<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>&#124;Sebuah Dunia Kecil&#124;</title>
	<atom:link href="http://sofianblue.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sofianblue.wordpress.com</link>
	<description>romantika cinta dalam partitur senja</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 06:05:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sofianblue.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>&#124;Sebuah Dunia Kecil&#124;</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sofianblue.wordpress.com/osd.xml" title="&#124;Sebuah Dunia Kecil&#124;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sofianblue.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pertemuan Ken Dedes</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2011/10/25/pertemuan-ken-dedes/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2011/10/25/pertemuan-ken-dedes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 03:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan &#8220;energy&#8221;. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa. Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=545&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama kiranya, saya tidak menulis atau minimal mengisi blog ini. Seperti posting terakhir, energy untuk menulis itu meredup. Menulis membutuhkan &#8220;energy&#8221;. Tapi kabar baiknya, rindu itu kini menyala lagi. Semangat untuk kembali mengisi lembaran-lembaran postingan kembali saya dapatkan meski kobarnya masih tak seberapa.</p>
<p>Baiklah. untuk kali ini, saya mau membawa anda untuk menikmati sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan Stage Corner Community. Judulnya keren, &#8220;Techno Ken Dedes&#8221;. Saat pertama kali saya mendengar judulnya, saya terhenyak. pasti ada sesuatu yang baru dalam pertunjukkan Techno Ken Dedes. Dan benar saja, kali ini, Ken Dedes memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia lahir dalam tiga generasi yang berbeda kultur. Pentas Techno Ken Dedes memperlihatkan sisi-sisi persoalan wanita. Mulai dari feminism hingga harga diri perempuan.</p>
<p>Pentas Teatrikal Techno Ken Dedes yang dimainkan Stage Corner Community di Gedung Kesenian Jakarta 18-19 Oktober lalu, barangkali sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana benturan-benturan antara masa lalu dan masa kini. Perjalanan waktu yang terus bergulir dengan rentetan perubahan-perubahan telah mempertemukan Ken Dedes masa kini (techno) dengan Ken Dedes masa lalu (purba). Benturan sosial, feminisme dan harga diri menjadi persoalan yang campur aduk.</p>
<p>Pentas dibuka dengan suara music etnik berbaur dengan instrument techno. Lalu satu persatu para dedes muncul bergantian. Diawali Dedes Rahim. Ia muncul dari balik batu. Berjalan sembari menari diatas cobek yang disusun. Dialah Dedes Rahim. Dedes yang melahirkan para dedes. Dia lah rahim purba techno. Tempat segala terlahir dan tertimbun. Takdir telah menggariskan jejak bagi sang rahim, jejak kaki Ken Dedes. Dialah silsilah yang tak punah hingga telanjangnya zaman</p>
<p>Lalu, muncul Ken Dedes Techno (YG Threnov) dari dalam bathtub. Melepaskan jubah hitam yang membalutnya. Dari tubuhnya tampak gambar menyerupai mesin. Lalu dia melangkah perlahan keluar dari bathtub. Sementara, berdiri diatas batu, Ken Dedes Purba (Sintya Syakaraw) diam menatapnya. Wajahnya menunjukan raut penuh kekhawatiran. Sambil terus menari, Ken Dedes Techno buka suara.</p>
<p>“Aku ingin senggama lagi. Agar aku dapat lebih mengenal jejakku. Aku ingin senggama. Akan aku lahirkan tubuh-tubuh sepertiku, Aku ingin telanjang,”<br />
“Jaga lidahmu” tutur Dedes Purba. Matanya mendelik.<br />
“Wahai Dedes, Wahai peradaban, menarilah bersamaku,”<br />
“Kau hilang akal. Tubuh barumu harus diruwat, Dedes,” hardik, Dedes Purba kesal</p>
<p>Dalam pentas ini, para dedes, tampil dengan karakter masing-masing. Dedes Purba mewakili peradaban masa lalu tempat ia terbelenggu dengan aturan dan tata karma Dari tampilan saja tabrakan itu sudah terlihat. Ken Dedes Purba menggambarkan sosok perempuan masa lalu dengan balutan kain kemban. Sementara Dedes Techno lebih memperlihatkan gambaran kekinian. Dialah lakon dari peradaban masa kini yang feminim, yang serba bebas, serba hedon. Tempat dimana tak ada lagi aturan-aturan yang membatasi pergaulan seorang perempuan di jaman yang serba terbuka dan modern. Dia menampilkan jejaknya sendiri mengikuti zaman. Narasinya penuh dengan kekecewaan.</p>
<p>“Akulah Dedes yang terlahir kembali. Dedes yang tersenyum. Darah keperawananku membawaku pada singgasana paramesywari,&#8221; tegas Dedes Techno</p>
<p>Sedangkan kemunculan Dedes Rahim, lebih kepada sebagai penengah. Penengah diantara benturan-benturan yang dimunuculkan antara masa lalu dan masa kini. Antara Dedes Purba dan Dedes Techno.</p>
<p>“Aku Rahimmu. Rahim yang kau lupakan. Putarlah wajah pada cahaya bulan, biarkan ingatanmu memimpinmu. Kau tubuh Purba cahaya. Lempeng baja juga mesin-mesin,menempatkan diriku hanya pada sebuah kenangan. Kenangan yang berubah ilusi. Ilusi masa lalu dan masa depan,” ujar Dedes Rahim, suatu ketika.</p>
<p>Cerita &#8220;Techno Ken Dedes&#8221; yang terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2011 itu memang lebih banyak menyoal tentang feminisme. Benturan-benturan dilakukan, lalu ditengahi dengan kemunculan Dedes Rahim. Dalam bahasa sang sutradara, Dadang Badoet, itulah kunci untuk “pulang kembali” sesuai khitahnya.</p>
<p>Lewat pementasan ini, Dadang memang berusaha mengeksporasi dan mereinterpretasi tokoh perempuan dengan kehormatan dan harga dirinya yang tinggi dengan perwatakan karakter yang kuat. Semuanya itu disampaikannya lewat kemunculan narasi yang kental metaforanya.</p>
<p>Dadang Badoet juga sengaja memunculkan sosok Ken Dedes karena dianggap cukup mewakili persoalan yang ingin diangkat karena kisah kehidupannya yang intrik. Munculnya tiga Dedes dalam karakter yang berbeda, menjadikan pementasan ini lebih kaya akan persoalan.</p>
<p>Tak lupa, pentas ini juga sengaja menghadirkan Ken Arok. Namun, Arok dalam pementasan ini, tak lebih hanya tempelan belaka. Arok dihadirkan sebagai rangsangan cerita, yang kadang, justru melemahkan narasi yang sudah terbangun kuat. Atau barangkali ia muncul hanya sebagai tempelan agar penonton tak terlalu serius. Toh banyak banyolan sejak munculnya Arok.</p>
