Ia hanya mampu menenggelamkan dirinya dalam selimut warna-warni macam rajutan perca. Matanya telah basah oleh air mata. Terdiam dan mencoba memejamkan mata. Namun sialnya, bayang-bayang lelaki itu justru menari-nari. Bebas berlari dan menelusup dalam pori-pori.
Jarum jam sudah bergerak hampir di angka tiga dini hari. Ia meraba telepon genggam miliknya. Memasukkan nama, password dan mencoba berselancar dalam dunia maya.
Lagi-lagi nyala ID YM lelaki itu yang pertama kali keluar dari layar kecil telepon genggam. Hatinya semakin runyam. Sulur-sulur rindu telah mengoyak benteng pertahanan hatinya.
Itu gara-gara pemutar musik miliknya yang tiba-tiba mendendangkan Loving You milik d’cinammons. Lagu yang lagi-lagi melemparkan dirinya pada kenangan masa silam. Masa dimana ia berasa seperti sepasang merpati.
Loving you it hurt sometimes,
I’m standing here you just don’t bye
I’m always there you just don’t feel
Or you just don’t wanna feel
Don’t wanna be hurt that way
It doesn’t mean I’m givin’ up
I wanna give you more
And more and more’
“Damn,”
Ia sembunyikan kepalanya di balik selimut. Lelaki itu, ya lelaki itu, diam-diam telah menyiksa dirinya. Berlarian di kepala tanpa ada sapa dan hanya diam tak bersuara. Hanya ID yang menyala dan sebentuk gambar senyum yang seolah terus mengejeknya.
“Kamu tau, Blue. Dia kembaranku, tapi dibungkus kulit laki-laki,”
“Oya,”
“Ya. Hanya jika kau mengenalnya dengan baik, kau akan merasakan hal yang sama sekali tak beda. Sekali lagi dia laki-laki dan aku perempuan,”
***
Ia kembali mencoba memejamkan mata. Melirik telepon genggam yang masih saja memintanya untuk menyapa lelaki yang ia cinta. Tapi ia tahan. Batinnya seperti diterjang gelombang. Keangkuhannya telah membuyarkan benteng yang ia bangun dengan susah payah. Segala macam kesibukan atas pekerjaanya, selancar di dunia maya, tetap saja tak mampu menahan gempuran rasa. Ia benci. Tapi benci pada apa? Benci karena telah dibuat tak berdaya? Benci akan jatuh cinta? apa? Ia tak tau. Ia berusaha memejamkan mata. Lalu membiarkan dirinya terjun bebas tanpa parasut. Membiarkan dirinya lena akan gravitasi.
Padahal ia sadar, hanya dengan keanggunan dan kecantikannya, banyak lelaki yang akan tertarik padanya. Hanya untuk berganti-ganti pasangan akan dengan mudah ia dapatkan. Seperti saat ini. Pesonanya telah menarik perhatian lelaki di sekitarnya. Yah, semacam cahaya yang menyinari tanpa henti. Dan lelaki hanya seperti binatang phototaksis yang tertarik akan cahaya, akan pesona.
Tapi itu justru membuatnya makin tersiksa. Karena semua tak mampu mengantikan cintanya. Jauh di dalam hatinya, ia tetap menyayangi lelaki yang ia kenal dalam pelatihan calon pegawai beberapa tahun silam. Cinta yang kemudian ia biarkan kandas hanya karena sebuah keyakinan. Karena logikanya berkata, bagaimana pun bentuknya, keyakinan harus sama.
“Ah.. masa bodo,”
Bergegas ia tekan nomor telepon biro perjalanan 24 jam. Ia akan gadaikan idealismenya. Ia akan mendatanginya. Ia akan berikan kejutan kecil untuk melepas rindu layaknya dulu saat menjadi sepasang merpati.
“Hallo, masih ada tempat untuk weekend hari ini, mbak”
“Iya. Pagi-pagi sekali. Bisa pesan satu?”
“Oke. Terima kasih,”
Klik
Ia tersenyum. Memejamkan mata untuk dua jam. Dan berharap lekas pagi datang demi sebuah perjalanan ke kota tempat pujaan hatinya. Ia akan berdiri di depan pintu kamar sewa dan berharap wajah yang selalu ia impikan tiap malam menyambutnya.
***
Jauh di kota lain, lelaki itu masih duduk di depan meja. Laptopnya menyala. Lampu kamar dibiarkan meremang. Hanya cahaya layar berukuran 14 inci menerangi wajahnya. Tak ada keberanian untuk menyapa, meski beberapa saat lalu, ID YM perempuan itu menyala.
