January 2008


ciblek.jpg

3 Januari 2008. Rembulan memucat tertutup awan. Dilorong cahaya, ditengah hingar kota, saya menyempatkan duduk di beton pembatas trotoar dan selokan di kota kelahiran saya. Malam itu, kebetulan saya tak sendiri, ada kawan yang meluangkan waktunya mengisi hari sembari mengais tabir kenangan bersama.

Duduk kami di Jalan Pandanaran, Semarang. Bercak kubangan sisa hujan sejak sore, indah terpantulkan cahaya.

Pantulan cahaya mengenai relung hati saya. Mengalirkan daya imajinasi dan langsung menyerang daya kenang. Ya, beberapa tahun lalu, saya pernah duduk persis disini. Tempat saya duduk saat ini, dulunya dipakai untuk lokasi nongkrong perempuan-perempuan yang menjajakan diri. Istilahnya Ciblek Semarangan atau cilikan betah melek (ciblek).

Sering saya nongkrong bersama mereka, menghabiskan malam dengan cekikikan tak henti-henti. Tugas peliputan yang diminta redaktur tempat saya bekerja mengharuskan saya mesti banyak bergaul dengan mereka. Ada Lusi, Mimin, Sila, Eva dan banyak gadis-gadis muda lainnya. Umumnya dari desa. (more…)

Advertisements

lilin0lilin.jpg

Maaf cinta, jika lilin pun tak ada..

Maaf cinta, aku telah menyelingkuhi dirimu. Mengobarkan aura neraka dalam hari-hari yang menyesatkan.

Maaf Cinta, aku menduakanmu. Dalam pekerjaan yang sering kali membuatmu menunggu. Nyaris tak ada waktu untuk melumat hari-hari dalam percintaan kita.

Maaf Cinta, jika perjalanan cinta kita sering kali ternoda dengan kata-kata yang menyakitimu. Bukan maksud hatiku untuk membuat hari-harimu kelam.

Hari ini, mari kita mulai dengan lembar yang baru. Karena kau telah dilahirkan didunia ini.

Mari kita rajut permadani dunia dengan warna-warni yang indah. Kita rajut dengan benang-benang paling istimewa yang pernah dibuat di dunia. Aku tau kau perajut yang ulung, dan aku ingin selalu menemanimu. Karena aku yakin, Tuhan telah melahirkan dan mengirimkan kamu untuk aku.

 

Selamat mengulang hari, Honey!!

 

 

lokok.jpg

Saya terperangah. Sama ketika kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta, saat harus berjejal dan bersusah-susah menembus kemacetan ibukota. Saya terperangah, ketika jalan yang lebar itu tiba-tiba dicor untuk dijadikan jalur bis. Saya terperangah, tatkala trotoar yang bawahnya saluran air itu, tiba-tiba di bongkar untuk ditanami kabel optic. Hingga saya yang suka berjalan kaki ini, harus ikut bergelut menembus kemacetan jalan bersama sepeda motor yang menggeber-geber asap knalpot di pinggir jalan yang menyempit.

Saya masih saja terperangah, ketika angkutan kijang warna biru itu dengan seenaknya menerabas lampu merah. Saya semakin terperangah ketika tiba-tiba air bah meruap di jalanan meski hujan baru sebentar datang.

Saya terus saja terperangah, saat melihat polah tingkah sesama saya itu. Tapi, orang yang sering membuat saya terperangah adalah manusia yang saya kenal bernama Yono. Lelaki berambut gondrong, kriwil itu membuat batin saya ngilu, karena sering dibuat terperangah oleh tingkah lakunya yang ajaib. Jantung saya tak hanya dibuat berdenyut-denyut karena kaget, tapi sudah sering dibuat meledak.

Mungkin bagi sesama saya, tingkah dia ini tergolong biasa, karena sering dilakukan oleh orang-orang. Tapi bagi saya, hal-hal sepele yang kadang diluar nalar itu tetap saja membuat saya terperangah. Tak henti-henti mengusap dada, sekedar menenangkan hati. (more…)