April 2008


I am a dreamer but when I wake,
You can’t break my spirit – it’s my dreams you take.
And as you move on, remember me

———-James Blunt-Goodbye My Lover

***

Tadi malam, mendadak saya menjadi sangat melankolis. Padahal sudah mulai subuh. Saat orang-orang mulai terbangun karena Asholatu Khoirum Minan Nauum, saya justru terisak-isak di atas ranjang, duduk bersandar dipojok kamar.

Padahal, saya tidak sedang melakukan aktifitas yang membuat saya menjadi sentimentil seperti ini. Saya sedang ngebut membuat naskah skenario pesanan kawan saya yang sama sekali tidak ada unsur tangis-tangisan didalamnya.

Saya mencoba cari tau, darimana sumber yang membuat saya menjadi teramat sensitif itu. Jelas, bukan karena DVD yang kemarin saya tonton. Karena saya melahap Resurrecting The Champ, film yang dimainkan secara apik oleh Samuel L Jackson dan Josh Hartnett. Toh film ini menceritakan tentang jurnalis yang tiba-tiba kehilangan reputasi karena salah mengutip. siMungil menyodorkan film ini untuk saya tonton. (more…)

Perempuan Senja itu masih duduk di bangku sebuah Boulevard. Menikmati desir angin dan cahaya mentari yang menguning. Saya biasa menggumamkan dirinya dengan Senja. Karena setiap senja, perempuan mungil itu selalu ada ditempatnya.

“Namanya Imey,”
“Bukan. Bukan Imey. Siapa Imey? Dia Senja,”
“Namanya Imey, bang!,”

Saya tatap mata kawan perempuan saya. Cukup dengan tatapan mata yang mulai merintih. Tatapan yang tak lagi mampu melihat dengan sorot sempurna. Imey, Senja atau siapa lah, bukan jadi satu masalah berarti bagiku.

Senja. Ya Senja. Perempuan Senja itu sosoknya mencuri hatiku. Mengingatkanku akan perempuan yang saya kenal beberapa tahun silam. Saya sering mencuri pandang dari tempat saya berdiri saat ini. Jarak 15 meter, cukup bagiku untuk melihat aktifitas perempuan senja.

Sebungkus dunhill light menthol dan kertas putih (entah apa tulisannya, mungkin copy e-book yang ia unduh dari internet) selalu setia menyertainya. Senja, Ya Senja. Perempuan Senja yang membuat hatiku mengharu biru itu, sosok perempuan yang cuek. Ia tak peduli pada pejalan kaki dengan tatapan-tatapan yang menelanjanginya.

Bahkan dengan lelaki-lelaki berdasi yang setiap kali merayunya. Menawarkan dingin ac mercy metalik untuk mengantarnya. Senja tak peduli. Karena saya tau, Senja sedang menanti. (more…)

Samirun online lagi. Baru siang tadi kawan saya di kampung itu menegur lagi. Sudah lama saya tidak pernah ketemu atau bertukar sapa dengannya. Kangen rasanya merasakan nasehat-nasehat tentang cinta yang kadang njelehi, lucu tapi ada benarnya.

Baru beberapa menit online, Samirun langsung nge-BUZZ saya. YM saya bergetar, disertai bunyi ding yang keras. Sebelah saya sampai kaget!!

“Sampeyan gak pernah nongol. Kemana saja bro?,” kata Samirun membuka percakapan.

“YM kantor di banned sama orang IT. Jadi kalu YM an di press room,” balasku.

“Kabar baek kan? Sudah dapat calon baru belum,”

“Gundulmu kuwi Run, aku kan butuh nasehatmu, hehehe”

“hehehehe.. Aku baru dapet kondom dari Julia Perez niy. Mau liat?,”

“Hah? Sejak kapan kau punya link ketemu Julia?,”

“Nggak, kemaren iseng beli kaset dangdut Julia, dapet kondomnya,”

“Lho sejak kapan Julia make kondom?” (more…)

Namanya Cici. Saya mengenalnya waktu di Jambi beberapa pekan lalu. Cici seorang penari. Dengan jemari lentik dan kaki jenjang yang mempesona.

Saya mengenalnya bukan karena Cici cantik maupun memiliki jemari lentik. Saya nekat menyambangi dirinya setelah tarian yang ia bawakan mempesona hatiku. Gaya menarinya gemulai, terkadang rancak dengan dendang musik khas melayu yang mendayu-dayu.

