March 2008



sherin4.jpgKenapa tiba-tiba saya ingin nulis tentang film Petualangan Sherina? Geblek. Itu kan film jadul yang booming delapan tahun lalu. Apa nggak telat? Hehehe.. biarin aja, ngeblog kan bebas.

Dari pada nulis film AAC yang saya sendiri baru menyadari bagusnya film itu di ¼ film sebelum berakhir?. Lagian film itu juga sudah banyak yang me-review. Jadi, ogah ah. Saya mau menulis tentang petualangan sherina saja. Bolehkan?

Baik, ceritanya begini.

Saya sedang asik menulis untuk laporan harian, ketika kawan saya tiba-tiba menghampiri. Duduk dia disamping saya, sembari senyum-senyum. Kawan saya ini perempuan. Cantik, dengan wangi Bvlgari Extreem yang biasa dipakai laki-laki.

Waduh, sial. Ini sudah masuk deadline!
Padahal, biasanya saya suka sekali kalau dihampiri wanita cantik. Tapi bukan malam ini.

Dia mengawali pembicaraan soal film bertema anak-anak yang tak lagi ada pasca Petualangan Sherina (2000), kebetulan hari ini ada aksi simpatik prihatin film anak. Kawan saya ini terus saja ngomong tak jelas. Prihatin lah, nggak suka dengan booming film bertema horror, lengkap dengan argument-argumennya.

Saya cuman cengegesan.

Kawan saya itu sepertinya merasa rindu menonton film anak-anak bermutu pasca petualangan Sherina.

“Kau dulu nonton film Petualangan Sherina kan, bang?”

Petualangan Sherina?. Ya. Film karya Mira Lesmana dan Riri Riza itu pernah saya tonton. Saya jadi ingat dulu sewaktu SMA, untuk menonton film ini saja harus ngantri mengular diselingi tawa dan tangis anak-anak yang kepanasan.

Sumpah, itu film anak-anak Indonesia pertama yang saya ingin menontonnya di bioskop, pasca dijejali film-film macam Ranjang yang Ternoda, Gadis Metropolis, Gairah Terlarang dan film-film bertema seks lainnya. (waduh kenapa malam ini, tiba-tiba saya rindu sekali nonton filmnya Inneke yah? Hehe) (more…)

seni-mencintai.jpg

Pagi ini hanya ada secangkir kopi hitam, koran bisnis, dan diskusi kecil. Masih pagi sebenarnya karena kami memang tidak tidur malam ini. Menghabiskan tiga DVD film trilogy Bourne Identity, Bourne Supremacy dan Bourne ultimatum, sambil sesekali diskusi, dan bersungut karena kentut.

Ada empat orang di teras rumah sewa yang ditempati kawan saya itu. Kebetulan, salah satu kawan saya jauh-jauh datang dari Lampung untuk menemui kami. Salah satu tujuannya mengabarkan tentang rencana pernikahannya. Wah, betapa bersoraknya hati kami, mengetahui kawan kami satu itu hendak menikah.

Menikah bukan masalah main-main yang keputusannya bisa diambil sembari minum kopi dan baca koran (meski ide itu bisa saja muncul dari melakukan aktivitas keduanya). Ini tentang masa depan. Tentang hari-hari yang kelak akan dijalani seumur hidup berdua, menanggalkan status dari single ke married, tentang bagaimana membina keluarga, beranak pinak dan menjadi seorang bapak. Dan ini bukan keputusan yang main-main.

Banyak hal pagi itu, dalam obrolan kami, mengupas masalah pernikahan dan hakekat hidup yang sebenarnya (berat kali pagi-pagi ngomongin, hidup). Ada semacam pesan tersembunyi sebenarnya yang hendak di sampaikan kawan kami selain mengabarkan semangatnya untuk membina keluarga. Setidaknya mengingatkan pada kami-kami ini yang masih “mbujang” untuk segera menyusulnya. Setidaknya mencari pacar dulu lah. Pesan kawan saya itu, sepertinya menyindir kami yang masih saja sendiri atau setidaknya buat dua kawan yang sudah saya anggap sebagai abang saya itu

Entah kenapa tak mudah bagi kedua abang saya untuk mencari tambatan hati. Kalau saya bilang, abang saya itu termasuk high quality jomblo. Ganteng ada, psikologi komunikasi menguasai, penghasilan lumayan (tak terguncang subpreme mortgage). Ya kalau untuk sekedar menghadiri pesta pernikahan kawan, masih bisa menarik perhatian lah.

Tapi sayang, meski sudah memiliki semua syarat untuk mendapat gandengan, kok ya masih belum juga “macari” satu perempuan pun. Kalau di runut, Jakarta ini kan gudangnya cewek cantik. Kalau Jakarta terlalu luas dan mau dipersempit, kan tinggal naek busway saja, lebih mudah. Naek Busway itu, selain murah, ber-AC dan berhenti di setiap halte, sudah include makluk-makluk manis dalam bus yang layak untuk dijadikan kawan menghabiskan malam dengan makan atau nonton. (more…)

perempuan.gif

 

 

Seorang kawan protes. Dia mengirim email. Katanya tulisan saya akhir-akhir ini melulu tentang perempuan. Dia protes, karena dia ini kawan pacar saya.

