Namanya Cici. Saya mengenalnya waktu di Jambi beberapa pekan lalu. Cici seorang penari. Dengan jemari lentik dan kaki jenjang yang mempesona.

Saya mengenalnya bukan karena Cici cantik maupun memiliki jemari lentik. Saya nekat menyambangi dirinya setelah tarian yang ia bawakan mempesona hatiku. Gaya menarinya gemulai, terkadang rancak dengan dendang musik khas melayu yang mendayu-dayu.

Cici tersenyum padaku, sesaat sebelum naik pentas. Saya memang sengaja menelusup di belakang panggung untuk melihat-lihat. Saat itu, Cici menari untuk yang kedua kali. Tarian pertama, langsung menarikku untuk menyambangi dia.

Saya ulurkan tangan.

“Saya Cici,” kata dia singkat.

Cici membawakan tarian tradisonal Jambi yang saya sendiri lupa nama tarian itu. Bukan. Bukan karena saya grogi saat berjabat tangan dengan Cici, lantas abai dengan nama tariannya. Bukan. Saat itu, saya sudah mencoba menghafal dengan sungguh-sungguh. Tapi begitu sampai hotel tempat saya menginap, bukan nama tarian yang saya ingat malah Cici. Dasar!!!

Saya suka Cici. Eh tarian yang dibawakan Cici. Kenapa? Karena begitu indah. Sudah lama saya tidak melihat secara langsung pertunjukan tari tradisional. Memakai kostum khas daerah, dan gemulai lembut penari dengan kaki-kaki yang menapak indah.

Saya suka gadis muda macam Cici. Saat pertama saya tanya kenapa masih suka menari tradisional, dia jawab begini.

“Saya lahir di Jambi. Kalau nggak kita yang masih muda, siapa lagi yang akan menari,”

Saya tersentak. Masih ada gadis muda macam dia

Lalu saya bilang,

“kenapa nggak dance. Seperti yang banyak anak muda lakukan?,”

“Saya suka dance. Tapi lebih suka tari tradisional. Saya cinta, kak,”

Cinta. Cinta memang membuat semuanya jadi terasa mudah dipahami. Dengan cinta pula, Cici menari dengan jiwanya. Jiwa anak muda yang masih peduli dengan nilai budaya. Sayang, saya lupa tidak meminta nomor teleponnya.

Selamat Hari Kartini. Semoga perempuan muda masa kini masih suka dengan tradisi. Budaya leluhur yang berlahan mulai luntur.

Seperti Cici tentunya.