imaji


Perempuan Senja itu masih duduk di bangku sebuah Boulevard. Menikmati desir angin dan cahaya mentari yang menguning. Saya biasa menggumamkan dirinya dengan Senja. Karena setiap senja, perempuan mungil itu selalu ada ditempatnya.

“Namanya Imey,”
“Bukan. Bukan Imey. Siapa Imey? Dia Senja,”
“Namanya Imey, bang!,”

Saya tatap mata kawan perempuan saya. Cukup dengan tatapan mata yang mulai merintih. Tatapan yang tak lagi mampu melihat dengan sorot sempurna. Imey, Senja atau siapa lah, bukan jadi satu masalah berarti bagiku.

Senja. Ya Senja. Perempuan Senja itu sosoknya mencuri hatiku. Mengingatkanku akan perempuan yang saya kenal beberapa tahun silam. Saya sering mencuri pandang dari tempat saya berdiri saat ini. Jarak 15 meter, cukup bagiku untuk melihat aktifitas perempuan senja.

Sebungkus dunhill light menthol dan kertas putih (entah apa tulisannya, mungkin copy e-book yang ia unduh dari internet) selalu setia menyertainya. Senja, Ya Senja. Perempuan Senja yang membuat hatiku mengharu biru itu, sosok perempuan yang cuek. Ia tak peduli pada pejalan kaki dengan tatapan-tatapan yang menelanjanginya.

Bahkan dengan lelaki-lelaki berdasi yang setiap kali merayunya. Menawarkan dingin ac mercy metalik untuk mengantarnya. Senja tak peduli. Karena saya tau, Senja sedang menanti.

(more…)

siluet-diriku.jpg

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa… *

“Hy..”
“Hi..,”
“Lagi dimana atuh?, ganggu nggak,”
“Nyetir. Hmmm…. 10 menit nelpon lagi yah! Bentar lagi nyampe kost kok,”
“Oke,”
“Bye,”

Klik..

Lima menit yang menyebalkan. Aku hanya bisa duduk di bangku taman Untung Suropati. Sudah senja sekarang. Sebentar lagi lampu taman akan menyala. Sesekali aku tengok waktu yang tercatat di telepon genggam. Kurang tiga menit. Shitt!! Serasa tiga tahun. Benar-benar terkutuk.

10 menit. Aha…

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa…
Semua yang kurasa rindu dalam asa, didekat cinta
Hatiku untukmu hanya untukmu…

“Yups, baru aja masukin mobil di garasi. Pas banget 10 menit, hehehe. Kenapa yank?,”

Aku diam. Menahan nafas. Mulutku kaku.

(more…)

Gadis itu tertidur di pangkuanku, setelah tangis yang mengeringkan air matanya. Rambutnya tergerai menutupi wajah lembutnya. Pelan-pelan aku belai, lalu mencium lembut keningnya.

Dalam hening, lirih aku nyanyikan sebuah lagu.

Oh betapa ku saat ini, ku benci untuk mencinta. Mencintaimu..
Oh betapa ku saat ini, ku cinta untuk benci. Membencimu..

Aku tak tau apa yang terjadi, antara aku dan kau..
Yang ku tau pasti, ku benci untuk mencintaimu..

“Maafkan aku sayang. Selamat tidur,”

cangkir.jpg

 

Meja bulat itu berwarna coklat. Hanya ada dua cangkir cappuccino mengepul, dan beberapa kue kering. Diluar sepi, tak ada lalu lalang. Ruangan sudah gelap, cahaya lilin di pojok tak cukup menerangi kegelisahan hati kami.

Dalam cahaya remang, aku tak bisa melihat paras cantik perempuan itu. Rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Hanya bibirnya yang memerah samar terlihat olehku dalam gelap.

Pun hanya wangi aroma tubuhnya yang dapat aku rasakan kehadirannya. Ah.. wangi itu. Wangi aroma tubuh itu membuat aku ingin mendekap lama-lama. Wangi yang membuatku seolah melayang seketika, seharum cappuccino kesukaan kami.

“Kalau ada masalah ngomong donk, beb!” ujarku hati-hati. Takut menyakiti perasaannya. “Aku telp, SMS, kau tak pernah angkat, apalagi menjawabnya. Apa sih susahnya berterus terang? Bukankah kau paling suka membalas SMS-SMS itu dengan riang, dengan tawa yang selalu kurindukan?,”

Perempuan itu diam. Ia justru memalingkan wajahnya. Kali ini sama sekali tak terlihat olehku pesona kecantikan perempuan berdarah keturunan ningrat bercampur Jepang itu.

(more…)

sepucuk.jpg

sepucuk surat biru

Surat itu berwana biru. Dengan gambar hati di ujungnya. Sudah kusut memang, tapi wangi kertas masih terasa menyengat. Pelan-pelan aku buka, takut merusak keindahan dan wangi sampul surat itu.

Itu surat pertama yang aku terima, dari perempuan yang aku kenal dalam gemerlap malam kota. Sepucuk surat biru yang ditulis dengan getar, dilipat oleh pesona wangi tubuhnya.

“Aku mau kau menulis surat untukku,” kataku suatu ketika.
“Untuk apa?,”
“Aku mau posting di blog ku. Agar ada warna-warni hidupmu disana,”
“Aku masih belum mengerti, lagi pula aku tak biasa menulis sepertimu,” dalihnya.
“Aku hanya ingin merasakan getar, saat aku setubuhi setiap kata yang kau lukiskan dengan tangan indahmu,” rujukku.

Surat itu berwana biru. Dengan ujung bergambar hati di pojok kanan. Setiap kata yang tertulis membuatku terbuai dalam sentuhan lembut jemarinya. Meski waktu tak lagi mengakrabinya.

(more…)

Next Page »