siluet-diriku.jpg

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa… *

“Hy..”
“Hi..,”
“Lagi dimana atuh?, ganggu nggak,”
“Nyetir. Hmmm…. 10 menit nelpon lagi yah! Bentar lagi nyampe kost kok,”
“Oke,”
“Bye,”

Klik..

Lima menit yang menyebalkan. Aku hanya bisa duduk di bangku taman Untung Suropati. Sudah senja sekarang. Sebentar lagi lampu taman akan menyala. Sesekali aku tengok waktu yang tercatat di telepon genggam. Kurang tiga menit. Shitt!! Serasa tiga tahun. Benar-benar terkutuk.

10 menit. Aha…

Semua yang kumau hanyalah dirimu satu,
Kaulah pelita didalam jiwa…
Semua yang kurasa rindu dalam asa, didekat cinta
Hatiku untukmu hanya untukmu…

“Yups, baru aja masukin mobil di garasi. Pas banget 10 menit, hehehe. Kenapa yank?,”

Aku diam. Menahan nafas. Mulutku kaku.

“Hellooo… Yank, kok diem siy,”. Diam. Tiga detik, lima detik..
“Yank..,”
“Hi.. beib,” mulai aku menyapanya.

Seperti biasa, perempuan ini memang sering membuat suasana hatiku menjadi tak menentu. Selalu bisa mengontrol kondisi dengan canda yang membuatku luruh, lantas itu melambungkan anganku, kali waktu menelikung menjadi tak enak hati

“Aku mau ketemu,”
“Nggak yank, kita nggak boleh ketemu,”
“Meski sekedar semenit,”
“Sedetik pun, jangan!,” ujar dia meninggi.
“Kalu begitu kita sudahi saja,”
“Maksudmu?,”
“Kita sudahi saja semua cerita ini,”

Diam. Tak ada kata. Hanya lirih suara, seperti tangis. Selalu saja. Dengan perempuan ini, selalu saja ada tawa dan tangis. Sedetik itu tawa, sedetik itu pula bisa menjadi tangis. Tawa dan tangis, memang beda-beda tipis.

“Hey Beb,”

Hanya terdengar isak tangis. Aku semakin blingsatan. Ahhh… aku tak ingin ada satu perempuan pun mengeluarkan airmatanya untuk diriku.

“Okey beib, aku minta maaf. Maafkan akan kelancanganku untuk bertemu denganmu. Tapi kali waktu, disaat yang tepat, aku menunggu janjimu untuk bertemu denganku,” tegasku

Tak ada suara. Klik…
Ponsel dimatikan.

Tinggal aku sendiri. Ditemani pengamen jalanan yang sedang menghibur sepasang anak muda yang memadu kasih dibangku taman. Dengan gitar usang, ia dendangkan lagu yang menyayat hatiku

Hari ini, kau patahkan hatiku,
Kau patahkan niatku, kau patahkan semangatku
Entah mengapa, ku masih bisa cinta
Bisa cinta padamu, ku maafkan salahmu…
Berjanjilah, berjanjilah …
Untuk datang padaku…

(by iwan fals – masih bisa cinta)

Senja sudah tiada. Lampu taman mulai menyala. Dan aku, aku masih duduk disini sambil menipu diri dengan hangatnya cinta.

Kemanggisan, 8 Maret 2008

* I-ring Ten2five
inspirasi dibalik selimut.