<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>&#124;Sebuah Dunia Kecil&#124;</title>
	<atom:link href="http://sofianblue.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sofianblue.wordpress.com</link>
	<description>romantika cinta dalam partitur senja</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Oct 2009 06:22:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sofianblue.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/14f01d4f5183489ad2e91ab92a4d7ca9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>&#124;Sebuah Dunia Kecil&#124;</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mereka yang Menari</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/10/29/mereka-yang-menari/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/10/29/mereka-yang-menari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 06:22:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[lindu panon]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[ Wajah Nila memerah, mungkin gerah. Satu dua bulir peluh menetes di keningnya. Tapi dia tersenyum, sambil mengibaskan selendang merah yang menjuntai kepanjangan di pinggangnya. Lalu, satu kakinya melangkah kedepan, kepalanya berpaling ke kiri, pelan, kemudian kembali tegak menghadap ke depan.
Itu Rabu, sekitar pukul setengah empat sore, Nila tak sendiri. Di teras depan Museum Ronggowarsito [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=466&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/10/tari.jpg?w=300&#038;h=232" alt="tari" title="tari" width="300" height="232" class="alignleft size-medium wp-image-467" /> Wajah Nila memerah, mungkin gerah. Satu dua bulir peluh menetes di keningnya. Tapi dia tersenyum, sambil mengibaskan selendang merah yang menjuntai kepanjangan di pinggangnya. Lalu, satu kakinya melangkah kedepan, kepalanya berpaling ke kiri, pelan, kemudian kembali tegak menghadap ke depan.</p>
<p>Itu Rabu, sekitar pukul setengah empat sore, Nila tak sendiri. Di teras depan Museum Ronggowarsito di bilangan Kalibanteng Semarang, masih ada belasan anak sebayanya. Perempuan semua.</p>
<p>Dari sudut teras berukuran 8&#215;4 meter itu, gerakan mereka selaras dengan nada pentatonis gamelan yang keluar dari Sony Hi-Fi di sudut. Juga dengan teriakan gadis muda yang berdiri di depan.</p>
<p>“Satu, dua, maju, jengkeng… satu, dua, maju tangan singkep!”</p>
<p>Di bangku panjang depan teras itu, saya duduk bersama deretan ibu-ibu yang tengah asik mengobrol. Hawa dingin teras yang meruap ke atas, cukup ampuh mengusir sisa panas hari yang melelahkan ini.</p>
<p>“Daripada di rumah terus, Mas, di sini ‘kan dia jadi banyak teman,” tutur Bu Eko memberi alasan mendaftarkan putri bungsunya, Nila, yang masih berusia 9 tahun ke Sanggar Kesenian Lindu Panon. </p>
<p>“Nila itu berbakat lho, Mas. Lihat saja, baru masuk sini, langsung diajak pentas,”<br />
“Pentas,”<br />
“Iya, pentas. Minggu lalu kan ada pentas di Raden Saleh?” tukas Bu Eko. Saya manggut-manggut. Kurang riset rupanya.</p>
<p>Obrolan kami terhenti sejenak ketika tangis bayi yang digendong seorang ibu muda tidak jauh di depan saya tiba-tiba meledak. Kontan saya meliriknya. Ibu muda itu sigap membuka dua kancing atas bajunya, lalu mendekatkan kepala sang bayi ke puncak belahan dada kirinya. Secepat kilat saya kembali menatap bu Eko, yang entah kenapa, tersenyum jenaka.</p>
<p>“Terus terang saya khawatir, Mas. Anak-anak sekarang tingkahnya macem-macem. Penggennya ke Mall terus. Minta ini-lah, itu-lah. Kebanyakan nonton tivi kali, ya?” <span id="more-466"></span></p>
<p align="center">***</p>
<p>Sanggar Lindu Panon berdiri pada 1988. Sejak awal berdiri Lindu Panon menggariskan cita-citanya pada kelestarian kesenian Jawa, khususnya tari dan karawitan. Nguri-nguri Budaya Jawa, istilahnya. Tapi kini, boleh dibilang hanya tari Jawa saja yang bertahan. Sementara kesenian karawitan, karena sepi peminat, tidak lagi seaktif dulu. Padahal, selama hampir 15 tahun lindu panon eksis, puluhan gelar juara sudah diraihnya. Dalam sepuluh tahun terakhir itu, 25 juara tingkat nasional kategori anak-anak disabet. Jumlah nasional untuk ukuran itu, sudah bisa dibilang hebat. Total Jenderal kira-kira 2-3 gelar juara bisa digapai dalam setahun. Selama sepuluh tahun terakhir itu  pula empat puluh lima karya tari lahir dari sanggar Lindu Panon. </p>
<p>Sebagaimana umumnya sekolah tari, Lindu Panon membagi kelas berdasarkan tingkat usia, yakni pra-indria, indria, pra-madya, madya, pra-remaja dan remaja. Total anggotanya, mulai anaik-anak sampai remaja, sekitar 200-an orang.</p>
<p>Operasional sanggar sebagian besar bersal dari iuran anggota. 10ribu per bulannya. Sumbangan dari pemerintah memang ada. Tapi, jumlahnya sedikit. Paling-paling kalo ada momen tertentu. Dari sponsor, apalagi. Menurut Eny Haryanti, yang saat itu menjadi ketua harian sangar, meskipun tidak begitu mencukupi, iuran anggora ditambah donasi sana-sini masih dapat menutup operasional sanggar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Minggu, pukul 11 kembali saya mendatangi museum Ronggowarsito. Suasana museum menjelang tengah hari ini begitu ingar. Beberapa pengunjung Museum yang terletak di Jalan Abdurahman Saleh ini melongok-longok melihat anak-anak yang menari. Seorang pelatih tari teriak-teriak memberi aba-aba, ibu-ibu ngerumpi di bangku panjang, beberapa pasang muda-mudi berbisik-bisik, semua dibalut alunan gamelan yang mendebur di salah satu sudut ruangan.</p>
<p>Duduk di pojok teras itu, saya ditemani Dwi Aprianti. Gadis ini satu dari enam pelatih di sanggar tari Lindu Panon. Dwi masih kuliah di Teknik Kimia Undip. Dwi cerita kalau dia belajar tari sejak kelas 5 SD.</p>
<p>Sejak ia ikut menjadi salah satu pelatih tari di Lindu Panon, ia merasakan ada grafik peningkatan. Salah satu indikasinya adalah makin banyaknya murid yang menjadi anggota sanggar. Tapi di sisi lain, hal itu menyebabkan ketatnya pembagian jadwal latihan. Dari yang tadinya tiga jam menjadi lima jam, tiap minggu pagi dan rabu sore.</p>
<p>“Mari, Mas. Itu bu Siti datang. Mari saya antar,” tukas Dwi, begitu melihat orang yang saya tunggu tiba.</p>
<p>Siti Salbiyah adalah koordinator pelatih tari di Sangar Lindu Panon. Sorot mata perempuan ini teduh. Parasnya keibuan. </p>
<p>“Sudah berpuluh tahun saya menari,” </p>
<p>Begitu ia menjawab pertanyaan awal saya. Tenang, tersenyum.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Kota semarang dalam beberapa bulan ini boleh saja dibilang sebagai kota konser, beragam pertunjukan live music yang menghadirkan artis-artis papan atas Indonesia, ramai-ramai menyambangi kota Loenpia ini. Di café, lapangan terbuka semuanya menyuguhkan hingar musik massif. Belum di kampus-kampus. Pentas tari tradisional? Alih-alih pertunjukan tari, gedung kesenian di Taman Budaya Raden Saleh seringkali dipakai untuk konser music daripada seni budaya.</p>
