kiss me babe

Pagi buta di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Kabut tipis menerabas dinding-dinding kamar sewa, di sesela gegap gempita Memories Café. Beberapa bule bersendau dalam pelukan hangat buih bir, dalam irama Too Much Love Will Kill You yang apik dibawakan biduan berbalut hotpants hitam.

Pagi itu, ditengah dingin, dalam balutan syal cokelat, saya tak jenak tidur. Musik yang mendentam, tawa, dan lalu lalang peristiwa, membuat saya mesti tersadar. Gelisah, adalah bagian yang tak bisa lepas dari pekerjaan rutin saya.

Excuse me,”
Yes, ada yang bisa saya bantu,” jawabku gagap.

Namanya Jullie. Perempuan berusia 20 asal Perancis. Ia tinggal di pusat kota Paris. Konon, hanya 20 menit berjalan kaki dari rumahnya untuk menuju taman di Menara Eiffel yang terkenal itu. Rambutnya pirang, lurus, dengan mata biru mengkilat. Bibirnya tipis dan selalu tersungging.

Saya hanya duduk sendirian, menikmati lagu-lagu slow rock yang didendangkan kelompok musik, sebelum kemudian Jullie ada di sampingku. Mengenakan kaus putih tanpa lengan, Jullie nampak lebih muda dari bule seusianya.

“Saya kesepian. Saya butuh teman ngobrol,” dalihnya.
“Kebetulan saya lihat kamu juga sendiri,”
“Saya tak bisa tidur. So, I’m here,” jawabku.

Diam.
Too Much Love Will Kill You, memasuki bait akhir.

“Malam ini benar-benar indah. So romantic,” desahnya

***

Memories Café, salah satu tempat nongkrong paling asik bagi bule macam Jullie. Di sepanjang jalan ini, semua tempat hiburan berjejar untuk bule “backpack” yang ingin menghabiskan malam disela kunjungannya ke Jakarta. Mulai dari hotel, restoran, club, billiard, warnet, café, hingga warung tenda, semuanya tersedia.

Pemprov DKI Jakarta sengaja membuat sepanjang jalan ini sebagai lokasi wisata malam. Tak heran jika kemudian geliat Jaksa baru terlihat ketika malam mulai menjelang.
“Kamu sering kesini? Sejak kapan tinggal di Jakarta,” tanyaku dengan eksen Inggris yang terbata-bata.

Kebetulan, saat ini Jullie sedang menikmati liburannya. Sudah sebulan lebih ia tiba di Jakarta. Dua bulan sebelumnya, perempuan berparas cantik ini tinggal di Bali. Ia dan dua kawannya jauh-jauh datang dari Paris untuk menikmati Indonesia. Konon di negaranya, meski ramai gosip tentang terorisme, tak menyurutkan niat Jullie dan kawannya untuk menilik Indonesia.

“Saya jatuh cinta dengan Indonesia. Ini kali ketiga,”

Ia teguk bir. Buihnya sedikit menempel di bibir mungilnya, lalu tergelak.

***
Kabut semakin menebal. Tanah masih basah sisa hujan menjelang petang—hanya ada dingin.

Jullie, perempuan yang kesepian. Ia dari Bali ke Jakarta atas ajakan teman laki-laki pribumi yang ia kenal di Pulau Dewata. Sekarang, tahun kedua hubungan mereka, yang sayangnya kandas dua pekan lalu.

Konon perempuan asal Perancis terkenal dengan gayanya yang manja dan “manis”. Tapi nampaknya Jullie enggan menyandang predikat itu. Ia bukan perempuan yang gampang tersedu, atau tipikal perempuan yang dengan mudah putus asa lalu menenggak banyak-banyak minuman di bar. Tidak, Jullie bukan perempuan semacam itu—meski terkadang ia sangat romantis dan piawai berpagutan.

“Saya tak pernah menangis ketika lelaki mencampakkan saya,” ujarnya. Matanya berbinar, seperti tak pernah ada masalah sebelumnya.

Dua botol bir habis kami pesan. Jujur, saya suka dengan perbicangan kecil kami yang ringan, dan penuh canda. Kami sama-sama kesepian memang, dan sepi membawa kami pada sebuah kehangatan di sebuah kamar sewa yang lagi-lagi terasa pengap.

Malam itu, Jullie nampak cantik ketika terlelap. Saya pandangi wajahnya lekat-lekat—lalu angin membisikkan kata untuk segera mendekapnya.

Jakarta, 18 Oktober 2007