bukit-boyo-itu.jpg

Warga Tak Lagi Ketakutan, Justru dijadikan Lokasi Wisata

Semburan gas di bukit Boyo desa Ngalang, Kec. Gedangsari, Gunung Kidul sedikit banyak membawa berkah bagi pemuda setempat. Lima titik semburan gas berbau belerang tersebut, bukan membuat warga waspada, justru dijadikan semacam objek wisata. Ujung-ujungnya, pemuda dan beberapa warga di dukuh Boyo pun ketiban rejeki. Mereka menjadi tukang parkir dan penjual tiban

Lokasi Dukuh Boyo agak terpencil memang. Dari kota Yogyakarta masih sekitar 30 Km lebih. Jalanan menanjak, melewati jalan utama menuju Wonosari Gunung Kidul. Meski lokasinya jauh, tidak menyurutkan niat orang untuk melihat fenomena alam ini. Warga masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya sepertinya begitu penasaran melihat sembilan titik (kini tinggal lima titik) semburan gas berbau belerang yang muncul secara tiba-tiba.

Adalah Adi Wiyono, 58, warga dukuh Boyo yang kali pertama menemukan lokasi semburan gas ini. Adi, adalah petani pemilik ladang garapan, tempat semburan ini berasal. Saat itu, Adi hanya ingin menggarap ladang yang ia tanami singkong seluas kurang lebih 250 meter persegi. Ladangnya memang berada di tepian tebing. Dan entah karena sebab apa, tiba-tiba ladangnya longsor. Longsoran tanah ini kemudian membuka rekahan tanah yang mengeluarkan asap berbau belerang.
Sebenarnya Adi abai dengan fenomena ini. Namun, jumat (6/12) kemarin, saat sedang melakukan aktifitas rutinnya meladang, tiba-tiba kepalanya pening. Adi membaui gas berbau belerang. Lama kelamaan gas tersebut menggangu pernafasannya, hingga nafas tua Adi tersenggal dan tak kuat berlama-lama di ladang. Saat itu lah, Adi kemudian berusaha mencari sumber bau dan menemukan sembilan titik sumber gas di ladang garapannya.

Melihat ada tanda-tanda tidak beres, Adi lantas bergegas menemui dukuh Boyo, Taslim Rekso, yang kebetulan, saat itu sedang menggelar rapat dibalai dusun Boyo. Adi lantas bercerita tentang penemuannya dan akibat yang ditimbulkan usai menghirup lama-lama gas tersebut. “Adi bilang dirinya seperti kesetrum, kepalanya pusing saat meladang,”jelas dukuh Boyo, Taslim,

Karena penasaran dengan cerita Adi, warga lantas berbondong melihat lokasi semburan. Dan benar saja, saat kali pertama di temukan, sembilan titik tersebut mengeluarkan gas berbau belerang. Bahkan, diseputar rekahan tanah yang menyemburkan gas seperti asap putih tersebut, tanahnya seperti terbakar. Beberapa titik terdapat batuan berwarna kehitaman.

Saat itu warga sontak khawatir. Dalam benak mereka, letupan sumber gas tersebut bisa berakibat layaknya bencana di Porong Sidoarjo. Maklum saja, warga seolah trauma melihat fenomana alam yang terus mengguncang negeri ini. Apalagi, semburan gas disertai lumpur layaknya di Sidoarjo banyak di temukan di ladang-ladang terbuka. “Warga sempat khawatir akan terjadi seperti lumpur Lapindo,”jelas Taslim.

Saat itulah, warga geger. Dukuh Boyo lantas melaporkan penemuan dan kegundahan warganya ke Kelurahan Ngalang, lurah Ngalang lantas melapor ke Camat Gedangsari. Polsek Gedangsari pun turun tangan, mereka membentangkan police line dengan harapan tidak ada warga yang mendekat. Baru setelah itu fenomena alam semburan gas itu tercium juga oleh media. Media membombardir penemuan sumber gas di ladang petani tersebut. Usai mendengar berita dari media, sejumlah pakar lantas berbondong-bondong meneliti fenomena ini.

Dari berita di media inilah, tak hanya pakar yang tertarik, warga masyarakat pun penasaran dan ingin membuktikan sendiri adanya semburan gas tersebut. Mereka datang tanpa mempeduli jarak yang harus ditempuh. Tak hanya satu dua pengujung, jumlah warga yang ingin menyaksikan fenomena alam ini pun semakin hari semakin bertambah.

Melihat potensi ini, pemuda setempat pun berinisiatif untuk menertibkan pengujung dengan membuat lokasi parkir untuk kendaraan roda dua dan empat. Meski masih sederhana, namun bisa membuat tertib parkir motor pengunjung.

Tak tanggung-tanggung, setiap harinya ada sekitar 500-an motor yang terparkir. Itu belum termasuk mobil yang jumlahnya bisa puluhan. Setiap satu motor berbayar Rp 1000, mobil Rp 2000. Cukup lumayan untuk kemudian dibagi rata dengan personil yang ikut menjaga parkir.

Salah satu pemuda setempat, Joko Tukijo mengatakan, setiap hari ada sekitar 1000 pengujung yang datang ke lokasi semburan. Pria ceking dengan rambut kriwil sebahu itu mengatakan, setiap harinya ada saja pengujung yang penasaran datang ke lokasi. Umumnya, mereka penasaran dengan adanya fenomena ini.

“Begitu muncul di koran, warga langsung berkunjung. Ramainya sih jumat sampai minggu, kemarin”jelasnya.
Santoso, warga Bantul, salah satu dari puluhan warga yang saat itu datang kelokasi semburan mengaku penasaran dengan kemunculan gas di ladang petani tersebut. Ia membaca koran dan melihat tayangan ini di televisi, sehingga menarik minatnya untuk berkunjung ke lokasi. “Sebenarnya hanya penasaran saja, soalnya terus diberitakan di media, meskipun kini hanya bersisa lima titik semburan saja,”katanya.
Semula, warga memang benar-benar ketakutan akan kemunculan gas berbau belerang ini. Namun, ketika pakar datang meneliti dan ribuan warga berkunjung untuk melihat lokasi ini, kekhawatiran warga bergeser menjadi harapan

“Tidak mungkin ada letupan lumpur seperti porong di Gunung Kidul. Batuannya saja berbeda. Itu hanya batubara muda yang terbakar, jadi seperti mengeluarkan gas berbau,”kata Kepala PSBA UGM, Sunarto, salah satu pakar geologi.

Dari statmen pakar inilah, kemudian warga setempat mulai bisa bernafas lega. Mereka lantas melihat peluang usaha dari tempat ini. Bahkan hanya berselang tiga hari saja, mulai dari tukang parkir hingga penjual makanan dan minuman tiban terlihat di sekitar lokasi. Padahal, letak lokasi semburan ini berada di bukit. Kini, warga pun memanfaatkan untuk membuka usaha dan tak lagi ketakutan.