<p>Tapi memang, ketimbang aktifitas Lindu Panon, tentu saja konser-konser itu lebih populer. Liputan media, gelimang artis, daya tarik massa, gencarnya promosi dan tentu saja derasnya aliran fulus, adalah beberapa hal yang menyebabkan mengapa konser-konser itu nampak lebih mendominasi wacana di perbincangan kita sehari-hari. Berbeda dengan aktivitas tari seperti di Lindu Panon, konser musik massif, jauh lebih potensial menyedot massa. </p>
<p>Kecilnya perhatian pemerintah ini dirasakan betul oleh Eni Haryanti, ketua harian sanggar Lindu Panon. Keprihatinan senada diungkapkan Darmanto Jatman, budayawan kota Semarang. Darmanto menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi yang harus dihadapi. Lebih jauh ia menambahkan bahwa sanggar-sanggar semacam Lindu Panon bukanlah pelarian dari desakan budaya massa.</p>
<p>Mengidentikkan eksistensi kesenian lokal di satu pihak dengan idealisme berkesenian di lain pihak justru cenderung akan menyesatkan, dan karenanya amat berpeluang terjerambab dalam bentuk-bentuk sinisme.</p>
<p>Disini, lanjut Darmanto, melihat gempuran budaya massa di satu pihak dengan kesenian tradisional di lain pihak hanyalah sekedar persoalan politik identitas. </p>
<p>“Nanti kalo sudah besar kan tidak lagi,” ujarnya datar</p>
<p>Agak berlainan dengan Darmanto, Gunawan Budi Susanto, seorang pekerja seni di Semarang, melihat sisi positif Lindu Panon dari aspek pendidikan. Keberadaan Lindu Panon dilihatnya sebagai wahana alternatif eksplorasi kreativitas, terutama terhadap kesenian.</p>
<p>Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia yang salah kaprah telah menyebabkan anak-anak cenderung bersikap masa bodoh terhadap kesenian. Gunawan lantas mencontohkan kegiatan Taman Kanak-Kanak. Tempat yang seharusnya berfungsi sebagai taman bermain, ternyata kini lebih cenderung diisi kegiatan menghapal, menghitung  dan membaca. Pada akhirnya, arena bermain anak-anak hilang. Ini menyebabkan tidak terjadinya elaborasi kreativitas, sekaligus mengakibatkan terhentinya perkembangan bakat. Dengan kata lain, salah kaprah pendidikan tidak saja telah membunuh kreativitas, melainkan juga mematikan masa kanak-kanak.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lewat tengah hari, teras sudah sepi. Tak ada lagi ingar. Setelah berpamitan dengan Siti Salbiyah, Dwi Apriyanti mengantar saya sampai depan. Berdua kami berjalan melintasi teras museum yang luas itu. Namun sebelum sampai luar, entah kenapa saya perlu berhenti sebentar. Teras ini dingin. Lantainya dari marmer lokal. Berjalan di atasnya tanpa alas kaki di tengah hari seperti ini membuat tubuh jadi nyaman. Cocok memang untuk tempat bermain anak-anak. Cocok juga untuk melamun.<br />
<em>Di beranda ini angin tak kedengaran lagi…  </em><br />
Dwi tersenyum. Mungkin dia tahu kalau bibirku bergerak sendiri, berbicara, meski dengan bunyi yang aku sendiri nyaris tak mendengarnya **</p>
<p>.<br />
<em>*Tulisan ini pernah dimuat di majalah Mahaprika Undip. Atas beberapa alasan, tulisan ini sengaja saya tulis ulang, dengan tambahan dan pengurangan kalimat disana-sini. Tak perlu minta ijin penulisnya, karena tulisan tersebut dibuat atas nama pemilik blog.</em></p>
Posted in cerita, features, jejak jiwa  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=466&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/10/29/mereka-yang-menari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/10/tari.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Love Miyabi</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/09/24/i-love-miyabi/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/09/24/i-love-miyabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 07:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[JAV]]></category>
		<category><![CDATA[miyabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[ Kenal Miyabi? Itu lho bintang JAV yang nama aslinya Maria Osawa. Iya, kenal kan? Nah, saya ini salah satu penggemar Miyabi. Entah kenapa kok saya suka dengan Miyabi dibanding JAV Idol lainnya. Mungkin karena Miyabi ini memiliki wajah yang cantik rupawan dan imut. 
Sudah sejak jaman kuliah saya kenal dengannya. Saya sering pijam DVD [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=458&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/09/miyabi.jpg?w=222&#038;h=300" alt="miyabi" title="miyabi" width="222" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-459" /> Kenal Miyabi? Itu lho bintang JAV yang nama aslinya Maria Osawa. Iya, kenal kan? Nah, saya ini salah satu penggemar Miyabi. Entah kenapa kok saya suka dengan Miyabi dibanding JAV Idol lainnya. Mungkin karena Miyabi ini memiliki wajah yang cantik rupawan dan imut. </p>
<p>Sudah sejak jaman kuliah saya kenal dengannya. Saya sering pijam DVD milik kawan saya untuk sekedar nonton bintang Japanese Adult Video itu. Hehe.. Kalo kamu mau tau, rasa suka saya dengan Miyabi itu setara dengan cinta saya dengan sepak bola. Loh.. sungguh ini, ini beneran. Bedanya kalo yang satu menyehatkan, yang satunya menyesatkan. (silahkan kau tafsirkan sendiri mana yang menyehatkan, mana yang menyesatkan).</p>
<p>Bayangkan saja, setiap kali saya menonton Miyabi beraksi, dada saya selalu bergetar-getar. Getarannya serupa vibrator yang sering digunakan Miyabi dalam melancarkan aksi-aksinya. Nah, kini, degup itu makin kencang dan nyaris meledak begitu mengatahui kabar Miyabi hendak bertandang ke Indonesia. Iya, konon, dia mau maen film di Indonesia. Sudah mau menghambur saja isi dada saya.</p>
<p>“Miyabi mau maen film di Indonesia  ya, Bro,” kata Ariev, kawan saya di Semarang melalui YM pekan lalu. Itu Ariev bilang begitu saat saya masih enak-enakan dirumah dan kebetulan pas onlen.<br />
“Iya,” balas saya. “Ini saya juga baca beritanya di internet. Tapi entah kapan. Saya kok jadi pengen ketemu ya, Rif. Berharap ada meet and greet with Miyabi gitu deh,”<br />
“Wah, kalo itu aku juga mau bro. eh tapi kabarnya banyak yang nggak suka Miyabi maen film di Indonesia,”<br />
“Nah itu dia, saya ndak tau persis, memangnya ditolak gitu ya?” kata saya setengah bertanya. Saya memang belum begitu jelas ada penolakan Miyabi maen film di Indonesia. Saya tanya Ariev, katanya sih sebagian alas an penolakan karena dia pemain film porno. Kalo memang bisa jangan pake Miyabi, kayak nggak ada bintang film laen saja.</p>
<p>Di negeri Indonesia ini, apa saja yang ditulis oleh media, seringkali memang ditanggapi secara berlebihan. Lebay kalo anak muda menyebutnya. Bayangkan saja, belum juga film dibuat, sudah ada saja yang melakukan penolakan JAV Idol itu datang ke Indonesia.</p>
<p>Lha kalo judul filmnya saja Menculik Miyabi, masak Miyabi diganti Cinta Laura, lalu yang diculik Cinta Laura? Memang Cinta Laura mirip Miyabi gitu? Ah ada-ada saja.</p>
<p>“Tapi ada benernya juga bro kalo Miyabi dicekal masuk Indonesia,” kata Ariev<br />
“Loh? Kok bisa?,”<br />
“Lha bayangkan saja, kalo Miyabi jadi maen film di Indonesia, semua orang pasti akan tau siapa Miyabi sebenarnya,”<br />
“Trus kenapa? Ada yang salah?” bantah saya<br />
“Lah, kalo Miyabi jadi maen film, kemudian heboh karena semua orang ngelarang, kan malah jadi bikin orang penasaran. Akhirnya, anak-anak dibawah umur jadi ikut-ikutan penasaran, lalu searching di Internet, ngetik keyword MIYABI, lalu munculah link video-video porno Miyabi. Kan gawat,”</p>
