siti.jpg

 

orang miskin, sabar ya!!

Perempuan itu duduk di tengah, diapit oleh lelaki-lelaki dengan dandanan trendi. microphone di depannya menyala merah. Sesekali, ia mengambil nafas panjang, lantas dihembuskan pelan.

Bibirnya bergetar. Ada nada-nada kekecewaan dalam pancaran wajahnya yang cantik dan bersih.

“Ini duit rakyat. Saya akan ambil tindakan tegas jika memang ada penyimpangan,” katanya tegas. Matanya menyorot tajam. Ada nada-nada penekanan dalam intonasi “tindakan tegas”.

Namanya Siti Fadilah. Ia saat ini menduduki jabatan Menteri Kesehatan. Ia nampak gusar. Ada sedikit masalah yang melilit program Asuransi Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (Askeskin) yang digagasnya.

Klaim rumah sakit untuk pengobatan orang miskin mendadak membengkak. Ada nada-nada kecurangan dalam klaim ini. Dana askeskin yang semula hanya ditargetkan Rp1,7 triliun, mendadak membengkak hingga Rp4,6 triliun. Angka yang cukup fantastis. Entah klaim rumah sakit benar atau tidak, saat ini Depkes sedang menyelidikinya. BPK dilibatkan.

“Benar-benar keterlaluan. Biar aparat penegak hukum yang turun tangan,” ujarnya gusar.

***

Saya hanya sibuk mencatat. Sesekali melihat Siti, sambil memutar otak. Beberapa kawan nyaris melakukan hal serupa.

Askeskin memang banyak masalah. Mulai dari susahnya orang miskin mendapat kartu Askeskin, hingga proses jual beli Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Konon, calo SKTM di rumah sakit kini merebak. Alhasil, orang kaya pun dengan mudah bisa mendapat SKTM. Orang miskin, sabar saja!  Mending lari ke paranormal, cukup bawa kopi dan gula, untuk mendeteksi penyakit.

Belum tuntas dengan SKTM penuh calo, kini Rumah Sakit (RS) yang berulah. Mereka menghamburkan resep untuk kemudian di klaim ke pemerintah. Jumlah klaim dari resep inilah yang konon dari penilaian Siti tidak wajar.

***

“Ini contohnya,” kata Siti. Tangannya menujuk bukti resep dokter yang ditengarai tidak wajar.

Resep itu fotocopy. Didalamnya, salah satu pasien mendapat obat yang harus di tebus di apotek. Galibnya, obat untuk pasien, satu resep berisi obat yang berbeda. Namun, resep ini agak aneh. Pasien mendapat obat yang sama dengan pabrikan berbeda, namun fungsi dan jenisnya sama.

Rinciannya begini. Dalam satu hari, pasien mendapat resep obat dengan isi tiga obat yang masing-masing obat terdiri dari tiga ampul. ironisnya, obat ini memiliki jenis dan fungsi yang sama, namun pabrikan berbeda. total, sembilan ampul yang harus di tebus oleh pasien.

Padahal, satu ampul obat ini. harganya Rp2,3 juta. Memang, pasien tidak bayar, karena ada jaminan askeskin. Namun, depkes menilai resep ini tidak wajar. Karena dalam satu hari, pasien di minta untuk menenggak obat sejumlah 9 ampul, dengan fungsi sama, namun beda merk.

“Ini yang membuat kita tak habis pikir. Apa dokternya atau apotekernya yang “bermain”, biar aparat hukum yang menyelidikinya,” tandasnya.

Ini memang modus baru, konon, baru tahun ini rumah sakit memakai “modus kejahatan” tersebut untuk melakukan klaim pemerintah. Alhasil, piutang Depkes untuk membayar biaya askeskin menjadi membengkak.

***

Saya sih tidak mempermasalahkan banyaknya biaya klaim rumah sakit untuk pengobatan rakyat miskin. Asal, peruntukannya memang sesuai dengan tujuannya. Namun, jika kemudian, RS “bermaian” untuk menggelembungkan dana klaim, tentunya sudah tak layak. Dan wajar, jika kemudian Siti gusar.

“Ini duit untuk rakyat kecil. Saya tidak rela jika duit ini dibuat main-main,” tandasnya berulang-ulang.

***

Saya hanya “terpukau”. Diam. dan tiba-tiba terbersit. Orang miskin memang selalu menjadi korban.

ah pusing ngurusin askeskin. Pusing mikirin orang miskin. Mending donlot lagunya SINTEN REMEN.

(Lucu. Liriknya tentang askeskin juga)