Asssuuuuuu!!!!!

*sorry, hari ini saya lagi mangkel (bagi anda yang enggan membaca kata-kata kasar seperti ini lebih baik jangan buka dan membacanya. Sumpah, ini bukan tentang anda)

Saya sendiri sebenarnya juga malas mengucapkan kata-kata kasar macam itu. Kalu nggak terpaksa dan buat bahan becandaan sama kawan-kawan. Tapi, entah kenapa, mobil jazz warna merah itu, mobil dengan sopir anak muda itu, sontak membuat ubun-ubun saya panas. Badan ndrodok dan adrenalin seolah meletup-letup.

Bagaimana tidak. Mentang-mentang memakai mobil, ditengah hujan deras dan angin kencang yang menampar-nampar, mobil Jazz merah itu dengan “sombongnya” berkelok-kelok, dengan kecepatan yang tidak sewajarnya kala cuaca tak bersahabat seperti itu.

Saya yang (memang) hanya bisa mengendarai motor saja, karena cuaca berubah dengan cepat terpaksa menepi dan berteduh di halte Tanah Abang, samping BI. Anda tau filosofi, kenapa orang berteduh kala hujan?

Salah satu alasannya adalah karena tak ingin terlalu basah, tertimpa air hujan. Saat itu, memang banyak pengendara motor, pejalan kaki, tukang buah, penjual es, yang “terpaksa” berteduh menghabiskan waktu bermenit-menit yang bagi mereka sangat berharga itu. Demi apa coba?

Nah, si sopir mobil Jazz merah yang masih muda itu, yang membuat adrenalin saya meletup-letup dan kepala saya sontak berasap, dengan lagaknya menerjang kenikmatan kami menghindari air hujan.

Dengan kecepatan dan keberadaannya yang tak kami duga-duga, mobil Jazz merah, melaju terlalu minggir dan sangat dekat dengan kerumunan kami yang berdiri gregel kedinginan.

Kubangan air yang (ya ampun, Jakarta..Jakarta, kenapa kemacetan menjadi prioritas pembangunan kota ini daripada mengendalikan banjir) meluber di sekitar kami dengan seenaknya di terjang, dilindas dengan gas  yang diinjak dalam-dalam. Dan imbasnya, air kubangan dengan entengnya muncrat, mengenai muka, kaki, baju dan segala yang ada di dekat kami basah sebasah-basahnya.

Maaf mas, jika tadi sebagian dari kami mengumpat (meski kau tak dengar, toh kami juga berdiri dipinggir jalan. Miskin pula). Kami tau anda orang kaya. Mungkin pajak anda lebih besar daripada kami ini, sehingga bisa dengan leluasa menggunakan jalan dan menggeber gas kencang-kencang.

Maafkan kami mas, mungkin sampeyan terburu-buru dan tak melihat ada kubangan di pinggir jalan. Tapi kami sudah terlanjur mengata-ngatai anda. Semoga anda selamat sampai tujuan, bertemu dengan keluarga. Atau, mungkin pacar anda sudah menunggu, karena anda sudah terlanjur janji, “hujan badai, aku lalui,”. Toh, hari ini malam minggu bukan.

 

Sekali lagi maaf.