Malam Minggu lalu, telepon saya berdering. Kawan saya mengajak nonton di Bioskop Taman Ismail Marzuki. Midnite. Padahal, tengah malam itu, harusnya saya pergi dengan abang saya, karaoke. Sejam sebelumnya, saya tawari dia “olah vokal” karena minggu ini saya benar-benar penat. Dan kalau sedang penat begini, paling enak memang teriak-teriak.

Tapi entah kenapa, kemudian saya batalkan rencana untuk karaoke. Saya memilih menonton Kevin Beacon, beringas menembaki satu demi satu, genk jalanan yang telah membunuh keluarganya. Hasilnya, film Death Sentence, tidak mengurangi penat saya, justru membuat pikiran saya padat.

Film ini berkisah tentang Nick Hume (Kevin Beacon) wakil direktur perusahaan asuransi yang memiliki kehidupan normal. Nick hidup bahagia bersama istri dan dua orang anaknya.

Tragedi bermula ketika anaknya Brendan (Stuart Lafferty) terbunuh dalam insiden pembunuhan di sebuah kedai pengisian bahan bakar. Brendan yang memang menjadi “golden boy” keluarga ini terbunuh oleh sekelompok genk yang sedang “uji nyali” melakukan pembunuhan agar bisa masuk menjadi anggota genk.

Brenden terbunuh didepan mata Nick. Insting seorang ayah, tentunya membuat Nick kalap dan menghajar salah satu pembunuh anaknya. Nick berhasil membuka topeng angota genk tersebut sebelum kemudian Nick dihajar. Meski kemudian pembunuh Brendan tertangkap.

“Aku ingin pembunuh itu menghabiskan hidupnya di penjara,” kata Nick

“Tidak bisa. Tuntutan kita hanya 3-5 tahun,” kata pengacara Nick

“Kenapa?,”

“Jika kita menuntut seumur hidup, justru akan menuai simpati dari kuasa hukumnya. Dan pembunuh itu akan lolos. 3 tahun itu rasional,”

“Tapi dia sudah membunuh anakku,”

Pengadilan digelar. Nick menatap pembunuh Brendan dengan tatapan kebencian dan seolah ingin balas membunuhnya. Tapi apa yang dilakukan Nick. Dia justru melepas pembunuh itu dan mulai merencanakan pembunuhan demi pembunuhan.

Film adaptasi dari novel karya Brian Garfield ini memang termasuk dalam kategori thriller, drama, dan action sekaligus. Romantisme kehidupan rumah tangga di awal film, pelan-pelan mengalir hingga mencapai puncak konflik demi konflik yang ironisnya, masuk dalam kategori sadis.

Sutradara film ini, James Wan (sequel SAW) memang mengkondisikan penonton sedemikian rupa. Hingga pada puncaknya, membuat penonton enggan bergeser. Gambar yang ditampilkan juga tergolong baik. Kamera yang dibawa berlari, berputar, atau tampilan kesadisan tegambar jelas. Kaki yang buntung karena shotgun, darah yang muncrat, atau badan yang terpental karena tertabrak mobil, jelas ditampilkan. James Wan memang piawai mengolah adegan penuh darah. Saya sampai begidik.

Karakter Nick dalam film ini juga ditonjolkan lewat perubahan yang cepat. Bagaimana karakter seorang ayah yang baik, manis dan smart, tiba-tiba dimunculkan dalam satu kondisi dimana harus beringas, brutal dan kejam. Insting seorang manusia yang muncul ketika semua yang membuat dia bahagia, tiba-tiba direnggut paksa dan hilang. Balas Dendam.

Kevin Beacon dalam film ini juga bermain dengan maksimal. Perubahan karakter dalam film ini dilakukan dengan baik.

Sepanjang film diputar, saya sering terhenyak. Usai film diputar, salah satu ucapan kawan saya, jelas terngiang di telinga. Bahwa Dendam memang tidak menghasilkan apa-apa.

Seperti Nick Hume yang harus kehilangan keluarganya, karena terlalu mengumbar emosi.