<p>Saya diam. Betul juga. Bagaimana jika setelah heboh sana-sini, istri saya tiba-tiba penasaran ingin nonton film Miyabi?</p>
<p>“Nah, karena penasaran, akhirnya semua jadi ikut-ikutan deh donlot itu film Miyabi versi adult,”<br />
“Jika alasannya akses internet yang mudah, bukankah selain Miyabi, juga banyak bintang porno yang bisa dengan mudah di akses?  Lalu kenapa Miyabi jadi korban? lagipula, bukankah film ini tanpa adegan porno sedikitpun?&#8221;</p>
<p>Saya coba kasih penjelasan ke kawan yang sudah saya anggap keluarga sendiri itu. Toh, film belum juga dibuat. Kalo memang pada akhirnya filmnya terlalu vulgar, kan masih ada benteng Badan Sensor Film (BSF) atau kalo tidak, kan jalan paling mudah ya, nggak perlu ditonton. Toh, film-film Indonesia yang dianggap terlalu vulgar yang sudah nangkring di bioskop juga nggak banyak yang nonton dan mau tidak mau akhirnya juga dicopot. </p>
<p>Bukankah semakin dilarang, justru akan menaikkan rating? Menjadikan orang makin penasaran dan makin ingin menonton? Atau setidaknya mencari tau di Internet?.  Toh sekarang akses internet dengan mudahnya dijangkau anak-anak. Bahkan pemimpin negeri ini juga meminta seluruh desa di tanah air bisa terjangkau oleh Internet.</p>
<p>Ah tau lah, saya ini orang awam urusan beginian. Dilarang atau tidak dilarang, saya tetap suka dengan Miyabi. I Love Miyabi lah&#8230;</p>
<p>“Kau pernah nonton Miyabi, Rif?” kata saya<br />
“Pernah lah,”<br />
“Nah, jadi kau tau kan, kalo di Jepang pun, film pornonya Miyabi itu kena sensor. Setidaknya dibuat blur, apalagi ini di Indonesia,”<br />
“Ndasmu,”</p>
<p><em>Sign out!!</em></p>
<p>.<br />
Bekasi, 24 September 2009<br />
Selamat Idul Fitri, kawan!! Maaf Lahir Batin ya…</p>
Posted in cerita, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/458/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=458&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/09/24/i-love-miyabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/09/miyabi.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">miyabi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kurawa</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/14/kurawa/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/14/kurawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 12:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[kurawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Kurawa. Bukan, bukan kurawa seperti tokoh pewayangan itu. Kurawa itu Kumpulan Remaja RW Dua. Dinamakan Kurawa, karena nama itulah yang mencuat karena memang kami kesulitan merumuskan nama.
Itu dulu, lima tahun lalu, ketika saya dan beberapa remaja di Kampung Srondol memutuskan untuk membuat organisasi remaja gabungan di wilayah RW 2. Hehe.. jelek-jelek begini, saya dulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=454&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/08/merah_putih1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="merah_putih" title="merah_putih" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-455" />Namanya Kurawa. Bukan, bukan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korawa">kurawa</a> seperti tokoh pewayangan itu. Kurawa itu Kumpulan Remaja RW Dua. Dinamakan Kurawa, karena nama itulah yang mencuat karena memang kami kesulitan merumuskan nama.</p>
<p>Itu dulu, lima tahun lalu, ketika saya dan beberapa remaja di Kampung Srondol memutuskan untuk membuat organisasi remaja gabungan di wilayah RW 2. Hehe.. jelek-jelek begini, saya dulu pernah menjadi sekjen kurawa. </p>
<p>Idenya sederhana, kami ingin seluruh remaja di lingkungan RW kami bersatu. Tak lagi terkotak-kotak terbatas di lingkungan RT. Kami ingin melebur jadi satu, membuat kegiatan yang lebih besar, dengan skala kegiatan yang lebih luas. Karena kami saat itu yakin, organisasi di tingkat kampung ini lah kawah yang menggodok kami anak-anak kampung belajar organisasi. Belajar mengerahkan massa, menyalurkan apresiasi dan kreativitas.</p>
<p>Itu dulu. Tiga tahun lalu, ketika kami sama-sama membuat kegiatan. Sebelum saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, dan hanya dapat memantau kegiatan mereka melalui chating. Hingga kemudian, dua pekan lalu, kawan saya di Kampung Srondol itu menuliskan sebuah wall di Facebook</p>
<p>“Bro, kau ada ide untuk mengganti nama Kurawa,” tulis Rudoth. Saya terhenyak. Saya bertanya-tanya kenapa Kurawa mesti diganti. Saya balas melalui wall.<br />
“Nama Kurawa diprotes. Katanya memiliki konotasi negatif,”<br />
“Bukankah dari dulu Kurawa sudah ada? Kenapa baru sekarang diprotes,” balas saya.<br />
“Orang-orang merasa kurawa itu nama-nama yang identik dengan kejahatan, musuh Pandawa!”</p>
<p>Saya tertawa. Miris hati saya. Usai saling komen di FB, pikiran saya langsung melayang ke kampung halaman. Menjelang Agustus, di Kampung saya, Kurawa ini lah yang memiliki inisiatif untuk membuat kegiatan-kegiatan. Ketika warga abai dengan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, Kurawa menjadi satu-satunya sekumpulan remaja yang menggelar bakti social.</p>
<p>Ketika warga enggan untuk mengeluarkan bendera dan memasang pernak-pernik Agustus-an, Kurawa ada  untuk membuat lomba gebyar agustusan. Yang tentu, memaksa warga untuk menyetrika merah putih dan mengibarkan di depan rumah. Memasang lampu-lampu hias membentang di tengah jalan.</p>
<p>Kurawa memang hanya sekumpulan remaja yang duduk di SMA dan anak-anak kuliahan. Sekumpulan Remaja yang mungkin dikali waktu masih merengek minta dibelikan pulsa dan blackberry. Tapi ketika nasionalisme warga tergerus, ketika jiwa-jiwa individualism menggerogoti kampung halaman, Kurawa ada untuk menjadi pengingat mereka. Ketika orang memaksa kami mengganti nama, ketika teroris menebar ancaman, Kurawa Tidak Takut!! MERDEKA!!</p>
<p>Ya, kami tidak takut. Sama seperti mereka..<br />
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/14/kurawa/"><img src="http://img.youtube.com/vi/5DOnFkmCz34/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
Posted in cerita, features, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/454/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=454&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/14/kurawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/08/merah_putih1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">merah_putih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/5DOnFkmCz34/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Peucang, Surga yang Sempat Hilang</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/12/peucang/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/12/peucang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 05:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[TAK perlu jauh-jauh pergi ke Sibolga untuk menikmati pesona alam sembari bermain butiran pasir putih. Di gugusan Pulau Taman Nasional Ujung Kulon, Anda bisa temui pesona surga yang pernah hilang. Itulah Pulau Peucang.
