seni-mencintai.jpg

Pagi ini hanya ada secangkir kopi hitam, koran bisnis, dan diskusi kecil. Masih pagi sebenarnya karena kami memang tidak tidur malam ini. Menghabiskan tiga DVD film trilogy Bourne Identity, Bourne Supremacy dan Bourne ultimatum, sambil sesekali diskusi, dan bersungut karena kentut.

Ada empat orang di teras rumah sewa yang ditempati kawan saya itu. Kebetulan, salah satu kawan saya jauh-jauh datang dari Lampung untuk menemui kami. Salah satu tujuannya mengabarkan tentang rencana pernikahannya. Wah, betapa bersoraknya hati kami, mengetahui kawan kami satu itu hendak menikah.

Menikah bukan masalah main-main yang keputusannya bisa diambil sembari minum kopi dan baca koran (meski ide itu bisa saja muncul dari melakukan aktivitas keduanya). Ini tentang masa depan. Tentang hari-hari yang kelak akan dijalani seumur hidup berdua, menanggalkan status dari single ke married, tentang bagaimana membina keluarga, beranak pinak dan menjadi seorang bapak. Dan ini bukan keputusan yang main-main.

Banyak hal pagi itu, dalam obrolan kami, mengupas masalah pernikahan dan hakekat hidup yang sebenarnya (berat kali pagi-pagi ngomongin, hidup). Ada semacam pesan tersembunyi sebenarnya yang hendak di sampaikan kawan kami selain mengabarkan semangatnya untuk membina keluarga. Setidaknya mengingatkan pada kami-kami ini yang masih “mbujang” untuk segera menyusulnya. Setidaknya mencari pacar dulu lah. Pesan kawan saya itu, sepertinya menyindir kami yang masih saja sendiri atau setidaknya buat dua kawan yang sudah saya anggap sebagai abang saya itu

Entah kenapa tak mudah bagi kedua abang saya untuk mencari tambatan hati. Kalau saya bilang, abang saya itu termasuk high quality jomblo. Ganteng ada, psikologi komunikasi menguasai, penghasilan lumayan (tak terguncang subpreme mortgage). Ya kalau untuk sekedar menghadiri pesta pernikahan kawan, masih bisa menarik perhatian lah.

Tapi sayang, meski sudah memiliki semua syarat untuk mendapat gandengan, kok ya masih belum juga “macari” satu perempuan pun. Kalau di runut, Jakarta ini kan gudangnya cewek cantik. Kalau Jakarta terlalu luas dan mau dipersempit, kan tinggal naek busway saja, lebih mudah. Naek Busway itu, selain murah, ber-AC dan berhenti di setiap halte, sudah include makluk-makluk manis dalam bus yang layak untuk dijadikan kawan menghabiskan malam dengan makan atau nonton.

Ehh.. malah abang saya mendaulat saya untuk menjadi tim sukses mendapatkan perempuan. Sedangkan saya ini kan makluk lugu yang untuk mendekati perempuan saja gemetar. Ganteng tidak, badan cungkring, psikologi komunikasi tak mengusai betul, (ya C+ lah—hayah malah koyo vitamin). Intinya, jangankan mengenalkan ke orang lain, kenalan sendiri saja bisa mikir berlipat-lipat. Ada-ada saja ide abang saya itu.

Bicara soal mendapatkan perempuan, saya jadi ingat kawan saya dikampung Srondol, Semarang. Namanya Samirun. Wah seharusnya abang-abang saya itu dan saya ini belajar dari Samirun untuk menarik perhatian perempuan. Orangnya memang tak ganteng-ganteng amat (bukan sirik niy gw), tapi strategi yang dipakai Samirun lah menjadi penentu. Ya strateginya untuk mendapatkan gandengan itu yang pantas untuk ditiru atau setidaknya bisa dijadikan rujukan.

Samirun ini benar-benar multi talented (dalam hal mengungkapkan cinta), rujukannya tak hanya film-film romantis, mulai dari India sampai barat, buku-buku thrilernya Agatha Christy hingga kahlil Gibran, bahkan sampai lirik lagu pun bisa menjadi sumber inspirasinya.

Jika Samirun—yang beruntung memiliki talenta itu—membaca buku mengungkapkan cinta dengan bunga, sudah dapat dipastikan ia akan membawa bunga untuk mendapatkan cewek incerannya. Dasar Samirun, karena modalnya yang pas-pasan, kadang dia cukup memetik bunga sepatu milik tetangga untuk dibawa kabur menemui gadis yang akan menjadi korban dia.

