Jika anda bertemu dengan orang (laki-laki atau perempuan) dalam perjalanan panjang nan membosankan diatas kereta, dan anda saling cocok berbincang satu sama lain, tentunya akan sangat menyenangkan. Namun, jika kemudian kesenangan ini sirna dan anda dihadapkan pada pilihan berkesempatan bertemu dalam waktu satu malam atau menyudahinya saat itu juga, apa yang akan anda lakukan?.

Film Before Sunrise, menceritakan tentang kondisi seperti ini. Jika Anda penyuka film drama, sepertinya film yang diproduksi tahun 1995 ini patut untuk anda tonton.

Jika anda ingin bisa memahami pasangan anda satu sama lain. Coba saja simak obrolan mereka

Film ini berkisah tentang dua orang laki-laki dan perempuan yang bertemu secara tidak sengaja di kereta dalam perjalanan di Jerman. Perjalanan panjang, bagaimanapun memang sangat membosankan. Hal ini juga dirasakan oleh dua insan ini.

Kisah ini dibuka dari sebuah pertengkaran antara pasangan suami istri yang duduk disebelah Celine (Julie Delphy) yang membuat Celine memutuskan untuk pindah kursi di bagian belakang kereta. Disinilah kemudian Celine bertemu dengan Jesse yang diperankan oleh Ethan Hawke.

Sepertinya Jesse ini piawai dalam memulai sebuah perbincangan untuk memikat hati seorang gadis. Pertengkaran pasangan suami istri itu menjadi pembuka percakapan yang cukup jitu untuk memulai sebuah pembicaraan.

“kau tau apa yang mereka ributkan,” Tanya Jesse

“Kau bisa bahasa Inggris?”

“Ya” jawab Celine. “Maaf saya tidak tau apa yang mereka ributkan. Bahasa Jermanku kurang bagus,” tandas Celine

Keduanya saling pandang. Sambil setengah berbisik, mereka melanjutkan perbicangan kembali.

“Kau pernah dengar saat suami istri beranjak tua, mereka tak mampu saling dengar satu dengan yang lain,”gantian Celine bertanya.

“Tidak”

“Andai pria tidak bisa mendengar kata-kata dengan nada tinggi, dan pendengaran wanita pada nada rendah melemah, mereka mungkin akan saling acuh,” tutur Celine

“hmm.. ya. Kurasa begitu,”tutur Jesse mengerti.

“Aku ingin ke Gerbong makan. Kamu mau ikut,”ajak Jesse

“Oke,”

Keduanya lantas beranjak pergi ke Gerbong makan, dan melanjutkan perbincangan mereka.

Film ini memang berjalan cukup datar. Nyaris tidak ada konflik berarti dalam film ini. Perbincangan dalam film ini seperti mengalir seperti air di anak sungai. Terus mengalir, layaknya obrolan malam yang bisa tanpa henti.

Dua actor dalam film ini mampu memerankan karakter yang mereka mainkan secara apik dan natural. Sepertinya mereka tidak sedang bermain film namun ngobrol. Semuanya seperti apa-adanya. Tak ada canggung, jaim atau tetek bengek lainnya yang kadang membuat obrolan menjadi aneh dan keluar dari pakem.

Cerita berlanjut. Saat Jesse tiba ditempat tujuan, Vienna Jerman, mereka berdua sepertinya enggan untuk menyudahi obrolan. Mereka seperti terlambat berkenalan. Hingga kemudian, dengan keberanian Jesse, ia meminta Celine untuk turun bersama melanjutkan obrolan semalam (14 jam)

“Kau turun disini bukan”kata Celine mengingatkan

“Iya malas sekali, rasanya”jawab Jesse

“Andai sejak tadi aku bertemu kau.”kata Jesse menarik nafas.

“Aku senang mengobrol denganmu,”tambahnya.

“Iya aku juga. Senang bertemu denganmu,”tutur Celine.

Jesse pamit. Meninggalkan Celine sendirian, menatap pinggiran stasiun Vienna yang indah. Namun, tak lama berselang, dengan membawa tas besar, Jesse kembali mendatangi Celine. Merayu.

“Aku punya ide gila. Tapi jika tidak aku tanyakan ke kamu, aku akan penasaran seumur hidup,”kata Jesse sembari mendatangi Celine.

“Apa” balas Celine setengah bertanya

“Aku ingin terus mengobrol denganmu. Entah bagaimana situasi mu. Tapi aku merasa kita saling cocok”kata Jesse

“Ya. Aku juga”

“Oke. Begini saja. bagaimana jika kamu ikut aku turun ke Vienna dan kita bisa melihat-lihat kota.”

“Apa?” kata Celine kaget.

“Ayolah. Pasti menyenangkan.”rayunya.

