perempuan.gif

 

 

Seorang kawan protes. Dia mengirim email. Katanya tulisan saya akhir-akhir ini melulu tentang perempuan. Dia protes, karena dia ini kawan pacar saya.

Bahkan akibat dari membaca postingan saya akhir-akhir ini, dia berkesimpulan, saya yang jelek, pendek, berkulit pekat, bau, dan berambut kriting ini dituduh telah selingkuh. Waduh, saya jadi ngeri memikirkan, pola pikir kawan perempuan saya itu.

Postingan saya akhir-akhir ini memang berbau-bau perempuan. Rata-rata kisah-kisah cinta yang pilu. Saya sendiri juga terkadang ngeri, jika postingan saya itu dibaca oleh pacar saya yang naudzubilah galaknya, kalau sama saya.

Ide menulis perempuan, dan romantisme cinta yang pilu itu, sebenarnya simple saja. Bulan lalu, itu Februari. Bulan dimana pasangan muda menunggu waktu berkasih-kasihan. (ada pula yang sengaja menunggu bulan ini untuk menembak gebetannya. Lebih afdol katanya).

Nah, karena saya ini cemburu melihat banyak anak muda yang berkasih-kasihan di bulan beraroma “merah muda” itu, saya akhirnya memutuskan untuk menulis kisah-kisah romantisme. Satu dua boleh lah kisah yang saya alami jaman dulu. Tapi kebanyakan postingan yang saya tulis terinspirasi dari sebuah lagu.

Saya jelaskan. Di blog saya ini sengaja saya pisahkan antara kisah yang saya alami dengan kisah yang saya tulis dari bertapa berjam-jam di kamar mandi. Semua saya batasi dengan jelas, lewat kategori. Kategori ini berfungsi untuk memisahkan postingan saya. Ambil misal imaji, dan jejak jiwa. Dalam blog saya ini, jelas jika imaji berarti hasil saya menulis yang tidak ada hubungannya dengan saya sama sekali, atau ada hubungan tapi prosentasenya kecil. Kalau jejak jiwa, sudah barang tentu saya alami.

Nah, kawan saya itu, mungkin lupa me-klik kategori-kategori yang ada. Jadilah semua yang saya posting, ibarat buku harian saja. Istilahnya saya ini pelacur (pelacur = pelaku curhat harian).

Sebenarnya saya malu untuk menampilkan postingan tak bermutu ini diblog yang sama tidak bermutunya. Saya tau kawan-kawan saya ini blogger. Jadi bisa melihat ini nyata atau bukan. Bukan kisah fiksi yang dibuat seolah-olah non fiksi. Saya hanya mencoba mengasih batas yang jelas, agar kelak tak ada yang “tertipu” begitu membaca postingan saya.

Postingan ini juga bukan “pledoi” saya kepada kawan saya. Bukan juga karena saya takut pacar saya itu kemudian memiliki senjata yang ampuh untuk memutus hubungan gara-gara saya posting, tulisan macam ini (wah jangan sampai, saya kan cinta betul dengan dia hehehe). Bukan-bukan itu. Ini hanya sebuah tulisan tak bermutu yang terinspirasi dari email kawan saya itu.