Cici tersenyum padaku, sesaat sebelum naik pentas. Saya memang sengaja menelusup di belakang panggung untuk melihat-lihat. Saat itu, Cici menari untuk yang kedua kali. Tarian pertama, langsung menarikku untuk menyambangi dia.

Saya ulurkan tangan.

“Saya Cici,” kata dia singkat.

Cici membawakan tarian tradisonal Jambi yang saya sendiri lupa nama tarian itu. Bukan. Bukan karena saya grogi saat berjabat tangan dengan Cici, lantas abai dengan nama tariannya. Bukan. Saat itu, saya sudah mencoba menghafal dengan sungguh-sungguh. Tapi begitu sampai hotel tempat saya menginap, bukan nama tarian yang saya ingat malah Cici. Dasar!!! (more…)

Sepotong kalimat, saya dapat dari seorang kawan lewat pesan singkat di HP. Kalimat singkat yang susah bagi saya untuk membalasnya. Tulisannya begini. Kenapa media selalu mengekspose perempuan. Waduh..

Sebenarnya gampang saja saya menjawabnya, meski saya tidak piawai mengenal seluk beluk perempuan. Tapi karena kawan saya ini orangnya penggugat, saya sampai mikir berlipat-lipat untuk menulis kata demi kata.

Tidak ketemu. Saya putar otak kembali.
Akhirnya saya jawab ngasal. Saya jawab begini. Karena wanita lebih menjual.

Dan benar saja. Tak lama HP saya kembali berdering. Jawaban ngasal saya dibalas dengan beragam pertanyaan menggugat lainnya.

Asem!! Salah jawab rupanya.

Lalu dengan beragam argumen ngalor ngidul, saya mencoba memberi penjelasan kepadanya. Belum jelas juga, akhirnya, kawan saya itu telepon.

Untung kita memakai jaringan telepon yang sama. Dimana di negeri ini, untuk telepon dengan biaya murah harus sama-sama satu provider.

Kenapa harus wanita menjadi obyek para fotografer dan tayang di halaman depan media, daripada foto benda lainnya? Itu salah satu gugatan yang saya terima. (more…)

Malam Minggu lalu, telepon saya berdering. Kawan saya mengajak nonton di Bioskop Taman Ismail Marzuki. Midnite. Padahal, tengah malam itu, harusnya saya pergi dengan abang saya, karaoke. Sejam sebelumnya, saya tawari dia “olah vokal” karena minggu ini saya benar-benar penat. Dan kalau sedang penat begini, paling enak memang teriak-teriak.

Tapi entah kenapa, kemudian saya batalkan rencana untuk karaoke. Saya memilih menonton Kevin Beacon, beringas menembaki satu demi satu, genk jalanan yang telah membunuh keluarganya. Hasilnya, film Death Sentence, tidak mengurangi penat saya, justru membuat pikiran saya padat.

Film ini berkisah tentang Nick Hume (Kevin Beacon) wakil direktur perusahaan asuransi yang memiliki kehidupan normal. Nick hidup bahagia bersama istri dan dua orang anaknya.

Tragedi bermula ketika anaknya Brendan (Stuart Lafferty) terbunuh dalam insiden pembunuhan di sebuah kedai pengisian bahan bakar. Brendan yang memang menjadi “golden boy” keluarga ini terbunuh oleh sekelompok genk yang sedang “uji nyali” melakukan pembunuhan agar bisa masuk menjadi anggota genk.

Brenden terbunuh didepan mata Nick. Insting seorang ayah, tentunya membuat Nick kalap dan menghajar salah satu pembunuh anaknya. Nick berhasil membuka topeng angota genk tersebut sebelum kemudian Nick dihajar. Meski kemudian pembunuh Brendan tertangkap.

“Aku ingin pembunuh itu menghabiskan hidupnya di penjara,” kata Nick

“Tidak bisa. Tuntutan kita hanya 3-5 tahun,” kata pengacara Nick

“Kenapa?,”

“Jika kita menuntut seumur hidup, justru akan menuai simpati dari kuasa hukumnya. Dan pembunuh itu akan lolos. 3 tahun itu rasional,”

“Tapi dia sudah membunuh anakku,”

(more…)