tolak BBM naik..Senin siang kemarin, kepala saya mendadak panas. Serasa mau meledak. Lalu, otak saya yang cekak berhamburan mengenai orang-orang disekitar saya. Panas, karena cuaca mendadak menyengat, jalan yang mengular, dan aktifitas demonstran yang menutup jalan. Semuanya membuat saya pening.

Itulah kemudian kenapa saya memilih duduk ngadem di bawah AC pressroom kantor Depdagri. Ngisis saya sembari ceting-an sama kawan-kawan yang lagi on line. Saya cari-cari Samirun nggak ada. Sedang tidak ngenet rupanya.

Lalu ponsel saya bergetar. Ternyata Bagus Indra, kawan saya menelepon. Tumben dia siang-siang begini menelepon.

“Bro, jalanan macet. Bis dan bajaj saling salip sejengkal demi sejengkal, praktis tak ada ruang buat motorku menerabas. Macet total. Bajingan!!”

“Di Istana ada demo, Jack!! menutup jalan. Kalau kau mau ke Depdagri sekarang, jelas akan mengular. Dan akan semakin panjang, karena harus memutar,”

“Kampret!!”

Senin siang, kemarin, aktifis BEM se Indonesia merangsek ke bibir Istana Merdeka. Ribuan mahasiswa dengan jas warna-warni itu tumplek blek meminta presiden untuk tidak menaikkan BBM. Mereka khawatir kebijakan menaikkan BBM akan membuat harga-harga merangkak naik. Dampaknya rakyat yang susah.

“Padahal, siang ini aku mau traktir kau di warung Bakso belakang itu. Nikmat rasanya, makan sambil dengar gurauanmu,”

“Kau sabarlah dikit, kau redam saja keinginanmu itu,” hiburku.

Selang beberapa menit, ponsel saya kembali bergetar. Lagi-lagi Bagus.

“Tau nggak kau?, barusan saya melewati ambulance yang meraung-raung. Didalamnya saya longok ada lelaki renta meringis kesakitan. Disampingnya, mungkin anaknya. Matanya menatap dengan cemas, saya sempat mencuri pandang, tangannya mengamit tangan lelaki itu,” cerocos bagus.

Saya tercekat. Lidah saya mendadak kelu. Batin saya ngilu. Saya paling tak tahan mendengar cerita macam ini.

“Saya tak tau nasib lelaki dalam ambulance itu. Demonstran itu telah membuat semua orang susah, jalanan macet, bensin saya hampir habis, perut saya kosong, makanya saya memilih berhenti dan mampir di warteg. Aku nggak jadi ke situ coy. Kau kirim aku informasi lewat emailku ya,” ujar dia. Klik, telepon dimatikan.

Mendadak kepala saya kembali panas. Lalu otak cekak saya berputar. Ada ribuan orang tak kalah menderita di jalanan kota Jakarta ini. Macet, sumpek, panas ditambah jalan yang harus memutar karena demonstran.

Dan sore kemarin, saya juga mengalami nasib serupa. Pulang ke kantor harus memutar. Ketika tiba-tiba mata saya beradu dengan polisi muda yang sedang membentak lelaki setengah baya. Lelaki itu berboncengan dengan anak dan istrinya. Rupanya mereka hendak menerobos jalanan yang ditutup, karena rumahnya tak jauh dari jalan yang diblokir. Saya seperti mengenali lelaki itu.

Batin saya kembali ngilu. Saya jadi ingat Bapak.