Eq

Angin berhembus tenang. Awal September, sepertinya tak ada tanda-tanda mau hujan. Di Semarang, jika di rasa, siang layaknya berada di sebuah kuali besar yang di bawahnya tungku berbara. Panas begitu membakar di sini.Hari ini belum larut benar, masih pukul 21.00. Di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Aku ditemani Zainal. Kami duduk tepat ditengah-tengah keramaian pusat budaya kota lunpia. Di pinggir sebelah kiri kami duduk, kira-kira 100 meter dari kami, Gedung Nartosabdo sedang mementaskan Festival ketoprak. Disamping berseberangan, sekumpulan anak-anak muda sedang berlatih mementaskan cerita lakon dalam teater.

Malam itu, Teater Lingkar Semarang kebetulan sedang latihan untuk sebuah pementasan. Suara mereka benar-benar saling paut. Sementara tak jauh dari kami, tepat di depan kami duduk, beberapa pasangan muda sedang asik bergurau di tengah keremangan malam.

Posisi kami, kali ini benar-benar tepat ditengah-tengah itu semua. Pantaslah. Kami saat ini duduk di bawah temaram lampu taman. Meski ramai, bagiku, malam ini benar-benar sunyi. Aku jadi teringat nasehat kawan lama, namanya Bastanul. Ia pernah menuliskan begini.

Kesunyian berbeda dengan kesendirian. Bila yang pertama mengacu pada kondisi eksistensi, yang kedua pada kondisi fisik. Yang pertama bisa dengan teman, yang terakhir tak. Dan kalau aku boleh menambahi, yang pertama, bisa berada ditengah keramaian, ditengah hiruk pikuk orang, sementara yang kedua tidak.

Dan aku. Meski berada ditengah hiruk pikuk, bersama salah satu sahabat dekat, toh aku merasa seperti berada dalam kesunyian seperti cerita si Bas itu. Aku merasa “Sendiri”. Tak ada suara-suara, tak ada kawan. Hanya angin mendesir saja yang kurasa

“Kau cerita lah sof. Kau kan percayai kawan kamu ini,”Kata Zainal.

Malam ini benar-benar story of me. Zainal bersedia luangkan waktu disela peliputan festival ketoprak yang harus kami liput malam itu. Itu juga setelah aku mencoba SMS dengan pulsa yang cukup sekali kirim untuknya. Untunglah, beberapa menit kemudian ia telepon aku. Sembari mengajak duduk, dua teh botol ia tenteng. Satu, ia sodorkan ke aku.

Susah untuk cerita bro,”kataku setengah mengeluh “Ini tentang aku dan perempuan yang selama ini aku impikan untuk bisa hidup bahagia bersama,”tandasku.
“Hmm.. soal perempuan rupanya. Teruslah”jawabnya enteng sambil menyeruput batang sedotan.
“Perempuan ini memutuskan untuk tak lagi menghubungiku. Dan kau tau, Aku pun tak ia perkenankan untuk menghubunginya,”
“Ya, lalu”sergahnya

Aku menghela nafas. Tak sanggup rupanya aku melanjutkan cerita. Yang ada sekarang hanya bayang-bayang wajahnya. Bayang-bayang lima tahun bersama. Senyumnya yang lucu, gaya bicaranya yang kusuka dan tiba-tiba saja aku teringat derai tawanya yang selama ini aku rindukan.

“Lalu…”cetusnya mengulang
“Aku nggak tau harus gimana bro”
“Aku terlibat pertengkaran hebat yang bermula dari persoalan yang menurutku bisa kami selesaikan tanpa harus mengambil keputusan seperti ini”lanjutku.

***

Aku mengenalnya lima tahun lalu. Berawal dari sebuah acara penerimaan mahasiswa angkatan baru. Saat itu, Ospek memang menjadi sebuah pilihan bagi bujang macam aku untuk mencari pasangan. Dan memang bandit. Hari bersejarah itu, aku mulai membidik beberapa mangsa. Panah cupid mengenaiku. Aku sepertinya menemukan tambatan hati. Perempuan yang membuatku bertekuk lutut, hanya dengan sekali melihat bagaimana caranya memandang. Aku biasa menyapanya Eq

Untunglah, saat itu aku berada di pos kesehatan. Sebuah pos yang strategis untuk berpura-pura menjadi bak seorang pahlawan. Sehingga, kans untuk menarik perhatian perempuan terbuka lebar. Tapi, asal tau saja, Ospek bukan satu-satunya waktu bagi sosoknya merebut hatiku.