<p>Stage Corner Community dalam produksinya yang kelima juga sengaja mengkolaborasikan susunan properti panggung yang mendukung perwatakan karakter. Property cobek dari batu di atas panggung yang menjadi tempat berpijak Ken Dedes Purba. Oleh Dadang dilambangkan sebagai jejak-jejak purba yang masih ada. Sedangkan bathtub disimbolkan sebagai sesuatu yang bersih dan rapi dari peradaban kini. Karena itulah Ken Dedes Techno muncul dari bathtub. Secara garis besar, pentas ini sangat menarik dengan narasi dan isu yang kuat. (*)</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/features/'>features</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/resensi/'>resensi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/545/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=545&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2011/10/25/pertemuan-ken-dedes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Energy</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2011/01/12/energy/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2011/01/12/energy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 17:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=541</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Menulis itu, Blue,&#8221; kata abang saya &#8220;Membutuhkan energy yang tidak sedikit. Jadi kau simpanlah energy itu untuk menulis. Jangan kau pakai untuk nonton dan nongkrong aja,&#8221; tegasnya. Saya hanya cengegesan, kala abang saya memberi saya nasehat itu. Abang saya itu memang jago menulis. Saya adalah orang yang merasakan dan mendapat anugerah menyerap ilmu-ilmunya, meski saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=541&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Menulis itu, Blue,&#8221; kata abang saya &#8220;Membutuhkan energy yang tidak sedikit. Jadi kau simpanlah energy itu untuk menulis. Jangan kau pakai untuk nonton dan nongkrong aja,&#8221; tegasnya. Saya hanya cengegesan, kala abang saya memberi saya nasehat itu.</p>
<p>Abang saya itu memang jago menulis. Saya adalah orang yang merasakan dan mendapat anugerah menyerap ilmu-ilmunya, meski saya sadar, saya tak jago-jago amat dalam dunia tulis menulis.</p>
<p>Kata-kata abang saya itu, kadang menyadarkan saya, bahwa saya mulai melupakan yang namanya menulis. Tentu, menulis disini bukan dalam soal pekerjaan.  Menulis yang abang saya maksud itu adalah membuat buku, atau menulis novel. Kenapa saya mulai lupa menulis? karena saya tak memiliki energi yang berlebih untuk membuat tulisan.</p>
<p>Barangkali, energy ini memang perlu dibangkitkan. bagaimana caranya, mungkin dengan semangat, dengan jatuh cinta atau  justru kadang ketika harus terjerumus dalam kondisi kepepet. Kepepet? Iya. Kepepet.</p>
<p>Kawan saya pernah cerita, bahwa factor kepepet ini bisa jadi energy yang dahsyatnya berkali-kali lipat dari pada sekedar punya semangat dan kobaran ide.  Dia mencontohkan, ketika orang lagi dekat dengan lawan jenis misalnya. Ia akan dengan mudah menulis roman-roman percintaan dibanding orang yang jarang bersentuhan dengan cinta. Atau saat tak punya duit, bisa saja timbul ide-ide untuk membuat cerpen untuk dikirim ke surat kabar dan majalah. Tentu, meski kalau dimuat cairnya akan memakan waktu lama, tapi lumayan bisa menyambung periuk nasi.</p>
<p>Mungkin, semangat ini pulalah yang menjadi alasan, kenapa saya mulai jarang mengisi blog saya ini. Entah kenapa, kok ya saya ini mulai males untuk menulis. Barangkali, karena saya sudah jarang jatuh cinta. Sehingga, tak ada lagi kisah cinta yang perlu saya tulis. Dan kalau memang saya mulai menulis cerpen, toh cerpen-cerpen itu juga larinya saya kirim ke Majalah remaja dan tidak saya publikasikan disini, karena saya butuh duit. Hehehe…</p>
<p>Sebenarnya ini memang bukan alasan yang cukup logis, hingga kemudian blog saya ini mulai tak terisi. Tapi setidaknya, alasan saya ini bisa dimengerti, bahwa pada dasarnya memang enegri saya untuk menulis di blog sudah dihabiskan untuk pekerjaan di kantor dan menulis cerpen di majalah. Jadi maafkan saya, saya sedikit abai mengurus blog ini. Semoga, semangat saya untuk menulis di blog kembali kambuh..</p>
<p>.</p>
<p>Selamat Tahun Baru, Kawan….</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/jejak-jiwa/'>jejak jiwa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/541/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/541/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=541&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2011/01/12/energy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balet</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/09/30/balet/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/09/30/balet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 10:12:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Suka Balet? Atau setidaknya anda pernah menonton pertunjukkan balet di panggung kesenian besar? Jika tidak suka atau belum pernah sekalipun menonton, sebaiknya anda segera menonton. Apalagi, jika koreografinya dari Farida Oetoyo. Farida Oetoyo ini, kalau orang seni bilang, dia lah salah satu maestro balet Indonesia. Dia dengan ide-idenya, telah mencipta puluhan bahkan ratusan koreografi balet [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=535&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suka Balet? Atau setidaknya anda pernah menonton pertunjukkan balet di panggung kesenian besar? Jika tidak suka atau belum pernah sekalipun menonton, sebaiknya anda segera menonton. Apalagi, jika koreografinya dari Farida Oetoyo.</p>
<p>Farida Oetoyo ini, kalau orang seni bilang, dia lah salah satu maestro balet Indonesia. Dia dengan ide-idenya, telah mencipta puluhan bahkan ratusan koreografi balet yang penuh dengan keindahan, kelincahan dan kelenturan tubuh pemainnya. Balet ditangan Farida Oetoyo menjadi sebuah karya seni yang sungguh indah untuk dinikmati. Tentu, tanpa perlu anda memahami tetek bengek istilah dalah dunia balet.</p>
<p>Seperti dalam pembukaan festival Schouwburg IX di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa pekan lalu. Dua karya Farida, Survival dan Serdtse di pentaskan ulang, yang tentunya tetap mengundang decak kagum penonton.</p>
<p>Saya berkesempatan untuk menontonnya. Malam itu, panggung Gedung Kesenian Jakarta dihiasai cahaya warna merah menyala. Ditengahnya, penari dengan topeng warna putih bergulat bersama kain warna merah menyala yang membelit tubuh mereka. Pelan mereka bergerak seiring dengan music yang banyak diwarnai detail piano, bass dan gesekan biola.</p>
<p>Pelan, mereka mencoba lepas dari lilitan kain tersebut. Alih-alih lpeas, mereka justru terjebak. Masuk menyelip dalam belitan kain panjang warna merah menyala. Bergerak, menyumbat lalu diam tak bergerak. Tak berapa lama, para penari ini terlepas, muncul dengan wajah barunya. Kali ini tanpa mengenakan topeng.</p>
<p>“Ini adalah sebuah pertunjukkan yang memang inspirasinya dari dalam diri saya sendiri. Ini merupakan pengalaman yang saya lakoni,” kata Farida Oetoyo</p>
<p>Inspirasi yang dimaksud Farida Oetoyo adalah pertunjukkan Serdtse atau The Heart yang malam tersebut disajikan dengan diringi kemasan music live oleh anaknya Aksan Sjuman. Serdtse atau The Heart, merupakan jenis tari Ballet dengan unsure kontemporer yang sangat kental. Farida yang lebih banyak menganut aliran ballet klasik, menyelipkan jenis tarian kontemporer yang indah dan sangat artistic di karyanya kali ini.</p>
<p>“Tidak semuanya kontemporer. Karena unsur balletnya juga sangat kental. Karena memang akar saya di ballet, jadi saya tidak bisa meninggalkan ballet dalam semua karya-karya saya ini,” tegas Farida Oetoyo.</p>
