nuklir.jpg

 

Three Mile Island Nuclear Power Plant

 

Pripyat, Ukraina 26 April 1986. Orang-orang masih lelap dalam tidurnya, ketika beberapa ilmuwan nuklir di pembangkit listrik Chernobyl (Chernobyl nuclear power plant) sedang melakukan uji laboratorium. Jarum jam baru bergerak di angka 01:23 dini hari waktu setempat, ketika tiba-tiba reaktor keempat pembangkit listrik tenaga nuklir itu meledak.

Di pinggir kota, tiga kilometer dari pembangkit listrik, wilayah berpenduduk 50 ribu orang sontak terjaga. Dentuman reaktor yang meledak, melepaskan partikel radioaktif yang konon 400 kali lebih dahsyat dari bom yang dijatuhkan tentara Amerika di tengah kota Hiroshima dan Nagasaki.

Meledaknya reaktor ini, membakar pembangkit listrik hingga sepuluh hari. Tak hanya itu, sekurangnya 142 ribu kilometer persegi di utara Ukraina, selatan Belarusia dan wilayah Bryansk di Rusia langsung dinyatakan terkontaminasi radiasi nuklir.

Mengetahui efek radiasi nuklir, pemerintah setempat bergerak cepat. Lepas tengah malam, penduduk langsung dievakuasi. Dalam tempo 36 jam, 49.360 penduduk berpindah. Seminggu dua minggu, 200 ribu orang meninggalkan kota Pripyat untuk mengungsi. Pripyat dinyatakan tertutup.

Jakarta, 11 Desember 1989. Tiga tahun usai ledakan Chernobyl, pemerintah Indonesia melalui Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) justru merumuskan untuk melakukan studi kelayakan, termasuk investigasi lengkap calon tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ditunjuk sebagai koordinator pelaksanaan studi ini, dengan arahan dari Panitia Teknis Energi (PTE), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan beberapa instansi lainnya.

Studi kelayakan dilakukan. Daerah-daerah potensial disisir, seminar demi seminar terus digelar. Bahkan untuk memantapkan studi kelayakan tapak PLTN, Agustus 1991, Menteri Keuangan yang saat itu diduduki JB Sumarlin melakukan kontrak kerjasama selama 4,5 tahun dengan konsultan asal Jepang, NewJEC Inc (New Japan Engineering Consult Inc). Hasilnya, tim menemukan Semenanjung Muria, Jawa Tengah, sebagai lokasi paling cocok untuk tapak PLTN di Indonesia.

Penentuan Semenanjung Muria sebagai lokasi tapak PLTN sontak menimbulkan pro kontra. Warga setempat berang. Mereka tidak ingin wilayahnya dijadikan tapak PLTN. Mereka tak ingin tragedi Chernobyl terulang di Semenanjung Muria.

Masyarakat seolah belajar dari sejarah. Bayangkan saja jika PLTN ini meledak, atau setidaknya mengalami kebocoran.  Skala kerusakan akibat radiasi nuklir tentunya akan berimbas pada mereka. Radiasi nuklir, berpengaruh pada matinya sel tubuh. Efek kedua, terjadi penggandaan sel yang pada akhirnya dapat menimbulkan kanker. Dan efek ketiga, kerusakan dapat terjadi pada sel telur atau testis. Jika ini terjadi, imbas paling menakutkan adalah dimulainya proses bayi-bayi yang terlahir cacat.

Tak hanya satu atau dua tahun. Efek radiasi nuklir bisa lebih dari satu generasi. Di Ukraina saja, sebanyak 30-50% penduduk mengalami radang pernapasan dan terhambatnya saluran pernapasan. Hal ini yang kemudian memunculkan kekhawatiran dan perdebatan, terlebih datang dari warga masyarakat di Semenanjung Muria. Mereka masih belum percaya jika Indonesia mampu bersentuhan langsung dengan nuklir.

Warga ragu jika Indonesia memiliki ilmuwan yang piawai meracik bahan nuklir hingga bisa digunakan secara aman. Kepala Batan Hudi Hastowo mengatakan, keraguan bahwa ilmuwan Indonesia tidak menguasai ilmu nuklir adalah sesuatu yang keliru besar. Di Indonesia, banyak yang menguasai ilmu tersebut, namun para ilmuwan ini memilih melampiaskannya ke luar negeri. Alasannya, di Indonesia ilmu tentang nuklir tidak dipakai.

“Dari pada mereka tidak memakai ilmu yang mereka kuasai, banyak ilmuwan yang kemudian hengkang ke luar negeri mengaplikasikan ilmu mereka,” ujar Hudi

Hudi menjanjikan, jika memang Indonesia akan membangun PLTN, ilmuwan Batan tidak akan seceroboh ilmuwan Chernobyl. Dia berjanji tidak akan membangun pembangkit layaknya Chernobyl. Tingkat keamanan akan dibuat berlapis. PLTN Muria akan menjadi PLTN yang aman. Toh, selama ini Batan sudah sangat berpengalaman mengelola limbah radioaktif.

Sebenarnya jika bicara soal ketakutan akan limbah radioaktif yang bocor, bukan hanya PLTN saja yang menghasilkan limbah radioaktif. Menurut Hudi, rumah sakit, pabrik juga menghasilkan limbah radioaktif. Lantas kemana limbah radioaktif tersebut dibuang?

“Siapa lagi kalau bukan kita. Dari dulu kita tampung limbah itu. Tak ada orang yang tahu, dan buktinya aman-aman saja,” tandasnya.

Jadi kekhawatiran akan kemungkinan meledak, bocor atau salah mengelola nuklir harus dipendam dalam-dalam. Seperti kata Hudi, PLTN yang dibangun di Indonesia aman. Itu jika kelak PLTN memang akan dibangun di negeri ini. Kalau memang iya, semoga saja tragedi Chernobyl tak akan terjadi. (sofian)

*Tulisan ini pernah dimuat dalam laporan khusus PLTN di harian Seputar Indonesia