Tau Film Knowing? Atau pernah nonton Film Knowing? Iya, itu film yang menggambarkan bencana-bencana yang terjadi di dunia yang diambil dari novel karya Ryne Douglas Pearson. Bintangnya Nicolas Cage. Pernah nonton kan?
Wah dahsyat. Saya sampai dua kali menontonnya, meski saya kecewa dengan akhir film yang terkesan “gampang” karena adanya pertolongan dari Alien. (entah alien atau malaikat berwujud manusia?)
Saya terkesan dengan adegan jatuhnya pesawat terbang. Sungguh, saat pesawat crash dalam adegan itu, saya bergetar. Saya seperti tak sanggup melihatnya. Saya ketakutan, saya gemetar. Saya membayangkan berada di posisi John Koestler (Nicolas Cage), saat melihat dengan kepala sendiri pesawat menukik lalu berdebum ke tanah. Saya ngeri!
Saya ingat kejadian 7 Maret 2007 lalu, saat garuda terbakar di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Saya memang tidak menyaksikan langsung kejadian hard landing Garuda yang menewaskan 22 orang itu. Tapi saya ada di lokasi, beberapa menit setelah mengetahui pesawat crash dan terbakar.
Saya masih mendapati puluhan ambulance hilir mudik dengan sirine meraung-raung, lalu saya ke RS Bethesda, memantau di RS Panti Rapih dan berhari-hari di RS Sardjito. Waktu itu, seharian badan saya bau daging orang terbakar. Meski saya mandi berkali-kali, baunya enggan hilang. Dan Film Knowing, mengingatkan saya akan peristiwa itu.
Hingga kemudian tragedy pesawat jatuh kembali terjadi yang membuat saya kembali merasakan kengerian. Hercules C130 milik TNI AU, jatuh di Magetan Rabu (20/5/2009). 101 orang tewas. Kebanyakan keluarga militer dan warga sipil.
Saya lagi di Pontianak memang. Saya mengetahui tragedy itu dari televisi. Televisi mengabarkan peristiwa itu cepat sekali. (ah.. kalau saja tak ada wartawan, pasti tak akan ada yang memberitakan kejadian yang membuat saya lunglai macam itu. Shit!!)
Badan saya lemas. Bukan karena saya tidak doyan makanan hotel pagi itu, tapi karena tragedy pesawat jatuh milik TNI selalu terulang dan terulang lagi. Yang membuat saya makin lemas, saya sering naik Hercules C130 milik TNI AU skuadron 17 VVIP. Meski beda pesawat dan skuadron, saya merasakan getar yang sama. Saya ngeri.
Ngeri membayangkan Wardi, salah satu saksi mata, melihat dengan kepala mata sendiri melihat pesawat Hercules menukik, menabrak bambu dan menghajar dua rumah. Saya tak bisa membayangkan ketika berada di tempat seperti Wardi. Mungkin Wardi sama ngerinya dengan Nicolas Cage. Kenapa semua itu terjadi? Salah siapa? Adakah kode-kode yang entah dimana, buatan anak kecil yang menggambarkan peristiwa-peristiwa mengerikan itu?
Ah semoga kecelakaan pesawat tak lagi terjadi di bumi pertiwi ini.
.
*untuk korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-400 GA-200 di Yogyakarta dan Hercules C 130 di Magetan.
26 May, 2009 at 4:53 pm
turut berduka cita untuk para korban, terutama yang rumahnya diseruduk.
26 May, 2009 at 5:13 pm
turut berduka cita untuk semua korban. dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan…
27 May, 2009 at 8:07 am
turut berdukacita untuk kamu yg gak punya2 waktu buat setor ke kos ku.
*pilin2 pecut*
28 May, 2009 at 1:22 am
Saya takut ketinggian mula-mula. Tiap nongkrok di jok pesawat saya membayangkan pesawat bakal jatuh berdebum dan saya meninggal gosong di sana.
Tetapi lama-lama saya biasa, dan justru menumpang pesawat ialah tantangan. Kalau mau mati, duduk di kakus dan kemudian kejatuhan tembok aja bisa koit. Toh, pesawat ada sopirnya, dan mesin dipermak dengan ketat hingga layak terbang.
Bencana jatuhnya pesawat membuat giris, namun ada yang lebih membuat miris: yakni kita alfa untuk melafalkan doa tatkala hendak melakukan sesuatu!
28 May, 2009 at 2:44 pm
turut berduka
jadi inget waktu naik pesawat trus goyang-goyang di atas
jadi serasa gimana gitu
seremmmm
8 June, 2009 at 3:59 am
bisa maen bola nggak, njing?
oiaaa… abang lu ituuu… nyang telpon gwa ituuu… ihik…
*meronarona*
13 June, 2009 at 2:19 am
sayang..sampe sekarang.. helicopter dan pesawat TNI terus berjatuhan.. bagaimana ini,, bisa2 TNI pada habis semua anggotanya.. meninggal karena kecelakaan pesawat bukan karena perang..