peluk.jpg

Batavia, 9-15 november 2006

Siang seolah tak mau kompromi dengan kemelut yang ada di hati kami. Ini seperti kisah romantika remaja yang ada dalam novel-novel picisan. Sedikit sentimentil, namun aku alami. Dua tahun sudah kami dipisahkan oleh waktu. Dalam dua tahun yang berlalu tanpa bisa menatap indah bola matanya dan senyum yang selalu membuat hatiku bergetar itu, hanya ada kerinduan yang membatu. Mengeras, hingga pertemuan selama seminggu saja tak cukup untuk bisa melumerkan rindu di hati.

BEJ, 15/11 pukul 01.30.

Hal paling aku hindari dalam hidupku. Berpisah kembali untuk sementara waktu. Rengekan manja perempuan yang selalu membuatku bergetar. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kali. Air matanya memang tak pernah mengering.
Dan aku, aku selalu menjadi salah satu alasan kenapa ia leluasa meneteskan air matanya.

Usai seminggu di Jakarta, aku harus kembali. Janji yang harusnya aku tepai untuk selalu berdua dengan perempuan ini pupus sudah. Aku kembali meninggalkan dirinya untuk kesekian kalinya.

Dan siang itu, hari yang paling menyebalkan. Air matanya kembali mengalir. Tangan mungilnya mendekap tubuhku erat. Matanya yang basah membuat dadaku sesak. Tapi aku coba untuk tak mengeluarkan air mata (didepannya tentu saja).

Kamu tau, ky, aku enggan untuk mengeluarkan air mata di depan matamu. Meski usai aku antar kau dengan tatapan mataku, untuk kesekian kalinya, usai kau menghilang, mataku basah.

Uff.. aku benci mengarang kisah sentimentil macam ini. Begitu Picisan.