Entah kenapa, aku dipertemukan lagi dalam sebuah latihan kader Himpunan Mahasiswa Islam. Saat itu aku baru tahu, Eq benar-benar sosok yang mampu membuat hari-hariku penuh warna. Lalu, story dimulai. Mulai dari beli tiket kereta, antar beli jajanan, jalan-jalan putar kota Semarang, beli makan, diskusi-diskusi kecil kita, pokoknya hampir setiap hari kami always in touch. Tak ada hari tanpa kami lewatkan berdua. Selama lebih empat tahun kami jalan, kami selalu tertawa bersama. Hidup ini benar-benar penuh warna.

Dan setahun terakhir ini, kami harus berpisah. Jarak memisahkan cinta kita. Aku masih bergelut dengan study dan pekerjaanku, sementara ia tak punya pilihan lain harus pulang ke kampung halamannya, Bekasi. Pun kini ia disibukkan dengan pekerjaan disalah satu Bank BUMN terkenal di Jakarta.

Hari ini, Ketakutanku akhirnya terjadi. Pertengkaran hebat itu meretakkan semua impian dan harapan yang selama ini kami bangun bersama. Aku pikir pondasi cinta kita begitu kokoh, hingga tak akan jebol hanya dengan sedikit riak gelombang masalah.

“Foto di Friendster,”Ujarku
“Aku tak pernah memasang foto dia di FS, yang aku bikin beberapa tahun lalu. Ia pikir aku tak mencintainya, dan ia pikir aku memberi harapan kepada perempuan lain selain dirinya,”kataku sedikit bergetar.

***

Foto adalah cerminan sejarah. Ia bisa saja menguntai kisah-kisah lampau. Kita bisa leluasa membuka album foto untuk mengenang masa lalu kita. Kita bisa temukan kembali suatu masa di mana kita pernah ada, tampil; dengan lagak pura-pura atau seadanya. Mungkin sudah itu ada dada yang bergetar, membara. Ada gairah yang membuat kita merasa utuh, merasa menjadi, lekat dengan hidup.

Harusnya aku memang pasang foto dia. Mungkin sebagai bentuk penegasan. Setidaknya menujukan, foto adalah cerminan status seseorang. Dan itu bisa dijadikan sebuah alasan, kenapa aku harus memasangnya. Dan sementara aku melupakan itu.

Tapi, asal tahu saja. Aku tak menyelipkan foto kekasihku itu, karena sebuah alasan yang menurutku idealis. Aku inginkan sebuah hubungan pertemanan (friend) dalam situs itu. Tentu saja friend dalam kehidupan maya. Hanya ada dalam sebuah dunia virtual saja. Cyber. Toh, kalau boleh membela diri, aku tak pernah menyebut status yang ada di situs itu sebagai orang yang single. Aku juga inginkan hubungan denganorang-orang yang aku sendiri tak pernah mengenalnya dengan baik sebagai Friend dan activity partner. Dan bukan relationship with woman.

Ada pemikiran begini. Dan ini bisa saja salah. Kesan pertama kali orang yang ingin memiliki jaringan pertemanan adalah, orang yang kita kenal good looking, kedua pintar dan asik diajak bicara. Secara psikologis lagi, kita akan leluasa mendapat banyak kawan jika kita tidak membawa-bawa hubungan pribadi kita ke orang yang kita kenal. Dalam arti, kita tak perlu harus berkoar-koar kita sudah berpasangan, untuk menumbuhkan kesan pertama. Meski pada akhirnya kita harus mengatakan itu.

Mungkin aku hanya menginginkan sedikit private room untuk aku mencari sebuah link dan kesenangan virtual. Namun, bukan berarti aku lantas melupakan hubunganku dengan kekasihku. Pada akhirnya beberapa kawan selalu menanyakan status. Dan asal tau saja, selalu aku kasih tahu, setidaknya agar mereka tau aku memiliki kekasih yang selama ini aku cinta. Dan, segala bentuk testi yang aku kirim, tak satu pun yang aku harapkan untuk menjadi sebuah jalinan yang serius. Karena memang bukan itu yang aku incar.

“Lantas itu kalian berpisah”
“Aku nggak tahu, mungkin ada alasan lain”jawabku mulai menyerah
“Kamu malu”
“Apa”
“Tak memasang foto kekasihmu”Tanya Zainal
“Tidak. Justru aku bangga punya kekasih seperti dia. Bagiku. kekasih tidak harus aku pamerkan ke khalayak,”dalihku.
“Dia cerminan sebuah kesempurnaan. Aku menghormatinya. Aku begitu memujanya. Hingga tak seorang pun boleh menjamah dirinya.
Apalagi aku pamerkan ke mana-mana, terlebih ini ke dunia maya,”tandasku lirih.
“Harusnya kamu bangga,”Sela Zainal.
“Ya. Aku harusnya bangga. dan benar-benar bangga. Kini aku pasang semua foto-foto kami berdua.” Tambahku

***

FS atau Friendster saat ini memang seperti menjadi demam bagi pengguna dunia maya. Sudah berapa puluh juta anggota FS yang tercatat dalam situs yang dikenalkan oleh Allen Smith itu. Karena potensi inilah, orang lantas berlomba-lomba untuk mencari teman. Terkadang, aku sering menjumpai beberapa dari mereka untuk mencari pasangan lewat FS.

