Dua minggu lalu, kawan saya di kampung Srondol protes. Dia SMS, kenapa blog saya kosong. Tak lagi Update. Dia memang biasa membuka-buka blog saya, selain maenan facebook kegemarannya.
“Kau hiatus ya, bro? Tak lagi ada tulisan baru. Kehabisan ide tah? ” tulis kawan saya melalui pesan singkat.
Saya kaget. Tumben-tumbenan dia kirim pesan singkat seperti itu. Mungkin karena lama saya tak menulis tentang dirinya. Iya, dalam beberapa tulisan, saya memang sering menceritakan dia sebagai tokoh utama. Langsung saja saya membalasnya.
Iya, saya minta maaf. Memang, sudah lama kiranya saya tak update blog. Maklumlah, bulan-bulan ini sungguh menyita waktu saya. Mempersiapkan pernikahan ternyata memang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Belum soal persiapan materi, sewa perias, bikin desain undangan, foto-foto. Mental ternyata juga membutuhkan persiapan yang tak bisa diremehkan. Meski sudah delapan tahun pacaran, untuk melangkah ke pernikahan tetap membutuhkan benteng mental yang kuat.
Ini menyangkut membina keluarga. Menyatukan dua keluarga. Tentang menjadi seorang suami. Seorang kepala keluarga. Saya jadi ingat betul kalimat seseorang yang saya panggil abang di Semarang. Bahwa menikah itu bukan seperti diangkat menjadi Ketua RT. Bukan seperti menjadi ketua kelas yang mengatur anak buah. Mata, hati dan kalimat harus terjaga. Membutuhkan hati lapang menerima gempuran gelombang persoalan. Tak lantas memasung sanubari dengan kepala penuh bara tatkala kesulitan membelit.
Itulah. Ternyata menikah memang tak sesederhana yang saya kira. Jadi sekali lagi maaf jika kemudian saya sedikit melupakan kegemaran saya menulis dan bercerita. Saya memang sedikit abai untuk menulis panjang-panjang. Berbagi cerita dengan anda. Tapi sungguh, itu bukan berarti ada niatan saya untuk hendak hiatus. Menulis bagi saya jadi semacam nafas. Nafas yang menggerakkan tubuh saya. Jadi kata hiatus itu menimbulkan kengerian dalam jiwa saya.
Oya, tulisan ini sekaligus sebagai pemberitahuan. Kelak, Minggu, 2 Agustus 2009 di Bekasi saya akan mengucapkan ijab kabul dengan perempuan yang selama ini menemani hidup saya. Memang hanya di rumah, tapi bukan berarti tak meriah. Maka, saya mengundang kawan-kawan. Sekalian silaturahmi. Informasi lebih detail mungkin bisa di lihat di Facebook saya.
Bahunya bergoyang, pipinya memerah, sesekali ada tawa ringan keluar dari wajah cantik perempuan berambut panjang itu. Didepannya, dokter kulit berkacamata minus merayunya hingga membuatnya merona dan tergelak.
Tau Film Knowing? Atau pernah nonton Film Knowing? Iya, itu film yang menggambarkan bencana-bencana yang terjadi di dunia yang diambil dari novel karya Ryne Douglas Pearson. Bintangnya Nicolas Cage. Pernah nonton kan?
Lily namanya. Saya mengenalnya di restoran 24 jam di Mangga Besar. Dia menjulurkan tangan, sesaat setelah meminjam pemantik api milik abang saya. Lily duduk di depan kami sekarang. Menghembuskan rokok mild mentol dari bibir tipisnya.
Itu lima tahun silam, saya mengira-ira, ketika langkah kakinya meninggalkan lantai 4 Gedung Graha Pena, Semarang. Langkah kaki penuh harapan untuk kemudian menahkodai perahu diantara badai dan ombak setinggi tiang. 
