 2008 at 3:02 am
perlu menjadwalkan nonton nagabonar nih,
aku hampir gak pernah nonton film indonesia masakini yg artinya cakep2 itu, gimana ya…nonton 5 menit aja dah mual
27 May, 2008 at 3:03 am
hah? ko avatarku jadi aneh ya…hihihi
27 May, 2008 at 3:54 am
gw uda nonton dan itu film emang ngena banget. humornya pas dan gak slapstick, pesen-pesennya positif dan nyampe banget (di salah satu adegan, sang “jenderal” menggendong ibunya, dan tak kuasa menolak permintaan ibunya untuk mencari sirih ato entah apa). meski nurul arifin cantik banget disitu, gak berarti jual tampang, karena aktingnya juga ok hehehe…
27 May, 2008 at 4:12 am
film Indonesia sekarang memang lebih banyak jadi follower ketimbang jadi pencetus ide. Dulu jaman AADC booming abis, sineas-sineas berbondong-bondong bikin film-film cinta menye-menye.
Trus jaman Jailangkung menyedot penonton, produser-produser berlomba-lomba bikin film horor sampe ga jelas lagi juntrungannya sampe saat ini (emang masih ada yang nonton ya?).
Sekarang, lagi berlomba-lomba bikin film konyol slapstick dengan bumbu pornografi (mulai dari XL, ML.. apalagi lah itu.. mengerikan!).
Setelah AAC berhasil memikat (walaupun sebenernya sinetron banget!!! yaaah no wonder sih, yang bikin Punjabi…), bisa ditebak besok-besok banyak film-film sejenis beredar… Sebenernya sih bagus, asal emang pesan dakwah nya nyampe banget! bukan sekedar jual air mata kayak AAC.
Akhirnya ya film-film berkelas dengan ide orisinil memang masih sangat langka…
aaah sepertinya saya mesti berhenti komen, ntar malah jadi satu posting sendiri.. hihihihi
27 May, 2008 at 6:55 am
aku suka tulisan ini… dan sepakat dengan soal film itu… salam
27 May, 2008 at 1:04 pm
sebenarnya gue enggak mau mengomentari tulisan lo bang..kayak gue enggak punya kehidupan lain yang lebih penting aja. Tapi berhubung nama gue disebut, ya sudahlah, sebagai bentuk penghargaan padamu aku tuliskan kata-kata ini… (hue..agak-agak enggak ikhlas nulisnya)
Kalo mnrt gue yang awam ini, film-film zaman dulu di-pangsa pasar-i (wee..bahasa apa ini??), maksudnya lebih banyak dibuat untuk konsumsi penonton dewasa, karena pasar yang ada ya memang itu. Jadi sineasnya pun membuat film yang bisa menarik kalangan itu (cerita harus bagus. Wajah cantik, jidat licin, dan tubuh molek nomor sekian). Hasilnya ya kita bisa liat film macam Naga Bonar.
Tapi sekarang, para sineas lebih membidik pasar remaja dan dengan sangat menyesal, mereka pikir, remaja itu doyannya ya dibombardir tampang-tampang bernilai 9 itu. Tinggal dipakein baju minim, dikasih bumbu lawakan disana-sini, atau dikasih hantu ngesot, penonton udah puas. Tinggal kita, penonton yang pengen nonton film lokal berkualitas, yang gigit jari. Gue enggak nyalahin 100% ke sineas atau produser, secara mereka kan cari untung, butuh makan, butuh biaya untuk keluarga, untuk dugem, untuk senang-senang, untuk poligami mungkin? Tapi yang kadang bikin gue heran, apa mereka enggak mikir ya, kalo generasi sekarang dikasih nonton film yang kualitasnya kayak begitu, apa tuh anak-anak enggak bakal mikir bahwa film yang bagus ya yang kacrut kayak begitu? Ah, tau lah. komen gue udah kepanjangan…
28 May, 2008 at 2:05 am
Jadi kapan nonbar-nya?
28 May, 2008 at 3:14 am
Bang, jika memang ingin membantah isi komentar, bantah saja. Ini negara bebas (anggap saja begitu) dan kau punya pikiran dan otak yang berbeda denganku. Sayang jika otakmu itu tak kau pakai, bisa mati dia.
28 May, 2008 at 2:49 pm
Sekadar saran, bagaimana kalo saling berbagi pengalaman dgn film2 yg (scr subjektif disebut sbg film) bermutu? atau whatever lah namanya, yg penting menarik ditonton. lawas or baru boleh lah.
Taglinenya mungkin: Film2 Layak Tonton Sepanjang Masa. (Mungkin jg bisa di-split ke genre2 filmnya, film romantis terbaik, horor terbaik, eksyen terbaik, de el el).
Hayo Blue, panjenengan yg mulai lah. saya “kadung” percaya dg talenta tangan emas-mu dlm mengurai pemikiran yg kau tuang di blog.. (tuluss bangets..hwe he…)
11 June, 2008 at 1:04 pm
belum sempet nonton nich
pengen nonton