February 2008


Gadis itu tertidur di pangkuanku, setelah tangis yang mengeringkan air matanya. Rambutnya tergerai menutupi wajah lembutnya. Pelan-pelan aku belai, lalu mencium lembut keningnya.

Dalam hening, lirih aku nyanyikan sebuah lagu.

Oh betapa ku saat ini, ku benci untuk mencinta. Mencintaimu..
Oh betapa ku saat ini, ku cinta untuk benci. Membencimu..

Aku tak tau apa yang terjadi, antara aku dan kau..
Yang ku tau pasti, ku benci untuk mencintaimu..

“Maafkan aku sayang. Selamat tidur,”

Advertisements

cangkir.jpg

 

Meja bulat itu berwarna coklat. Hanya ada dua cangkir cappuccino mengepul, dan beberapa kue kering. Diluar sepi, tak ada lalu lalang. Ruangan sudah gelap, cahaya lilin di pojok tak cukup menerangi kegelisahan hati kami.

Dalam cahaya remang, aku tak bisa melihat paras cantik perempuan itu. Rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Hanya bibirnya yang memerah samar terlihat olehku dalam gelap.

Pun hanya wangi aroma tubuhnya yang dapat aku rasakan kehadirannya. Ah.. wangi itu. Wangi aroma tubuh itu membuat aku ingin mendekap lama-lama. Wangi yang membuatku seolah melayang seketika, seharum cappuccino kesukaan kami.

“Kalau ada masalah ngomong donk, beb!” ujarku hati-hati. Takut menyakiti perasaannya. “Aku telp, SMS, kau tak pernah angkat, apalagi menjawabnya. Apa sih susahnya berterus terang? Bukankah kau paling suka membalas SMS-SMS itu dengan riang, dengan tawa yang selalu kurindukan?,”

Perempuan itu diam. Ia justru memalingkan wajahnya. Kali ini sama sekali tak terlihat olehku pesona kecantikan perempuan berdarah keturunan ningrat bercampur Jepang itu. (more…)

 

Malam semakin dingin. Tak ada bintang, pendar bulan juga hilang, tiba-tiba gerimis. Saya pandangi jarum jam. Saya tercekat.

“Ada perubahan pada diriku gak bro?,”

“Hmm..bentar!,” kata lelaki itu. Ia pandangi diriku dari ujung rambut sampai kaki. Tubuhku ia putar-putar. Matanya menelisik tajam

“Emange kau kenapa dab?,”

“Gaya bicara, sikap, penampakan fisik?. Kagak ada yang berubah kan?,” tegasku

“Emang kau kenapa?,” ulangnya.

“Gak napa-napa siy. Cuman nanya aja. Benar, malam ini gak ada yang berubah?”

“Hasyah.. mboh ra ruh..”

Tak ada apa-apa ternyata. Aku pikir akan terjadi perubahan yang frontal. Puff…..

Asssuuuuuu!!!!!

*sorry, hari ini saya lagi mangkel (bagi anda yang enggan membaca kata-kata kasar seperti ini lebih baik jangan buka dan membacanya. Sumpah, ini bukan tentang anda) (more…)

nuklir.jpg

 

Three Mile Island Nuclear Power Plant

 

Pripyat, Ukraina 26 April 1986. Orang-orang masih lelap dalam tidurnya, ketika beberapa ilmuwan nuklir di pembangkit listrik Chernobyl (Chernobyl nuclear power plant) sedang melakukan uji laboratorium. Jarum jam baru bergerak di angka 01:23 dini hari waktu setempat, ketika tiba-tiba reaktor keempat pembangkit listrik tenaga nuklir itu meledak.

Di pinggir kota, tiga kilometer dari pembangkit listrik, wilayah berpenduduk 50 ribu orang sontak terjaga. Dentuman reaktor yang meledak, melepaskan partikel radioaktif yang konon 400 kali lebih dahsyat dari bom yang dijatuhkan tentara Amerika di tengah kota Hiroshima dan Nagasaki.

Meledaknya reaktor ini, membakar pembangkit listrik hingga sepuluh hari. Tak hanya itu, sekurangnya 142 ribu kilometer persegi di utara Ukraina, selatan Belarusia dan wilayah Bryansk di Rusia langsung dinyatakan terkontaminasi radiasi nuklir.

Mengetahui efek radiasi nuklir, pemerintah setempat bergerak cepat. Lepas tengah malam, penduduk langsung dievakuasi. Dalam tempo 36 jam, 49.360 penduduk berpindah. Seminggu dua minggu, 200 ribu orang meninggalkan kota Pripyat untuk mengungsi. Pripyat dinyatakan tertutup. (more…)

paris.jpg

Paris, Je T’aime

-If you love Paris, You’ll love this- (Newspaper daily)

Paris, kota seribu cinta. Ketika kita menyebut Paris, bayang-bayang kota penuh cinta, kasih sayang dan kisah-kisah sentimentil mengharu biru lainnya langsung terbayang di pikiran kita. Romantisme Paris, dengan segudang cinta yang mempesona. The art of love, ada di kota Paris.

Paris, I Love You (Paris, Je T’aime). Film yang cerdas mengupas cinta. Mungkin sutradara (Oliver Assayas) film ini terinspirasi oleh sebutan kota tersebut. Cinta memang dapat dimaknai dengan apa saja. Dengan lawan jenis, suami istri, selingkuhan, ibu dengan anak atau bahkan dengan hantu. Hantu? Ya hantu. Setan. Mungkinkah? Dalam film, apa siy yang tak mungkin?

Paris, Je T’aime. Adalah film yang berisi adegan-adegan yang 100% bertutur tentang cinta. Lazimnya film yang memutar satu buah cerita, Oliver Assayas dengan berani memotong satu film menjadi lebih dari sepuluh bagian cerita yang terpisah dan sama sekali tidak ada kaitan sama sekali.

Satu kisah, ditampilkan hanya lima-tujuh menit. Lalu berubah cerita dengan setting yang berbeda. Sangat-sangat menarik, karena kisah cinta tak akan habis untuk dikupas. Karena bepuluh cerita, imbasnya membutuhkan banyak pemeran dalam film ini. Tak ada pemeran utama, karena setiap peran mendapat porsi yang sama dalam satu cerita. Ada Natalie Portman, Elijah Wood, Gaspard Ulliel, Maggie Gyllenhaal, semua mendapat jatah yang sama.

Ceritanya juga langsung kelar. Habis, dengan ending yang berwarna warni. Ini salah satu cerita yang saya sendiri tersentuh abis. Mengharu biru. Kisah antara Ibu muda dan anaknya yang terpaksa ditinggalkan demi sebuah pekerjaan (more…)