sepucuk.jpg

sepucuk surat biru

Surat itu berwana biru. Dengan gambar hati di ujungnya. Sudah kusut memang, tapi wangi kertas masih terasa menyengat. Pelan-pelan aku buka, takut merusak keindahan dan wangi sampul surat itu.

Itu surat pertama yang aku terima, dari perempuan yang aku kenal dalam gemerlap malam kota. Sepucuk surat biru yang ditulis dengan getar, dilipat oleh pesona wangi tubuhnya.

“Aku mau kau menulis surat untukku,” kataku suatu ketika.
“Untuk apa?,”
“Aku mau posting di blog ku. Agar ada warna-warni hidupmu disana,”
“Aku masih belum mengerti, lagi pula aku tak biasa menulis sepertimu,” dalihnya.
“Aku hanya ingin merasakan getar, saat aku setubuhi setiap kata yang kau lukiskan dengan tangan indahmu,” rujukku.

Surat itu berwana biru. Dengan ujung bergambar hati di pojok kanan. Setiap kata yang tertulis membuatku terbuai dalam sentuhan lembut jemarinya. Meski waktu tak lagi mengakrabinya.

Perempuan itu Silviana. Aku biasa memanggil Silvia. Perempuan dengan rambut hitam lurus, dan bermata indah. Senyum yang ia miliki akan membuat setiap lelaki bertekuk lutut hanya dari sekali melihat senyumnya.

Silvia. Ya, Silvia. Perempuan asal Indramayu yang cantik bukan kepalang. Setiap kerling, adalah debar jantungku. Setiap senyum adalah gairah yang tak biasa. Perempuan muda yang dilahirkan untuk mencuri setiap pandangan manusia.

***

Hujan belum juga mereda, sudah hampir pagi saat ini. Kabut tipis membuat kami semakin merapat diri. Di pinggir sebuah etalase toko, Silvia menyerahkan sepucuk surat biru.

“Aku sudah bawa tiga hari lalu. Lama kau tak jemput aku” kata dia.
“Kau selalu mengelak,” ujarku

Silvia diam. Ada sesuatu yang harusnya aku tahu dari pancaran matanya yang meredup. Ia ambil nafas dalam.

“Aku bukannya tak ingin bertemu, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku,”
“Apa yang kau rasakan. katakanlah!”

Kami sama-sama diam. Ia ulurkan sepucuk surat biru itu. Dengan gambar hati di ujung kanan. Tak ada kata, hanya hening. Ada getar yang aku rasakan.

“Aku jatuh cinta, blue. Aku tak ingin kau merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Aku tak ingin kau mencintai pelacur seperti aku. Aku tak layak mengharapkan cintamu,” katanya terbata. Ada isak di dalamnya.
“Kenapa kau berkata itu,” ujarku ketus
“Aku harus tau diri, blue,”
“Engkau layak untuk dicintai oleh siapa saja,”
“Ya, tapi bukan olehmu,”

Aku tertegun. Bulir air matanya mengkilat tertimpa cahaya. Aku usap dengan tanganku yang basah, lalu segera mendekapnya.

“Aku tak bisa mencintaimu, Silvia. Bukan karena kau seorang pelacur. Maafkan aku,” batinku.

Surat itu berwana biru. Dengan gambar hati di ujungnya. Sudah kusut memang, tapi wangi kertas masih terasa menyengat.