<p>Serdtse sendiri menceritakan tentang seorang danseur atau ballerino (sebutan untuk penari balet laki-laki) yang menjalani hari-harinya. Ada denyut kehidupan, ketenangan, aneka persoalan hingga sebuah kematian. Dialah sosok yang terbelit kain merah, hingga di akhir episodenya harus mati.</p>
<p>Dalam koreografi kali ini, Farida mengibaratkan kain warna merah tersebut adalah pembuluh darah yang mengalir ke dalam jantung. Dan dalam perjalanan hidupnya, ayah Farida Oetoyo, R Oetoyo Ramelan meninggal karena penyakit jantung yang diderita.</p>
<p>“Gadis yang berjalan keluar di tengah-tengah laki-laki yang terkapar di tengah tad, adalah gambaran bahwa inilah masa depan ballet. Ada generasi balet baru yang lahir,” tandas Farida.</p>
<p>Serdtse sendiri merupakan karya terbaik yang pernah dipentaskan oleh Farida Oetoyo. Sebelumnya, Serdtse pernah juga dipentaskan pada September 2006 di GEdung Kesenian Jakarta. Untuk pentas kedua ini, Farida Oetoyo menambah beberapa detail koreografi dan tekanan pada music, hingga tersaji pertunjukkan yang lebih hidup, penuh gairah dan lebih manusiawi.</p>
<p>Dalam festival Schouwburg IX—schouwburg adalah nama gedung kesenian Jakarta pada masa lalu—kali ini Serdtse merupakan tari pembuka kedua dalam festival kali ini. Di tempat dan hari yang sama, Farida Oetoyo menampilkan terlebih dahulu tari ballet klasik Survival.</p>
<p>Dalam tari Survival ini, Farida Oetoyo yang memang memiliki akar ballet klasik, menyelipkan sedikit sentuhan neo klasik di dalamnya. Gerakan-gerakan indah ballet klasik disajikan tanpa cerita, hanya komponen koreo tari ballet yang indah, gembira lewat Survival.</p>
<p>“Dalam karya Survival ini memang tidak ada jalan cerita atau maksud tertentu. Saya ingin membiarkan penonton menikmati gerak tari tanpa harus repot-repot memikirkan jalan cerita. Nikmati saja gerakan dan musikalitasnya,” tegas Farida</p>
<p>Dan memang, dalam Survival ini, Farida lebih banyak menonjolkan keindahan gerakan dari penari-penari balet semata. Gerakan ballet klasik dipentaskan dengan keindahan, keanggunan lewat penari-penarinya.</p>
<p>Dengan musikalitas dari composer Sergei Prokofiev, Farida hendak menampilkan eksistensi balet dalam Survival. (*)</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/features/'>features</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/resensi/'>resensi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/535/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=535&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/09/30/balet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harta Karun Itu Bernama KERIS</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/08/29/harta-karun-itu-bernama-keris/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/08/29/harta-karun-itu-bernama-keris/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 09:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Saya tengah tertegun di bawah patung kepala Patih Gajahmada yang gagah tertempel di dinding Galeri Nasional. Saya menatap tajam ke arahnya. Entah kenapa, patung kepala gajah mada yang ditempel dalam pameran Keris For The World 2010 itu membuat batin saya bergelora. Ada semacam percik api yang membakar adrenalin saya hingga ada semacam semangat yang berkobar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=527&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/08/membuat-keris.jpg"><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/08/membuat-keris.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="membuat keris" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-528" /></a> Saya tengah tertegun di bawah patung kepala Patih Gajahmada yang gagah tertempel di dinding Galeri Nasional. Saya menatap tajam ke arahnya. Entah kenapa, patung kepala gajah mada yang ditempel dalam pameran Keris For The World 2010 itu membuat batin saya bergelora. Ada semacam percik api yang membakar adrenalin saya hingga ada semacam semangat yang berkobar di dalamnya. Itu masih patung. Coba jika patih kerajaan Majapahit itu berdiri gagah dengan rambut digelung berteriak diantara pasukan kerajaan. Sungguh saya tak bisa membayangkan.</p>
<p>Malam itu, di Galeri Nasional sedang ada pameran Keris For The World 2010. Ini adalah pameran keris terbesar yang pernah saya lihat. Ada ratusan keris tergeletak rapi dengan ragam bentuk. </p>
<p>Diantara ratusan keris yang dipamerkan, terdapat keris bernama Kanjeng Kyai Yudhoyono, Kyai Kanjeng Budiono dan Kyai Kanjeng Obama Panandito. Keris ini koleksi seorang budayawan, pelukis sekaligus kolektor keris H Hardi.</p>
<p>Lalu ada juga Keris luk 9 milik Soegeng Prasetyo. Bentuk keris ini berlekuk sembilan, sehingga dinamakan luk 9, dapur panimbal, dengan pamor yang bergelar Pedaringan kebak. Keris ini buatan jaman mataram-ki supe anom. Dengan warangka ladrang cendana wangi, jejeran Yudaningratan, selut berlian dan pendok blewahan perak. </p>
<p>Istilah dalam Keris memang beragam. Warangka, dalam keris berarti sarung atau tempat bagian terluar dari keris. Warangka pun terbagi menjadi dua dilihat dari bentuknya, yakni  jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis warangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.</p>
<p>Pamor sendiri berarti hiasan, atau bentuk yang terdapat pada badan keris, yang timbul karena teknik penempaan keris oleh mpu pembuatnya. Pamor dalam setiap keris tidak pernah sama. Itulah yang menyebabkan kenapa keris memiliki nilai seni yang tinggi. Karena dari ribuan keris, hampir semuanya memiliki bentuk dan gelar yang berbeda. Sedangkan dapur atau wilahan adalah bagian utama dari keris. Sama seperti pamor, bentuk dapur juga sangat beragam yang umumnya menjadi daya tarik utama dari keris-keris ini.</p>
<p>Keris, bagi bangsa Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai. Dia lah benda yang berubah menjadi sebuah “harta karun” tak ternilai, karena nilai historis dan kekayaan seninya yang bernilai tinggi.</p>
<p>Jauh sebelum UNESCO memberi pengakuan kepada keris sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama batik dan wayang, Keris telah menjadi kebanggan bangsa ini sejak abad ke 9. Dari zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram hingga kasultanan Yogyakarta dan Solo, Keris telah menjadi sebuah benda yang mampu membuat pemiliknya berwibawa. </p>
<p>Kini, keris memang berubah fungsi sebagai sebuah hiasan, tak lagi ada embel-embel spiritual dan pengkultusan layaknya benda keramat yang disematkan kepadanya. Meski demikian, bagi penggemarnya, Keris tetap menjadi sebuah kebanggan dan merbawani untuk di koleksi dan disimpan dalam rumah.</p>
<p>Berdasarkan tahun pembuatannya, keris memang mengalami pergeseran periodesasi. saat ini keris digolongkan menjadi dua, yakni eris Sepuh dan Kamardikan. Keris sepuh, sesuai dengan namanya yang diambil dalam bahasa Jawa, berarti tua. Keris sepuh ini, digolongkan pada tahun pembuatannya yang konon dibuat pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sedangkan keris Kamardikan, merupakan keris yang dibuat pada zaman sekarang.</p>
