lokok.jpg

Saya terperangah. Sama ketika kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta, saat harus berjejal dan bersusah-susah menembus kemacetan ibukota. Saya terperangah, ketika jalan yang lebar itu tiba-tiba dicor untuk dijadikan jalur bis. Saya terperangah, tatkala trotoar yang bawahnya saluran air itu, tiba-tiba di bongkar untuk ditanami kabel optic. Hingga saya yang suka berjalan kaki ini, harus ikut bergelut menembus kemacetan jalan bersama sepeda motor yang menggeber-geber asap knalpot di pinggir jalan yang menyempit.

Saya masih saja terperangah, ketika angkutan kijang warna biru itu dengan seenaknya menerabas lampu merah. Saya semakin terperangah ketika tiba-tiba air bah meruap di jalanan meski hujan baru sebentar datang.

Saya terus saja terperangah, saat melihat polah tingkah sesama saya itu. Tapi, orang yang sering membuat saya terperangah adalah manusia yang saya kenal bernama Yono. Lelaki berambut gondrong, kriwil itu membuat batin saya ngilu, karena sering dibuat terperangah oleh tingkah lakunya yang ajaib. Jantung saya tak hanya dibuat berdenyut-denyut karena kaget, tapi sudah sering dibuat meledak.

Mungkin bagi sesama saya, tingkah dia ini tergolong biasa, karena sering dilakukan oleh orang-orang. Tapi bagi saya, hal-hal sepele yang kadang diluar nalar itu tetap saja membuat saya terperangah. Tak henti-henti mengusap dada, sekedar menenangkan hati.

Bagaimana tidak, selain suka menyela bicara orang, dia ini orang yang tidak menyukai aturan. Dia sering mengakali aturan yang kata dia, membuat susah dirinya. Contohnya, soal menerabas lampu merah. Kawan saya itu paling benci jika sudah ketabrak lampu merah. Pasti dia memaki-memaki. Jika dari hijau ke kuning, bukan mengurangi kecepatan, kawan saya itu justru menggeber gas kencang-kencang. Menambah kecepatan hingga saya yang sering membonceng, ngeri. Hingga tak jarang harus menutup mata.

Terkadang, walau masih merah, jika arus lalu lintas sepi, kebiasaan dia adalah menerobos. Sering kali ia meruntukinya “Memakan waktu saja,”

Padahal, kalau saya pikir-pikir, dia ini termasuk orang yang tidak suka ngebut. Jadi, meski dia menerobos lampu merah, kendaraan yang ada di belakang yang tadinya terhenti di lampu merah, sering kali nyalip. Jadi menurut saya, sama saja boong, karena menerobos lampu merah tidak membuat dia bergegas sampai tujuan. Saya sering mengurut dada kalau ingat kebiasaan dia.

Kalau mau tau, kawan saya itu bekerja sebagai mekanik bengkel. Jadi kalau motor butut saya ngadat, ia orang pertama yang sering saya buat repot. Dia ini perokok berat. Nggak di jalan, nggak nonton tivi, asap rokok selalu mengepul dari bibirnya yang menghitam. Sering ia membentuknya menjadi lingkaran-lingkaran asap di angkasa. Bibirnya yang hitam, ia monyong-monyongkan, lalu.. bussss…. Asap itu keluar membentuk lingkaran. Saya suka geli sendiri kalau melihat bentuk mukanya yang monyong itu.

Nah, puncak keterperangahan saya itu terjadi beberapa hari lalu, ketika motor saya tiba-tiba ngadat. Dengan bergegas, saya dorong motor itu ke bengkelnya. Agak sepi memang, karena ini masih pagi.

Ia bongkar-bongkar itu mesin motor saya. Ia bersihin karburator, cek busi hingga ganti oli. Bibirnya masih saja terselip sebatang rokok kretek dengan garis kuning. Sesekali ia monyongkan bibirnya. Bussss…..

Nah, mungkin karena memang tidak tahu atau lupa, tiba-tiba ia letakkan rokok itu di lantai yang… ya ampun.. itukan bekas kubangan bensin. Hingga entah bagaimana, tiba-tiba percikan api langsung membakar, menjalar hingga nyaris membakar kiosnya.

Untung api tidak lebih besar. Hanya kotak kunci-kunci dan sekrup yang terbakar. Dan itu tidak membuat kawan saya satu ini kapok. Keesokannya, tetap saja ia menggemari kebiasaannya itu. Bibirnya yang menghitam ia monyong-monyongkan, lalu busss… busss… asap-asap itu pun keluar dari bibirnya hingga membentuk lingkaran. Biasanya setelah itu ia terkekeh-kekeh…..

Makin terperangah lah saya!!!

 

 

Kemanggisan, 4 Januari 2008