Getar ponsel sadarkanku dalam lelap tidur. Pagi sudah lama menunggu. Belum sempat mata ini terbuka, SMS bernada ancaman jelas terbaca. “Aku muak. Selalu saja terulang. Kenapa kamu tak lagi ada perhatian?.” Shit..

Bad day, pikirku. Beberapa hari ini, SMS-SMS ancaman semacam ini selalu saja aku terima. Aku semakin terlarut dengan pekerjaan yang aku rutini setiap hari. Hubungan jarak jauh memang mustahil berhasil. Apalagi satu tahun ini nyaris aku tak lagi bisa menatap wajahnya.

“Aku bosan. Kamu terlalu larut dengan pekerjaanmu. Aku lelah menunggu” katanya dengan nada tinggi.

Aku hanya diam. Beberapa detik seperti senyap. Lalu klik.. telepon ditutup.

Sepertinya aku tak lagi mengenalnya seperti dulu. Perangainya yang selama ini aku suka, tiba-tiba lebur. kenapa amarah selalu mengusik. Tulang rusukku kembali nyeri. Setelah tulang itu kutemukan lima tahun lalu, nyaris tak pernah lagi aku rasakan nyeri sehebat ini