Kami memulai petualangan dari Pelabuhan Merak,Banten. Naik kapal Badak Laut milik Departemen Kehutanan yang telah sandar di pelabuhan. Ramai orang satu per satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=445&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/08/peucang1.jpg?w=181&#038;h=300" alt="peucang" title="peucang" width="181" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-449" /><em>TAK perlu jauh-jauh pergi ke Sibolga untuk menikmati pesona alam sembari bermain butiran pasir putih. Di gugusan Pulau Taman Nasional Ujung Kulon, Anda bisa temui pesona surga yang pernah hilang. Itulah Pulau Peucang.</em></p>
<p>Kami memulai petualangan dari Pelabuhan Merak,Banten. Naik kapal Badak Laut milik Departemen Kehutanan yang telah sandar di pelabuhan. Ramai orang satu per satu memasuki buritan kapal. Kapal penuh sesak, dari kapasitas yang seharusnya 50 penumpang dijejali hingga 100 penumpang, semua ingin ikut berpetualang, termasuk di dalamnya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto, Gubernur Banten Ratu Atut dan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah.</p>
<p>Saya duduk bersama rombongan dari Departemen Dalam Negeri (Depdagri) di buritan kapal. Duduk beralaskan kursi lipat dengan sengat matahari yang menusuk kulit. Sesaknya penumpang yang ingin berwisata membuat ABK kapal Badak Laut membuat tempat duduk darurat. </p>
<p>Pukul 10.00,kapal mulai bergerak. Nakhoda mengumumkan perjalanan yang bakal ditempuh dari Pelabuhan Merah ke Pulau Peucang kurang lebih tiga jam. Itu tiga jam yang menyiksa, karena ombak setinggi lebih dari dua meter menggempur kapal cepat yang kami tumpangi tanpa henti. Hampir semua penumpang merasakan mual. Beberapa di antara kami memuntahkan isi perut. </p>
<p>Sebenarnya, untuk mencapai Pulau Peucang tak harus melalui Pelabuhan Merak. Jika ingin perjalanan yang lebih santai tanpa ombak yang tinggi, bisa saja melalui Kampung Sumur di Pandeglang.</p>
<p>Di Dermaga Kampung Sumur ini,bisa menyewa speedboat atau kapal nelayan untuk menuju Pulau Peucang, meski sama-sama menempuh jarak 3 jam perjalanan, namun ombak tidak begitu besar, dibanding melalui Pelabuhan Merak. Tengah hari, kami mulai memasuki gugusan pulau di Ujung Kulon itu. Perlahan-lahan Badak Laut membuang sauh di tengah perairan.</p>
<p>Itu dilakukan karena dermaga Pulau Peucang hanya bisa dilabuhi speedboat atau sejenis kapal motor tempel. Lagi pula perairannya dangkal, sehingga mau tak mau seluruh penumpang diungsikan dengan kapal-kapal speedboat milik Perhutani. Sungguh, itu tiga jam perjalanan terombang-ambing di tengah lautan seperti hilang seketika. Air laut di sekitar gugusan Pulau Ujung Kulon begitu jernih. Ribuan school fish bermain-main di bawah kapal. Menari-nari seperti menyambut kami.  Di kejauhan, hamparan pasir putih dengan debur ombak tenang berwarna hijau kebiruan membuat kami tergesa ingin berenang di dalamnya. </p>
<p>Pulau Peucang sendiri merupakan daerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. Kebetulan, saat kami berkunjung ke sana, Mendagri Mardiyanto, Gubernur Banten Ratu Atut dan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah sedang mencanangkan Peucang sebagai pulau penyangga Taman Nasional Ujung Kulon.</p>
<p>“Di Pulau Jawa, jarang sekali kita temui wisata alam sekelas ini,” puji Mardiyanto </p>
<p>Tak mengherankan memang, pulau yang sempat porak-poranda dihantam tsunami akibat letusan Krakatau 1883 lalu, kini tumbuh liar menjelma bagaikan surga. Suksesi alam memberi Peucang bentukan alam baru yang menakjubkan. Pulau Peucang tumbuh hijau penuh pepohonan, ficus dan kiara raksasa.</p>
<p>Kiara di sini memang berukuran amat besar.Membutuhkan 22 orang dewasa untuk mengelilinginya dengan bergandengan tangan sekadar mengetahui diameternya, maka dinamai Kiara Raksasa. Kiara adalah tumbuhan parasit yang hidup melilit dan menghisap makanan dari pohon inangnya.</p>
<p>Ada pula Areuy kasongket,ini adalah tumbuhan sejenis liana.Tumbuh dengan menjulur dan melilit dari atas ke bawah hingga seolaholah layaknya untaian mahakarya yang jatuh dari langit. Di ujung Pulau Peucang, tak kalah dahsyat tercipta mahakarya ukiran alam berupa karang Copong.</p>
<p>Dinamai karang Copong karena ada lubang besar mengangga tepat di tengahtengah karang Karena keindahan alam Peucang inilah, pengelola menyediakan jasa tracking membelah Pulau Peucang menuju Karang Copong. Hanya membutuhkan waktu 3 jam perjalanan pulang pergi dari pesanggrahan Peucang. <span id="more-445"></span></p>
<p>Siapa tahu, jika beruntung akan menemui satwa liar macam rusa, merak, biawak atau kepakan burung Kangkareng. Lelah tracking, mandi di laut sembari bermain butir-butir pasir putih dapat dilakukan di sepanjang pantai Peucang. Di sini, di tempat ini, mudah ditemukan jenis terumbu karang macam anemon, Acropora brancing, Acropora massive, Acropora encrusting, hingga Acropora foliose (berbentuk bunga mawar) maupun Acropora mushroom (bentuk jamur). Belum berbagai jenis ikan karang yang hidup di dalamnya, membuat aktivitas divingsemakin sempurna. </p>
<p>Belum lengkap, tinggal menyeberang 10 menit naik speedboat untuk sampai ke Semenanjung Ujung Kulon. Di sinilah habitat badak bercula satu yang langka itu hidup.</p>
<p>Memang, susah untuk melihat badak jawa ini di habitat aslinya. Pendengaran dan indera penciuman yang tajam membuat badak-badak yang hidup menyendiri ini akan langsung menjauh begitu mendengar tapak-tapak kaki dari jarak lebih dari 100 meter. Tapi jangan khawatir, di Semenanjung Ujung Kulon ini,terdapat padang penggembalaan Cidaon. Inilah padang rumput tempat banteng hidup bergerombol mencari makan.</p>
<p>Juga ada burung merak yang terkadang memamerkan keindahan bulu-bulunya hidup liar di Cidaon. Sayang, ketika kami sampai di Cidaon, hanya dapat melihat satu kelompok banteng sedang merumput. </p>
<p>Tak cukup hanya sehari untuk melakukan eksplorasi alam di Pulau Peucang. Untuk itu, pengelola Pulau Peucang  menyediakan jasa penginapan dengan harga bervariasi antara Rp500.000– Rp800.000 berisi 6–8 kamar AC dan non-AC.</p>
<p>Lebih asyik lagi, di pesanggrahan itu kami bisa bermain-main dengan rusa liar yang sudah jinak. Memberinya makan dan berpose bersama. Tak hanya rusa liar yang turun di pesanggrahan,banyak pula monyet yang meminta sedekah makanan dan babi hutan yang dengan santainya melenggang di tengah-tengah rombongan manusia.</p>
<p>Namun, jika sudah di sini, jangan harap bisa melakukan hubungan dengan dunia luar.Karena nyaris tidak ada sinyal handphone kecuali memakai sambungan satelit. Cocok memang untuk rehat dari aktivitas kantoran,sembari menikmati Peucang, surga yang sempat hilang. (sofianblue)</p>
<p>*Tulisan ini juga dimuat di Harian <a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/261833/">Seputar Indonesia </a> dalam rubrik Travel</p>
Posted in cerita, features, jejak jiwa  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=445&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/08/12/peucang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/08/peucang1.jpg?w=181" medium="image">
			<media:title type="html">peucang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Janda</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/25/menjadi-janda/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/25/menjadi-janda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 15:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[janda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Itu Jumat 3 Juli 2009 lalu, saat saya ikut roadshow ke lima kota di Jawa bersama rombongan dari Jakarta. Kami berkunjung ke Banten, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Jogja yang hanya ditempuh dalam waktu dua hari. Sungguh, itu perjalanan yang melelahkan. Singgah ke kota-kota itu hanya dua jam, acara, selesai, lalu terbang ke kota lainnya. Badan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=435&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/07/menjadi-janda.jpg?w=300&#038;h=211" alt="menjadi janda" title="menjadi janda" width="300" height="211" class="alignleft size-medium wp-image-436" />Itu Jumat 3 Juli 2009 lalu, saat saya ikut roadshow ke lima kota di Jawa bersama rombongan dari Jakarta. Kami berkunjung ke Banten, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Jogja yang hanya ditempuh dalam waktu dua hari. Sungguh, itu perjalanan yang melelahkan. Singgah ke kota-kota itu hanya dua jam, acara, selesai, lalu terbang ke kota lainnya. Badan ini serasa pegal sekali. Butuh pijatan untuk memperlancar darah-darah yang berasa menggumpal.</p>
<p>Dalam dua hari itu, kami menginap di Semarang. Di hotel Grand Candi yang sebanarnya tak jauh dari rumah orang tua saya di daerah Banyumanik sana. Saya memilih menginap di hotel itu karena mau buat tulisan sekalian mau istirahat. </p>
