October 2006


Maaf, SMS aja ya..

Jemari mungil Bona, cepat bergerak memencet keypad HP N-6600 miliknya. Sesekali wajah manisnya tersipu. Matanya yang indah terus bergerak, sesekali melirikku, sambil tangannya terus memencet-mencet tombol keypad. Sudah hapal betul rupanya letak ukiran huruf dalam keypad HP yang baru ia beli setahun lalu.

“Kau tau, berapa banyak traffic sms yang masuk hari ini. Tepat saat Idul fitri ini,”kataku mencoba menggangu.

Bona diam saja. Bibirnya tersungging. Jemarinya terus bergerak memencet tombol send.

“Begitu banyak orang berkirim kata. Silaturahmi memanfaatkan teknologi komunikasi ya..”ujarku sinis.
“Beb, tidak semua orang punya waktu untuk bertemu. Jarak dan waktu membatasi kita” dalihnya datar.
“Tapi..”
“Psst… iya. Aku tau apa yang akan kamu katakan” potongnya. “Silaturahmi dengan bertatap langsung setidaknya memberikan penilaian keseriusan kita membina hubungan baik. Dan melebur dosakan! Betul?” tambahnya.

Aku diam. Saat seperti ini, aku suka melihat wajahnya yang tenang. Senyumnya yang hangat, gaya bertutur yang lembut dan pola pikirnya kala berdebat. Semuanya menarik. Membuat mataku tak kuasa lepas menatap bening bola matanya.

“Beb, SMS pun, kalau didasari dengan keikhlasan dan niat baik, bukankah itu juga sah untuk melebur dosa?”
“Tapi, kapan kau tau pengirim sms yang masuk ke ponselmu benar-benar punya niatan yang tulus untuk melebur dosa?”
“Aku nggak tau. Tak pantas kiranya kita menilai niat baik seseorang.
Sudah berkirim saja, aku pikir sudah pantas untuk kita memaafkannya ” tandas Bona. (more…)

 

 

Eq

Angin berhembus tenang. Awal September, sepertinya tak ada tanda-tanda mau hujan. Di Semarang, jika di rasa, siang layaknya berada di sebuah kuali besar yang di bawahnya tungku berbara. Panas begitu membakar di sini.Hari ini belum larut benar, masih pukul 21.00. Di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Aku ditemani Zainal. Kami duduk tepat ditengah-tengah keramaian pusat budaya kota lunpia. Di pinggir sebelah kiri kami duduk, kira-kira 100 meter dari kami, Gedung Nartosabdo sedang mementaskan Festival ketoprak. Disamping berseberangan, sekumpulan anak-anak muda sedang berlatih mementaskan cerita lakon dalam teater.

Malam itu, Teater Lingkar Semarang kebetulan sedang latihan untuk sebuah pementasan. Suara mereka benar-benar saling paut. Sementara tak jauh dari kami, tepat di depan kami duduk, beberapa pasangan muda sedang asik bergurau di tengah keremangan malam.

Posisi kami, kali ini benar-benar tepat ditengah-tengah itu semua. Pantaslah. Kami saat ini duduk di bawah temaram lampu taman. Meski ramai, bagiku, malam ini benar-benar sunyi. Aku jadi teringat nasehat kawan lama, namanya Bastanul. Ia pernah menuliskan begini.

Kesunyian berbeda dengan kesendirian. Bila yang pertama mengacu pada kondisi eksistensi, yang kedua pada kondisi fisik. Yang pertama bisa dengan teman, yang terakhir tak. Dan kalau aku boleh menambahi, yang pertama, bisa berada ditengah keramaian, ditengah hiruk pikuk orang, sementara yang kedua tidak.

Dan aku. Meski berada ditengah hiruk pikuk, bersama salah satu sahabat dekat, toh aku merasa seperti berada dalam kesunyian seperti cerita si Bas itu. Aku merasa “Sendiri”. Tak ada suara-suara, tak ada kawan. Hanya angin mendesir saja yang kurasa (more…)

Masih Ada

Agar pagi tak lagi sepi, Dirumah saja
Nikmati hujan yang baru mereda
Dalam balutan syal yang kuberikan

Tinggalkan tangis semalam, bisikku
Eja kata sepatah demi sepatah
Sambil menunggu datang lipatan senja

Agar kelak tak ada tangis
Dalam riuh getar dawai

Maaf Bila Salah

Kau Hadir selalu saja
Lepaskan anganku, agar mengawang

Dan turun pun, aku tak mau

Lalu penat berangsur lebur
Segera saja aku memelukmu
Agar puas mencumbu bayangmu
Yang kini terus merajam mimpiku

Meski dengan itu, aku harus memohon
Maaf sekali ini.

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Queen memang piawai menciptakan lagu dengan lirik-lirik yang romantis dan terkadang mendayu-dayu. Seperti lagu Too Much Love Will Kill You misalnya. Liriknya benar-benar menyentuh. (more…)

 

Getar ponsel sadarkanku dalam lelap tidur. Pagi sudah lama menunggu. Belum sempat mata ini terbuka, SMS bernada ancaman jelas terbaca. “Aku muak. Selalu saja terulang. Kenapa kamu tak lagi ada perhatian?.” Shit..

Bad day, pikirku. Beberapa hari ini, SMS-SMS ancaman semacam ini selalu saja aku terima. Aku semakin terlarut dengan pekerjaan yang aku rutini setiap hari. Hubungan jarak jauh memang mustahil berhasil. Apalagi satu tahun ini nyaris aku tak lagi bisa menatap wajahnya.

“Aku bosan. Kamu terlalu larut dengan pekerjaanmu. Aku lelah menunggu” katanya dengan nada tinggi.

Aku hanya diam. Beberapa detik seperti senyap. Lalu klik.. telepon ditutup.

Sepertinya aku tak lagi mengenalnya seperti dulu. Perangainya yang selama ini aku suka, tiba-tiba lebur. kenapa amarah selalu mengusik. Tulang rusukku kembali nyeri. Setelah tulang itu kutemukan lima tahun lalu, nyaris tak pernah lagi aku rasakan nyeri sehebat ini