“Perempuan itu lembut hatinya. Jadi kalau kau sudah bisa meraba hatinya, kau bawa ke empang dan kau ungkapkan perasaanmu saja pasti diterima,” kekeh Samirun suatu ketika.

Saat itu, saya mencoba mengulik keberhasilanya mendapatkan kembang desa tetangga kampung kami yang saat itu menjadi rebutan pria-pria bujang macam kami.

“Kau bilang apa ke dia,” selidikku.
“Hehehe.. nggak men, aku cuman minta dia menutup mata dan membayangkan empang milik mbah Samuri itu layaknya Samudera cinta,”

Kampret!! Tambah bingung saya.

“Lantas,” kejarku
“Aku bilang, cintaku seluas samudera sayang, semuanya menjadi milikmu,” tawa Samirun mulai meledak
“Ah, kau kibuli itu anak orang. Cintamu itu seluas empang, plus jambangannya,” runtukku kesal.

Untuk menjadi lelaki yang bisa dipercaya perempuan, kata Samirun lagi nih, cukup dibutuhkan dengan kejujuran. Wah, bicara soal kejujuran, Samirun ini memang pakarnya. Samirun itu selalu jujur pada segala hal. Kalau pas tak ada duit untuk sekedar makan jagung bakar sembari nonton dangdut di kampung dengan pacarnya, Samirun bilang baik-baik ke saya.

Dan dasar saya ini orangnya nggak tegaan, apalagi ngeliat muka Samirun yang memalas itu, ada atau tak ada duit, saya pun biasanya kasih pinjem. Dasar maling!! Bahkan dengan kejujuran pula biasanya Samirun ini menjerat hati perempuan-perempuan itu. Jujur atau licik, sumpah saya tidak mengerti dengan jalan pikiran dia.

“Kita nggak bisa boong. Perempuan itu nggak mau diboongi,” kata Samirun.
“Nah, karena kita mau menjerat hati perempuan, makanya kita harus menghindari apa yang dia benci. Lagipula apa salahnya kalau kita jujur,” lanjut Samirun.

Saya hanya manggut-manggut saja.

Proses selanjutnya adalah intensitas. Ini yang menurut Samirun, menjadi bagian penting dalam membina hubungan. Intensitas dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya keadaan tingkatan atau ukuran intensnya. Kalau dalam kasus ini bisa diartikan seringnya berkomunikasi. Komunikasi, bisa dengan surat, telepon, atau bertemu muka secara langsung. Apalagi sekarang sudah jaman kuda gigit Hape, masalah komunikasi tentunya tak ada masalah berarti.

Meski demikian, tidak setiap saat Samirun menghubungi pujaan hatinya. Ini strategi Samirun. Jika pujaan hatinya sudah mulai menggilai dirinya. Satu atau dua hari, biasanya Samirun akan menghilang. (wah ini..) setidaknya, menujukkan seberapa dalam pujaan hati samirun itu terjerat olehnya.

“Wah kacau lu, men,” sungutku.
“Hehe.. sebenarnya sih kita butuh, cuman berlagak sepertinya kita tidak butuh. Nah biasanya doi mencari diriku,” kekeh Samirun.

Nah, setelah intensitas sudah terjadi, dari sini sudah bisa diprediksi, apakah seseorang itu sudah bisa di “eksekusi” belum. Istilahnya tinggal mengungkapkan cinta saja. Keberhasilan, tentunya bisa diprediksi sebelumnya. Dalam hal menilai seperti ini, Samirun juga memiliki bakat luar biasa. Samirun selalu berhasil dalam mengungkapkan cintanya.

Oya, Samirun ini juga orangnya tidak banyak menilai perempuan. No body perfect, kata Samirun. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Cantik atau tidak itu relatif. Inilah yang membuat Samirun seringkali mendapat gandengan. Luar biasa memang!

Selanjutnya, ah selanjutnya mulu. Samirun ini sekarang susah dihubungi. Padahal, saya juga membutuhkan informasi untuk bisa lebih piawai mengenal lawan jenis saya. Setidaknya informasi dari Samirun itu bisa saya salurkan ke abang-abang saya itu.

Atau ada yang mau memacari abang saya?