Pasangan? Lewat FS? Huh.. bagiku itu hanya khayalan. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benakku untuk mencari pasangan lewat FS. Friendster memang diciptakan sebagai pendekatan terbaru dalam dunia cyber dating, tetapi bagiku dating dalam dunia cyber hanya sebuah kelucuan.

Mencari pasangan dalam FS adalah hal yang menyedihkan. Sepertinya kita hanya akan bersenang-senang dalam sebuah permainan virtual yang saya pikir tak akan mungkin menjelma menjadi sebuah hubungan yang serius. Mungkin bagi sebagian orang hal ini bisa salah, tapi bagiku, tetap saja konyol. Seperti tujuan FS to find your long lost friend, aku memposisikan diri sebagai lelaki yang mencoba mencari kawan. Ya, Kawan lama. karena asal tahu saja, kawan-kawan lamaku semburat entah kemana. Kawan adalah aset. Karenanya merupakan investasi yang berharga.

“Dan testi? Seperti yang menjadi biang masalah, seperti katamu”tanya Zainal
“Testi hanya sebuah cara untuk membina hubungan baik.
Sebuah perhatian. Bukan ketertarikan. Sekali lagi bukan untuk tebar pesona. Camkan itu”dalihku
“Seperti kitalah” lanjutku. “Terkadang kita saling berbagi. Saling traktir, atau menyisipkan oleh-oleh saat kita bepergian. Ya seperti itulah,”ujarku

Bermula dari sebuah keisengan untuk add kawan Eq di kantornya. Kawan satu ini adalah salah satu sahabat barunya. Dan aku, karena aku memposisikan diri untuk mencari teman sebanyak-banyak aku coba Add dia. Pikirku saat itu, FS adalah cara yang tepat untuk mengenal kawan dekat Eq.

Sepertinya, sebuah hubungan akan lebih lancar jika kamu bisa mengenal kawan dekat dari pasangan kamu. Hal itulah yang kemudian menuntunku untuk mencoba mengenal sahabatnya. Namun, sayang. Belum juga mengenal, baru Add saja, Aku seperti sudah dihakimi. Kawannya terlalu cepat menilaiku. Aku tak tau apa yang ia katakan padanya. Yang jelas, sejak saat itu hubunganku dengan dirinya retak. Aku seperti dihakimi. Sebuah penilaian yang bisa saja keliru. Karena aku pikir ia belum secara utuh mengenaliku. Dan Eq, lebih mempercayai kata-katanya dari pada aku yang sudah ia kenal lebih dari empat tahun.

Tiba-tiba, lelaki renta menghampiri. Ia menjinjing gerobak pikul. Mie rupanya. Kebetulan, sejak siang tadi, aku belum sedikit pun mengunyah makanan. Kami berdua putuskan untuk memesan dua piring mie goreng.
“Aku ambil minum lagi” Kata Zainal usai melirik teh botol yang kupegang nyaris tak ada yang bisa aku sedot.

***

Perbincangan berlanjut. Sembari mengudap mie, kami terus bercerita. Sesekali Zainal coba menghiburku dengan mengajak bercanda. Not good time, bro!!.

“Bagimana jika ada lelaki lain sof,”seloroh dia

Aku tersentak. Buru-buru aku ambil batang sedotan dan menyeruput teh botol. Mungkin Iya. Tapi bisa saja salah. Aku tak ingin buru-buru mengambil keputusan dengan menuduh orang. Aku harus bisa berfikir bijak dan jernih. Saat ini bisa saja aku berfikir demikian. Mengingatkan aku akan permintaan Eq untuk membuka SMS miliknya, saat aku menginap semalam di rumahnya. SMS dari kawannya itu terlanjur aku buka, dengan nada kalimat yang romantis dan manja.

“Atau ia takut kawin dengan kamu karena penghasilan misalnya?”
“Aku nggak tau.”
“Berapa gajimu sekarang”selidiknya
“Tak ada separuh dari gajinya sekarang,”
“Pantaslah ia meninggalkanmu. Kamu kere” ejek Zainal

Sepertinya bukan soal materi yang aku rasakan sekarang. Dari dulu. Dari aku mulai mengenalnya lima tahun lalu, ia tak pernah mempersoalkan materi. Ia tipikal gadis yang super irit. Bukan pelit. Dan karena itulah aku lantas jatuh hati padanya.

***


*Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk kita saling memahami, Beb!! Semoga kita bisa kembali berbagi, dan membuka pintu hati untuk saling memaafi.