paris.jpg

Paris, Je T’aime

-If you love Paris, You’ll love this- (Newspaper daily)

Paris, kota seribu cinta. Ketika kita menyebut Paris, bayang-bayang kota penuh cinta, kasih sayang dan kisah-kisah sentimentil mengharu biru lainnya langsung terbayang di pikiran kita. Romantisme Paris, dengan segudang cinta yang mempesona. The art of love, ada di kota Paris.

Paris, I Love You (Paris, Je T’aime). Film yang cerdas mengupas cinta. Mungkin sutradara (Oliver Assayas) film ini terinspirasi oleh sebutan kota tersebut. Cinta memang dapat dimaknai dengan apa saja. Dengan lawan jenis, suami istri, selingkuhan, ibu dengan anak atau bahkan dengan hantu. Hantu? Ya hantu. Setan. Mungkinkah? Dalam film, apa siy yang tak mungkin?

Paris, Je T’aime. Adalah film yang berisi adegan-adegan yang 100% bertutur tentang cinta. Lazimnya film yang memutar satu buah cerita, Oliver Assayas dengan berani memotong satu film menjadi lebih dari sepuluh bagian cerita yang terpisah dan sama sekali tidak ada kaitan sama sekali.

Satu kisah, ditampilkan hanya lima-tujuh menit. Lalu berubah cerita dengan setting yang berbeda. Sangat-sangat menarik, karena kisah cinta tak akan habis untuk dikupas. Karena bepuluh cerita, imbasnya membutuhkan banyak pemeran dalam film ini. Tak ada pemeran utama, karena setiap peran mendapat porsi yang sama dalam satu cerita. Ada Natalie Portman, Elijah Wood, Gaspard Ulliel, Maggie Gyllenhaal, semua mendapat jatah yang sama.

Ceritanya juga langsung kelar. Habis, dengan ending yang berwarna warni. Ini salah satu cerita yang saya sendiri tersentuh abis. Mengharu biru. Kisah antara Ibu muda dan anaknya yang terpaksa ditinggalkan demi sebuah pekerjaan

Loin Du 16

Wallter Salles & Daniela Thomas

Disebuah Apartemen tak begitu mewah. Pagi hari. Weker nyaring berbunyi, hingga membangunkan Ana. Tangan indahnya meraih weker. Mematikan weker dengan mata masih terpejam, lalu beranjak bangun.

Jalanan sudah ramai dengan pejalan kaki. Perempuan muda itu sudah rapi mengenakan mantel putih. Pagi itu dingin memang meski tak nampak salju di jalanan. Ia menggendong bayi. Berjalanan bergegas, pergi menuju tempat penitipan anak.

Ruangan penitipan anak itu sepi. Belum banyak anak yang dititipkan. Hanya ada beberapa saja. Mungkin karena masih terlalu pagi. Ana lantas meletakkan anaknya di tempat tidur yang tersedia, ia rapikan ranjang berjeruji, lalu beranjak pergi.

Baru beberapa langkah, anaknya menangis. Merengek dia, sepertinya mengerti akan ditinggalkan sang bunda. Bergegas ia kembali. Menyanyikan sebuah lagu sambil memainkan jari-jarinya. Wajah ibu muda itu nampak gembira sekali. Demikian pula sang bayi, tak beberapa lama, sang bayi tidur. Pelan-pelan nyanyian sang bunda semakin lirih. Ia pandangi sekali lagi buah hatinya, lantas tergesa meninggalkan ruang.

Di dalam bus, hari sudah sedikit terang. Bus penuh, terpaksa Ana berdiri. Matanya menerawang ke luar jendela. Jemari lentiknya memain-mainkan tali tas. Mengetuk-etuk seperti masih terbayang oleh permainan jari didepan anaknya. Lalu pindah ke kereta. Menewarang dia, sesekai ia tengok jam. Lalu berjalan menyusuri jalan bawah tanah, di stasiun pemberhentian. Pindah kereta.

Ana melanjutkan mimpinya. Berhenti di stasiun lainnya, bergegas keluar, dan naik kereta kembali. Matanya terus saja menewarang ke luar jendela. Sesekali melihat jam tangan.

Keluar dari stasiun, Ana berjalan setengah berlari menuju rumah tempat ia bekerja. Didepan pintu rumah, ia memencet bel.

“Ana kah itu?” kata suara didalam

“Iya,”

Pintu terbuka, masuk ia ke dalam rumah.

“Aku harus pergi sekarang. Aku telepon kamu nanti sore, untuk beritahu”

“Baik,” kata Ana.

“Ana, aku akan pulang agak malam, mungkin sejam lebih terlambat. Apakah itu memberatkanmu,”.

Ana diam. Lalu,

“Tidak,”

Sedikit berat sepertinya. Ketika pemberi kerja itu pergi, Ana hanya bisa terpaku diam.

Lalu terdengar tangisan bayi. Ana menoleh ke ruang bayi. Bergegas ia mendekatinya sembari tangannya menggulung rambut panjangnya yang tergerai. Ia pandangi bayi ditempat tidur itu. Bayi laki-laki, seperti buah hatinya yang terpaksa ia titipkan ke penitipan anak, untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga.

Lalu ia nyanyikan lagu yang sama, persis ketika buah hatinya menangis sebelum ia pergi bekerja. Tak ada senyuman, tak ada kegembiraan yang tersirat di wajah Ana. Hanya nyanyian basi yang dinyanyikan dengan setengah “terpaksa”. Jemarinya ia mainkan di depan wajah sang bayi, namun, mata Ana menerawang ke jendela. Pikirannya entah kemana. Lalu terdiam. Kisah usai.