“Apa yang akan kita lakukan,”sungging Celine

“Entahlah. Yang kutahu, aku harus naik pesawat Austrian Airlines, besok pagi pukul 09.30. Saat ini aku tak punya uang untuk menginap di hotel. Dan aku akan jalan-jalan. Dan lebih enak jika kamu ikut,” jelasnya.

“Jika ternyata aku aneh,”lanjutnya. “Kau boleh naik kereta berikutnya,”rayu Jesse.

Celine hanya tersenyum. Tertawa kecil dan melihat meja gerbong makan. Melihat ada peluang, Jesse kembali berusaha lebih keras merayu Celine.

“Atau begini. Pikirkan seperti ini,”tandas Jesse

“Kita melompat 10 -20 tahun kedepan. Kau sudah menikah. Tapi pernikahanmu sudah tak hangat. Kau mulai menyalahkan suamimu. Kau memikirkan semua pria yang kau kenal selama hidupmu. Dan bagaimana jadinya jika kau memilih salah satunya itu aku?”

“Jadi anggap ini sebagai sebuah perjalanan waktu. Kembali dari masa depan, untuk mengetahui apa yang kau lewatkan,” Kata Jesse meyakinkan.

“Ini bisa menjadi bantuan besar bagimu dan suamimu kelak. Agar kau tak menyia-nyiakan apapun. Dan kau mengambil pilihan tepat. Kau bahagia.” Rayunya.

Celine masih tertawa sembari berfikir. Bimbang rupanya. Lalu tiba-tiba.

“Aku ambil tas dulu” kata Celine setelah menimbang rayuan Jesse.

Jesse menang.

Mereka pun turun dan melanjutkan cerita. Malam itu semuanya berjalan penuh dengan obrolan. Dan yang mereka obrolan seperti air yang mengalir. Tentang hidup, kepercayaan, reinkarnasi, cinta, masa depan, hubungan laki-laki dan perempuan dan sebagainya. Semuanya dibahas dalam obrolan mereka semalam.

Mereka hanya diberi kesempatan bersama semalam. Dan tiba dalam satu frame, ketika mereka semakin cocok dan akrab. Waktu lagi-lagi mendesaknya untuk mengakhiri itu semua. ketika mereka duduk berdua dan menyadari waktu akan memisahkan kebersamaan mereka. Mereka lantas membicarakan tentang hubungan mereka selanjutnya.

“Tak ada salahnya jika ini malam terakhir kita, right” kata Celine. “orang selalu bertukar telepon, dan alamat. Lalu saling bersurat sekali dan kadang saling telepon” tambahnya.

“Iya. Dan itu melempem.”seloroh Jesse

“Aku tak ingin begitu. Aku benci itu,”tambah Jesse.

“Aku juga tak ingin” keluh Celine.

Keduanya saling diam sejenak. Nampaknya berfikir. Lalu“Kenapa orang selalu berfikir, hubungan harus selalu abadi?” cetus Jesse tiba-tiba.

“Ya. Kenapa?. Itu konyol”

“Tapi menurutmu, malam ini harusnya abadi?”Ujar Jesse. “ini satu-satunya malam kita bersama”

“Hanya itu caranya bukan?” jawab Celine.

“Baiklah. Bagaimana jika kita bikin malam ini abad. Ayo kita lakukan,”ajak Jesse

“Tanpa rencana. Tanpa khayalan. Hanya untuk menjadikan malam ini istimewa.”tambahnya.

“Baiklah. Ayo kita lakukan,”kata Celine girang.

sisa malam, mereka habiskan berdua saja. pergi ke club, taman, atau duduk-duduk di taman kota, hingga pagi menjelang.

Akhirnya mereka berpisah memang. Namun mereka meninggalkan cerita-cerita dan kenangan yang bagi mereka mustahil untuk dilupakan. Semalam bersama, dengan setiap detik waktu indah dan bahagia, tentunya tak akan pernah bisa dilupakan bukan?

“kau tau obrolan kita tentang takkan bertemu lagi?. Aku tak ingin itu terjadi,”ratap Jesse kala mengantar Celine di stasiun kereta.

“Aku juga”

“Mungkin kita harus bertemu lagi disini, lima tahun lagi,”pinta Celine

“lima tahun?. Itu terlalu lama. Bagaimana jika enam bulan,”tawar Jesse.

“enam bulan, ditempat ini pasti sangat dingin,”

“aku tak peduli. Nanti kita bisa cari tempat lain,”potong Jesse.

Dan Akhirnya mereka benar-benar berpisah. Tanpa alamat dan nomor telepon. Dan berharap cerita indah akan kembali terjadi enam bulan kedepan. Bisa Iya, bisa tidak. Seperti dikatakan Jesse. Hubungan jarak jauh tak pernah berhasil. Namun, dengan keseriusan dan niat, cerita bisa lain. Right!!