Lily namanya. Saya mengenalnya di restoran 24 jam di Mangga Besar. Dia menjulurkan tangan, sesaat setelah meminjam pemantik api milik abang saya. Lily duduk di depan kami sekarang. Menghembuskan rokok mild mentol dari bibir tipisnya.
Lily, bukan nama sebenarnya. Dia mengakui memakai nama alias itu, sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi Lady Companion (LC) di salah satu hotel berfasilitas karaoke di Mangga Besar.
Menjadi LC memang bukan salah satu cita-cita saat kanak-kanak Lily dulu. Dikampungnya, Sukabumi, Lily mengaku cita-citanya ingin menjadi guru. Guru bagi anak-anak agar bisa menjadi lebih pintar. Tapi cita-cita itu kandas, setelah orangtuanya menyerah untuk mengekolahkannya hingga tuntas. Tak ada uang untuk biaya sekolah.
Putus SMP, Lily yang konon dikampungnya memang memiliki wajah rupawan itu, diperistri oleh lelaki buruh pasar yang dia kenal seputus sekolah. Lily yang masih bocah, harus mendayung biduk rumah tangga ditengah terjangan gelombang. Lily hanya bertahan selama dua tahun. Dia memilih kabur dari rumah, seketika mengetahui suaminya selingkuh. Beruntung, Lily tidak memiliki anak yang keluar dari rahimnya.
Atas ajakan kawan sekampungnya, Lily pindah ke Jakarta. Dia sempat mencicipi menjadi pelayan hotel, hingga kemudian terjun diwilayah abu-abu. Beralih profesi sebagai striper dan LC.
“Enak ya mas, jadi lelaki itu,”
“Maksudnya apa, mbak?”
“Ya enak saja. Bisa bekerja, banyak duit, lalu menghambur-hamburkannya,”
“Loh bukannya perempuan juga bisa kerja, banyak duit, foya-foya?”
“Perempuan punya banyak duit, tapi mikir kebutuhan mas. Beda ama laki-laki. Punya banyak duit ya buat pesta. Buat selingkuh!”
Saya terperanjat. Lelaki banyak duit buat selingkuh? Apa maksudnya?
***
Lily namanya. Perempuan berparas menarik dengan saputan bedak tipis di wajahnya. Banyak lelaki yang sudah memiliki istri datang padanya. Memintanya untuk menjadi simpanan. Bagi Lily, lelaki hidung belang adalah lumbung uang. Hanya dengan kerlingan mata, menjulurkan betis mulus miliknya, dan menonjolkan isi dada, mudah baginya untuk menjerat mata pria.
“Saya dendam dengan suami saya mas. Dia bisa menjerat perempuan, saya juga bisa melakukan hal yang sama sepertinya,”
Lily menghela nafas.
“Perempuan itu, mas, akan diam jika kamu memberinya banyak uang. Sebaliknya, lelaki itu akan selingkuh jika memiliki banyak uang,”
Saya diam.
.
Jakarta, Tengah Malam
5 May, 2009 at 2:55 am
saya, perempuan. akan diam jika tidak ditanya. tidak diganggu.
5 May, 2009 at 3:44 am
(ninjadiemdipojokan)
5 May, 2009 at 6:31 am
potret perempuan indonesia ya mas?
5 May, 2009 at 7:25 am
abangmu itu yang kmaren berpetuah bijak tentang pernikahan bukan?
woh…
*siyul2, mlaku mlipir, kabur numpah onta*
5 May, 2009 at 7:26 am
Ah, membaca ini membuat saya semakin meragukan kesetiaan pria.
5 May, 2009 at 8:19 am
tidak semua laki-lakiii….
bersalah padamu
*dangdut mode on
5 May, 2009 at 2:50 pm
uang sebenarnya memang hanyalah sarana… kalau toh ia kemudian menjadi tujuan… maka dunia ini menjadi gelap…
5 May, 2009 at 4:27 pm
Perempuan akan DIAM jika kamu memberinya banyak uang =) sampai batas tertentu
Lelaki itu akan SELINGKUH jika memiliki banyak uang =) tanpa batas
kuwehehehe….eh, ini bukan Lilyana Tanoesudibjo, kan?
10 May, 2009 at 9:01 am
haaaah…selingkuh lagi…
10 May, 2009 at 9:33 am
halaah… itu kan hanya tergantung dari sudut pandang siapa, boss.
19 May, 2009 at 4:02 am
hhhm…..
si Lily kayaknya … kok kasihan banget ya…
22 May, 2009 at 1:38 am
Jika si lily, bertemu dng sayah… maka semua padangan tentang hal laki-laki yg banyak duit bisa selingkuh se enaknya dia, akan salah. karena ehh karena sayah itu orang yang setia koq
**PD mode on***
28 May, 2009 at 1:16 am
Saya tiba-tiba merasa bangga menjadi pria, hahahaha …
5 June, 2009 at 5:50 am
hahaha…saya suka komentar Mas Arif !