May 2008


Semua cerita tentangmu, yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku, memenuhi ruang hatiku

—lirik lagu ODE by Padi—

Semalam, sengaja saya menghabiskan waktu dengan Nagabonar. Jenderal perang kemerdekaan yang diangkat oleh anak buahnya itu, sekonyong-konyong mencuri hatiku.

Ya, Nagabonar. Semalam saya kembali nonton mantan copet, yang sengaja memilih dipenjara karena makanan di penjara tidak bayar. Nagabonar, yang memiliki sahabat si Bujang, yang sudah dilarang Nagabonar untuk tidak berperang tapi malah memilih perang dan matilah dia dimakan cacing.

Saya menontonnya sendiri. Tidak dengan siapa-siapa. Sendiri dengan sepi, dengan penonton yang tetep terkekeh-kekeh menahan geli.

Belum puas, pulanglah saya. Pulang, masuk kamar, melanjutkan kisah Nagabonar dengan Bonaga, anaknya. Dan entah kenapa, setelah nonton sekuel Nagabonar, tiba-tiba saya teringat dengan semua orang yang saya cintai.

Saat menonton Nagabonar di Bioskop Taman Ismail Marzuki, yang terbayang di otak saya adalah sahabat saya. Sahabat yang mengerti betul akan karakter saya. Sahabat yang membuat masa muda saya menggelegak dengan keriangan khas remaja. (more…)

nagabonarMalam ini terasa sunyi. Entah kenapa malam ini saya merasa berada dalam kesunyian. Sunyi, tentunya beda dengan sepi. Buktinya, malam ini, saya berada ditengah hingar kawan-kawan yang asik masyuk bermain PS 2 ditemani sebotol Civas, tapi saya tetap merasa sunyi. Sunyi memaksa saya menyeret kaki ke kamar sewa .

I Got The Blues-nya The Rolling Stones yang sedianya saya jadikan theme song penghibur sunyi, ternyata tidak banyak membantu. Padahal, itu lagu wajib kami (saya dan abang saya) untuk membangkitkan suasana ceria kala kami “olah vokal” di Inul. Tapi tetap saja. Saya justru terpuruk dalam kesunyian.

Ganti Miyabi.
Ah tetap! Tidak banyak membantu.
Asia Carera. Malah makin suntuk.
Tidur. Justru wajah kawan perempuan saya yang membayang di otak.
Ogah ah…
Malas memfantasikan kawan sambil nonton Miyabi dan Asia Carera

(*duh maaf. Meski sekilas, malam itu saya sempat membayangkan anda—nggak jadi di link hehehe—).

Mau keluar, sama saja. Jengah rasanya melihat antrian motor dan mobil di SPBU. Malam ini, penentu kebijakan negeri ini sudah memutuskan menaikkan BBM 28,7%. Dan saya, entah kenapa malas melihat banyak orang mengantri demi seliter premium.

Harga minyak mentah dunia memang terus meroket. Mau tidak mau, pemerintah harus menaikkan BBM. Jika tidak, cadangan devisa akan tergerus. Subsidi jelas tidak mungkin ditambahi. Karena konon, kantong pemerintah tak cukup menambal naiknya minyak mentah. Dan gerakan Hari Kebangkitan Nasional sekonyong-konyong berubah menjadi Hari Kebangkrutan Nasional.

Ahh.. sudahlah.. saya malas membicarakan ini. Saya malah semakin suntuk. Hati saya semakin teriris-iris. (more…)

sophan dan widyawatiSaya mengaguminya sebagai seorang aktor dan sutradara. Bukan politikus, karena saya tidak pernah kagum dengan seorang politikus. Sophan Sophian, bagi saya adalah seorang aktor yang hebat. Seorang ayah dan suami yang mengerti betul perannya dalam berumah tangga.

