art-copy.jpg

jadikan aku yang kedua..
buatlah diriku bahagia..
walau pun kau takkan pernah kumiliki
selamanya…

—-Astrid [jadikan aku yang kedua]

Apa yang ada di hati perempuan kala mendengar dendang Astrid?

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan dengan muka merah mendatangi saya. Wajahnya nampak kesal. Saya langsung bisa menebak, pasti sedang ada masalah atau hal kecil yang membuat hatinya menjadi gundah
“Sial. Aku benci lagu Astrid. Setiap kali dengar lagu ini diputar, pengen saja aku banting ini radio,”katanya dengan nada tinggi.
Hm… benar saja
“Napa emang,”Kataku sedikit berpura-pura.
“Coba kau simak liriknya. Kalau aku mah gak sudi jadi yang kedua,”dengusnya kesal
Kawan saya satu ini perempuan. Namanya Eta. Ia salah satu sahabat yang mengerti saya. Eta yang saya kenal, selalu menggunakan logika dalam bertindak.
Beberapa hari ini, ia memang nampak gusar. Belum hilang kontroversi soal poligami, yang membuat darahnya naik, sekarang giliran lagu Astrid meledak. Sebenarnya lagu ini sudah meledak sejak beberapa bulan lalu. Hanya saja ia mungkin baru ngeh akhir-akhir ini. Maklum saja, ia salah satu tipikal perempuan yang gila kerja. Terutama di bidang sosial.
Saat ia datang, saya sedang duduk di sebuah cafe di bilangan Yogya. Cafe disini hampir semuanya menggunakan fasilitas hotspot. Jadi tinggal nongkrong, kita bisa bebas akses internet secara gratis. Tentu dengan membawa laptop sendiri.
Kebetulan saat itu saya usai kirim berita dan kini sedang duduk sendirian. Saya hanya ingin rileks. Maklumlah, beberapa hari ini banyak sekali acara yang harus saya datangi. Dan baru jam sembilan malam, laporan kelar saya kirim ke Jakarta.
“Sepertinya lagu itu merendahkan martabat perempuan,”Katanya dengan nada serius.
“Tengok saja, jadikan aku yang kedua. huh.. seperti tak ada lelaki lain saja,”
“hmmm…ya” jawabku singkat
Lagu ini sebenarnya enak didengar. Karakter Astrid dalam lagu ini nampak lebih sexy. Penyanyi dengan nama asli Astrid Sartiasari ini sebenarnya bukan penyanyi pendatang baru. Tahun 2005 lalu, ia pernah menelurkan album self title, meski tak begitu meledak dipasaran. Namun setidaknya ia berani bersolo karier dari pada nyanyi dari café ke café. Bahkan suara perempuan kelahiran 27 Januari 1982 itu juga pernah mengisi theme song di film Mirror.
Saya pernah bertemu Astrid saat menjadi bintang tamu di sebuah acara yang saya lupa namanya, sekitar dua tahun lalu di Semarang (semoga saja Astrid yang ini). Dibanding dulu, karakter suara Astrid saat ini jauh lebih enak. Apalagi kali ini Astrid membawakan lagu dalam kontes cilapop. Sebuah ajang reality show yang dihelat TV7 untuk mencari pencipta lagu berbakat.
Ajang cilapop ini sudah memasuki tahun kedua, dan lagu Jadikan Aku yang Kedua berhasil masuk 10 besar. Lagu ini memang simple, easy listening dan sangat ngepop. Alhasil, siapapun dengan mudah akan mampu membawakan lagu ini.
“Aku khawatir dengan liriknya. Bukan pada enak atau nggak-nya lagu ini dinyanyikan,”ujar Eta.
Bicara soal lirik, sebenarnya bukan hanya lagu ini saja yang cengeng. Saat ini memang banyak lagu-lagu yang bernada cengeng dan cenderung melemahkan kaum tertentu. Saya tidak tau, apakah ini demi pangsa pasar atau memang pengalaman pencipta yang menjadi “terlemahkan”. Simak saja ADA band dengan tembang Haruskah Ku Mati. Betapa lelaki pun sebenarnya sangat lemah jika berurusan dengan yang namanya cinta. Entah karena sebab apa, tapi justru anehnya banyak orang yang suka dengan lirik-lirik macam itu.
“Tapi, kondisinya sangat lain. Perempuan cenderung dilemahkan dengan kondisi. Sepertinya, perempuan makhluk yang sangat-sangat lemah. Ia terkonstruksi hanya menjadi pelengkap kaum lelaki. Dan itu sangat menyebalkan,”dengusnya.
Bisa jadi Eta benar. Khusus untuk lagu ini, nampaknya membuat merah telinga kaum perempuan yang ironisnya tengah berjuang dalam sebuah pengakuan kesetaraan gender. Mereka seolah ogah, jika lelaki mengusai dirinya.
Berbeda kondisinya dengan lelaki. Bagi lelaki, lagu Astrid seolah nampak sebagai sebuah “kemenangan”. Sebuah kemenangan telah menaklukkan hati perempuan yang lemah lembut yang harusnya patut untuk disayangi.
Tapi bagi perempuan? Sebegitu mudahkah hati perempuan ditaklukan. Dengan dalih cintakah? kenapa cinta selalu dijadikan alasan untuk tindakan yang tidak seharusnya dilakukan?
Cinta memang rumit. Tapi, jika memang karena cinta, kenapa kita rela untuk disakiti?

Terinspirasi demo aliansi perempuan dan postingan fian