July 2008



Atas nama rindu, saya beranjak dari kebisingan
Mencoba menakzimi kenangan,
Lewat derit roda baja yang bersikejar dengan tiang dan pematang.

Atas nama rindu, saya dibawa terbang
Membumbung dalam angan dibawa melayang
Lewat desir angin jendela kereta

Atas nama rindu, saya ulas tawa
Mencari nada dalam getar cinta
Lewat riuh gerbong penuh pedagang

Atas nama rindu, saya pulang

.

Jogja, 28 juli 2008

Advertisements

Mendadak senyumnya tergambar di mataku. Senyum yang terulas dengan ikhlas. Senyum yang telah mencuri hati seorang pria yang kini beruntung tengah memilikinya.

Namanya Ike. Perempuan jelita yang pernah menemani malam-malam saya di tepi tebing perbukitan Gombel. Perempuan yang suka menghisap dalam-dalam tembakau beraroma Menthol. Perempuan bertubuh mungil, dengan lekuk tubuh yang membuat mata lelaki tersihir dibuatnya.

Saya mengenalnya saat duduk dibangku kelas 2 SMA di bilangan Banyumanik Semarang. Dia adik kelas saya. Dia tak asing dimata saya, ketika secara tak sengaja mata kami bersirobok di kantin belakang kelas II E. Saya memang sering mencuri-curi pandang melihat kemolekannya.

Tapi, tautan keakraban kami justru terjadi empat tahun kemudian. Kami saling sapa, di antara buih bir dan gemerlap lampu embassy di puncak Simpang Lima. Perjumpaan awal, setelah romantisme seragam putih abu-abu.

Namanya Ike. Perempuan jelita yang pernah menemani malam-malan saya di tepi tebing perbukitan Gombel.

Ditemani Jagung bakar, teh botol, sekeranjang bintang dan sejumput cahaya bulan, cukup membuat kami melupakan sejenak paha Kolonel Sanders. Malam-malam di Semarang, entah itu liputan, nongkrong, senyum Ike selalu terulas. Rokok aroma Menthol selalu ada diantara lentik jemarinya. Ike, Zainal, Erita, Ariev adalah sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Kawan yang selalu peduli, kawan yang telah membangkitkan jiwa-jiwa pengecut dalam menghadapi hidup.

Namanya Ike. Perempuan yang ogah memiliki bayi, karena baginya, anak sangatlah merepotkan. Perempuan yang selalu mencak-mencak ketika lelakinya orgasme dalam liang vaginanya. Perempuan yang tak bersyukur setelah dititipi anak oleh Tuhan dan karena ketidakbersyukurannya akhirnya kembali diambil oleh-Nya. Perempuan yang malam ini membuat saya tak bisa terpejam.

Ike, perempuan yang setelah menghadapi cobaan hidup, selalu menikmati indahnya bersyukur. Salah seorang sahabat yang kini sedang merindukan menimang bayi.

“Agustus, saya melahirkan,”
“Aih..,”
“Ada ide untuk nama?,”
“Ganden,”
“Ganden?,”
“Iya, Ganden, kau beri nama saja Ganden,”
“Lalu panggilannya?,”
“Yaa.. kawan-kawannya kelak kan bisa panggil Gan atau Den,”
“Artinya?,”
“Ya Gan berarti juragan, Den, raden,”

Kawan saya diam. Lalu saya lanjutkan percakapan.

“Kan kalau orang yang denger nama anakmu, dia mengira anakmu itu juragan. Mau kemana, Gan? nah.. juragan atau Silahkan masuk, Den!,”
“Ah sial lu!!,”

klik..

Namanya Ike. Perempuan yang… ah mboh lah…
Aku kangen, Ke!!

.

**Untuk Ike, yang tengah mengandung buah hatinya. Senyum perempuan dalam kalender meja dikantor ini, mengingatkan aku akan senyummu, Ke!

 

Beberapa minggu ini saya memang sibuk. Sibuk ngutak atik komputer di kost, menemani adik perempuan yang tiba-tiba nongol, luar kota ke Surabaya, Madura lalu terbang ke Palembang. Semuanya terjadi dalam minggu-minggu ini. Saya sibuk, saya capek, saya lelah, tapi kangen saya untuk nulis di blog kambuh.

Makanya, kali ini, saya mau nulis. Ini juga gara-gara kawan perempuan saya, siCantik dari Bandung. Kawan saya itu tiba-tiba menuduh saya Gay. Buset, gay coba. Kenapa tidak lainnya? Bajingan, buaya, suka mempermainkan perasaan perempuan, gombaler sejati, miyabi addict, itu masih bisa saya terima. Kenapa gay? Apakah saya gay?

