22 Juni, 2008
Saat-saat menentukan itu adalah ketika saya nekat menyusuri boulevard di salah satu sudut kampus Universitas Negeri Solo Universitas Sebelas Maret (UNS). Dedaunan yang beterbangan, desir angin dan sendau kutilang di Angsana, semakin menguatkan langkah saya menapaki Aula Kampus UNS.
Beberapa menit lagi, saat menentukan itu tiba. Saat dimana saya menemukan dua cinta sekaligus. Cinta pada gadis manis bermata menyala, dan harmonisasi paduan suara.
Kenapa saya bisa nyasar ke UNS dan menemukan dua cinta dalam satu waktu?
Saya nekat menyambanginya untuk membuktikan bahwasanya saya menyesal telah mendendangkan lagu paling romantis se-dunia (setidaknya bagi saya). Lagu yang membuat mata gadis itu meredup lalu melelehkan air matanya. Kenapa paling romantis? karena dengan lagu itulah saya menembak gadis itu.
Itu sehari lalu. Sore, sebelum gadis itu berangkat untuk menjadi salah satu peserta paduan suara di UNS. Kebetulan dia kebagian pengisi suara sopran di kelompoknya.
Dan bodohnya saya, secara tak sengaja, saya menyanyikan lagu itu dihadapannya.
“Aku suka dengan lagu ini,” ujarku
“Oya? Kenapa memang,”
“Lagu ini seperti sengaja diciptakan untukku,”
“Maksudmu,”
“Iya. Aku cinta kau dan dia,”
“Apaan?,”
“Aku cinta kau dan dia. Aku mencintai kamu, tapi aku juga mencintai perempuan lain,” tegasku (more…)
Nun jauh, rengek perempuan itu menggema. Pilu itu mengiris pelan, menghempas mayapada lalu mengalir di sesela handsfree ujung selularku.

