sophan dan widyawatiSaya mengaguminya sebagai seorang aktor dan sutradara. Bukan politikus, karena saya tidak pernah kagum dengan seorang politikus. Sophan Sophian, bagi saya adalah seorang aktor yang hebat. Seorang ayah dan suami yang mengerti betul perannya dalam berumah tangga.

Disaat selebritis lainnya tergerus gossip keretakan rumah tangga, Sophan Sophian justru mempererat jalinan kasihnya dengan Widyawati (istrinya). Nyaris tak ada gossip yang menimpa keduanya hingga ajal merengut.

Sophan Sophian, bagi saya adalah aktor senior yang mampu memerankan karakter yang dimainkan dengan sangat baik. Terakhir kali, film Love besutan sutradara asal Malaysia, Khabir Bhatia membuat saya merinding. Dalam film itu, Sophan Sophian bermain bersama istrinya Widyawati. Dua aktor dan aktris senior itu benar-benar membuat saya terpukau. Air mata saya sempat mengalir dalam deras cerita yang mereka mainkan.

Dari pemain ke Sutradara

Sophan Sophian juga terkenal sebagai sutradara handal. Lelaki kelahiran Makassar, 26 April 1944 itu dengan dingin membesut film-film layar lebar yang tak kalah indah. Film kesukaannya saya adalah Damai Kami Sepanjang Hari.

Bukan. Bukan karena di film itu diperankan oleh Iwan Fals. Tapi jalinan cerita dan gambar yang ditorehkan dalam satu kesatuan bangunan cerita membuat saya suka sekali menonton film itu. Toh film itu juga menceritakan tentang perjalanan karier penyanyi kesukaan saya Iwan Fals. Tak hanya Damai Kami Sepanjang Hari, film besutan Sophan Sophian masih berderet. Sebut saja Jinak-Jinak Merpati (1975), Widuri Kekasihku (1976), Letnan Harahap (1977), Bung Kecil (1978), Buah Hati Mama (1980), Jangan Ambil Nyawaku (1981), Bunga Bangsa (1982), Kadarwati (1983), Saat-Saat Yang Indah (1984), Tinggal Landas Buat Kekasih (1984), Melintas Badai (1985), Damai Kami Sepanjang Hari (1985), Di Balik Dinding Kelabu (1986), Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat (1987), Ayu dan Ayu (1988), Suami (1988), Sesaat Dalam Pelukan (1989), Ketika Senyummu Hadir (1991), dan terakhir Sesal (1994). (diambil di sini)

Sophan Sophian telah tiada. Kecelakaan motor membuat aktor senior itu terenggut nyawa. Lubang yang menganga di aspal jalan Ngawi-Sragen membuat motor besarnya terpelanting. Sophan sophian selalu ingin memajukan bangsa ini. Film terakhir yang diikuti bersama istrinya, juga karena keinginan kuat dirinya untuk memajukan perfilman Indonesia. Hingga disaat meninggal pun, Sophan Sophian sedang melakukan perjalanan konvoi merah putih rangkaian 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Dan kini, engkau telah pergi
Engkau pergi dengan baju kebesaran seorang pejuang.
Selamat Jalan Sophan Sophian..!!