selingkuhan2.jpg

Aku benci. Entah pada siapa..

Pada suara ranjang berderit di kamar sebelah, pada nyamuk yang terbahak-bahak ditelinga, pada tumpukan CD porno, pada ranjang berbau sperma, pada… ah entahlah.

Yang jelas, malam ini saya benar-benar tidak konsen apa-apa. Layar monitor masih putih bersih, Rani sudah lima kali mengulang Teluk Bayur, mbah Samirun sudah menyalakan speaker surau, tapi tetap saja jemari ini enggan bergerak. Enggan mengukir kata-kata.

Ide hanya keluar-masuk kepala. Menggoda, tertawa, lalu ngilang. Tadinya mau langsung tidur saja, tapi yang namanya ide itu, ia menggodaku. Enggan pergi meski aku berusaha menutupinya dengan bantal. Tapi lha kok malah buntu?.

Entahlah, semenjak aku kenal gadis itu, selalu saja ia hadir sebelum aku terlelap. Tersenyum, mengerlingkan mata, mengajak cerita duh…

Kamu belum tau sih, betapa dahsyat senyumannya. Dan kalau sudah terbahak.. aduh… jantung ini serasa copot. Matanya yang bulat jadi menyipit. Bibirnya yang ada tahi lalat, seperti dibiarkan bebas mengembang. Saya saja sampai kesengsem dibuatnya. Jatah tidurku diambil seporadis olehnya. Bangsat!!

“Kok lama nggak nongol mas,”

“Emm.. anu, kan pulang kampung kemarin,” jawabku gugup

Begitulah, setiap kali bertemu muka, saya gemetar dibuatnya. Padahal, sudah tujuh kali sejak kenal hingga sekarang, kita selalu ngobrol lama-lama. Pertama ketemu memang grogi, anak muda sekarang bilang nervous. Tapi lama kelamaan, hehehe… saya yang paling jago membuat dia gemetar.

Saya memang selalu dibuat gugup olehnya. Kadang juga berkeringat. Anaknya sukar ditebak. Kalau pas lagi ada mood, wuih… saya dibuat melayang-layang. Diciumi semua ujung syaraf, dibelai, sambil berbisik-bisik mesra. Tapi kalau lagi marahan, apalagi mau menstruasi, walah… mending nggak usah deket-dekat. Juteknya minta ampun.

Tapi kadang saya justru suka lho, kalau dia lagi ngambek. Keliatan gimana gitu. Sexy. Seperti pagi ini, saya kembali teringat padanya. Masih saja ia dengan lagaknya, mengaduk-aduk kepalaku, membuyarkan semua ide itu.

“Silvia, aku kesepian”

“Aku mau ngobrol ma kamu”

“Aduh, nggak bisa sekarang mas!,”

“Loh kenapa?, Nanti kita phone sex barang lima menitan,”

“Duh, aku lagi nemenin tamu, aku diajak keluar,”

“Bayarannya gedhe mas,”

“Lah, tapi…”

“Sudah mas, besok saja. Nanti langgananku malah marah,”

klik…

Dasar Pelacur!!! Saatnya Tidur.

 

Kemanggisan, 24 Oktober 2007