<p>Dan di pameran yang dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ini, percaya atau tidak, keris sepuh, banyak dipamerkan. Ini menjadi pertanda bahwa keris jaman kerajaan di Indonesia, masih banyak beredar. Menjadi sebuah harta karun yang tak ternilai harganya.</p>
<p>“Ini adalah sebuah harta karun yang tak ternilai,” kata Inisiator pameran Keris for the world 2010, H. Hardi.</p>
<p>Pelukis dan budayawan ini mengatakan keris memiliki kekayaan seni yang sangat tinggi. Keris, untuk saat ini tak lagi sebagai sebuah senjata untuk melukai, melainkan sebuah seni. Keris sekarang hanya menjadi benda untuk dikoleksi dan hiasan yang dipakai dalam baju adat. </p>
<p>“Saya berani menjamin tidak ada keris dalam pameran ini yang pernah dipakai untuk melukai apalagi membunuh. Saya juga tidak lagi percaya ada sebuah sugesti yang dikeramatkan,” tegas Hardi</p>
<p>Ketua panitia Keris for the world, Toni Junus mengatakan, selama ini memang ada pergeseran periodesasi keris. Keris kamardikan umumnya dibuat oleh mpu pembuat keris pada masa abad ke 19. Pada jaman ini, keris kamardikan seolah berjalan menapak tilas teknologi mpu masa lalu dengan “social message” yang menjanjikan suatu kemerdekaan. Keris-keris ini, mulai kembali menata tradisinya, dan  membuat pemahaman kultural terhadap nilai keluhurannya.</p>
<p>“Keris kamardikan akan tampil berbobot luar dalam, dengan meterial yang unggul, dan penggarapan melalui teknik yang lebih maju,” ujar Toni.</p>
<p>Saya yang memang suka dengan berbagai seni budaya asli Indonesia, sungguh sangat bangga dengan warisan budaya ini. Bayangkan saja, bentuk dari senjata khas Indonesia ini sangat cantik. Konon, selain sebagai senjata, dulu Keris banyak dipakai orang hanya untuk pamor dari pemiliknya. Dan semoga, warisan budaya bangsa kita ini, tetap terjaga. Tak peduli klaim dari bangsa lain.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/features/'>features</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/jejak-jiwa/'>jejak jiwa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=527&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/08/29/harta-karun-itu-bernama-keris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/08/membuat-keris.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">membuat keris</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Cinta Terbentur Citra</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/07/05/jika-cinta-terbentur-citra/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/07/05/jika-cinta-terbentur-citra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 10:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sebulan ini, Gedung Kesenian Jakarta menggelar pentas budaya Jakarta Anniversary Festival VIII. Saya, nyaris tak pernah absen datang ke GKJ, sekedar untuk menonton festival budaya yang jarang ada ini. Saya memang suka dengan gelaran budaya semacam ini. Ditengah hiburan dan gemerlap musik techno yang menggila, GKJ tetap setia menyuguhkan pentas budaya. Gempuran musik-musik barat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=518&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/07/jlr.jpg"><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/07/jlr.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="JLR" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-521" /></a>Sudah sebulan ini, Gedung Kesenian Jakarta menggelar pentas budaya Jakarta Anniversary Festival VIII. Saya, nyaris tak pernah absen datang ke GKJ, sekedar untuk menonton festival budaya yang jarang ada ini. </p>
<p>Saya memang suka dengan gelaran budaya semacam ini. Ditengah hiburan dan gemerlap musik techno yang menggila, GKJ tetap setia menyuguhkan pentas budaya. Gempuran musik-musik barat, nampaknya hanya menggerus dinding terluar GKJ. Sementara, di dalam gedung warisan dari Belanda ini, musik-musik tradisional, tari, hingga teater hidup dengan dunianya, meski kadang nafas mereka kembang kempis karena kerja keras mereka tak banyak diapresiasi oleh penonton di Ibukota.</p>
<p>Gelaran terakhir Jakarta Aniversary Festival, kemarin menghadirkan EKI Dance Company lewat produksi mereka Jakarta Love Riot. Ini adalah hiburan segar sekaligus pagelaran paling sukses, karena selama tiga hari penuh, tiket sold out. </p>
<p>Jakarta Love Riot adalah sebuah kisah tentang cinta, citra, dan arti sebuah pertemanan dalam potret kehidupan kota metropolitan. </p>
<p>Mengusung konsep drama komedi musical, Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company mencoba menawarkan sebuah teater kontemporer yang lucu, satir sekaligus menyelipkan banyak pesan moral. </p>
<p>Dengan mengkombinasikan antara cerita-cerita yang lucu, akting menawan dari pemainnya dan musik yang indah, Jakarta Love Riot: Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok menjadikan produksi EKI Dance Company kali ini sukses luar biasa</p>
<p>Jakarta Love Riot sendiri bercerita tentang sepasang anak muda yang saling jatuh cinta. Namun, karena keduanya memiliki status sosial yang berbeda, membuat cinta mereka jadi sumber masalah.  </p>
<p>Adalah Genk Rempong, gerombolan remaja Jakarta masa kini dengan dandanan modis, gaul dan serba hedon. Merekalah potret kehidupan remaja meteropolitan yang sering kali mengikuti tren yang berkembang.</p>
<p>Nala adalah salah satu anggota dari mereka. Nala, anak seorang desainer terkenal yang kaya raya. Namun, kehidupan Nala bagaikan hidup dalam sebuah aquarium. Ia dibatasi oleh keindahan-keindahan dan tata krama untuk bergaul dengan dunia luar.</p>
<p>Hingga kemudian, Nala bertemu dengan Toto. Pemuda sepantaran yang ganteng, namun bermasalah dengan kehidupan sosialnya. Toto hanyalah anak seorang penjual soto di emperan Manggarai. Dialah Toto yang nyaris tak pernah mengikuti tren remaja masa kini.</p>
<p>Pertemuan sepasang kekasih dalam status sosial yang berbeda inilah yang kemudian memantik konflik, menimbulkan kecurigaan, kepanikan, dan kekisruhan di keluarga dan komunitas masing-masing. Dalam kasus ini, mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya. <span id="more-518"></span></p>
<p>“Kisah seperti inilah yang jadi kekuatan dalam drama musikal kali ini. Meski mereka masih pacaran, tapi sudah dihalang-halangi. Ini cerita yang kita temukan sehari-hari,” ujar pemeran Hudy Hadiprana, ibu Nala, yang diperankan secara apik oleh Sarah Sechan.</p>
<p>Kisah cinta beda status sosial memang menjadi tema sentral dalam pertunjukkan kali ini. Bayangkan saja, jika anak penjual soto harus bertemu dan berpacaran dengan anak desainer terkenal yang hidup mewah. Yang ada justru gunjingan yang didapatkan. </p>
<p>“Udah lah Nal, Papi kamu aja yang udah keluar negeri, masih direndahin. Bagaimana suami kamu yang tukang soto,” ujar Ibu Nala, Hudy Hadiprana. “Namanya saja Toto, kayak wastafel,” lanjutnya<br />
“Ih Mami jahat deh, suka menghina,” potong Nala<br />
“Bukan menghina, sayang. Wastafel itu kan berguna. Tapi bukan untuk dikawinin!”<br />
