ciblek.jpg

3 Januari 2008. Rembulan memucat tertutup awan. Dilorong cahaya, ditengah hingar kota, saya menyempatkan duduk di beton pembatas trotoar dan selokan di kota kelahiran saya. Malam itu, kebetulan saya tak sendiri, ada kawan yang meluangkan waktunya mengisi hari sembari mengais tabir kenangan bersama.

Duduk kami di Jalan Pandanaran, Semarang. Bercak kubangan sisa hujan sejak sore, indah terpantulkan cahaya.

Pantulan cahaya mengenai relung hati saya. Mengalirkan daya imajinasi dan langsung menyerang daya kenang. Ya, beberapa tahun lalu, saya pernah duduk persis disini. Tempat saya duduk saat ini, dulunya dipakai untuk lokasi nongkrong perempuan-perempuan yang menjajakan diri. Istilahnya Ciblek Semarangan atau cilikan betah melek (ciblek).

Sering saya nongkrong bersama mereka, menghabiskan malam dengan cekikikan tak henti-henti. Tugas peliputan yang diminta redaktur tempat saya bekerja mengharuskan saya mesti banyak bergaul dengan mereka. Ada Lusi, Mimin, Sila, Eva dan banyak gadis-gadis muda lainnya. Umumnya dari desa.

Mereka terang-terangan memburu lelaki-lelaki yang mampir di kedai poci yang biasa mereka jadikan tempat nongkrong. Kedai teh poci ini hanya dalih semata, karena kerja mereka sebenarnya adalah mencari rejeki “menemani” lelaki. Terkadang—meski mereka sedang menemani pembeli—kalau ada pengendara mengajak kencan, dengan segera mereka main tawar ditempat. 300 ribu, 250 ribu, 200ribu, atau kalau pas sepi 150 ribu juga mereka layani. Tergantung negosiasi dan kondisi.

Teh poci, simpang lima, ciblek dan prostitusi memang sempat menghampiri kota ini. Bagai lingkaran setan tanpa henti, semuanya dengan gampang bisa dicari. Dijerat, dirayu-rayu untuk kemudian eksekusi. Namun, semenjak Semarang Pesona Asia (SPA) yang dihelat pemerintah kota Semarang medio 2007 lalu, nyaris tidak ada lagi teh poci dan prostitusi. Ciblek simpang lima sepertinya terusir paksa. Komunitas ciblek yang paling dicari-cari itu punah di kota ini. Untuk mencarinya, susahnya minta ampun.

Beralih profesi kah mereka ini? Menjadi penjual nasi penyet? Penjahit, atau pekerja salon?

TINN.. tinn…
Saya terperanjat. Khayalan saya sontak terhenti. Suara klakson motor itu membuyarkan lamunan saya. Tepat ketika saya sedang melamunkan kemana tawa komunitas ciblek itu.

Bau angin dini hari semakin segar, tak nampak lagi rembulan karena sudah tertelan awan sepenuhnya. Itu perempuan mengenakan cardigan lengan panjang merah, langsung melemparkan senyumnya pada saya. Berboncengan dia. Dibelakangnya perempuan juga, sebaya. Rambutnya cepak, kali ini berkaca mata. Yamaha Mio hitam menjadi tunggangan mereka. Pukimak. Samar-samar saya mengenalnya. Lalu, berlalu.

“Kenal, bro?” tanya kawan saya.
“Asu, ora ndes!,”

Sekali. Hingar lalu lintas membawa mereka pergi. Lalu muncul lagi, pelan motor mendekat. Perempuan, kali ini cantik. Lagi-lagi berboncengan. Rokok putih terselip disela jemari. Mendekat, lebih dekat dan dekat. Bibir merahnya tersungging. Berdua mereka hanya melihat, mengerling, menggoda, lalu kembali berlalu.

Dua kali, tiga kali, empat kali hingga berkali-kali saya menemui hal serupa. Orangnya berbeda-beda tapi terkadang orang yang sama. Berputar-putar mereka. Tebakan saya, “Geng motor” perempuan itu sepertinya sedang mencari mangsa. Siapakah mereka?

NAMANYA Cak Imin. Penjual sate ayam keliling. Cak Imin asli Bangkalan Madura. Kebetulan tengah malam itu, dia habis keliling menjajakan dagangannya. Saya hentikan, dan memesan dua porsi sembari mencuri-curi informasi.

“Itukan ciblek yang sering nongkrong di teh poci mas,” kata Cak Imin.
“Ohhh..”
“Sejak setahun lalu, tak ada lagi ciblek yang nongrong di Simpang lima,”
“Ohhh..”
“SPA mengusir mereka. Satpol PP maen garuk, mereka dianggap sebagai sampah yang merusak citra SPA. Termasuk kedai teh poci. Sekarang mana ada teh poci. Simpang Lima, Jalan Pandanaran, bersih. Habis”
“Ohhh..”

Kata Cak Imin, sebelum SPA digelar, komunitas ciblek sempat menghilang beberapa bulan. Keberadaannya nyaris tak terdeteksi. Namun masalah perut tidak bisa dibohongi. Pemerintah tidak memiliki rencana untuk menyalurkan mereka. Ironisnya, tak ada keahlian lain dari ciblek-ciblek ini untuk bekerja di bidang lain. Alhasil, usai SPA diresmikan oleh Presiden SBY, mereka kembali beraksi.

Tetapi mereka tak lagi nongkrong, terang-terangan menjajakan diri. Dengan cerdik, mereka memanfatkan motor untuk berputar-putar mengais rejeki. Setiap ada mobil merapat pelan dan berhenti di pinggir jalan, kupu-kupu malam itu dengan riang menghinggapinya. Memamerkan keindahan sayap miliknya dan melemparkan kerling nakal nan mengoda. Penumpang mobil pun dengan sigap menjaring kupu-kupu itu. Maen tawar atau sekedar menggoda.

“Itu juga untuk menghindari dari kejaran Satpol PP. Begitu ada satpol lewat, mak wuss.. mereka juga langsung bisa ngebut,” kekeh Cak Imin.

Cerdik juga. Lagian Satpol PP juga tidak akan berani maen tangkap seenaknya. Apa dasar menggaruk mereka? Toh dalam melaksanakan aksinya, mereka menggunakan helm. Lengkap. Nyaris tanpa ada pelanggaran lalu lintas. Jika satpol PP beraksi menggaruk mereka, lalu salah tangkap, bagaimana? Bisa-bisa pegawai kantoran sepulang lembur tertangkap juga.

“Ya begitulah mas, harus jeli. Memang nggak bisa dibedain. Ini satenya mas,”
“Berapaan emang, Cak?,”
“Sepuluh ribu,”
“Hah… Murah kali cak!! Sekali eksekusi itu?” kata saya setengah kaget.
“Eh, apa? Mbak-mbak itu? Kalo itu tergantung nego mas. 100 ribu ampe 400ribuan lah,”
“Ohhh..”

Cak Imin nyengir. Saya nyengir. Kawan saya ngakak.

Kemanggisan, 24 Januari 2008