New Ngelepen Village
oleh Sofianblue

rumah-telletubies.jpg

Rumah Telletubies 

”INI luar biasa. Lebih kokoh dibanding rumah tradisional,”kata lelaki berjas hitam itu lirih.Matanya terus menapaki sejengkal demi sejengkal detail rumah dome di Dusun Ngelepen (Sengir), Desa Sumberharjo,Kec Prambanan, Kab Sleman.

Tak jarang, dia tersunggut sambil berdiskusi dengan rombongan yang dia pimpin. Lelaki itu bernama Yusuf Asy’ari.Dia juga Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) yang datang ke Sengir untuk meresmikan kompleks rumah dome. Dia begitu mengagumi struktur bangunan rumah dome.Dan tentunya,ide pembangunan dome di tengah lahan yang semula kebun tebu tersebut. Rumah ini dibangun atas sumbangan World Association of Non-Governmental Organizations (Wango) dengan donatur tunggal Muhammad Ali Alabar. Alabar adalah pemilik Emaar Property Dubai, Uni Emirates Arab.

Rumah dome. Seperti namanya, rumah ini berbentuk setengah lingkaran yang telungkup. Kalau Anda atau anak Anda penggemar serial boneka telletubies yang booming beberapa waktu lalu, tentunya akan mudah mengingat rumah tokoh Winky, Dipsy, Lala, dan Pooh itu. Ya, bentuk rumah ini memang unik. Mengingatkan akan rumah igloo, milik suku Eskimo. Bentuknya bulat, seperti parabola telungkup. Desa ini semula tak ada yang mengenal. Dusun Ngelepen berada di kaki perbukitan yang memanjang dari Bantul ke Klaten.

Dusun ini berada di pelosok. Dari jalan utama Solo-Yogyakarta, masih membutuhkan perjalanan lebih dari tujuh kilometer. Semenjak gempa 27 Mei silam, 71 rumah di Dusun Ngelepen yang ada di kaki bukit nyaris tidak layak huni. Hingga kemudian LSM Wango berbaik hati melakukan uji pembuatan rumah dome untuk relokasi warga Ngelepen. Kini kompleks rumah dome sudah kokoh berdiri. Sebuah pemandangan yang fantastik jika melihat jejeran rumah dome ini dari ketinggian. Seperti telur angsa yang tercecer. Sayang jika,keberadaan rumah dome ini dibiarkan hanya sebagai rumah tinggal biasa.

Pemkab Sleman sebagai pemerintah yang mengelola wilayah Prambanan,tentunya harus berpikir keras menjadikan kompleks rumah dome ini sebagai aset wisata. Potensial memang, jika wilayah ini dijadikan aset wisata. Konsep desa wisata, sepertinya paling cocok untuk New Ngelepen Village (sebutan terkini Desa Ngelepen). Seperti dikatakan Yusuf Asy’ari.”Ini bisa dijadikan aset wisata, jika dikelola dengan baik,” kata Yusuf, kala itu.Ya wisata. Dan jika dikelola dengan baik. Bayangkan, meski lokasinya agak menjorok, tetapi selama masih di Yogyakarta, lokasi ini masih bisa terjangkau untuk dijadikan paket wisata.

Jarak dari Candi Prambanan saja hanya sekitar 7-10 km.Lebih dekat lagi Candi Boko, yang hanya sekitar 5 km. Dua candi ini toh juga menyedot perhatian wisatawan selama ini. Jika wisatawan ingin melihat rumah dome sekaligus mengunjungi candi-candi itu, tak memakan waktu 30 menit perjalanan untuk sampai di lokasi. Rumah dome ini satu-satunya di Indonesia. Bahkan di dunia, hanya ada lima negara yang memiliki rumah dome.Kali pertama di bangun di India, Nikaragua, Haiti, Paraguay dan terakhir di Indonesia. Jika hanya ada lima negara yang punya, betapa beruntungnya kita.

Wisatawan asal Jepang,Australia, Belanda yang notabene paling banyak mengunjungi Yogyakarta, tentunya akan tertarik untuk menyambanginya. Tawaran bermalam di rumah dome,sembari menyantap makanan tradisional, plus sejumput pemandangan akan jadi tawaran mengasyikkan. Biarkan saja alami. Warga biarkan menjadi tuan rumah yang melayani dengan keramahannya. Atau jika perlu ada pengelola dusun atau pelaku wisata yang kemudian menawarkan paket-paket menginap plus jalan-jalan mengitari perbukitan. Tracking ke bukit atau outbond mungkin bisa dikembangkan di sini. Toh, di sekelilingnya, banyak perbukitan yang siap untuk didaki.

Setiap wisatawan yang menginap, boleh saja ditemani oleh tuan rumah. Jika tak ingin, pemilik rumah bisa diungsikan sementara waktu ke rumah tetangga.Lalu sewanya bisa dibagi rata. Toh ujung-ujungnya juga untuk menaikkan taraf hidup warga desa, selain hanya mengandalkan panenan. Jika ingin lebih mantap, beri warga desa dengan kursus pendidikan bahasa Inggris. Seperti konsep Desa Bahasa, di Borobudur, Kab Magelang.

Semua warga diberi pendidikan bahasa Inggris agar mereka bisa melayani tamu wisatawan asing yang kelak jika mereka menginap tak putus komunikasi. Semua itu mudah saja diwujudkan jika ada kesungguhan.Tak hanya Pemkab Sleman yang harus turun tangan.Warga dan insan pariwisata tentunya memiliki andil besar untuk mewujudkan itu semua. Jika itu semua bisa terwujud.Saya percaya, rumah dome akan menjadi aset wisata yang sangat-sangat potensial.Welcome to New Ngelepen Village. (*)

Artikel ini pernah dimuat di harian Seputar Indonesia