“Mami, ini masih pacaran! Belum kawin. Perlu dicatet!” sergah Nala</p>
<p>Bahkan konflik demi konflik dan pertentangan sebab hubungan mereka tak hanya ada pada Gank Rempong yang hedon. Komunitas Toto yang berisi kumpulan anak-anak muda jalanan pun demikian heboh. Apalagi antara Gank Rempong dan Gank Soto memiliki perbedaan sosial yang tinggi. Perkelahian antar gank pun timbul.</p>
<p>Adegan perkelahian antar gank ini menjadi pertunjukkan yang paling menarik. Koreografi tari yang dilakukan oleh penari Eki Dance dikombinasikan dengan musik rock yang menghentak plus lighting yang menawan, menjadikan panggung seperti atraksi tari yang penuh dengan adegan akrobatik.</p>
<p>Ramuan antara teater, komedi, tari, dan musik memang pas dalam setiap scene yang dibangun oleh EKI Dance Company. Musik-musik yang hadirkan EKI Dance Company juga memiliki ragam genre yang berbeda. Ada balutan music techno, pop, jazz, swing, rock bahkan dangdut juga dihadirkan dalam pertunjukkan kali ini.</p>
<p>EKI Dance Company nampaknya sadar, inilah potret kehidupan masyarakat urban Jakarta. Di satu sisi, kaum hedonis yang selalu pergi party begitu terbiasa dengan alunan house music yang kental unsur techno. Sementara Gank Soto, yang identik dengan kaum pinggiran, lebih suka musik dangdut yang mendayu-dayu.</p>
<p>Para pemain seperti Sarah Sechan sebagai Ibu Hudy Hadiprana, Ari Prajangera sebagai Toto, lalu Felicia Citraningtyas sebagai Nala, hingga Takako Leen yang berperan sebagai perempuan tomboy,  mampu menjalankan peran-peran mereka dengan  baik. Apalagi hadirnya Arie Daginkz sebagai Josh yang berperan sebagai pria yang centil, membuat setiap celotehnya berubah menjadi gelak penonton.</p>
<p>Hadirnya Yayu AW Unru sebagai Bapak Hudy Hadiprana juga membuat nuansa pertunjukkan Jakarta Love Riot semakin kaya akan koreografi tari yang menawan. Dedengkot pantomim ini menunjukan kemampuannya dalam berolah gerak meski Yayu hanya mendapatkan scene yang teramat singkat.</p>
<p>*foto diambil dari Antara.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/jejak-jiwa/'>jejak jiwa</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/resensi/'>resensi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=518&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/07/05/jika-cinta-terbentur-citra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/07/jlr.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">JLR</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Kerak Telor, Gudeg dan Paha Kolonel Sanders</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/05/19/antara-kerak-telor-gudeg-dan-paha-kolonel-sanders/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/05/19/antara-kerak-telor-gudeg-dan-paha-kolonel-sanders/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 10:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal panganan Kerak Telor? Bagi anda yang tinggal di Jakarta, Kerak Telor tentu tak lagi asing. Makanan ini menjadi sebuah santapan tradisi bagi warga Betawi. Kerak telor merupakan makanan asli Jakarta. Biasanya, dijual pakai gerobak pikul dengan tungku bara yang mengepul untuk memasaknya. Kerak Telor menjadi santapan yang enak manakala campuran antara beras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=512&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/05/telor.jpg"><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/05/telor.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="telor" width="300" height="224" class="alignleft size-medium wp-image-514" /></a> Siapa tak kenal panganan Kerak Telor? Bagi anda yang tinggal di Jakarta, Kerak Telor tentu tak lagi asing. Makanan ini menjadi sebuah santapan tradisi bagi warga Betawi. </p>
<p>Kerak telor merupakan makanan asli Jakarta. Biasanya, dijual pakai gerobak pikul dengan tungku bara yang mengepul untuk memasaknya. Kerak Telor menjadi santapan yang enak manakala campuran antara beras ketan putih, telur  ayam/bebek, ebi (udang kering yang diasinkan) disangrai kering diatas tungku dengan wajan yang terbalik. Lalu ada bawang merah goreng, diracik dengan bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai  merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir hingga menjadikan makanan tradisional ini memiliki rasa gurih, yang menjadi cita rasa khas Indonesia.</p>
<p>Ya, Indonesia memang memiliki ragam masakan yang beraneka rupa. Puluhan bahkan ratusan masakan asli Indonesia tersebar dari penjuru tanah air dengan aneka rasa sesuai khas penghuninya. Masakan khas Indonesia, tentu menjadi kekayaan milik Indonesia yang tak pernah habis. </p>
<p>Hampir di setiap daerah, memiliki kekhasan dalam makanan. Bahkan soal rasa, seringkali disesuaikan dengan kebiasaan serta indra perasa masing-masing. Jika di Jakarta, ada kerak telor, ketoprak, soto betawi hingga Nasi Uduk yang gurih, tentu berbeda dengan Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masakan-masakan yang bercita rasa asin seperti di Jakarta, kurang diminati. </p>
<p>Di DIY dan Jawa Tengah, masakan bercitarasa manis jadi adonan yang mengasikkan untuk disantap. Tentu anda tak asing dengan masakan Gudeg. Masakan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memiliki citarasa yang manis.</p>
<p>Gudeg terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Untuk membuat adonan yang enak dan empuk, perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan, dengan campuran bumbu-bumbu lainnya. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek</p>
<p>Telor ayam kampung sendiri, direbus dengan campuran kecap dan gula merah hingga membuat, cita rasa telor dalam campuran Gudeg pun jadi teramat manis. Di daerah Yogyakarta, Solo atau Jawa Tengah, Gudeg sendiri disajikan dalam tiga adonan yang berbeda. Yakni   gudeg kering, dimana makanan ini disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Lalu ada gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Dan Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. Semuanya memiliki cita rasa yang berbeda.</p>
<p>Itu baru Gudeg, belum makanan dari daerah lainnya di Indonesia, seperti Rawon, Tengkleng, soto lamongan, Rendang, Sate Madura, Ayam Betutu khas Bali, Ayam Taliwang, Coto Makassar, colo-colo khas Maluku, hingga Mi Aceh. Semuanya memiliki keragaman rasa yang berbeda.</p>
<p>Namun, seolah sudah menjadi makanan keseharian yang sering dinikmati, terkadang hadirnya masakan tradisional ini malah di tinggalkan. Bahkan untuk mencari masakan khas daerah, butuh tempat tersendiri. (terkecuali masakan padang yang memang sudah menjamur dimana-mana) </p>
<p>Bahkan di mall-mall yang tersebar di seluruh daerah, justru hegemoni masakan cepat saji menjadi penguasa tunggal bisnis makanan di Indonesia. Mulai dari crepes, donat, burger hingga ayam goreng tepung. </p>
<p>Bisnis waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) misalnya, hadirnya di Indonesia sudah seperti gurita. Masuk di Indonesia pada tahun 1979, gerai yang dulu dikembangkan oleh Kolonel Sanders ini hingga kini sudah memiliki gerai lebih dari 368 yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.</p>