Bahkan akibat dari membaca postingan saya akhir-akhir ini, dia berkesimpulan, saya yang jelek, pendek, berkulit pekat, bau, dan berambut kriting ini dituduh telah selingkuh. Waduh, saya jadi ngeri memikirkan, pola pikir kawan perempuan saya itu.

Postingan saya akhir-akhir ini memang berbau-bau perempuan. Rata-rata kisah-kisah cinta yang pilu. Saya sendiri juga terkadang ngeri, jika postingan saya itu dibaca oleh pacar saya yang naudzubilah galaknya, kalau sama saya.

Ide menulis perempuan, dan romantisme cinta yang pilu itu, sebenarnya simple saja. Bulan lalu, itu Februari. Bulan dimana pasangan muda menunggu waktu berkasih-kasihan. (ada pula yang sengaja menunggu bulan ini untuk menembak gebetannya. Lebih afdol katanya).

Nah, karena saya ini cemburu melihat banyak anak muda yang berkasih-kasihan di bulan beraroma “merah muda” itu, saya akhirnya memutuskan untuk menulis kisah-kisah romantisme. Satu dua boleh lah kisah yang saya alami jaman dulu. Tapi kebanyakan postingan yang saya tulis terinspirasi dari sebuah lagu.

Saya jelaskan. Di blog saya ini sengaja saya pisahkan antara kisah yang saya alami dengan kisah yang saya tulis dari bertapa berjam-jam di kamar mandi. Semua saya batasi dengan jelas, lewat kategori. Kategori ini berfungsi untuk memisahkan postingan saya. Ambil misal imaji, dan jejak jiwa. Dalam blog saya ini, jelas jika imaji berarti hasil saya menulis yang tidak ada hubungannya dengan saya sama sekali, atau ada hubungan tapi prosentasenya kecil. Kalau jejak jiwa, sudah barang tentu saya alami. (more…)

siluet-diriku.jpg

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa… *

“Hy..”
“Hi..,”
“Lagi dimana atuh?, ganggu nggak,”
“Nyetir. Hmmm…. 10 menit nelpon lagi yah! Bentar lagi nyampe kost kok,”
“Oke,”
“Bye,”

Klik..

Lima menit yang menyebalkan. Aku hanya bisa duduk di bangku taman Untung Suropati. Sudah senja sekarang. Sebentar lagi lampu taman akan menyala. Sesekali aku tengok waktu yang tercatat di telepon genggam. Kurang tiga menit. Shitt!! Serasa tiga tahun. Benar-benar terkutuk.

10 menit. Aha…

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa…
Semua yang kurasa rindu dalam asa, didekat cinta
Hatiku untukmu hanya untukmu…

“Yups, baru aja masukin mobil di garasi. Pas banget 10 menit, hehehe. Kenapa yank?,”

Aku diam. Menahan nafas. Mulutku kaku. (more…)

 

 hujan-by-arif-nug.gif

foto by Arif Nugroho – SINDO 

 

Hari ini saya sakit. Ah hanya sakit biasa. Tak perlu cemas. Mungkin, hanya perlu sedikit istirahat saja. Biasalah, beberapa hari ini kan hujan terus-terusan mengguyur Jakarta. Dan saya, suka bandel menerjang hujan seperti anak kecil yang bermain bola di lapangan becek, ditengah hujan deras.

Habis bagaimana lagi, saya kan harus mengejar informasi. Tak boleh ketinggalan, makanya terkadang saat hujan mulai menderas, justru saya menerjangnya. Tentunya dengan jas hujan, meski tetap saja basah. Seketat apapun jas hujan yang saya pakai, kalau naik motor, angin dan dingin air hujan tetap saja masuk ke pori-pori tubuh saya. Mungkin dari situ penyakit ini datang.

Bicara soal hujan, dan lapangan becek, mengingatkan masa kecil saya dulu di kampung Srondol, Semarang. Masa kecil yang menyenangkan tentunya. Saya punya teman sepermainan. Namanya Rudi. Sejak kecil hingga sekarang, saya sering main dengan dia. Dia lebih tua dari saya setahun, tubuhnya bongsor dan terlihat lebih kokoh dibanding saya yang kurus kering macam ini.

Dulu sekali, dikampung saya itu, kami selalu berdua saja bermain. Kami suka main bola, apalagi kalau hujan. Wah, maklumlah, namanya juga anak-anak. Kalau hujan datang, kami pasti berlarian di tengah padang rumput, mengejar bola. Terkadang bermain “plorotan” dengan batang daun kelapa. Tentunya, dengan segera membuat baju kami kotor, dan kumal. Imbasnya, jika magrib sudah bertalu-talu, kami suka sembunyi-bunyi pulang kerumah. Kalau sampai ketahuan, dihajarlah saya ini. Tapi biasanya tidak menangis, meski sandal bapak saya mendarat mulus di pantat saya. (more…)