<p>Itu sekitar pukul 7 malam, ketika handphone saya berdering-dering. Biasanya saya paling malas menganggat telepon jam-jam segitu. Saya lirik handphone, ternyata Maharani. Dia itu kawan nongkrong saya di Semarang. Saya biasa memanggilnya dengan Rani. Kebetulan sekali.</p>
<p>Saya angkat.</p>
<p>&#8220;Kamu masih sibuk? Dikantor ya?,&#8221; kata Rani<br />
&#8220;Enggak. Aku lagi di Semarang nih. Di Grand Candi. Kenapa Ran?,&#8221;</p>
<p>Rani terperanjat. Itu saya bisa menebak dari nada suaranya. Dia diam beberapa saat, lalu sejurus kemudian, dia ingin mengajak ketemuan. Dia mau menjemput saya, katanya. Dengan segera saya sanggupi, kebetulan memang tak ada lagi acara.</p>
<p>&#8220;Emang kamar berapa?&#8221;<br />
&#8220;811. Kau tunggu di lobby aja, nanti aku turun,&#8221; balas saya.<br />
&#8220;Oke,&#8221;</p>
<p><em>Klik</em></p>
<p>Telepon ditutup. Saya lantas lekas mandi.</p>
<p>Selang empat puluh menit kemudian, pintu diketuk. Ada pula suara bel. Bergegas saya buka. Saya masih memakai celana jins  dan bertelanjang dada. Pintu terbuka, Rani rupanya. Saya kaget.</p>
<p>&#8220;Sorry, tadi males nunggu di bawah. Jadi langsung naek,&#8221; dalih Rani.  Rupanya Rani juga kaget.</p>
<p>Bergegas, saya meminta Rani masuk. Saya tak enak hati membiarkan perempuan berdiri di depan kamar hotel. Saya memintanya menunggu barang beberapa menit untuk menyelesaikan beberapa tulisan dan mengirimnya ke Jakarta. Rani memilih duduk di ranjang dan memilah channel televisi kabel.</p>
<p>Saya sempat mencium aroma wangi tubuh Rani. Hampir tiga tahun saya tak berjumpa dengannya. Sejak saya memutuskan keluar dari Semarang, sejak itu saya tak lagi bisa bertatap muka dengannya. Tapi sungguh, penampilannya tak banyak berubah. Rani masih terlihat muda meski sudah dikaruniai seorang buah hati. Maklumlah, usianya belum juga menginjak 28.</p>
<p>Malam itu, Rani datang memakai jaket merah dengan celana jins ketat. Aromanya membuat saya tak cukup memiliki konsentrasi. Sambil mengetik, saya mengajaknya bicara. Beberapa kali terdengar tawa terbahak dari mulutnya. Iya, itu tawa yang saya kenal. Tak berubah  rupanya. Hingga kemudian saya menanyakan kabar keluarganya. <span id="more-435"></span></p>
<p>&#8220;Keluarga sehat, Ran?&#8221;<br />
&#8220;Alhamdullilah sehat,&#8221; jawabnya singkat<br />
&#8220;Suami?&#8221;</p>
<p>Tak ada jawaban. Sedetik dua detik, sunyi. Hanya suara televisi. Rani diam. Saya lirik, dia justru asik memencet-mencet remote televisi. Saya menoleh. Rani malah menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Saya mulai bertanya-tanya. Hmm.. ada yang tak beres rupanya.</p>
<p>&#8220;Kenapa, Ran?&#8221; tanya saya</p>
<p>Untuk menutupi rasa bersalah, saya pura-pura bego. Rani masih diam, dia menghela nafas panjang. Justru saya yang makin seperti orang bego beneran.</p>
<p>&#8220;Itu maksud aku ketemu, Bro. Aku mau cerita,&#8221;<br />
&#8220;Hmm.. oke. Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Aku ingin cerai,&#8221;</p>
<p>Dentam!! Seperti ada godam yang menghajar kepala saya. Pandangan saya yang sebelumnya menghadap netbook di meja, langsung berputar perhatian. Tak terbersit pun ada dalam pikiran saya kata-kata cerai keluar dari mulutnya. Selama lebih dari lima tahun silam, saya pikir Rani bahagia dengan kehidupan rumah tangga.</p>
<p>Rani memang menikah muda. Ia menikah saat kami masing-masing sedang kuliah tingkat akhir. Rani memang tidak satu kampus dengan saya. Dia hanya kawan yang kebetulan dekat karena kami satu lulusan di SMA. Sejak SMA, dia memang sudah menjalin hubungan dengan lelaki yang kelak menjadi suaminya. Seorang lelaki anak pemilik pengusaha biro perjalanan besar di Semarang. Pernikahan yang terjadi karena diwaktu yang bersamaan, Rani harus menjaga isi perut yang terlihat semakin membesar.</p>
<p>&#8220;Itu mungkin opsi terakhir yang aku pilih. Opsi yang mungkin juga tak berani aku lakoni,&#8221;</p>
<p>Rani mulai terisak. Saya mengerti betapa berat beban di hatinya. Saya serba salah. Saya hanya diam dan mencoba menghibur dengan mendengar ia bercerita. Saya sebenarnya paling benci melihat perempuan menangis dihadapan saya. Bukan karena apa, hanya karena tak tahan saja.</p>
<p>Rani sendiri tak tau bagaimana jika nanti suaminya mengabulkan permintaan cerainya. Cerai baginya hanya akan meniupkan aroma ngeri. Bukan pada materi, tapi nasib anak lelaki buah hatinya. Ia paham betul perceraian hanya akan menggoreskan luka psikologi anaknya.  Ia tak ingin anaknya ikut menanggung dosa yang ditimbulkan oleh ego kedua orang tuanya.</p>
<p>Tak pula ia sanggup menghadapi cercaan orang tua, mendengar gosip tetangga, maupun menyandang status janda. Mungkin pada awalnya tidak masalah menyandang status baru. Bebas pulang malam, enak belanja, bepergian tanpa ada yang melarang. Tapi tetap saja miris hatinya jika kelak melihat seorang perempuan dan lelaki bergandengan mengendong anak.</p>
<p>Bagaimana pula ia harus menjawab anak lelakinya jika ditengah malam buta tiba-tiba ia mencari ayahnya. &#8220;Aku tak sanggup menjawabnya. Aku ngeri membayangkan jika tiba-tiba dia cari ayahnya. Adek kangen Ayah, Bunda? Kapan Ayah pulang?&#8221;</p>
<p>Rani masih terisak. Saya peluk Rani untuk menenangkan diri. Tapi isaknya justru makin kuat. Saya makin tak enak. Rani cerita, badai persoalan itu datang setahun lalu, ketika tak ada lagi kehangatan dalam rumah tangganya.</p>
<p>Kata Rani, suaminya sering kali pulang larut malam. Semula ia tak curiga, namun sebagai istri yang menampingi selama bertahun-tahun, Rani merasakan gelagat yang aneh. Dan benar dugaan, suaminya tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain.</p>
<p>Kali pertama ketahuan, Rani marah besar. Terbakar hatinya. Rani mengancam meninggalkan suminya. Sayangnya, suami Rani melarang. Bahkan suaminya sempat meminta maaf dan menangis di pelukan Rani. Luluh hati Rani.</p>
<p>Sebulan kemudian, rumah tangganya kembali normal. Namun dasar lelaki, kejadian itu diulang kembali. Rani merasa kali ini suaminya tak lagi memiliki hati. Ancaman yang di lontarkan Rani untuk meninggalkannya dianggap angin lalu. Rani merasa kelak perceraian itu benar-benar terjadi.</p>
<p>&#8220;Bicara baik-baik, Ran,&#8221;<br />
&#8220;Sudah sering. Kau pikir aku diam saja? Watak lelaki memang tak pernah bisa diam melihat perempuan,&#8221;</p>
<p>Saya diam. Saya tertohok. Saya juga lelaki.</p>
<p>Saya jadi ingat Lily, seorang perempuan yang tak sengaja saya kenal di sebuah restoran 24 jam di daerah Mangga Besar, Jakarta. Dia memiliki cerita mirip-mirip yang dialami Rani.  Lily ini seorang Lady Companion (LC) sebuah karaoke di bilangan Mangga Besar. Kerjaannya menemani tamu.</p>
<p>Seringnya dia menemani tamu lelaki, membuat dia berkesimpulan jika lelaki banyak memiliki uang, kecenderungannya akan dibuat untuk senang-senang. Tentu, tak menutup kemungkinan dengan perempuan lain. Seperti yang dialami Lily, yang dialami Rani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Malam itu, akhirnya kami memutuskan keluar kamar. Tak enak rasanya berlama-lama di dalam kamar dengan istri orang. Saya mengajak Rani ke kedai jagung bakar, dikawasan Simpang Lima. Disana, Rani semakin banyak bercerita. Tengah malam, kami memutuskan pulang. Saya bilang, saya mau tidur di rumah, tak mau kembali ke hotel. Rani mengangguk, kami lantas naik taksi. Saya menawarkan mengantar Rani sampai depan rumah, tapi Rani menolak, tak enak sama tetangga katanya, lagipula tengah malam sekarang.</p>
<p>Sebelum kami berpisah, saya sempat bilang</p>
<p>&#8220;Menjadi janda juga pilihan yang terhormat, Ran! Buat apa kau mencintai seseorang jika itu tak membuatmu bahagia?&#8221;</p>
<p>Saya lihat, Rani tersenyum. Kami akhirnya pulang, Di dalam taksi, saya masih terbayang Rani. Malam itu perasaan saya campur aduk, antara malu dan bangga jadi lelaki.</p>
<p>.<br />
*Tulisan ini juga dapat anda nikmati di <a href="http://ngerumpi.com/baca/2009/07/22/menjadi-janda.html">ngerumpi.com</a></p>
Posted in cerita, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=435&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/25/menjadi-janda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/07/menjadi-janda.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menjadi janda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Update</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/15/update/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/15/update/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 22:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Dua minggu lalu, kawan saya di kampung Srondol protes. Dia SMS, kenapa blog saya kosong. Tak lagi Update. Dia memang biasa membuka-buka blog saya, selain maenan facebook kegemarannya.
