Sepotong kalimat, saya dapat dari seorang kawan lewat pesan singkat di HP. Kalimat singkat yang susah bagi saya untuk membalasnya. Tulisannya begini. Kenapa media selalu mengekspose perempuan. Waduh..

Sebenarnya gampang saja saya menjawabnya, meski saya tidak piawai mengenal seluk beluk perempuan. Tapi karena kawan saya ini orangnya penggugat, saya sampai mikir berlipat-lipat untuk menulis kata demi kata.

Tidak ketemu. Saya putar otak kembali.
Akhirnya saya jawab ngasal. Saya jawab begini. Karena wanita lebih menjual.

Dan benar saja. Tak lama HP saya kembali berdering. Jawaban ngasal saya dibalas dengan beragam pertanyaan menggugat lainnya.

Asem!! Salah jawab rupanya.

Lalu dengan beragam argumen ngalor ngidul, saya mencoba memberi penjelasan kepadanya. Belum jelas juga, akhirnya, kawan saya itu telepon.

Untung kita memakai jaringan telepon yang sama. Dimana di negeri ini, untuk telepon dengan biaya murah harus sama-sama satu provider.

Kenapa harus wanita menjadi obyek para fotografer dan tayang di halaman depan media, daripada foto benda lainnya? Itu salah satu gugatan yang saya terima.

Saya menghela nafas. Saya biarkan dia berkomentar panjang lebar. Yang saya tau, perempuan dimana pun memang memiliki nilai jual. Salah satu penyebabnya adalah wanita itu lebih menarik. Logikanya, setiap laki-laki memiliki insting untuk menyukai perempuan. Laki-laki menggosip tentang tubuh perempuan, memelototi setiap lekuk tubuh perempuan itu hal yang wajar dan umum terjadi.

Sebaliknya, laki-laki memelototi tubuh laki-laki lainnya, jelas tidak wajar. Dan bisa muntah saya melihat laki-laki telanjang menggelinjing dimuka saya. Lalu bagaimana jika kemudian yang melihat perempuan adalah perempuan itu sendiri?

Dibelahan dunia manapun, kecendrungan perempuan suka memelototi tubuh wanita lainnya adalah sesuatu yang umum terjadi. Kekaguman perempuan terhadap bentuk molek, atau kecantikan sejenisnya adalah hal yang wajar. Dan itu dilakukan oleh setiap perempuan.

Contohnya. Majalah perempuan seringkali menampilkan gambar perempuan cantik dengan make up yang menjadi tren saat ini. Atau model baju terkini dengan model wanita yang berbody sempurna. Kenapa? Karena perempuan sering kali memuji bentuk wanita lainnya. Ya, setidaknya mencita-citakan memiliki kecantikan atau kemolekan bentuk seperti model di foto sebuah majalah.

Dalam arti kata, setiap perempuan tak hanya mampu menjadi perhatian lawan jenisnya, tapi juga menjadi perhatian sesama jenisnya. Alhasil perempuan menjadi lebih sering muncul di iklan atau foto depan sebuah majalah daripada laki-laki. Itulah kemudian, mengapa perempuan memiliki nilai jual.

Saya diam. Kawan saya diseberang juga diam. Mulai paham sepertinya dengan analisa ngawur saya. lalu saya pancing dengan pertanyaan lagi.

“Pernah denger istilah gratifikasi perempuan?,”
“Gratifikasi perempuan? Maksudnya,”

Istilah gratifikasi sendiri definisi sederhananya adalah pemberian hadiah. Saya sendiri sebenarnya kurang sepakat jika perempuan (yang sangat saya hormati itu) diistilahkan dengan gratifikasi. Sepertinya ada unsur pelecehan didalamnya. Kenapa kemudian menjadi gratifikasi? karena wanita memiliki nilai lebih dibanding apapun, lebih berharga dari benda dan tentunya mampu meluluhkan seseorang, khususnya laki-laki.

Gratifikasi perempuan sama saja dengan memberi hadiah perempuan kepada seseorang. Tujuannya, bisa jadi untuk pelicin atau sogokan. Sama halnya dengan mengibaratkan perempuan dengan benda-benda lainnya. Hmmm..

“Wah kurang ajar sekali,” runtuk kawan saya
“Hehehe.. tenang,”

Dalam hukum pidana korupsi, gratifikasi termasuk tindak pidana korupsi. Menurut UU Korupsi no 31/1999 jo. UU no 21/2001 ada 30 jenis tindakan korupsi. Salah satunya adalah gratifikasi.

“Berarti gratifikasi perempuan termasuk korupsi?,”

Dalam UU tipikor memang tidak diatur persoalan ini. Tapi bukan itu. Pertanyaannya adalah, ketika kemudian gratifikasi berupa manusia itu diterima, siapakah yang rendah moralnya? Manusia yang menjadi bahan gratifikasi, atau si penerimanya?

Kawan saya diam. Saya juga enggan menjawab. Anda?