jejak jiwa


Saat-saat menentukan itu adalah ketika saya nekat menyusuri boulevard di salah satu sudut kampus Universitas Negeri Solo Universitas Sebelas Maret (UNS). Dedaunan yang beterbangan, desir angin dan sendau kutilang di Angsana, semakin menguatkan langkah saya menapaki Aula Kampus UNS.

Beberapa menit lagi, saat menentukan itu tiba. Saat dimana saya menemukan dua cinta sekaligus. Cinta pada gadis manis bermata menyala, dan harmonisasi paduan suara.

Kenapa saya bisa nyasar ke UNS dan menemukan dua cinta dalam satu waktu?

Saya nekat menyambanginya untuk membuktikan bahwasanya saya menyesal telah mendendangkan lagu paling romantis se-dunia (setidaknya bagi saya). Lagu yang membuat mata gadis itu meredup lalu melelehkan air matanya. Kenapa paling romantis? karena dengan lagu itulah saya menembak gadis itu.

Itu sehari lalu. Sore, sebelum gadis itu berangkat untuk menjadi salah satu peserta paduan suara di UNS. Kebetulan dia kebagian pengisi suara sopran di kelompoknya.

Dan bodohnya saya, secara tak sengaja, saya menyanyikan lagu itu dihadapannya.

“Aku suka dengan lagu ini,” ujarku
“Oya? Kenapa memang,”
“Lagu ini seperti sengaja diciptakan untukku,”
“Maksudmu,”
“Iya. Aku cinta kau dan dia,”
“Apaan?,”
“Aku cinta kau dan dia. Aku mencintai kamu, tapi aku juga mencintai perempuan lain,” tegasku (more…)

gambar diambil dari berro.comNun jauh, rengek perempuan itu menggema. Pilu itu mengiris pelan, menghempas mayapada lalu mengalir di sesela handsfree ujung selularku.

“Aku sudah berusaha. Tapi sampai detik ini, aku tak pernah merasakan sesuatu,” isaknya.
“Cinta itu seperti salju, bidadariku,”
“Maksudmu?”
“Kalau memang gumpalan salju yang kau buat itu hancur berkeping, kau masih memiliki kesempatan untuk menggumpalkan kembali. Membentuknya dengan lekuk yang kau suka”
“Lalu, bagaimana jika musim dingin telah berlalu?”

Itu suara kawan saya. Isak itu datang ketika saya nyaris terlelap. Getar ponsel mengagetkanku, memaksa saya untuk membuka mata. Suaranya mengiris hingga batin saya ikut ngilu.

“Kenapa bisa gumpalan yang kau buat itu hancur,” kali ini saya coba mengoreknya
“Dia terlalu asik dengan dunianya,”
“Dunianya? Bukankah selama ini dia selalu ada untukmu?,”
“Tidak kali ini,”

Isaknya mulai tak beraturan. Sesekali hening, menahan nafas lalu kembali melanjutkan cerita.

“Beberapa malam ini, dia seperti abai denganku,” lanjutnya
“Lalu,”
“Kenapa selalu aku yang mengalah. Sementara kami hanya memiliki waktu saat orang-orang sudah terlelap,”
“Apa alasan dia tak lagi menghubungimu,”
“Gara-gara EURO sialan!!”
“Hah.. Bola!!”

Tawa saya hendak meledak. Saya mencoba untuk tak bereaksi berlebihan. Saya tidak hendak menyakiti perasaannya.

“Itu akan berlalu, Bidadariku. Musim dingin akan segera mendatangimu kembali. Dan kau, bidadariku, akan memiliki kesempatan untuk membuat boneka salju kesukaanmu,”
“Bagaimana jika aku ingin ada satu musin di dunia ini,”
“Ya. Dan kau harus menjaga gumpalan salju yang kau bentuk itu dengan hatimu,”
Isaknya mulai terhenti. Ponselnya ia matikan.
Klik!!

(more…)

Semua cerita tentangmu, yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku, memenuhi ruang hatiku

—lirik lagu ODE by Padi—

Semalam, sengaja saya menghabiskan waktu dengan Nagabonar. Jenderal perang kemerdekaan yang diangkat oleh anak buahnya itu, sekonyong-konyong mencuri hatiku.

Ya, Nagabonar. Semalam saya kembali nonton mantan copet, yang sengaja memilih dipenjara karena makanan di penjara tidak bayar. Nagabonar, yang memiliki sahabat si Bujang, yang sudah dilarang Nagabonar untuk tidak berperang tapi malah memilih perang dan matilah dia dimakan cacing.

Saya menontonnya sendiri. Tidak dengan siapa-siapa. Sendiri dengan sepi, dengan penonton yang tetep terkekeh-kekeh menahan geli.

Belum puas, pulanglah saya. Pulang, masuk kamar, melanjutkan kisah Nagabonar dengan Bonaga, anaknya. Dan entah kenapa, setelah nonton sekuel Nagabonar, tiba-tiba saya teringat dengan semua orang yang saya cintai.

Saat menonton Nagabonar di Bioskop Taman Ismail Marzuki, yang terbayang di otak saya adalah sahabat saya. Sahabat yang mengerti betul akan karakter saya. Sahabat yang membuat masa muda saya menggelegak dengan keriangan khas remaja.

(more…)

tolak BBM naik..Senin siang kemarin, kepala saya mendadak panas. Serasa mau meledak. Lalu, otak saya yang cekak berhamburan mengenai orang-orang disekitar saya. Panas, karena cuaca mendadak menyengat, jalan yang mengular, dan aktifitas demonstran yang menutup jalan. Semuanya membuat saya pening.

Itulah kemudian kenapa saya memilih duduk ngadem di bawah AC pressroom kantor Depdagri. Ngisis saya sembari ceting-an sama kawan-kawan yang lagi on line. Saya cari-cari Samirun nggak ada. Sedang tidak ngenet rupanya.

Lalu ponsel saya bergetar. Ternyata Bagus Indra, kawan saya menelepon. Tumben dia siang-siang begini menelepon.

“Bro, jalanan macet. Bis dan bajaj saling salip sejengkal demi sejengkal, praktis tak ada ruang buat motorku menerabas. Macet total. Bajingan!!”

“Di Istana ada demo, Jack!! menutup jalan. Kalau kau mau ke Depdagri sekarang, jelas akan mengular. Dan akan semakin panjang, karena harus memutar,”

“Kampret!!”

(more…)

I am a dreamer but when I wake,
You can’t break my spirit - it’s my dreams you take.
And as you move on, remember me

———-James Blunt-Goodbye My Lover

***

Tadi malam, mendadak saya menjadi sangat melankolis. Padahal sudah mulai subuh. Saat orang-orang mulai terbangun karena Asholatu Khoirum Minan Nauum, saya justru terisak-isak di atas ranjang, duduk bersandar dipojok kamar.

Padahal, saya tidak sedang melakukan aktifitas yang membuat saya menjadi sentimentil seperti ini. Saya sedang ngebut membuat naskah skenario pesanan kawan saya yang sama sekali tidak ada unsur tangis-tangisan didalamnya.

Saya mencoba cari tau, darimana sumber yang membuat saya menjadi teramat sensitif itu. Jelas, bukan karena DVD yang kemarin saya tonton. Karena saya melahap Resurrecting The Champ, film yang dimainkan secara apik oleh Samuel L Jackson dan Josh Hartnett. Toh film ini menceritakan tentang jurnalis yang tiba-tiba kehilangan reputasi karena salah mengutip. siMungil menyodorkan film ini untuk saya tonton.

(more…)

Next Page »