June 2008


Saat-saat menentukan itu adalah ketika saya nekat menyusuri boulevard di salah satu sudut kampus Universitas Negeri Solo Universitas Sebelas Maret (UNS). Dedaunan yang beterbangan, desir angin dan sendau kutilang di Angsana, semakin menguatkan langkah saya menapaki Aula Kampus UNS.

Beberapa menit lagi, saat menentukan itu tiba. Saat dimana saya menemukan dua cinta sekaligus. Cinta pada gadis manis bermata menyala, dan harmonisasi paduan suara.

Kenapa saya bisa nyasar ke UNS dan menemukan dua cinta dalam satu waktu?

Saya nekat menyambanginya untuk membuktikan bahwasanya saya menyesal telah mendendangkan lagu paling romantis se-dunia (setidaknya bagi saya). Lagu yang membuat mata gadis itu meredup lalu melelehkan air matanya. Kenapa paling romantis? karena dengan lagu itulah saya menembak gadis itu.

Itu sehari lalu. Sore, sebelum gadis itu berangkat untuk menjadi salah satu peserta paduan suara di UNS. Kebetulan dia kebagian pengisi suara sopran di kelompoknya.

Dan bodohnya saya, secara tak sengaja, saya menyanyikan lagu itu dihadapannya.

“Aku suka dengan lagu ini,” ujarku
“Oya? Kenapa memang,”
“Lagu ini seperti sengaja diciptakan untukku,”
“Maksudmu,”
“Iya. Aku cinta kau dan dia,”
“Apaan?,”
“Aku cinta kau dan dia. Aku mencintai kamu, tapi aku juga mencintai perempuan lain,” tegasku (more…)

Advertisements

gambar diambil dari berro.comNun jauh, rengek perempuan itu menggema. Pilu itu mengiris pelan, menghempas mayapada lalu mengalir di sesela handsfree ujung selularku.

“Aku sudah berusaha. Tapi sampai detik ini, aku tak pernah merasakan sesuatu,” isaknya.
“Cinta itu seperti salju, bidadariku,”
“Maksudmu?”
“Kalau memang gumpalan salju yang kau buat itu hancur berkeping, kau masih memiliki kesempatan untuk menggumpalkan kembali. Membentuknya dengan lekuk yang kau suka”
“Lalu, bagaimana jika musim dingin telah berlalu?”

Itu suara kawan saya. Isak itu datang ketika saya nyaris terlelap. Getar ponsel mengagetkanku, memaksa saya untuk membuka mata. Suaranya mengiris hingga batin saya ikut ngilu.

“Kenapa bisa gumpalan yang kau buat itu hancur,” kali ini saya coba mengoreknya
“Dia terlalu asik dengan dunianya,”
“Dunianya? Bukankah selama ini dia selalu ada untukmu?,”
“Tidak kali ini,”

Isaknya mulai tak beraturan. Sesekali hening, menahan nafas lalu kembali melanjutkan cerita.

“Beberapa malam ini, dia seperti abai denganku,” lanjutnya
“Lalu,”
“Kenapa selalu aku yang mengalah. Sementara kami hanya memiliki waktu saat orang-orang sudah terlelap,”
“Apa alasan dia tak lagi menghubungimu,”
“Gara-gara EURO sialan!!”
“Hah.. Bola!!”

Tawa saya hendak meledak. Saya mencoba untuk tak bereaksi berlebihan. Saya tidak hendak menyakiti perasaannya.

“Itu akan berlalu, Bidadariku. Musim dingin akan segera mendatangimu kembali. Dan kau, bidadariku, akan memiliki kesempatan untuk membuat boneka salju kesukaanmu,”
“Bagaimana jika aku ingin ada satu musin di dunia ini,”
“Ya. Dan kau harus menjaga gumpalan salju yang kau bentuk itu dengan hatimu,”
Isaknya mulai terhenti. Ponselnya ia matikan.
Klik!!

(more…)

mela  barbie dan goyangnyaKenal yang namanya Lina? Iya, itu Lina Geboy. Kenal nggak? Kalau Mela Barbie? Nggak kenal juga? Duh!!

Baiklah, kalau anda nggak kenal, saya coba kenalkan. Lina Geboy dan Mela Barbie itu biduanita dangdut koplo. Dua nama itu entah kenapa membuat saya takjub. Saya ngefans banget dengan dua gadis itu. Dua nama yang entah kenapa dibelakangnya diberi embel-embel Geboy dan Barbie.

Saya ngefans karena mereka itu penghibur sejati. Sumpah, suara dan goyangnya dahsyat. Saya sampai tak tahan. Lina Geboy dan Mela Barbie seolah paham benar dengan statusnya sebagai artis penghibur. Jadi meski di colek sana-sini, disuitin ribuan manusia, goyangnya justru semakin heboh. Desahannya, alamakkk!! Saya sampai tak kuasa untuk tidak menahan nafas. Jantung saya berdenyut-denyut kalau suara kendang itu mengendut-endut. Habisnya, goyangan Lina dan Mela benar-benar pas dengan irama kendang. Mereka masih bisa tertawa-tawa dan tetap menjaga kualitas suaranya. Benar-benar penghibur sejati.

Lina, Mela, kendang dan dangdut memang seperti satu kesatuan yang utuh. Semunya tidak bisa dipisahkan. Benar-benar menarik urat saya untuk terus melotot.

Kalau toh dipisahkan, mungkin saya tidak pernah ngefans dengannya. Goyang, tanpa Lina atau Mela, benar-benar tak enak dilihat, kendang tanpa merdu suara Lina atau Mela, bikin kuping saya panas. Dangdut koplo tanpa Lina dan Mela, membuat mata saya malas memandang lama-lama. Jadi, dangdut koplo, kendang, Lina dan Mela adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Hehehe.. ndeso memang!!
Biarin. Sekali-kali menikmati irama dangdut koplo kan sah-sah saja.

Saya sebenarnya tak begitu mencintai dangdut koplo, jika bukan karena abang saya. Dia itu menyimpan beberapa keping VCD yang didalamnya ada Lina dan Mela. Karena saya penasaran, makanya saya curi-curi untuk memutarnya di computer abang saya itu. Dan sejak saat itu saya langsung kepincut. Saya langsung ngefans. Goyangnya bikin saya tak tahan!! (more…)