“Kau hiatus ya, bro? Tak lagi ada tulisan baru. Kehabisan ide tah? ” tulis kawan saya melalui pesan singkat. 
Saya kaget. Tumben-tumbenan dia kirim pesan singkat seperti itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=430&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/07/couple.jpg?w=219&#038;h=300" alt="update" title="update" width="219" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-431" />Dua minggu lalu, kawan saya di kampung Srondol protes. Dia SMS, kenapa blog saya kosong. Tak lagi Update. Dia memang biasa membuka-buka blog saya, selain maenan facebook kegemarannya.</p>
<p>“Kau hiatus ya, bro? Tak lagi ada tulisan baru. Kehabisan ide tah? ” tulis kawan saya melalui pesan singkat. </p>
<p>Saya kaget. Tumben-tumbenan dia kirim pesan singkat seperti itu. Mungkin karena lama saya tak menulis tentang dirinya. Iya, dalam beberapa tulisan, saya memang sering menceritakan dia sebagai tokoh utama. Langsung saja saya membalasnya.  </p>
<p>Iya, saya minta maaf. Memang, sudah lama kiranya saya tak update blog. Maklumlah, bulan-bulan ini sungguh menyita waktu saya. Mempersiapkan pernikahan ternyata memang tidak bisa dipandang sebelah mata. </p>
<p>Belum soal persiapan materi, sewa perias, bikin desain undangan, foto-foto. Mental ternyata juga membutuhkan persiapan yang tak bisa diremehkan. Meski sudah delapan tahun pacaran, untuk melangkah ke pernikahan tetap membutuhkan benteng mental yang kuat. </p>
<p>Ini menyangkut membina keluarga. Menyatukan dua keluarga. Tentang menjadi seorang suami. Seorang kepala keluarga. Saya jadi ingat betul kalimat seseorang yang saya panggil abang di Semarang. Bahwa menikah itu bukan seperti diangkat menjadi Ketua RT. Bukan seperti menjadi ketua kelas yang mengatur anak buah. Mata, hati dan kalimat harus terjaga. Membutuhkan hati lapang menerima gempuran gelombang persoalan. Tak lantas memasung sanubari dengan kepala penuh bara tatkala kesulitan membelit.</p>
<p>Itulah. Ternyata menikah memang tak sesederhana yang saya kira. Jadi sekali lagi maaf jika kemudian saya sedikit melupakan kegemaran saya menulis dan bercerita. Saya memang sedikit abai untuk menulis panjang-panjang. Berbagi cerita dengan anda. Tapi sungguh, itu bukan berarti ada niatan saya untuk hendak hiatus. Menulis bagi saya jadi semacam nafas. Nafas yang menggerakkan tubuh saya. Jadi kata hiatus itu menimbulkan kengerian dalam jiwa saya.</p>
<p>Oya, tulisan  ini sekaligus sebagai pemberitahuan. Kelak, Minggu, 2 Agustus 2009 di Bekasi saya akan mengucapkan ijab kabul dengan perempuan yang selama ini menemani hidup saya. Memang hanya di rumah, tapi bukan berarti tak meriah. Maka, saya mengundang kawan-kawan. Sekalian silaturahmi. Informasi lebih detail mungkin bisa di lihat di Facebook saya. </p>
Posted in cerita, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/430/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=430&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/07/15/update/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/07/couple.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">update</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Anita (Bukan Sinetron)</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/06/11/cinta-anita-bukan-sinetron/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/06/11/cinta-anita-bukan-sinetron/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 10:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Bahunya bergoyang, pipinya memerah, sesekali ada tawa ringan keluar dari wajah cantik perempuan berambut panjang itu. Didepannya, dokter kulit berkacamata minus merayunya hingga membuatnya merona dan tergelak.
Gadis itu Anita. Perempuan berkulit putih yang memiliki binar mata laksana cahaya mercusuar. Anita, seorang mantan jurnalis yang kemudian beralih profesi sebagai juru wicara lembaga swadaya asing.