<p>Motivator Tung Desem Waringin bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan kunci keberhasilan KFC bukan sekadar infrastruktur, akan tetapi sumber daya manusia di dalamnya yang memberikan pelayanan. Ketatnya persaingan pada bisnis waralaba di Indonesia, membutuhkan inovasi tidak saja kepada produk, tetapi juga strategi pemasaran.</p>
<p>Tentu saja, susah untuk menyandingkan antara masakan tradisional Indonesia dengan masakan cepat saji seperti KFC, atau bisnis Crepes yang menjamur. Bahkan soalan ini tak hanya bicara soal makanan semata, tapi juga persoalan bisnis.</p>
<p>Konsumen Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota, memang cenderung menyukai makanan-makanan cepat saji yang disajikan di mall-mall. Inovasi yang terus berkembang dengan menu-menu yang terus berubah, menjadikan masyarakat ingin terus mencoba dan membeli. Hasilnya, masakan cepat saji jadi idola masyarakat saat ini. </p>
<p>Lagipula selama ini juga tak ada franchise Kerak Telor yang didagangkan di both-both makanan di mall. Padahal, di kota besar makan tak lagi menjadi kewajiban untuk mengisi perut saja, tetapi juga rekreasi. Bayangkan, betapa nikmatnya jika bisa menikmati kerak telor sembari menyeruput kopi di tengah lalu lalang orang yang tengah berbelanja dompet merk Versace, Gucci atau memilah-milah underwear Triumph dan Sorella. </p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/features/'>features</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=512&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/05/19/antara-kerak-telor-gudeg-dan-paha-kolonel-sanders/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/05/telor.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">telor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senja</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/04/19/senja/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/04/19/senja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 11:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka. “Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=507&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/04/love-hand.jpg"><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/04/love-hand.jpg?w=224&#038;h=300" alt="" title="love-hand" width="224" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-508" /></a>Maria duduk di bangku beton sebuah taman. Sore sudah mulai beranjak senja. Anaknya, Lio, yang masih berusia 3 tahun ia biarkan berlarian di sudut taman. Sore itu hanya ada Jay, Maria dan satu pasangan kekasih yang duduk sedikit menjauh dari mereka.</p>
<p>“Aku tau Jay. Aku tau perasaanmu. Demikian pula aku, aku merasakan hal yang sama dengan kamu,” ujar Maria</p>
<p>Maria, perempuan muda dengan kulit bak pualam, dengan binar mata yang indah memang selalu mempesona Jay. Maria telah meluluh lantakkan perasaan Jay sejak pertama kali mengenalnya. Maria, meski sudah memiliki seorang anak lelaki, tak menyurutkan cinta Jay, meski hubungan mereka terpisahkan oleh jarak dan status.</p>
<p>“Kamu tau Jay, emotional affair itu jauh lebih bahaya dan menyiksa daripada physical contact. Aku ingin menghindari semua ini, Jay,”<br />
“Aku tau, Maria. Tapi aku tak akan pernah bisa untuk melupakanmu. Bahkan menyimpannya dalam laci hati paling dalam sekalipun,”</p>
<p>Keduanya diam. Lalu mata mereka bersirobok dalam pantulan senja yang keemasan. Jay menatap dalam mata Maria. Maria tersenyum. Dalam bilik hati terdalam, Maria juga merasakan hal yang sama seperti Jay. Tak pernah ia bisa melupakan lelaki yang pernah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tapi semuanya sudah berubah.</p>
<p>Di kejauhan, Lio berlarian di bawah pohon kenari. Memelorotkan celana lalu terdengar seperti air gemericik membasahi rindang pohon kenari. Mereka menoleh. Sontak, terbahak.</p>
<p>“Itu Ayahnya yang mengajari Lio kencing di bawah pohon,”</p>
<p>.<br />
<em>*Terimakasih untuk Ike dan Lio*</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/imaji/'>imaji</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/tentang-seseorang/'>tentang seseorang</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=507&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/04/19/senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/04/love-hand.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">love-hand</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Protected: Duka di Hati Firman</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/03/20/duka-di-hati-firman/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/03/20/duka-di-hati-firman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[tentang seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=503&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>This post is password protected. You must visit the website and enter the password to continue reading.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/cerita/'>cerita</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/imaji/'>imaji</a>, <a href='http://sofianblue.wordpress.com/category/tentang-seseorang/'>tentang seseorang</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/503/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=503&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/03/20/duka-di-hati-firman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menanti Kebangkitan Panji Tengkorak</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/21/menanti-kebangkitan-panji-tengkorak/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/21/menanti-kebangkitan-panji-tengkorak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 11:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[panji tengkorak]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Medio 1960-an, masyarakat pernah dimanjakan oleh sepak terjang pendekar sakti mandraguna. Mengenakan topeng buruk rupa dan pakaian seadanya. Dialah Panji Tengkorak. Pendekar bertopeng yang membabi buta dalam memberantas kejahatan. Tahun-tahun itu, hingga pertengahan tahun 1980-an, siapa tak kenal Hans Jaladara. Dialah ayah kandung Panji tengkorak. Tokoh yang melahirkan sang pendekar hingga besar dan menjadi fenomena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=494&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/si_buta.jpg"><img src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/si_buta.jpg?w=221&#038;h=300" alt="" title="Si_Buta" width="221" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-497" /></a>Medio 1960-an, masyarakat pernah dimanjakan oleh sepak terjang pendekar sakti mandraguna. Mengenakan topeng buruk rupa dan pakaian seadanya. Dialah Panji Tengkorak. Pendekar bertopeng yang membabi buta dalam memberantas kejahatan.</p>
<p>Tahun-tahun itu, hingga pertengahan tahun 1980-an, siapa tak kenal Hans Jaladara. Dialah ayah kandung Panji tengkorak. Tokoh yang melahirkan sang pendekar hingga besar dan menjadi fenomena kala itu. Panji Tengkorak memang hanya tokoh yang ada di komik. Tapi, kala itu, sepak terjangnya mengalahkan tontonan apapun. Banyak orang mengira dia tokoh yang ada. Memang ada. Tapi hanya hidup dalam kertas gambar.</p>
