October 2007


selingkuhan2.jpg

Aku benci. Entah pada siapa..

Pada suara ranjang berderit di kamar sebelah, pada nyamuk yang terbahak-bahak ditelinga, pada tumpukan CD porno, pada ranjang berbau sperma, pada… ah entahlah.

Yang jelas, malam ini saya benar-benar tidak konsen apa-apa. Layar monitor masih putih bersih, Rani sudah lima kali mengulang Teluk Bayur, mbah Samirun sudah menyalakan speaker surau, tapi tetap saja jemari ini enggan bergerak. Enggan mengukir kata-kata.

Ide hanya keluar-masuk kepala. Menggoda, tertawa, lalu ngilang. Tadinya mau langsung tidur saja, tapi yang namanya ide itu, ia menggodaku. Enggan pergi meski aku berusaha menutupinya dengan bantal. Tapi lha kok malah buntu?.

Entahlah, semenjak aku kenal gadis itu, selalu saja ia hadir sebelum aku terlelap. Tersenyum, mengerlingkan mata, mengajak cerita duh…

Kamu belum tau sih, betapa dahsyat senyumannya. Dan kalau sudah terbahak.. aduh… jantung ini serasa copot. Matanya yang bulat jadi menyipit. Bibirnya yang ada tahi lalat, seperti dibiarkan bebas mengembang. Saya saja sampai kesengsem dibuatnya. Jatah tidurku diambil seporadis olehnya. Bangsat!!

“Kok lama nggak nongol mas,”

“Emm.. anu, kan pulang kampung kemarin,” jawabku gugup

Begitulah, setiap kali bertemu muka, saya gemetar dibuatnya. Padahal, sudah tujuh kali sejak kenal hingga sekarang, kita selalu ngobrol lama-lama. Pertama ketemu memang grogi, anak muda sekarang bilang nervous. Tapi lama kelamaan, hehehe… saya yang paling jago membuat dia gemetar.

Saya memang selalu dibuat gugup olehnya. Kadang juga berkeringat. Anaknya sukar ditebak. Kalau pas lagi ada mood, wuih… saya dibuat melayang-layang. Diciumi semua ujung syaraf, dibelai, sambil berbisik-bisik mesra. Tapi kalau lagi marahan, apalagi mau menstruasi, walah… mending nggak usah deket-dekat. Juteknya minta ampun.

Tapi kadang saya justru suka lho, kalau dia lagi ngambek. Keliatan gimana gitu. Sexy. Seperti pagi ini, saya kembali teringat padanya. Masih saja ia dengan lagaknya, mengaduk-aduk kepalaku, membuyarkan semua ide itu.

“Silvia, aku kesepian”

“Aku mau ngobrol ma kamu”

“Aduh, nggak bisa sekarang mas!,”

“Loh kenapa?, Nanti kita phone sex barang lima menitan,”

“Duh, aku lagi nemenin tamu, aku diajak keluar,”

“Bayarannya gedhe mas,”

“Lah, tapi…”

“Sudah mas, besok saja. Nanti langgananku malah marah,”

klik…

Dasar Pelacur!!! Saatnya Tidur.

 

Kemanggisan, 24 Oktober 2007

Advertisements

kiss me babe

Pagi buta di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Kabut tipis menerabas dinding-dinding kamar sewa, di sesela gegap gempita Memories Café. Beberapa bule bersendau dalam pelukan hangat buih bir, dalam irama Too Much Love Will Kill You yang apik dibawakan biduan berbalut hotpants hitam.

Pagi itu, ditengah dingin, dalam balutan syal cokelat, saya tak jenak tidur. Musik yang mendentam, tawa, dan lalu lalang peristiwa, membuat saya mesti tersadar. Gelisah, adalah bagian yang tak bisa lepas dari pekerjaan rutin saya.

Excuse me,”
Yes, ada yang bisa saya bantu,” jawabku gagap.

Namanya Jullie. Perempuan berusia 20 asal Perancis. Ia tinggal di pusat kota Paris. Konon, hanya 20 menit berjalan kaki dari rumahnya untuk menuju taman di Menara Eiffel yang terkenal itu. Rambutnya pirang, lurus, dengan mata biru mengkilat. Bibirnya tipis dan selalu tersungging.

Saya hanya duduk sendirian, menikmati lagu-lagu slow rock yang didendangkan kelompok musik, sebelum kemudian Jullie ada di sampingku. Mengenakan kaus putih tanpa lengan, Jullie nampak lebih muda dari bule seusianya.

“Saya kesepian. Saya butuh teman ngobrol,” dalihnya.
“Kebetulan saya lihat kamu juga sendiri,”
“Saya tak bisa tidur. So, I’m here,” jawabku.

Diam.
Too Much Love Will Kill You, memasuki bait akhir.

“Malam ini benar-benar indah. So romantic,” desahnya (more…)