Ia hanya diam. Terpaku. Dan membiarkan palu godam memecahkan segala logika-logika di kepala. Bergegas, ia berdiri. Menyiapkan ransel punggung, helm dan beberapa baju ganti untuk beberapa hari.
Pagi yang dingin. Ia stater motor dan menarik gas dalam-dalam. Ia hanya bisa berharap tak sampai sepenggalah ujung matahari akan tiba di Jakarta. Lalu memberikan kejutan kecil pada seorang perempuan yang rupanya juga tengah ia rindukan.
.
Kemanggisan, 26 maret 2009, 04.21
* Untuk seseorang yang tengah terbelenggu rindu. Judul postingan ini diambil dari sebuah lagu milik The Poques dengan judul yang sama. Sebuah lagu soundtrack dari film PS : I Love You.
26 March, 2009 at 2:44 pm
gila…
ceritanya mantab…
thanks banget om., bikin aku dapet pencerahan buat ngadepin realita yg hampir mirip.
:tos doloh:
26 March, 2009 at 3:13 pm
Ini yang aku sebut rindu bikin repot. Berat di ongkos (travel)! (ninjapelit)
27 March, 2009 at 6:03 am
aku tahu piz.. aku tahu persis bagaimana rasanya *puk-puk pizka*
gyahahahhahaha….
27 March, 2009 at 12:44 pm
Critanya sama persis seperti yang pernah saya rasakan.. Waduh, jadi sedih lagi..
28 March, 2009 at 12:51 am
rasanya menjengkelkan! Sampe pengen membunuhnya. Lho?!
*terlelap di puk-puk*
28 March, 2009 at 5:42 am
“Lelaki hanya seperti binatang phototaksis yang tertarik akan cahaya, akan pesona.”
Aha, ini satu ungkapan baru yang (lagi-lagi) saya adopsi dari teks-nya Blue. Thanks, brother.
29 March, 2009 at 11:19 am
selisipan ta? gak sido ketemu dadine yo? ngomongo nang mbak e, ojok didadekke bojo. koordinasi hati-statistike kurang. mesti banyak berlatih. lha awakmu nyapo arep ditekani malah budhal?
eh, eh…. mbak e sing nduwe swiwi kui gak cawetan ta? fototaksis kui sing mbok kandani mbengi2 pas bulane nyeleret wingi kui ta fi? sing nang pelataran parkir? iki yak opo dadi jawatimuran ngene?!
eh, eh… aku nek komeng akeh yaaaa…
*dadahdadah*
30 March, 2009 at 3:03 am
nah ini nih yg buat jd sebel.
ngapainnn coba tu dua-duanya sok pake kejutan segala.
apa gunanya telepon, handphone, wartel… **inget kan iklan telkom yg kakeknya datang ke rumah anaknya utk kasih hadiah ke cucunya, tp ga bilang2 mo datang, tau2 cucu dan anaknya pergi keluar kota.** itu iklan yg paling saya benci, soalnya bikin sedih.
30 March, 2009 at 8:15 am
bwahhaha bwahahahahahahah persis ama ceritanya pizka (lol) ngakak
30 March, 2009 at 8:20 am
sofianblue…. bikin aku jadi tambah nge-blue…
31 March, 2009 at 10:35 am
hmmmm bagus bgt tulisannya….
ada yg gw bangeeet…
gag bisa tahan gag ngehubungin dia yg judes bgt..hiks…
31 March, 2009 at 11:09 pm
cih! Sapa itu yang nyatut namaku?! Harsono ki pancen sotoy kok! (idiot)
Demi kebenaran: saya ndak pernah tlisipan!
1 April, 2009 at 4:47 am
kok kayak ttg aQ y… hahaha *gr*, nggak lah kebetulan aja sama… aQ n cowQ berbeda kota, dan ketemuan seringnya lwt YM….kadang rasanya nyiksa banget… but still love him so much
4 April, 2009 at 7:02 am
andai aku punya keberanian itu…untuk menelepon biro travel dan langsung mendatangi tempatnya…
“blue, rindu ini menyiksaku…”
5 April, 2009 at 12:36 am
allow, lam kenal yach
5 May, 2009 at 6:40 am
cinta berat diongkos dah.tp sesuatu yg spontan itu kadang menyenangkan kok mas.