<p>Tahun-tahun itu, memang masa keemasan komikus klasik Indonesia. Komik-komik silat sedang meledak. Sebut saja komikus macam Djair, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganesh TH, Gerdi WK. Mereka semua adalah pendekar komik Indonesia.</p>
<p>Panji Tengkorak merupakan salah satu komik laris setelah Ganesh TH melahirkan si Buta Dari Goa Hantu. Hans Jalandara menciptakan Panji Tengkorak bukan mengikuti jejak Si Buta, meski sama-sama pendekar pemberantas kejahatan, Panji Tengkorak memiliki tampang jelek, dan berkostum compang-camping. Panji Tengkorak terdiri dari 5 jilid. Komik ini merupakan karya masterpiece Hans, selain Walet Merah, Si Rase Terbang.</p>
<p>Selain Hans, penggemar komik pasti tau Ganesh TH. Dialah “pendekar” yang pertama kali mempopulerkan kisah kepahlawanan seorang pendekar dalam saputan gambar yang indah. Dialah komikus yang pertama kali melahirkan Si Buta dari Goa Hantu. Ganesh cekatan menciptakan tokoh pendekar buta yang hanya ditemani seekor monyet di pundaknya. Pendekar buta yang selalu menggembara ini nyaris tak terkalahkan, semua musuh-musuhnya dihabisi, meski ia buta. </p>
<p>Coretan Ganesh dalam komik si Buta dari Goa Hantu juga teramat dahsyat. Ibaratnya, pembaca komik disuguhi cerita bergambar yang seolah-olah hidup. Berkelabat dengan tongkat, layaknya seorang balerina. Pembaca juga disuguhi pemandangan alam yang tergambar dengan indah, dengan blocking gambar yang terarsir rapi. </p>
<p>Pada masanya, komik ini sangat laris luar biasa. Dilahirkan pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, si Buta dari Goa Hantu langsung membabat dunia persilatan komik di tanah air. </p>
<p>Komik yang digambar indah oleh Ganesh, mengisahkan tentang Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar. </p>
<p>Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.</p>
<p>Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata. Lalu dengan golok, ia menggores sepasang matanya. Mulai saat itulah Bard menjadi buta. Dengan mengandalkan insting, Barda menjelma menjadi si Buta dari Goa Hantu.  Dengan baju kulit, tongkat dan seekor monyet yang menggelendot di bahunya, SI Buta dari Goa Hantu berpetualang ke penjuru nusantara. Memberantas kejahatan dengan ilmu yang ia tempa di gua. <span id="more-494"></span></p>
<p>Sebelum era komik pendekar bermunculan, Sejarah komik di Indonesia dimulai pada 1930-an. Pada 1931, komik strip muncul di surat kabar Sin Po dengan judul Kho Wang Gie atau Sopoiku. Komik strip ini sangat disukai dimasanya. Gambar yang lucu dengan kritik sosial yang digambar menjadikan komik strip di koran Sin Po terus disukai hingga ditutup pada 1960.</p>
<p>Pengamat komik Andy Wijaya mengatakan, pada masa itu komik Indonesia juga sempat dibajiri oleh komik Amerika. Pada akhir 1940-an serbuan komik Amerika sudah mulai membanjir. Sebut saja Rip Kirby karya Alex Raymond, Phantom karya Wilson Mc Coy, dan Tarzan. Lalu kisah Tin Tin juga turut merangsek.</p>
<p>“Sejarah komik di Indonesia sangat panjang. Tak hanya di pulau Jawa, saat itu di Medan juga menjamur,” jelas Andy Wijaya di temuai di kiosnya Anjaya komik.</p>
<p>Pada tahun-tahun itu. Lahirlah komik-komik yang dipelopori RA Kosasih. Komik RA Kosasih ini banyak bercerita tentang dunia pewayangan. Pada 1953, Kosasih menggebrak pasar dengan menerbitkan komik berformat buku dengan judul Sri Asih. RA Kosasih juga membuah kisah Mahabarata, Ramayana. Kisah yang susah dipelajari ini, disuguhkan RA Kosasih dengan sangat simpel dengan gambar-gambar uang indah. RA Kosasih merupakan pelopor komik wayang.</p>
<p>“Saat itu komik ini sangat laris. RA Kosasih mampu menyuguhkan kisah mahabarata dengan wujud komik. Sebuah cara yang ampuh untuk mempelajari kisah Mahabarata dengan mudah,” tandas Andy</p>
<p>Baru pada tahun 1968 hingga 1970-an, banyak yang menggandrungi komik. Honor membuat satu jilid komik berjumlah 64 halaman saja sudah dapat bayaran sekitar Rp 100-150 ribu. Pada tahun itu, honor Rp.100 ribu merupakan berkah yang luar biasa. Bayangkan saja, pada tahun itu, harga emas satu gram hanya Rp250. alhasil, satu komik yang dihasilkan bisa mendapatkan sedikitnya setengah kilogram emas. Bayaran yang cukup fantastis. </p>
<p>Djair Warni komikus pencipta Djaka Sembung dalam beberapa kesempatan mengatakan komikus pada masa itu merupakan masa jaya-jayanya. Kisah-kisah pendekar banyak disukai oleh masyarakat. Puluhan kisah di dunia persilatan disodorkan. Djair dengan Djaka Sembung, Hans Jaladara dengan Panji Tengkorak, dan Ganesh TH dengan Si Buta dari Goa Hantu. Pendekar-pendekar komik ini mampu merubah sejarah dengan membuat komik Indonesia berjaya. </p>
<p>Sayangnya, menginjak tahun 1990-an, saat komik-komik jepang mulai membanjiri tanah Air, komik Indonesia kembali tenggelam. Bahkan gaungnya tak lagi terlihat. Menurut Andy Wijaya, tidak banyak komikus Indonesia yang mampu membuat karya yang baik. Dari segi gambar dan cerita, banyak komikus yang kurang memadai. Berbeda dengan komikus sekarang, komikus jaman dulu selain seorang sastrawan juga seorang seniman yang lihai.</p>
<p>“Untuk membangkitkan gairah komik Indonesia, perlu ada tim khusus yang menggambar dan membuat cerita. Karena tidak semua komikus memiliki kemampuan bercerita yang baik, meski ia jago menggambar,” jelasnya. </p>
<p>Saat ini, mengharapkan “bangkitnya” Panji Tengkorak, atau si Barda dalam Si Buta dari Goa Hantu memang terdengar mustahil. Tapi bukan tidak mungkin, komikus Indonesia akan menciptakan sosok pendekar lain dalam bentuk yang berbeda. Sambil menunggu kejayaan kembali komik Indonesia.</p>
<p>*gambar diambil dari <a href="http://ebukita.wordpress.com/">sini</a></p>
<br />Posted in features  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=494&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/21/menanti-kebangkitan-panji-tengkorak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/si_buta.jpg?w=221" medium="image">
			<media:title type="html">Si_Buta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa, Senja dan Sepotong Bika</title>
		<link>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/09/gempa-senja-dan-sepotong-bika/</link>
		<comments>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/09/gempa-senja-dan-sepotong-bika/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 13:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofianblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[jejak jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianblue.wordpress.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Senja hampir lewat. Siluet keemasan pelan-pelan pudar dihantam awan hitam di ujung timur. Kabut berangsur-angsur turun menutupi sebagian ngarai dengan liku anak sungai di ujung terdalam. Beberapa pasang remaja asik duduk sambil becanda. Rombongan lainnya berpose di pagar besi tepi taman Panorama Ngarai Sianouk, Bukittinggi. Meski senja hampir lewat, taman ini masih ramai. Satu pasang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=488&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/ngarai-s.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-491" title="sianouk" src="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/ngarai-s.jpg?w=300&#038;h=197" alt="" width="300" height="197" /></a>Senja hampir lewat. Siluet keemasan pelan-pelan pudar dihantam awan hitam di ujung timur. Kabut berangsur-angsur turun menutupi sebagian ngarai dengan liku anak sungai di ujung terdalam.</p>