Tuduhan itu membuat saya tercekat. Saya meringis menahan pedih. Siapa coba yang rela dikatai gay?

Memang, malam itu si cantik telepon saya. Menanyakan kabar, lalu menjurus ke kata “lagi ngapain?” dan “ama siapa?”. Saat saya terima telepon, saya masih dijalan. Saya naek motor menyusuri Tanah Abang, menuju ke Slipi Jaya. Saya bersama kawan saya. Lelaki, anak bali, dan baru beberapa hari di Jakarta. Dia mau cari kost. Nah, karena di rumah sewa tempat saya kost ada kamar kosong, makanya saya mau kasih unjuk (halah bahasa apaan coba) kawan saya itu.

Disitulah tiba-tiba kalimat pedas itu saya terima.

“Hah, malam-malam begini kamu ama lelaki,” kata kawan saya
“Iya, kawan saya mau menginap,”
“Oh.. jadi sekarang kamu gay ya?,”

Saya diam. Saya cuman meringis.

“Jadi kalau berdua di kamar sama lelaki, itu gay,” tanya saya
“Lah, mending-mending sama perempuan. Memang sekarang seleranya laki-laki ya?,”

Tawa kawan saya mulai meledak. Saya kembali tercekat. Apakah benar saya mulai suka lelaki? Apakah saya Gay? (more…)

*Maaf, saudara-saudara.
Maaf, kalau postingan saya kali ini ada kata-kata yang sedikit berbau anonoh

***

Sering dengar yang namanya Ide kan?. Semua orang berakal pasti memiliki ide. Tiga karakter huruf ini memang luar biasa. Kadang datang sekonyong-konyong, kali lain hilang entah kemana. Ide pun bisa muncul dari mana saja, dan dari tempat itu pula ide juga bisa menghilang (Kalau kawan-kawan saya bilang, ide itu bisa menghambur, membuncah, mencelat dsb. Maklumlah saudara-saudara, kawan-kawan saya memang sedang kena syndrome penggunaaan EYD yang baik dan (tak) benar)

Dan apesnya, dalam beberapa hari ini saya sedang mengalaminya. Banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis. Namun karena ke-sok-sibukan saya, jadilah ide itu tak menjadi sesuatu. Karena saya menulis hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban saya.

(MENULIS itu bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Menulis ibaratnya nafas saya. Meriset data dan wawancara adalah makanan saya. Dan kalau saya sedang malas, itu mungkin kentut saya. Tapi, entahlah. Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi lebih sering kentut.)

Sayangnya, menulis yang saya lakukan setiap hari itu ibarat orang bersenggama dengan gaya konvensional. Saya harus menyetubuhinya setiap hari dengan gaya yang monoton. Tak ada variasi lain yang kemudian membuat saya cepat bosan. Malah kadang jijik dan membuat saya tak pernah lagi bisa orgasme. Bolehlah, kalau pas ada kesempatan saya merubah sedikit gaya itu, tapi ujung-ujungnya ya tetap harus kembali ke gaya yang konvensional lagi, sesuai pakem.

Apa coba enaknya bersenggama tapi dipaksa? Macam pelacur bukan. Atau memang saya ini seorang pelacur? Lalu apa yang bisa saya lakukan?

Kalau saya sih biasanya suka masturbasi. Onani lah, saya. Saya puaskan diri saya dengan menulis sesuka hati. Saya ngeblog, karena dengan ngeblog saya bisa terpuaskan. Saya onani kata-kata. Ya, saya onani kata-kata.

Ibaratnya, ngeblog itu media untuk memuaskan hasrat bercinta saya yang meletup-letup. Saya bisa orgasme berkali-kali dengan menulis dan membaca tulisan itu berulang-ulang. Narsis memang, tapi biarlah. Bukankah kadang ada orang yang nggak suka blog-nya dibaca orang? Ngeblog hanya untuk dibaca sendiri. Artinya, ya dia sedang onani. Sedang masturbasi. Memuaskan diri dengan membaca tulisannya sendiri. Tapi tentu akan lebih puas jika banyak orang melihat hasil onani saya, untuk kemudian berkomentar. (hehehe.. jijik-jijik lu)

Jadi kalau saya selesai menulis berita sebagai sebuah kewajiban yang harus saya penuhi, kemudian saya onani, ya jangan salahkan saya toh. Jangan marah, atau ngedumel sendiri, karena ini hanya sekedar pemuas diri. Toh kewajiban itu sudah saya tuntaskan. Kalau memang nggak suka ya, nggak usah ngeliat. Emang situ suka ngeliat orang onani?

Ah sudahlah.. sudah. Saya rasa saya sudah orgasme!!