Beberapa minggu ini saya memang sibuk. Sibuk ngutak atik komputer di kost, menemani adik perempuan yang tiba-tiba nongol, luar kota ke Surabaya, Madura lalu terbang ke Palembang. Semuanya terjadi dalam minggu-minggu ini. Saya sibuk, saya capek, saya lelah, tapi kangen saya untuk nulis di blog kambuh.

Makanya, kali ini, saya mau nulis. Ini juga gara-gara kawan perempuan saya, siCantik dari Bandung. Kawan saya itu tiba-tiba menuduh saya Gay. Buset, gay coba. Kenapa tidak lainnya? Bajingan, buaya, suka mempermainkan perasaan perempuan, gombaler sejati, miyabi addict, itu masih bisa saya terima. Kenapa gay? Apakah saya gay?

Tuduhan itu membuat saya tercekat. Saya meringis menahan pedih. Siapa coba yang rela dikatai gay?

Memang, malam itu si cantik telepon saya. Menanyakan kabar, lalu menjurus ke kata “lagi ngapain?” dan “ama siapa?”. Saat saya terima telepon, saya masih dijalan. Saya naek motor menyusuri Tanah Abang, menuju ke Slipi Jaya. Saya bersama kawan saya. Lelaki, anak bali, dan baru beberapa hari di Jakarta. Dia mau cari kost. Nah, karena di rumah sewa tempat saya kost ada kamar kosong, makanya saya mau kasih unjuk (halah bahasa apaan coba) kawan saya itu.

Disitulah tiba-tiba kalimat pedas itu saya terima.

“Hah, malam-malam begini kamu ama lelaki,” kata kawan saya
“Iya, kawan saya mau menginap,”
“Oh.. jadi sekarang kamu gay ya?,”

Saya diam. Saya cuman meringis.

“Jadi kalau berdua di kamar sama lelaki, itu gay,” tanya saya
“Lah, mending-mending sama perempuan. Memang sekarang seleranya laki-laki ya?,”

Tawa kawan saya mulai meledak. Saya kembali tercekat. Apakah benar saya mulai suka lelaki? Apakah saya Gay?

***

Saya jadi ingat masa kecil saya di kampung Srondol. Kampung saya berada di kota Semarang bagian atas. Semarang itu perbukitan. Kadang, kalau menyebut daerah yang ada di perbukitan Gombel, biasa kami menyebutnya dengan Semarang atas. Jatingaleh ke bawah, Semarang bawah. Semarang pun akhirnya dibagi menjadi dua. Ada-ada saja.

Sejak SD, saya dan kawan lelaki seangkatan saya memang sering di plonco oleh remaja kampung saya. Kami sering di dandangi macam perempuan nakal. Di bedaki tebal, lipstik merah menyala, eye shadow dan memakai baju super mini. Biasanya kami disuruh ikut karnaval. Dan kami selalu dikatai bencong.

“Perpeloncoan” ala remaja tanggung kampung Srondol memang agak keterlaluan. Kami dipaksa jadi banci, untuk kemudian diketawai. Bukan juga karena di kampung saya isinya lelaki semua, kemudian mereka mendandani kami ala banci. Bukan. Kampung kami justru dikenal sebagai pemasok perempuan cantik di Semarang. Bahkan dalam bahasa kami, air Srondol bisa membuat perempuan nampak jelita. Hehehe.

Tapi meski banyak perempuan cantik, nasib kami tetap saja. Kami dipaksa jadi banci. Asem!! Diketawai pula.

Setelah kami menjadi remaja tanggung, adat perpeloncoan terhadap anak-anak yang akan menginjak remaja memang sedikit berkurang. Tak ada lagi dandanan banci. Bahkan anak-anak jaman sekarang akan marah jika dibilang banci. Mereka ingin menjadi lelaki sejati. Lelaki macho. Lelaki yang pantang dibilang banci.

Saya juga demikian. Sumpah, saya tidak sudi melihat film porno jika yang main lelaki sama lelaki. Lebih asik nonton lesbian daripada homo, meski keduanya sama-sama sejenis. Apakah saya homophobia?

Saya bukan orang yang nggak setuju hubungan antar jenis. Saya malah pernah bertemen dengan mereka. Saya kenal salah satu diantara mereka. Saya kerap diajak makan di cafe yang berisi komunitas gay. Saya berkawan dengan mereka. Tak ada yang salah dengan mereka. Cinta bagi saya adalah urusan hati. Logika, bukan urusan hati. Jadi kalau kemudian mereka jatuh cinta dengan sesama jenis, itu sesuatu yang biasa, karena mereka dirasuki cinta. Dan saya menghormati mereka yang hidup dengan cinta.

Hanya beberapa kali memang saya dekat dengan mereka. Saya tidak ingin kena syndrome cinta yang buta itu. Saya masih cinta dengan perempuan. Saya masih suka Miyabi. Saya tidak ingin menodai pantat saya sendiri.

***

Kawan saya masih tertawa terbahak, menggoda saya. Nampaknya dia senang dengan tuduhannya itu.

“Kasian pacar kamu ya. Ternyata kamu homo,”
“Enak aja,”
“Halah, coba buktikan kejantanmu. Emang kau pernah setubuhi pacar kamu?,”

Lagi-lagi saya tercekat. Sudah tujuh tahun kami pacaran. Selama ini saya tidak pernah nodai pacar saya. Pacar saya masih perawan. Kami sengaja menjaganya. Saya menghormatinya.

Apakah dengan itu, berarti saya bukan lelaki yang jantan?
Apakah saya gay?