<p>Beberapa pasang remaja asik duduk sambil becanda. Rombongan lainnya berpose di pagar besi tepi taman Panorama Ngarai Sianouk, Bukittinggi. Meski senja hampir lewat, taman ini masih ramai. Satu pasang turis asing lewat tepat di depan saya duduk. Mereka melemparkan senyum, lantas mengangguk. Saya balas dengan senyuman.</p>
<p>Di bangku beton sudut taman, saya duduk bersama Muhammad Zamroni. Ia biasa disapa Zam, pemandu wisata yang membawa saya dan rombongan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) melihat objek wisata Sumbar pasca gempa. Ia orang Medan, tapi sudah lama tinggal di Padang. Sudah berpuluh tahun ia menjadi pemandu wisata.</p>
<p>Sambil mengobrol, Zam membuka bungkusan warna hitam yang ia bawa. Pelan-pelan, ia membukanya. Tercium bau harum bika mariana. Makanan yang kami beli sepulang dari Danau Singkarak. Saya mengambil sepotong. Gurih.</p>
<p>Sembari mengunyah, mata saya lurus menatap ngarai yang mulai gelap. Jika saya datang lebih awal, mungkin siluet dan pemandangan bukit dari tempat saya duduk ini akan lebih indah. Cocok dipakai untuk melamun. Cocok pula dipakai untuk mengobrol. Tak mengherankan jika di tempat ini banyak pasangan muda berbisik-bisik di sudut taman.</p>
<p>“Sebelum gempa Padang,  taman ini dulunya banyak dikunjungi turis Singapura dan Malaysia. Tapi, kini sepi,” kata Zam mengagetkan lamunan saya</p>
<p>Zam teringat saat-saat sebelum gempa meluluh lantakkan Padang. Kala itu, hampir setiap hari ia menemani wisatawan asing. Turis Belanda, Singapura dan Malaysia merupakan pelanggan tetapnya. Turis-turis ini menyukai Sumbar karena keelokan alamnya.</p>
<p>“Setelah puas berjalan-jalan, biasanya mereka selalu ingin datang lagi ke Sumbar,” terangnya.</p>
<p>Zam menghela nafas. Saya menyimak. Sejak ramai berita yang mengabarkan gempa di Padang, turis asing yang hendak berkunjung ke Sumbar mendadak membatalkan kunjungannya. Apa boleh buat, Padang memang destinasi paling dekat jika hendak meneruskan perjalanan mengunjungi objek wisata di Sumbar. Hasilnya, periode Oktober, nyaris tidak ada jadwal tour pariwisata dari Eropa maupun asia.</p>
<p>“Mereka umumnya hanya mendengar Padang hancur. Padahal tidak sama sekali. Bandara masih kokoh berdiri,” tegas Zam</p>
<p>Zam benar, bandara dan akses jalan menuju objek wisata di Sumbar sama sekali tidak hancur. Jalanan masih mulus. Bahkan jalanan menuju Danau Maninjau yang berkelok-kelok pun tetap halus dan lancar. Nyaris tidak ada kerusakan berarti. Artinya, harus ada yang meluruskan informasi jika akses menuju Padang terhambat.</p>
<p>Zam terus bercerita. Sambil mendengar, saya menikmati bika mariana dan sesekali menatap Ngarai Sianouk. Bika Mariana ini jenis makanan khas Padang selain Keripik Balado yang ekstra pedas itu. Bika terbuat dari parutan kelapa dan gula. Bedanya, bika ini dipanggang di dalam periuk dengan api yang justru diletakkan sebagai penutupnya. Didalam periuk yang tertutup nyala api itu, adonan bika diberi alas daun pisang, yang membuat aroma bika makin sedap terpanggang. Tapi, bagaimanapun cara memasaknya, jika kelapa dan gula dipanggang, pasti akan berasa gurih dan sedap.</p>
<p>Di Taman Panorama Ngarai Sianouk, kawan-kawan saya mulai bergerak menuju Lobang Jepang. Lobang Jepang ini satu kawasan dengan objek wisata taman panorama. Letakknya berada di bawah tanah taman panorama. Lebih tepatnya,  posisi kami duduk saat ini berada di atas Lobang Jepang. Zam beranjak. “Ayo!” ajak Zam.</p>
<p>Saya diam. Tercenung. Zam lantas duduk lagi. Nampaknya ia mengetahui kecemasan saya. Bagaimana tidak, mengunjungi objek wisata goa dalam keadaan usai gempa seperti ini benar-benar mengkhawatirkan. Saya jadi teringat saat masih di Jogja beberapa bulan pasca Gempa Jogja. Seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) berkali-kali mengingatkan agar wisatawan tidak dulu mengunjungi goa. Tanah yang masih labil, sangat berpotensi untuk runtuh dan menutup goa. Saya jadi semakin cemas. Zam tersenyum, sepertinya membaca gelagat kecemasan saya.</p>
<p>“Tak apa-apa. Konon Jepang mendesain lubang ini anti goncangan. Dari gempa sekalipun,” hibur Zam.</p>
<p>Sedikit ragu, akhirnya saya melangkahkan kaki menuju Lobang Jepang. Kawan-kawan saya dari Depbudpar sudah menunggu di depan pintu masuk. Zam tidak ikut. Dia malah duduk sambil tertawa-tawa di depan pintu masuk Lobang Jepang. Sial.</p>
<p>Di Lobang Jepang, kami dipandu oleh salah satu pemandu wisata disana. Saat kaki baru melangkah masuk, hawa dingin langsung meruap. Semakin ke dalam, semakin dingin dan gelap. Uniknya, masuk lorong disini tidak akan ada gaung, galibnya goa kebanyakan. Lobang Jepang juga didesain Jepang sangat kuat. Dengan panjang 1400 meter, tempat persembunyian yang dibangun pada 1942 ini dibagi menjadi lorong-lorong yang seram.</p>
<p>Bagaimana tidak seram, Lobang Jepang ini dibuat oleh tangan-tangan pekerja paksa Indonesia. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Bahkan konon, seluruh pekerja paksa tewas di bunuh Jepang di lorong ini. Jasadnya di potong-potong dalam ruangan khusus, sebelum kemudian dibuang melalui celah yang tersambung langsung ke ngarai. Saya jadi merinding. Sungguh mengerikan kisahnya.</p>
<p>Usai menelusuri lorong demi lorong Lobang Jepang, kami pun keluar. Di luar sudah gelap. Rintik hujan mulai membasahi Bukittinggi. Sambil berlari kecil, kami putuskan untuk masuk bus. Sebelum masuk, saya sempatkan untuk berdiri di belakang bus dan melongok Ngarai Sianouk. Ngarai sudah gelap, kabut telah menutupnya. Beberapa lampu taman mulai menyala. Pendarnya tak terang, tapi cukup ampuh untuk membawa angan-angan mengunjungi tempat ini kembali.</p>
<br />Posted in cerita, features, jejak jiwa  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sofianblue.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sofianblue.wordpress.com/488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sofianblue.wordpress.com&amp;blog=433615&amp;post=488&amp;subd=sofianblue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianblue.wordpress.com/2010/01/09/gempa-senja-dan-sepotong-bika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33a4e8f19210d9ef495de67267df1ce2?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">sofianblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sofianblue.files.wordpress.com/2010/01/ngarai-s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sianouk</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