“Besok, kontrol lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=416&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/06/cinta.gif?w=211&#038;h=300" alt="cinta" title="cinta" width="211" height="300" class="alignleft size-full wp-image-420" />Bahunya bergoyang, pipinya memerah, sesekali ada tawa ringan keluar dari wajah cantik perempuan berambut panjang itu. Didepannya, dokter kulit berkacamata minus merayunya hingga membuatnya merona dan tergelak.</p>
<p>Gadis itu Anita. Perempuan berkulit putih yang memiliki binar mata laksana cahaya mercusuar. Anita, seorang mantan jurnalis yang kemudian beralih profesi sebagai juru wicara lembaga swadaya asing.</p>
<p>“Besok, kontrol lagi ya,”<br />
“Baik, dok,”</p>
<p>Anita berdiri, mengambil tas hitam lalu mengantungkannya di lengan. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga leher jenjangnya tersembunyikan. Belum sempat membuka pintu keluar, dokter itu menarik gagang pintu dan menyilahkan Anita. Tak lupa melemparkan senyum untuknya.</p>
<p>Itu sepenggal kisah dua tahun silam. Awal jumpa pertama Anita dengan dokter muda yang baru lulus mengambil spesialis kulit dan kecantikan. Kisah yang membawanya pada debar asmara yang kemudian mempengaruhi perjalanan hidupnya. </p>
<p>Anita adalah seorang gadis idealis yang tak mudah jatuh cinta. Banyak lelaki yang terkapar  dalam kerlingnya, tapi bukan untuk memiliki hati seorang Anita. Tapi dua tahun lalu, hanya dari perjumpaan singkat dengan dokter yang memeriksanya, hati Anita luluh lantak. Diserahkannya idealismenya untuk tak lagi mencintai lelaki, setelah sejarah mencatat, betapa hancur hati Anita ditinggal selingkuh pacarnya lima tahun silam.</p>
<p>“Aku pergoki pacarku masuk ke hotel dengan perempuan lain,” kata Anita saat kami duduk di kedai kopi di kawasan Erlangga Semarang, beberapa tahun lalu. “Sejak saat itu, tak lagi aku percayai semua lelaki,”<br />
“Kenapa kau benci lelaki?”<br />
“Karena lelaki egois. Mudah menyakiti,”</p>
<p>Saya cengengesan. Mendengar cerita Anita, tiba-tiba saya bangga jadi lelaki.</p>
<p>Kini dua tahun sudah, Anita resmi berpacaran dengan dokter spesialis kulit di bilangan Jakarta itu. Berdua mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Memamerkan kebersamaan dan romantisme hubungan mereka.</p>
<p>Hingga dua pekan lalu, Anita menelepon saya. Ada kepedihan mendalam dalam nada suaranya. Dia meminta saya untuk bertemu dikedai kopi kawasan Kemang. Saya sanggupi. </p>
<p>Benar dugaan saya, tak berapa lama, ia mulai cerita. Konon, Anita memergoki dokter pujaan hatinya itu bercumbu dengan suster jaga di selembar matras tempat tidur pasien. Itu terjadi setelah sebulan tak pernah Anita beroleh kabar, setelah apa yang ia miliki ia berikan semua. Tangisnya meledak. Saya diam.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Dalam diam, tiba-tiba khayalan saya melayang. Menembus sanubari Anita melewati batas logika. Suatu ketika, Anita mengamit lengan dokter jaga itu sambil menggelendot manja. Suara sepatu <em>stiletto</em>-nya bergema di lorong klinik 24 jam yang hanya dijaga seorang dokter yang tak lain pacarnya. Sudah biasa ia mendatangi klinik tempat dokter itu jaga, hanya sekedar untuk beradu lidah di atas meja praktek, kali lain bersenggama di tempat tidur pasien. </p>
<p>Tapi, malam itu Anita membawa misi lain. Dikuncinya pintu ruang praktek. Lalu mendorong dokter itu ke tempat tidur pasien. Bercumbu mereka dengan liar. Sebuah ciuman dahsyat terakhir yang ia berikan. Lalu, dalam gelora yang masih membara, ia kenakan sarung tangan karet.</p>
<p>Lantas mengikat kedua tangan pasangannya dengan sabuk kulit di sela-sela tempat tidur pasien, lalu menyuntikkan cairan <em>potassium chloride</em> ke lengan dokter itu, tepat disaat menjelang puncak kenikmatan sebuah persetubuhan.</p>
<p>Ah.. ternyata khayalan saya terlalu berlebihan!!</p>
Posted in cerita, imaji, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=416&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/06/11/cinta-anita-bukan-sinetron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/06/cinta.gif" medium="image">
			<media:title type="html">cinta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Crash</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/25/crash/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/25/crash/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 17:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/25/crash/</guid>
		<description><![CDATA[Tau Film Knowing? Atau pernah nonton Film Knowing? Iya, itu film yang menggambarkan bencana-bencana yang terjadi di dunia yang diambil dari novel karya Ryne Douglas Pearson. Bintangnya Nicolas Cage. Pernah nonton kan? 
Wah dahsyat. Saya sampai dua kali menontonnya, meski saya kecewa dengan akhir film yang terkesan “gampang” karena adanya pertolongan dari Alien. (entah alien [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=410&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/05/42649783_planeone.jpg?w=300&#038;h=216" alt="garuda" title="garuda" width="300" height="216" class="alignleft size-medium wp-image-412" />Tau Film Knowing? Atau pernah nonton Film Knowing? Iya, itu film yang menggambarkan bencana-bencana yang terjadi di dunia yang diambil dari novel karya Ryne Douglas Pearson. Bintangnya Nicolas Cage. Pernah nonton kan? </p>
<p>Wah dahsyat. Saya sampai dua kali menontonnya, meski saya kecewa dengan akhir film yang terkesan “gampang” karena adanya pertolongan dari Alien. (entah alien atau malaikat berwujud manusia?)</p>
<p>Saya terkesan dengan adegan jatuhnya pesawat terbang. Sungguh, saat pesawat <em>crash</em> dalam adegan itu, saya bergetar. Saya seperti tak sanggup melihatnya. Saya ketakutan, saya gemetar. Saya membayangkan berada di posisi John Koestler (Nicolas Cage), saat melihat dengan kepala sendiri pesawat menukik lalu berdebum ke tanah. Saya ngeri!</p>
<p>Saya ingat kejadian 7 Maret 2007 lalu, saat garuda terbakar di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Saya memang tidak menyaksikan langsung kejadian <em>hard landing</em> Garuda yang menewaskan 22 orang itu. Tapi saya ada di lokasi, beberapa menit setelah mengetahui pesawat crash dan terbakar. </p>
<p>Saya masih mendapati puluhan ambulance hilir mudik dengan sirine meraung-raung, lalu saya ke RS Bethesda, memantau di RS Panti Rapih dan berhari-hari di RS Sardjito. Waktu itu, seharian badan saya bau daging orang terbakar. Meski saya mandi berkali-kali, baunya enggan hilang. Dan Film Knowing, mengingatkan saya akan peristiwa itu. </p>
<p>Hingga kemudian tragedy pesawat jatuh kembali terjadi yang membuat saya kembali merasakan kengerian. Hercules C130 milik TNI AU, jatuh di Magetan Rabu (20/5/2009). 101 orang tewas. Kebanyakan keluarga militer dan warga sipil. </p>
<p>Saya lagi di Pontianak memang. Saya mengetahui tragedy itu dari televisi. Televisi mengabarkan peristiwa itu cepat sekali. (ah.. kalau saja tak ada wartawan, pasti tak akan ada yang memberitakan kejadian yang membuat saya lunglai macam itu. Shit!!) </p>
<p>Badan saya lemas. Bukan karena saya tidak doyan makanan hotel pagi itu, tapi karena tragedy pesawat jatuh milik TNI selalu terulang dan terulang lagi. Yang membuat saya makin lemas, saya sering naik Hercules C130 milik TNI AU skuadron 17 VVIP. Meski beda pesawat dan skuadron, saya merasakan getar yang sama. Saya ngeri.<br />
Ngeri membayangkan Wardi, salah satu saksi mata, melihat dengan kepala mata sendiri melihat pesawat Hercules menukik, menabrak bambu dan menghajar dua rumah. Saya tak bisa membayangkan ketika berada di tempat seperti Wardi. Mungkin Wardi sama ngerinya dengan Nicolas Cage. Kenapa semua itu terjadi? Salah siapa? Adakah kode-kode yang entah dimana, buatan anak kecil yang menggambarkan peristiwa-peristiwa mengerikan itu?</p>
<p>Ah semoga kecelakaan pesawat tak lagi terjadi di bumi pertiwi ini.</p>
<p>.<br />
<em>*untuk korban kecelakaan pesawat  Garuda Indonesia Boeing 737-400 GA-200 di Yogyakarta dan Hercules C 130 di Magetan.</em></p>
Posted in cerita, jejak jiwa  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/410/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=410&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/25/crash/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/05/42649783_planeone.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">garuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lily</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/04/lily/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/04/lily/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 17:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Lily namanya. Saya mengenalnya di restoran 24 jam di Mangga Besar. Dia menjulurkan tangan, sesaat setelah meminjam pemantik api milik abang saya. Lily duduk di depan kami sekarang. Menghembuskan rokok mild mentol dari bibir tipisnya.