Disaat selebritis lainnya tergerus gossip keretakan rumah tangga, Sophan Sophian justru mempererat jalinan kasihnya dengan Widyawati (istrinya). Nyaris tak ada gossip yang menimpa keduanya hingga ajal merengut.

Sophan Sophian, bagi saya adalah aktor senior yang mampu memerankan karakter yang dimainkan dengan sangat baik. Terakhir kali, film Love besutan sutradara asal Malaysia, Khabir Bhatia membuat saya merinding. Dalam film itu, Sophan Sophian bermain bersama istrinya Widyawati. Dua aktor dan aktris senior itu benar-benar membuat saya terpukau. Air mata saya sempat mengalir dalam deras cerita yang mereka mainkan.

Dari pemain ke Sutradara

Sophan Sophian juga terkenal sebagai sutradara handal. Lelaki kelahiran Makassar, 26 April 1944 itu dengan dingin membesut film-film layar lebar yang tak kalah indah. Film kesukaannya saya adalah Damai Kami Sepanjang Hari.

Bukan. Bukan karena di film itu diperankan oleh Iwan Fals. Tapi jalinan cerita dan gambar yang ditorehkan dalam satu kesatuan bangunan cerita membuat saya suka sekali menonton film itu. Toh film itu juga menceritakan tentang perjalanan karier penyanyi kesukaan saya Iwan Fals. Tak hanya Damai Kami Sepanjang Hari, film besutan Sophan Sophian masih berderet. Sebut saja Jinak-Jinak Merpati (1975), Widuri Kekasihku (1976), Letnan Harahap (1977), Bung Kecil (1978), Buah Hati Mama (1980), Jangan Ambil Nyawaku (1981), Bunga Bangsa (1982), Kadarwati (1983), Saat-Saat Yang Indah (1984), Tinggal Landas Buat Kekasih (1984), Melintas Badai (1985), Damai Kami Sepanjang Hari (1985), Di Balik Dinding Kelabu (1986), Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat (1987), Ayu dan Ayu (1988), Suami (1988), Sesaat Dalam Pelukan (1989), Ketika Senyummu Hadir (1991), dan terakhir Sesal (1994). (diambil di sini)

Sophan Sophian telah tiada. Kecelakaan motor membuat aktor senior itu terenggut nyawa. Lubang yang menganga di aspal jalan Ngawi-Sragen membuat motor besarnya terpelanting. Sophan sophian selalu ingin memajukan bangsa ini. Film terakhir yang diikuti bersama istrinya, juga karena keinginan kuat dirinya untuk memajukan perfilman Indonesia. Hingga disaat meninggal pun, Sophan Sophian sedang melakukan perjalanan konvoi merah putih rangkaian 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Dan kini, engkau telah pergi
Engkau pergi dengan baju kebesaran seorang pejuang.
Selamat Jalan Sophan Sophian..!!

tolak BBM naik..Senin siang kemarin, kepala saya mendadak panas. Serasa mau meledak. Lalu, otak saya yang cekak berhamburan mengenai orang-orang disekitar saya. Panas, karena cuaca mendadak menyengat, jalan yang mengular, dan aktifitas demonstran yang menutup jalan. Semuanya membuat saya pening.

Itulah kemudian kenapa saya memilih duduk ngadem di bawah AC pressroom kantor Depdagri. Ngisis saya sembari ceting-an sama kawan-kawan yang lagi on line. Saya cari-cari Samirun nggak ada. Sedang tidak ngenet rupanya.

Lalu ponsel saya bergetar. Ternyata Bagus Indra, kawan saya menelepon. Tumben dia siang-siang begini menelepon.

“Bro, jalanan macet. Bis dan bajaj saling salip sejengkal demi sejengkal, praktis tak ada ruang buat motorku menerabas. Macet total. Bajingan!!”

“Di Istana ada demo, Jack!! menutup jalan. Kalau kau mau ke Depdagri sekarang, jelas akan mengular. Dan akan semakin panjang, karena harus memutar,”

“Kampret!!” (more…)