Semua cerita tentangmu, yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku, memenuhi ruang hatiku

—lirik lagu ODE by Padi—

Semalam, sengaja saya menghabiskan waktu dengan Nagabonar. Jenderal perang kemerdekaan yang diangkat oleh anak buahnya itu, sekonyong-konyong mencuri hatiku.

Ya, Nagabonar. Semalam saya kembali nonton mantan copet, yang sengaja memilih dipenjara karena makanan di penjara tidak bayar. Nagabonar, yang memiliki sahabat si Bujang, yang sudah dilarang Nagabonar untuk tidak berperang tapi malah memilih perang dan matilah dia dimakan cacing.

Saya menontonnya sendiri. Tidak dengan siapa-siapa. Sendiri dengan sepi, dengan penonton yang tetep terkekeh-kekeh menahan geli.

Belum puas, pulanglah saya. Pulang, masuk kamar, melanjutkan kisah Nagabonar dengan Bonaga, anaknya. Dan entah kenapa, setelah nonton sekuel Nagabonar, tiba-tiba saya teringat dengan semua orang yang saya cintai.

Saat menonton Nagabonar di Bioskop Taman Ismail Marzuki, yang terbayang di otak saya adalah sahabat saya. Sahabat yang mengerti betul akan karakter saya. Sahabat yang membuat masa muda saya menggelegak dengan keriangan khas remaja.

Namanya Ariev. Dia tiga tahun lebih muda dari saya. Dia tinggal di Kampung Srondol, Semarang. Orangnya jujur, ganteng, piawai mengolah ide menjadi “sesuatu”. Mantan pengamen, peminum, pemakai dan petarung yang hebat. Sudah sejak lama dia sadar dan menjauhi masa-masa lalu itu.

“Kalau saja malam itu saya turuti ajakan kawan-kawan saya mencopet, mungkin aku sudah dipenjara,” kata Ariev suatu ketika.
“Emang kau kemana,”
“Aku diminta emakku ngangsu. Sore itu air rumah mati,” kekehnya.

Ariev ini memiliki tubuh yang kekar. Setiap sore, dia selalu olahraga. Dia jago pula menggocek bola. Aku sering berpasangan dengannya kala kita bermain sepakbola. Ariev ini jenderal lapangan, saya eksekutornya.

Ariev mulai meninggalkan kebiasaan buruknya di jalanan, sejak kawan dia meninggal karena OD. Sahabat saya itu memilih untuk mengaji. Kebetulan, di kampung saya ada mushola yang isinya anak-anak muda. Mulai yang santri beneran, hingga radikal macam saya. Sahabat saya itu ikut bergabung dengan kami dan sejak itulah pertemanan kami makin dekat.

Saya dan Ariev berteman, macam Nagabonar dan si Bujang. Dan entah kenapa, begitu si Bujang mati tertembak Belanda, saya ikut menangis. Saya tak kuasa menahan air mata, karena sontak bayang-bayang Ariev tergambar jelas di mata saya. Saya ikutan menangis seperti lolongan pilu Nagabonar, saat kehilangan si Bujang.

Dada saya tersumpal beban hingga sesak, karena saya ingat Ariev. Ariev, si ganteng kawan saya itu, kini tak bisa bergerak karena ada infeksi syaraf punggung hingga sekujur tubuhnya lumpuh.

Ariev hanya bisa terbaring, sementara saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa menengoknya, tak bisa memeluknya, mengajaknya karaoke, bersikejar dengan peluh dan bola kesukannya. Saya tak bisa menemani saat-saat dia membutuhkan kawan bercerita, sembari menghabiskan malam.

Saya disini dengan segala kesombongan khas anak Jakarta, sementara Ariev hanya bisa tertidur di kasur. Tergeletak tak berdaya.

Saya tak sanggup membayangkan apa yang kini ada dibenaknya.
“Rif, aku kangen. Ngapurone yo dab!”

Lagu ini, Rif. Sepertinya cocok untuk kita nyanyikan. Dan seperti biasa, kau pegang gitar dan kita nyanyi sama-sama. Seperti dulu, saat waktu tak memisahkan kita

***

Semua cerita tentangmu
Yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku
Memenuhi ruang hatiku

Seperti cahaya mentari kau hadir
Terangi hidupku, terangi jalanku
Menuntunku memaknai semua yang ada

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau ucapkan

Meski kau telah berlalu
Tak lagi di sisi, namun cintamu akan tetap hidup
Tak terhapuskan, tak tergilas oleh waktu

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau berikan

Cintaku tak henti mengalir untukmu
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah aku alami

Oo..aku takkan melupakan segala yang terindah
Yang hadir dalam hidupku

Setiap kata kan terukir di hati
Semoga damai selalu bersamamu
Semoga damai selalu bersamamu

ODE By PADI

***

Malam ini, namamu memenuhi ruang hatiku. Memaknai semua perjalanan yang kita lewati dulu. Cepat sembuh bro. Batavia menantimu!!

Untuk Ariev Pamungkas.