Jelang Ramadan, nyaris semua tempat hiburan tutup. Tak ada geliat keramaian di awal puasa. Termasuk lokalisasi Argorejo Sunan Kuning Semarang. Jika sebelumnya aktivitas malam kampung ini layaknya pasar hiburan, mendekati bulan puasa ini sepi. Ke mana para pekerja seks disana

SOFIAN DS, Semarang

SIANG merangkak sore. Di pojok gang, di lokalisasi Argorejo Sunan Kuning, kumandang Adzan Salat Azhar terdengar dari pengeras suara surau yang baru selesai direhab. Sore itu, sisa panas masih membakar. Aktivitas di kampung ini tak seperti biasanya memang. Canda tawa, senyum yang mengembang, perempuan-perempuan berbaju seksi dan tatapan menggoda penghuni lokalisasi, sedikit berkurang.
Sore kemarin, tak banyak penghuni yang masih duduk-duduk di kursi depan teras rumah. Perempuan-perempuan yang biasanya selalu memanggil-manggil tamu berkendara mobil atau motor, tak lagi ada terlihat. Rumah-rumah yang biasanya diisi perempuan-perempuan nakal, kebanyakan sudah terkunci rapat. Sebagian wisma-wisma yang ada di kampung ini tak ada keramaian.
Meski demikian, bukan berarti aktivitas terhenti. Masih ada beberapa perempuan yang tetap menggoda. Masih ada beberapa pengamen yang berkelompok mendendangkan lagu. Masih banyak pengunjung berkendara motor mengitari kampung. Dan suara dendang lagu dangdut yang keluar dari balik room karaoke yang menjamur di beberapa wisma, masih terdengar nyaring, menyaingi kumandang adzan.
Sore kemarin, mulai pukul 18.00, portal kampung ini resmi ditutup. Jadilah, siang itu layaknya hari terakhir wanita-wanita penjaja seks ini bertemu dengan pelangganya. Sebagian masih sempat berbusana tank top memamerkan pusar mereka, sembari menunggu pelanggan dan waktu beranjak petang.
Di antara mereka, sebut saja EL, 25 perempuan kelahiran Malaysia yang menjajal pahitnya hidup bersama lelaki hidung belang di SK. EL meski lahir di Malaysia, bukan berarti tercatat sebagai warga tetangga negara ini. EL orang Blitar, yang kebetulan 25 tahun lalu dilahirkan di sana karena ibunya seorang tenaga kerja wanita (TKW).
Memakai baju langan panjang warna pink, dipadu jins dan ikat pinggang besar, EL tak begitu mempesona. Rambutnya yang tergerai lurus basah usai keramas, plus tali bra warna merah yang terlihat mencoloklah yang membuat EL sore itu tampak menggoda.
EL tak tahu aktivitasnya saat bulan puasa apa. Yang jelas, EL mengaku akan pulang kampung dan berpuasa di rumah. Maklumlah, selama menjadi penghuni Sunan Kuning di Gang III, EL mengaku baru sekali ini beraktivitas saat puasa. Ia baru empat bulan ini terjerambab dalam dunia hitam Sunan Kuning. Sebelumnya ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Selama ini pihak keluarganya di Blitar tak pernah tau pekerjaannya di Semarang. Perempuan berkulit hitam manis itu selalu menjaga rapat pekerjaan sesungguhnya, agar tak diketahui oleh keluarga di kampung halaman. “Saya baru sekali ini bekerja di sini. Jadi saya tidak tahu mau kemana saat puasa nanti,” jelas EL.
EL sendiri, tentunya akan pulang. Namun, nantinya ia akan kerja apa, EL masih belum tahu benar. “Paling di rumah saja. Puasa di rumah dan menjalankan ibadah seperti biasanya,” jelas perempuan yang masih mempercayai kebesaran Tuhan.
Ari Istiyadi, Koordinator Lapangan Griya Asa Sunan Kuning mengatakan, hari-hari menjelang puasa lokalisasi SK memang sepi. Umumnya wanita-wanita penghuni SK sudah pulang dua hingga tiga hari lalu. Mereka pulang kampung dengan uang yang biasanya mereka kumpulkan jauh-jauh hari menjelang puasa datang. “Begitu mengetahui SK tutup, mbak-mbak langsung pulang. Sekarang hampir semuanya pulang,’jelas Ari.
Meski demikian, bukan berarti semua penghuni SK lantas benar-benar pulang, begitu portal ditutup. Beberapa diantara mereka tetap masih ada yang suka membandel tidak pulang. Selain karena memang tuntutan ekonomi, alasan mereka bertahan karena mereka tak lagi memiliki kampung halaman. Tentunya banyak lagi alasan kenapa mereka tak memilih pulang kampung. “Kalau mbak-mbak penghuni yang cantik-cantik sudah pulang dari kemarin, karena mereka sering dipakai. Duitnya sudah terkumpul,”tandasnya.
Yang membandel tidak pulang ini, bukan lantas mereka bertahan di lokalisasi. Aturan resos jelas tidak memperbolehkan mereka untuk ada di dalam lokalisasi. Alhasil, tak kalah cerdik, mereka pun memilih untuk kos di luar lokalisasi untuk menjajakan kehangatan tubuh mereka. Entah di jalan-jalan, atau lokasi-lokasi tertentu. “Ini yang membuat kita khawatir. Mereka justru memanfaatkan ini untuk kos dan tetap melayani pelanggan,”keluh Ari.
Griya Asa sendiri, menurut Ari, justru menginginkan untuk lokalisasi ini tetap dibuka. LSM yang peduli dengan kesehatan para PSK di lingkungan Argorejo Sunan Kuning ini berdalih, kesehatan mereka akan sulit terpantau jika mereka tetap melayani pelanggan di luar lokasi. (*)