Lily, bukan nama sebenarnya. Dia mengakui memakai nama alias itu, sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi Lady Companion (LC) di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=403&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/05/apel.jpg?w=300&#038;h=218" alt="apel" title="apel" width="300" height="218" class="alignleft size-medium wp-image-406" />Lily namanya. Saya mengenalnya di restoran 24 jam di Mangga Besar. Dia menjulurkan tangan, sesaat setelah meminjam pemantik api milik abang saya. Lily duduk di depan kami sekarang. Menghembuskan rokok mild mentol dari bibir tipisnya.</p>
<p>Lily, bukan nama sebenarnya. Dia mengakui memakai nama alias itu, sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi <em>Lady Companion</em> (LC) di salah satu hotel berfasilitas karaoke di Mangga Besar.</p>
<p>Menjadi LC memang bukan salah satu cita-cita saat kanak-kanak Lily dulu. Dikampungnya, Sukabumi, Lily  mengaku cita-citanya ingin menjadi guru. Guru bagi anak-anak agar bisa menjadi lebih pintar. Tapi cita-cita itu kandas, setelah orangtuanya menyerah untuk mengekolahkannya hingga tuntas. Tak ada uang untuk biaya sekolah.</p>
<p>Putus SMP, Lily yang konon dikampungnya memang memiliki wajah rupawan itu, diperistri oleh lelaki buruh pasar yang dia kenal seputus sekolah. Lily yang masih bocah, harus mendayung biduk rumah tangga ditengah terjangan gelombang. Lily hanya bertahan selama dua tahun. Dia memilih kabur dari rumah, seketika mengetahui suaminya selingkuh. Beruntung, Lily tidak memiliki anak yang keluar dari rahimnya.</p>
<p>Atas ajakan kawan sekampungnya, Lily pindah ke Jakarta. Dia sempat mencicipi menjadi pelayan hotel, hingga kemudian terjun diwilayah abu-abu. Beralih profesi sebagai striper dan LC.</p>
<p>“Enak ya mas, jadi lelaki itu,”<br />
“Maksudnya apa, mbak?”<br />
“Ya enak saja. Bisa bekerja, banyak duit, lalu menghambur-hamburkannya,”<br />
“Loh bukannya perempuan juga bisa kerja, banyak duit, foya-foya?”<br />
“Perempuan punya banyak duit, tapi mikir kebutuhan mas. Beda ama laki-laki. Punya banyak duit ya buat pesta. Buat selingkuh!”</p>
<p>Saya terperanjat. Lelaki banyak duit buat selingkuh? Apa maksudnya?</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lily namanya. Perempuan berparas menarik dengan saputan bedak tipis di wajahnya. Banyak lelaki yang sudah memiliki istri datang padanya. Memintanya untuk menjadi simpanan. Bagi Lily, lelaki hidung belang adalah lumbung uang. Hanya dengan kerlingan mata, menjulurkan betis mulus miliknya, dan menonjolkan isi dada, mudah baginya untuk menjerat mata pria.</p>
<p>“Saya dendam dengan suami saya mas. Dia bisa menjerat perempuan, saya juga bisa melakukan hal yang sama sepertinya,”</p>
<p>Lily menghela nafas.</p>
<p>“Perempuan itu, mas, akan diam jika kamu memberinya banyak uang. Sebaliknya, lelaki itu akan selingkuh jika memiliki banyak uang,”</p>
<p>Saya diam.</p>
<p>.</p>
<p><em>Jakarta, Tengah Malam</em></p>
Posted in cerita, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=403&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/05/04/lily/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/05/apel.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">apel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Lelaki</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2009/04/19/nasehat-untuk-lelaki/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2009/04/19/nasehat-untuk-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 09:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[klangenan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/2009/04/19/nasehat-untuk-lelaki/</guid>
		<description><![CDATA[Itu lima tahun silam, saya mengira-ira, ketika langkah kakinya meninggalkan lantai 4 Gedung Graha Pena, Semarang. Langkah kaki penuh harapan untuk kemudian menahkodai  perahu diantara badai dan ombak setinggi tiang. 
Itu lima tahun, saya mengira-ira,  saya tak pernah berjumpa dengannya. Lelaki yang penuh argumen-argumen segar  yang sesekali diselipi tawa meledak. Arief Firhanusa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=395&subd=sofianblue&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/04/1802016p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="klangenan" title="klangenan" width="298" height="225" class="alignleft size-full wp-image-396" />Itu lima tahun silam, saya mengira-ira, ketika langkah kakinya meninggalkan lantai 4 Gedung Graha Pena, Semarang. Langkah kaki penuh harapan untuk kemudian menahkodai  perahu diantara badai dan ombak setinggi tiang. </p>
<p>Itu lima tahun, saya mengira-ira,  saya tak pernah berjumpa dengannya. Lelaki yang penuh argumen-argumen segar  yang sesekali diselipi tawa meledak. <a href="http://arieffirhanusa.blogspot.com">Arief Firhanusa</a>. Iya, lelaki yang pernah membimbing saya menulis. Lelaki yang meski sudah dikaruniai dua anak, tetapi jiwanya selalu menggelegak. Lelaki yang darinyalah saya selalu belajar.</p>
<p>Saya memanggilnya dengan Abang. Sebutan bagi saudara laki-laki. Saya selalu menganggap orang yang mau memberi saya  sekelumit ilmu dengan sebutan Abang. Karena dari Abang saya itulah, saya belajar menatah kata, membesut kalimat. </p>
<p>Itu lima tahun, saya mengira-ira,  saya tak pernah berjumpa dengannya. Hanya saling sapa melalui Blog, YM bahkan SMS. Telepon pun hanya sesekali. Menyedihkan memang. Bagaimana lagi, waktu, kesibukan dan tempat menyebabkan saya jarang sekali bertatap muka denganya.Padahal, sungguh saya merindukan diskusi dengannya. Membicarakan perempuan cantik, tulisan, atau mengenang saat masih sekantor dulu.</p>
<p>Itu lima tahun, saya mengira-ira,  saya tak pernah berjumpa dengannya. Hingga Jumat dua pekan lalu, saya memiliki kesempatan untuk berjabat tangan dengannya. Langkah kecil saya menyusuri paving block parkiran Citraland untuk menyapa Abang saya itu. Itu dia Abang saya, sedang menghadap komputer. Sedang asyik nampaknya.</p>
<p>“Bang,” saya colek lengannya.<br />
“Sehat bang,” sambung saya</p>
<p>Dia kaget, lalu menyalami saya. Saya dipersilahkan duduk olehnya. Tapi, dia meminta waktu barang sebentar untuk menyelesaikan tulisannya. Saya duduk. Memandangi wajah yang pernah saya kenal. Wajah yang tegas pertanda kuat dihajar gelombang. Memori tentangnya masih lekat betul dikepala saya. Bagaimana ia selalu memberikan petuah-petuah melalui cerita hidupnya. Saya menyukainya. Ya, saya menyukai jika ia sedang bercerita.</p>
<p>Itu lima tahun saya mengira-ira, dan saya  memang rindu bertemu dengannya. Saya masih ingin berlama-lama dengannya. Karena waktu satu jam tak cukup untuk menuntaskan kerinduan saya.</p>
<p>“Kapan kamu menikah,” katanya. Saya tergagap.<br />
“Insyaallah tahun ini bang,”</p>
<p>Ia lalu menyuntikkan sedikit wejangan untuk menguatkan mental saya. Ini salah satu hal yang membuat saya suka ketika dekat dengannya. Nasehatnya kadang membuat saya terkuatkan, membuat batin ini ringan, seringan kapas. </p>
<p>“Menjadi suami itu Blue, bukan seperti diangkat menjadi Ketua RT, melainkan berurusan dengan hiruk pikuk keseharian lewat mata yang selalu terjaga dan hati yang terpelihara,” kata abang saya. Ia berhenti sejenak. Menghisap batang cigarette dan mengepulkan asapnya.</p>
<p>“Menjadi suami itu Blue, tak boleh lagi mengerling betis perempuan, menyengsarakan anak-anak, dan memasung sanubari dengan kepala penuh bara tatkala kesulitan membelit,” cecarnya. Saya hanya mengangguk-angguk, dan tersenyum kecut.<br />
“Kamu siap, blue?”</p>
<p>Saya hanya terkekeh.</p>
<p>.<br />
Terimakasih, Bang!!</p>
Posted in cerita, jejak jiwa, tentang seseorang  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&blog=433615&post=395&subd=sofianblue&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2009/04/19/nasehat-untuk-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2009/04/1802016p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">klangenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>